Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Tanda Tangan Berkas


__ADS_3

Alice melepaskan pelukannya, sambil berbisik kecil di telinganya. "Semangat kekasih pura-puraku, setelah keluar dari sini aku akan kasih bonus cantik untukmu. Sesuai dengan permintaanmu tadi, muach."


Alice mencium pipi kanan Bram, lalu dia mengedipkan matanya sebelah dan pergi meninggalkannya. Bram yang awalnya hanya terdiam, kemudian menangkis semua perasaan yang tidak bisa dia jelaskan ini.


Tak lama Bram melangkahkan kakinya menuju ruangan Deo sambil merapihkan penampilannya, bagaikan orang yang salah tingkah saat semua orang hampir menatapnya dengan tatapan seperti meledeknya.


...*...


...*...


Pintu terbuka bersamaan dengan munculnya Bram yang langsung menatap Deo yang saat ini habis berpesta dengan 2 wanita sekaligus. Dimana Deo sedang duduk sambil merangkul 2 wanita disebelahnya.


"Sepertinya aku mencium bau-bau uang berlipat ganda, apakah benar Tuan Bram yang tampan?" tanya Deo sambil melirik ke arah Bram yang berada di sela pintu.


"Wah, apakah kita juga akan kecipratan Tuan?" sahut salah satu wanita yang ada di rangkulan Deo.


"Aku juga dapet kan, Sayang?" ucap wanita satunya lagi.


"Uhh, tenang aja. Kalian pasti dapat, asalkan bisa membuatku puas," Deo melirik kearah mereka secara bergantian penuh kedipan manja.


Bram yang melihat tingkah Deo semakin menggila oleh bisnisnya, membuat Bram sedikit cemas akan masa depan Deo. Cuman balik lagi, Bram tidak mau mencampuri urusan seseorang. Lebih baik dia fokus pada urusannya sendiri, agar Alice bisa segera bebas dari penjara malam ini.


"Bisa kita berbicara 4 mata? Dan silakan suruh keluar wanitamu itu, karena aku tidak mau ada yang mencampuri urusanku!" tegas Bram, dengan tatapan dingin dan juga datar.


"Wiss, kalem Bosqu." Deo terlihat begitu tenang menatap Bram. "Baiklah, kalian boleh keluar dulu? Karena kami mau berbicara berdua disini," Deo menatap kedua wanita itu sambil tersenyum.

__ADS_1


Kedua pun mengangguk dan segera pergi sambil bergandeng tangan, melewati Bram yang sedikit menjauh dari mereka. Sampai mata mereka mengedip sekilas mencoba menggoda Bram, sayangnya Bram tidak akan tergoda.


Hanya ada satu wanita yang berhasil menggodanya hingga membuat jantungan berdetak sangat cepat, siapa lagi jika bukan Alice. Wanita cantik, sederhana dan baik hati. Ya, meski dia bekerja seperti wanita penghibur, cuman Alice adalah wanita yang beda, dia melakukan semua itu cuman demi sang Nenek.


Setelah mereka berdua keluar, Bram menutup pintu lalu berjalan mendekati Deo yang masih duduk dengan santainya. "Silakan duduk Tuan Bram yang terhormat. Apakah mau saya siapkan minuman?"


"Enggak usah sok formal sama gua. Jijik dengernya! Mendingan sekarang lu baca surat itu dan tanda tangani sesuai perjanjian, sekarang!" titah Bram memberikan sebuah map berwarna biru


berisikan beberapa surat perjanjian hitam diatas putih. Semua itu Bram lakukan demi kebaikan bersama untuk kedepannya.


Bram hanya mewanti-wanti supaya dia tidak lagi dibo*dohi oleh Deo, pria licik dan juga angkuh. Dia akan melakukan segala cara demi mendapatkan keinginannya. Bram cuman takut jika suatu saat nanti Deo kembali memeras uangnya, tahu sendiri saat ini Bram tidak memiliki pekerjaan akibat Restonya sudah tidak lagi menjadi miliknya.


