Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Keadaan Meera


__ADS_3

Bram sedikit menjauh dari Hans, agar tidak membuat Hans kembali merasakan rasa bersalah. Semua itu karena Bram belum menceritakan apa penyebab Meera menjadi seperti ini.


Bram hanya menceritakan semuanya pada istrinya dengan suara kecil, membuat Alice benar-benar syok. Dia tidak menyangka bahwa ternyata Hans memiliki masa lalu yang cukup menyakitkan. Itu sebabnya Hans tidak mau menceritakan tentang cinta pertamanya pada siapapun, bagi Hans cinta pertamanya adalah Meera.


Setelah beberapa menit, pintu ruangan UGD pun terbuka membuat Bram segera mematikan sambungan teleponnya.


Kemudian, Hans segera berlari mendekati sang dokter tersebut untuk menanyakan bagaimana kondisi istri serta anaknya saat ini.


"Dok, istri saya bagaimana keadaannya? Terus anak saya? Mereka semua baik-baik aja 'kan?" ucap Hans. Wajahnya terlihat begitu panik, dipenuhi air mata.


"Tenang, Kak. Biarkan dokter yang menjelaskannya lebih dulu, supaya kita tidak salah memahaminya." jawab Bram, memegang pundak Hans.


"Baiklah, Tuan. Sekarang Tuan tarik napas yang panjang, lalu keluarkan dari mulut secara perlahan. Jika Tuan sudah merasa lebih tenang, saya akan mulai menjelaskannya bagaimana kondisi Nyonya Meera saat ini."


Hans mengikuti saran dari sang dokter, lantaran hati serta pikirannya saat ini dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Hans tidak mau semakin berlarut di dalam pikiran jelek mengenai istri dan anaknya. Dia hanya ingin mencoba berpikir positif, bila mereka semua akan kembali kumpul bersamanya.


"Jadi begini, Tuan. Kontraksi yang dirasakan Nyonya Meera sangatlah menyakitkan, sehingga membuat Nyonya Meera terus meringis menahan semua rasa sakit itu."


"Namun, lama kelamaan tanpa di sadari tubuh Nyonya Meera semakin melemah akibat rasa lelah. Sebab Nyonya Meera terus mencoba melawan semua rasa sakitnya."


"Sampai akhirnya, beberapa menit yang lalu ketika kami terus berusaha membantunya. Kondisi Nyonya Meera malah semakin menurun, hingga mengalami drop total atau bisa dikatakan kritis."


"Maka dari itu Mau tidak mau, kita harus mengambil tindakan agar bisa segera mengeluarkan bayi yang ada di dalam kandungannya. Sebab, bila dipertahankan itu akan membahayakan nyawa mereka berdua."

__ADS_1


"Saya harap Tuan bisa tetap tenang menghadapi ujian ini. Saya dan para dokter lainnya selalu berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan keduanya. Cuman, semua kembali lagi kepada Tuan."


"Apakah Tuan bersedia menerima resiko yang kemungkinan keduanya selamat cuman 30 persen? Akan tetapi, kemungkinan besar mereka selamat pun masih ada. Bila di diamkan, yang akan menjadi korban pertama adalah anak yang ada di dalam kandungan. Ibunya pun bisa menyusul atau tidak, tergantung perkembangannya."


"Kami ini hanya seorang manusia, kami cuman bisa terus berusaha untuk menyelamatkan pasien kami. Semua yang lebih berhak atas hidup dan mati seseorang adalah Tuhan. Jadi, bagaimana? Apa Tuan bersedia menanda tangani dokumen yang akan kami berikan?"


"Waktu kita tidak banyak, Tuan. Sedikit saja kita lengah, bisa di pastikan keduanya akan tiada untuk selamanya. Di sini saya tidak akan memberikan harapan palsu, karena saya juga tidak tahu apakah mereka bisa selamat atau hanya salah satu dari mereka. Saya hanya meminta doa restu serta izin dari Tuan, agar kami bisa segera mengambil tindakan untuk menyelamatkan pasien dan anaknya."


"Kurang lebih 5 menit lagi, asisten saya akan memberikan berkas dokumen yang akan Tuan tanda tangani. Jadi, waktu Tuan untuk berpikir hanya 5 menit. Lewat dari itu, saya tidak bisa menjamin apakah yang akan terjadi pada mereka kedepannya. Karena, nyawa mereka berada di tangan Tuan sendiri."


"Percaya tidak percaya, Tuhan maha besar. Bila belum waktunya, apapun musibah yang di dapatkan tidak akan bisa membawanya kembali ke dalam pangkuan-Nya. Bila sudah waktunya, apapun cara yang dilakukan tetap tidak akan bisa merubah takdir. Yang terpenting, kita telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan istri serta anak Tuan."


