
Meera merasa senang saat Alice mau membantunya, walaupun dia harus lebih berhati-hati karena sedang mengandung anaknya Bram.
Mereka pun saling menebar senyuman dan juga berpegangan tangan satu sama lain, dimana terlihat bahwa hubungan mereka sudah mulai membaik.
Sehingga Bram yang merasa waktunya sudah cukup buat Alice kembali beristirahat, segera menjemputnya dan membawanya kembali ke ruangannya sendiri. Sementara Hans, dia juga kembali menemani istrinya yang sangat membutuhkan perhatian lebih darinya.
...*...
...*...
3 hari sepulangnya Meera dan Alice dari rumah sakit, ternyata tanpa disangka-sangka Alice mendapatkan kabar dari salah satu suster di rumah sakit yang mengabarkan bahwa keadaan Neneknya sangat kritis.
Tanpa berlama-lama Alice pergi ke rumah sakit diantar oleh Bram. Sementara Meera serta Hans juga ikut, meski mereka belum pernah ketemu sama Neneknya Alice.
Kurang lebih 30 menitan mereka semua sampai di depan rumah sakit dengan wajah Alice yang sangat panik dan juga air matanya terus menetes tanpa jeda.
Meera selalu ada disamping Alice, sambil menggemggam serta membuatnya supaya bisa lebih tenang. Semua ini demi kebaikan anak yang ada didalam kandungannya.
Mereka menunggu di depan ruangan Neneknya Alice, menunggu kabar dari dokter yang masih mencoba untuk menanganinya.
Alice duduk dalam keadaan gelisah di dalam pelukan Bram. Telihat jelas wajah Alice itu sangat takut, jika dia harus kehilangan keluarga satu-satunya yang dia miliki.
Tak lama seorang dokter bersama asistennya keluar dari ruangan, wajahnya sedikit panik ketika melihat Alice.
"Nona Alice, Nenekmu sudah sadar dari komanya. Akan tetapi---"
"Tapi apa, Dok? Nenek saya sudah sadarkah? Berarti dia baik-baik aja, 'kan? Jawab, Dok. Jawab!"
Alice yang melihat sang dokter keluar langsung berlari kecil tanpa teringat kalau dirinya sedang mengandung. Bram melihat itu selalu berusaha memarahi Alice karena dia begitu ceroboh, cuman akibat rasa cemasnya tidak membuat Alice menggubris semuanya.
"Kenapa diam, Dok. Jawab hiks ...." ucap Alice sambil menangis di dalam pelukan Bram.
"Hei, Sayang. Cukup, jangan seperti ini! Ingat di dalam sini ada anak kita, jadi usahakan tahan emosi yang ada di dalam dirimu. Aku yakin tidak akan terjadi sesuatu pada Nenekmu!" jawab Bram.
__ADS_1
Dia terus berusaha menenangkan Alice bersama dengan Meera yang juga ada di sebelahnya. Sang dokter perlahan menatap mereka semua, lalu dia menarik napasnya dalam-dalam.
"Huhh, jadi begini Nona, Tuan semuanya. Saat ini Nenek dari Nona Alice sudah sadar, akan tetapi tatapannya sangatlah berbeda. Saya takut jika Nenek Nona terbangun, hanya karena dia ingin menyampaikan sesuatu kepada Nona sebelum dia pergi meninggalkan semuanya."
Degh!
Perasaan Alice seakan-akan menjadi tidak karuan saat mendengar perkataan dokter yang begitu menyakitkan.
Alice menangis meraung meratapi kesedihannya, karena Alice tidak mau sampai ada hal buruk terjadi pada sang Nenek.
Meera dan juga Bram terus berusaha menguatkan Alice agar dia tidak sampai terlihat sangat menyedihkan ketika menemui Neneknya.
"Lis, dengarkan aku. Jika memang ini sudah takdir Tuhan untuk menjemputmu, maka kamu harus merelakan semuanya. Dengan begitu Nenekmu bisa pergi dengan tenang, penuh senyuman."
"Namun, jika ini bukan takdirnya. Maka tidak akan terjadi apa-apa sama Nenekmu, yang penting aku minta sama kamu. Please, jangan menyiksa dirimu sendiri. Ingat, di dalam perutmu itu sudah ada anak kalian jadi tolong jaga baik-baik!"
"Masalah Nenekmu, kita serahkan pada Tuhan. Apapun yang terjadi nanti, kamu harus bisa kuat menghadapinya!"
Nasihat dari Meera membuat Alice langsung berhambur memeluknya, dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Mereka ada di samping Alice ketika seperti ini saja sudah membuat Alice senang, karena ketika masalah datang dia tidak lagi sendirian
"Suut, sudah jangan nangis lagi ya. Sekarang lebih baik kamu temui Nenekmu sebelum semuanya terlambat, hanya saja aku mohon kamu temui Nenekmu dengan wajah yang senang saat melihatnya terbangun. Jika kamu menunjukkan wajah sedih ini, maka Nenekmu akan semakin berat untuk menjalani hidupnya."
Alice melepaskan pelukan Meera dan menatapnya sambil menganggukan kepala. Kemudian Meera menghapus air mata Alice sambil tersenyum.