"Apa ini? Tumben pakai surat segala, apa lu enggak percaya sama gua, sahabat?" ucap Deo, sambil mengambil map tersebut dan mulai membukanya perlahan saking penasaran sama isinya.


"Tunggu, jika gua udah tanda tangani ini semua. Dimana uang 20 M yang gua minta? Jangan bilang lu mau menjebak gua?"


"Bukannya terbalik, lu yang jebak gua? Lebih baik cepet tanda tangani dokumen itu, dan gua akan langsung kasih cek 20 M itu, buat lu tebus di Bank!"


"Hem, baiklah sahabat. Gua akan tanda tangani semua dokumen ini tanpa ada yang terlewat, tapi ngomong-ngomong lu cepat juga ya dapatin uang 20 M hanya dalam waktu 1 bulan? Gila sih, salut gua sama lu. Demi menyelamatkan gadis bayaran, lu rela menebus dia dengan uang sebanyak ini? Fixs sih, artinya lu udah jatuh cinta sama Alice!"


"Ckk, berisik lu. Udah enggak usah banyak ba*cot an*ying! Gua udah enggak punya banyak waktu buat nanggapin manusia kek lu."


"Slow wae, Bro. Jangan marah-marah, ini juga gua sambil baca. Tenang aja bentar lagi selesai kok."


Deo berbicara sambil menatap ke arah dokumen itu dan membaca setiap tulisan demi tulisan yang tertera didalamnya tanpa terlewatkan sedikitpun.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, Deo telah selesai menandatangani dokumen tersebut lalu menyerahkannya pada Bram.


"Ckkk, gitu aja lama!" ucap Bram sambil mengambil berkas itu, kemudian kembali mengecek semua tanda tangan Deo takut jika ada yang di palsukan.


Setelah sudah beres semuanya, Bram menutup dokumen itu. Kemudian, mengeluarkan sebuah kertas yang bertuliskan nominal uang yang akan Deo terima.


"Urusan kita udah selesai, jadi gua harap lu enggak akan mengusik kehidupan Alice untuk selamanya. Jika sampai itu terjadi, jangan salahin gua. Kalau gua akan melakukan hal yang membuat lu jera, paham!"


Kertas tersebut Bram taruh diatas meja dengan sedikit menggebraknya, Tanpa berlama-lama Deo yang sudah mata duitan segera mengecek keasliannya serta nominalnya.


"Waw, seriusan? Wah, gila sih gua enggak nyangka lu sebaik ini sama gua, Bro. Thanks ya, gua harap semoga lu akan membebaskan semua wanita di sini satu persatu dengan harga segini, gua pastikan gua akan langsung kaya raya haha ...."


Deo tertawa bahagia ketika melihat kertas tersebut dengan ekspresi wajah yang cukup terkejut sama apa yang dia lihat saat ini.


Dari sini semakin membuat Deo yakin jika Bram dan Alice sebenarnya memang ada somethink, yang memicu perasaan mereka untuk saling mencintai. Hanya saja mereka kurang peka terhadap perasaan.


"Stop bermimpi, karena mimpi lu terlalu tinggi. Dan berhati-hatilah dengan mimpi, ketika lu jatuh ataupun tidak kesampaian. Gua pastikan lu enggak akan lagi duduk manis di tempat ini, melainkan lu akan hidup tenang di rumah sakit jiwa!"


"Gua pamit, dan ingat baik-baik ucapan gua. Karena gua enggak akan main-main, sampai lu kembali mengganggu kehidupan Alice. Ngerti!"


Bram bangkit dengan sorotan tajam penuh isyarat, ekspresi wajah yang sangat datar menatap Deo untuk beberapa detik. Kemudian melangkahkan kakinya keluar ruangan Deo, dalam keadaan tenang karena dia sudah berhasil membebaskan Alice.


Meski, Bram sedikit takut akan kehidupannya kedepan. Cuman dia percaya semua akan kembali walaupun harus didasari dengan perjuangan yang harus dimulai dari titik nol.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2