"Saya pamit kembali ke dalam, semua saya serahkan pada Tuan. Bila Tuan menanda tanganinya, kami akan langsung bertindak. Jika tidak, maka kami tidak bisa mengambil tindakan apapun, tanpa persetujuan dari pihak yang bersangkutan. Permisi!"


Sang dokter pun langsung kembali masuk ke dalam ruangan, agar dia bisa selalu memantau keadaan Meera.


Setelah mendengar penjelasan tersebut, tiba-tiba saja sebuah petir tak kasat mata datang. Kecepatan yang sangat dasyat itu, berhasil menghancurkan tembok pertahanan Hans.


Susah payah Hans mengumpulkan semua keberanian untuk terus berpikir positif mengenai kondisi istri dan anaknya.


Namun, harus dihancurkan oleh kabar yang sangat menyakitkan hatinya. Impian untuk bisa hidup bersama istri dan anaknya, kini telah berada di ujung tanduk.


Baru juga kemarin, mereka merasakan kebahagiaan atas kelahiran Baby Maura yang akan menjadi teman anaknya. Tetapi, harus di patahkan oleh takdir yang sangat memilukan.


Tubuh Hans langsung lemas tak berdaya, bagaikan tulang lunak yang habis di fresto. Bram berusaha sekuat tenaga untuk menahan tubuh sang Kakak agar tidak sampai terbentur lantai.

__ADS_1


"Kak, aku mohon ayo kuat. Aku yakin Kakak dan Meera bisa melewati semua ujian besar ini. Kalian itu orang-orang hebat, jadi tidak pantas bila Kakak terlihat selemah ini. Bangkit, Kak. Bangkit, aku mohon hiks ...."


Tak tahu kenapa, melihat Kakaknya sudah tidak berdaya membuat air matanya mengalir deras. Bram sendiri pun sangat terkejut ketika mendengar keadaan Meera yang benar-benar mengerikan. Jadi, tidak heran apa bila Hans yang selalu terlihat kuat, kini jatuh lemah bagaikan kulit pisang yang sudah tidak ada pisangnya.


"Me-meera, ma-maafkan aku. Aku te-telah gagal menjadi suami sekaligus Daddy yang baik untuk kalian, aku benar-benar sangat menyesal!"


"I-ini semua sudah pasti gara-gara aku yang tidak mau jujur tentang semuanya padamu. Sampai akhirnya kamu menjadi salah paham pahaku. Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku hiks ...."


"Ke-kenapa juga, dia harus datang di saat aku ingin mencoba bahagia bersama keluarga kecilku. Kenapa, Bram. Kenapa!"


"Apa dia tidak pernah merasa puas, setelah menyakitiku? Apa dia lupa sama janjinya sendiri? Disini aku ma*ti-ma*tian berjuang untuk tetap percaya hingga menunggu dia kembali. Cuman, apa yang aku dapatkan? Sakit hati, Bram. Sakit!"


"Setelah aku tahu bagaimana kelakuan dia disana, membuat hatiku sangat hancur. Padahal aku sangat percaya, bila cinta pertama itu bisa membawa kebahagaiaan. Tapi apa hasilnya? Zero!"


"Lantas apakah dia tidak malu bertemu denganku sekarang? Apa dia seakan-akan lupa, sama apa saja yang sudah dia lakukan di belakangku?"


"Jangan dia kira aku ini orang bo*doh yang tidak tahu apa-apa, tentang dia di sana. Mata-mataku banyak untuk memantau semua pergerakan dia. Terus kenapa dia tega merusak semua kebahagiaanku yang baru aku pupuk bersama Meera. Apa dia terlahir tidak hati? Dimana hatinya sebagai wanita, bagaiman bisa dia ada di posisi Meera, hahh? Bagaimana!"


"Sekarang nasib istri dan anakku sudah berada diujung tanduk, Bram. Bagaimana ini, aku harus ngapain? Hiks ... Bila aku menandatangani surat itu apakah dokter bisa menyelamatkan dua-duanya? Tidak 'kan!"


"Apa lagi dia sendiri yang mengatakan semua, kemungkinan itu hanya 30 persen. Bagaimana jika dua-duanya tiada? Apakah mereka mau bertanggung jawab? Tidak! Terus nasibku akan jadi seperti apa tanpa mereka, Bram? Bisa-bisa aku jadi gila, kalau mereka semua pergi meninggalkanku!"


Hati Bram benar-benar tergores saat dia tidak tega melihat rapuhnya sang Kakak. Tatapannya sangat tajam, bahkan di sela Bram memeluk Hans, tanpa di sengaja tangannya mengepal cukup kuat.


Semua itu karena saat ini Bram sedang di selimuti oleh amarah yang luar biasa kepada Keke. Bram masih ingat sekali, semua perkataan Keke yang terus menghasut Meera. Sampai semua kejadian ini terjadi, membuat Hans selalu saja menyalahkan dirinya.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2