Setelah itu Alice pun menatap Bram, lalu dia menggenggam tangannya dan berkata. "Temenin aku ya ketemu Nenek, aku akan mengenalkanmu pada Nenek sebelum aku---"
"Sudah jangan diteruskan lagi, tanpa kamu menyuruhku. Aku akan tetap selalu ada di sampingmu, menjadi sumber kekuatanmu. Kita hadapi semua bersama, dan aku mohon kamu jangan melupakan kondisi tentang anak kita. Paham?"
Alice mengangguk sambil tersenyum di sela air matanya yang masih menetes. Mereka pun perlahan melangkahkan kedua kakinya memasuki ruangan bersama dengan sang dokter dan juga suster.
Alice terdiam sejenak menatap kondisi Neneknya yang sangat membuat hatinya begitu sakit. Bram memberikan kode anggukan kepalanya untuk mereka segera mendekati Neneknya.
"Hai, Nenekku yang cantik. Apa kabarnya, Nek? Apakah Nenek masih ingat denganku, cucu kesayangan Nenek. Hem?" sapa Alice, sedikit membungkukkan badannya sambil mengusap pipinya.
__ADS_1
Susah payah Alice menahan butiran air mata untuk tidak menetes di depan sang Nenek yang saat ini keadaan benar-benar memprihatinkan
"Ha-hai, cu-cucuku. A-apa ka-kabarmu, Sayang? Ne-nenek kangen ba-banget sama kamu. A-apakah kamu akan tetap baik-baik saja seperti ini, ke-ketika menjalani kehidupan tanpaku?" ucap sang Nenek, sangat lirih dan terbata-bata ketika napasnya terasa begitu sesak.
"Aku baik-baik saja, Nek. Nenek tidak perlu khawatir, Alice lihat Nenek bangun aja itu udah buat Alice bahagia banget. Jadi Alice mohon Nenek jangan berbicara seperti itu, sekarang Nenek sudah bangun jadi sebentar lagi kita akan hidup bahagia bersama-sama." sahut Alice, air matanya mulai runtuh satu persatu.
Bram hanya bisa berjaga di belakang Alice sambil mengusap punggungnya perlahan, dengan tatapan matanya yang saat ini menatap keadaan sang Nenek.
"I-itu siapa? Ke-kenapa dia te-terlihat begitu menyayangimu? A-apakah dia su-suamimu?" tanya sang Nenek.
Alice menoleh Bram sekilas sambil tersenyum, lalu menatap Neneknya dan berkata. "Kenalkan dia adalah calon suami serta anak yang ada di dalam kandunganku, Nek. Ma-maaf kalau Alice buat Nenek kecewa, karena Alice sudah menjadi cucu yang tidak baik buat Nenek, sekali lagi ma-maaf hiks ...."
Sang Nenek seakan-akan mengerti apa yang Alice ucapkan padanya, meskipun tidak semua Alice ceritakan. Tetapi, sedikit dari kode yang dia sampaikan berhasil membuat sang Nenek menatap Bram begitu instens.
"Nak, bi-bisakan ka-kamu be-berjanji a-akan selalu menjaga dan me-menemani cucuku sampai kapanpun. A-aku ti-tidak mau me-mendengar cucuku kembali bersedih. Hi-hidupnya sudah sangat menyedihkan, jadi berikan dia ke-kebahagiaan yang akan me-membuatnya selalu tersenyum."
Perkataan sang Nenek semakin berbelok dari apa yang Alice pikirkan, bahwa keadaan Neneknya akan tetap baik-baik saja.
Bram melangkah beberapa langkah, lalu dia menggenggam tangan Nenek Alice mengucapkan kata-kata kalau dia akan selalu menjaga serta melindungi hingga membahagiakan Alice semampunya.
Dia tidak mau berjanji, tetapi dia akan membuktikan jika kehidupan Alice kedepannya nanti akan jauh lebih bahagia.
Begitu senangnya sang Nenek, ketika dia mendengarkan perkataan Bram yang sangat bijak dan juga penuh maksa. Senyuman kecil terukir jelas di bibir sang Nenek, kemudian dia melirik Bram dan Alice secara bergantian.
Sampai akhirnya dia kembali berucap dengan kata-kata yang membuat air mata Alice langsung runtuh seruntuh-runtuhnya.
"Cu-cucuku yang ca-cantik, baik dan ju-juga ceria. Ne-nenek minta kamu harus tetap tersenyum dan ba-bahagia bersama suamimu kelak. Ja-jaga ci-cicitku yang ada di-dalam pe-perutmu itu, be-berikan di-dia kasih sayang yang melimpah, a-agar dia ti-tidak merasakan kekurangan sepertimu dulu."
"Po-pokoknya apapun yang terjadi, Ne-nenek akan selalu mendukung kalian. Ne-nenek doakan agar ka-kalian bisa hidup bahagia bersama-sama, ta-tanpa adanya pengganggu."
"Da-dan Ne-nenek sudah merestui hubungan ka-kalian, u-untuk itu a-aku ti-titip cucu ke-kesayanganku ini. Ja-jangan biarkan dia kembali menangis, a-atau a-aku akan menagih semua ucapanmu itu. Paham!"
Bram menganggukkan kepalanya, tak terasa air matanya mengucur bersamaan dengan Alice yang juga sudah menangis deras.
__ADS_1
Sampai akhirnya 1 permintaan Neneknya membuat Alice terdiam sejanak, kemudian dia melakukan apa yang diminta oleh sang Nenek, meskipun hatinya terasa begitu menyakitkan.
...***Bersambung***...