Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Melawan Mautnya Sendiri


__ADS_3

Entah mengapa Hans sangat yakin, bila ikatan anak dengan Ibunya pasti sangatlah kuat. Jadi, Meera pasti bisa merasakan detakan suara jantung kedua Baby yang sangat kencang.


Akankan dengan cara ini bisa membuat Meera kembali terbangun dari tidurnya atau tidak? Semua masih tanda tanya besar.


Alice, Bram dan Bi Neng hanya bisa melihat perjuangan Hans yang melibatkan kedua anak yang masih belum bisa apa-apa selain menangis.


Tak terasa air mata sang dokter pun ikut menetes melihat Hans yang sedang berusaha keras untuk membangunkan istrinya.


Padahal jelas-jelas denyut serta detak jantung Meera sudah berhenti 10 menit yang lalu, jadi mana mungkin Meera bisa kembali setelah dia di nyatakan menunggal dunia.


"Kak, sudahlah. Ikhlaskan kepergian Kak Meera, kasihan anakmu. Dia pasti sangat haus karena seharian ini menangisi Mommynya."


"Mungkin ini takdir yang harus Kakak jalani, setidaknya Kak Meera masih meninggalkan harta satu-satunya yang tidak akan pernah bisa membuat Kakak lupa dengannya. Yaitu, Baby Diego."


Bram menepuk punggung Kakaknya beberapa kali, sambil terus menguatkan mentalnya agar tidak semakin menurun. Meski, Bram sendiri sangat terpukul, akan tetapi kondisi Hans yang seperti ini menandakan bila dia benar-benar sangat terpukul.


Hans sama sekali tidak menggubris ucapan sang adik, saat ini Hans hanya ingin fokus menyemangati kedua anaknya yang lagi berjuang membantunya.


Namun, tanpa di sangka perjuangan serta kerja keras Bram yang terus menyemangati kedua anaknya untuk tetap terus menangis, ternyata tidak sia-sia. Perlahan jari telunjuk Alice yang sebelah kanan bergerak, membuat semuanya langsung terkejut.

__ADS_1


"Ka-kak Hans, lihat itu! Jari Ka-kak Meera bergerak!" pekik Alice yang sangat heboh di sertai tangisan kebahagiaan.


"Syukurlah, Sayang. Aakhirnya kamu kembali, hiks ... Ayo, Sayang. Kamu pasti bila, ayo terus buka matamu! Aku percaya kekuatan hati kalian memang tidak bisa di ragukan lagi." ucap Hans, menciumi kening istrinya.


Dokter yang melihat keajaiban itu langsung memeriksa denyut nadi di tangan Meera, lalu segera berusaha menyuruh asistennya kembali memasang semua alat yang sudah di lepas.


Semua itu karena detak jantung Meera sudah kembali, meskipun masih terbilang sangat lemah. Semua pun tersenyum di selimuti tangisan bahagia. Dimana Bi Neng memeluk Alice, serta Bram yang memeluk istrinya.


Mereka semua tidak menyangka bila apa yang Hans lakukan semuanya tidak berujung sia-sia. Hasil yang di dapatkan memang begitu pantas untuk Hans, ketika dia sangat yakin sekali bila istrinya akan kembali.


Terlepas dari apa yang sudah terjadi, Hans tak henti-hentinya tersenyum menyambut istrinya yang akan membuka matanya. Semua ketidak kepercayaan mereka, langsung runtuh dan tergantikan oleh kebahagiaan yang tak terduga.


Meera mulai membuka kedua matanya secara perlahan, menyesuaikan cahaya lampu yang ada di ruangan. Sebab, Meera seperti sudah mulai terbiasa melihat kegelapan, dari pada cahaya.


Meera terkejut saat melihat semua orang menangisi mereka termasuk dokter yang menangani khasusnya. Tak lupa Meera langsung menatap kedua anaknya yang berada di dalam pelukannya.


"Ma-maura? Di-diego?"


Perkataan Meera berhasil membuat mereka semua terkejut bukan main. Bagaimana Meera bisa mengetahui nama anaknya, sedangkan Hans tidak pernah memberitahukannya siapa nama dari anak mereka nantinya.

__ADS_1


Wajah lucu Baby Maura dan Baby Diego membuat Meera langsung menangis penuh kebahagiaan. Meera tahu bila Baby yang berada di pelukan kanannya itu adalah anaknya sendiri.


Akan tetapi, yang membuat mereka semua heran adalah kelakuan Baby Maura dan Baby Diego. Awalnya mereka berdua menangis sangat kompak. Kini, malah kompak juga tertidur pulas di dalam pelukan Mommynya.


"Bisakah kalian menjauhkan kedua Baby terlebih dahulu, agar saya bisa memeriksa keadaan Nyonya Meera."


Sang dokter meminta untuk mereka memindahkan kedua Baby. Alice yang dengan sigap langsung menerima Baby Maura dari tangan suster, kemudian Baby Diego diambil alih oleh Bram. Mereka berdua secara perlahan memindahkan kedua Baby ke tempat tidurnya masing-masing, supaya sang dokter bisa lebih lelusa untuk memeriksanya kembali.


Saat semua sudah di cek, sang dokter tersenyum menatap semuanya secara bergantian. Kemudian dia mengatakan sesuatu yang membuat mereka langsung merasa sangat bahagia.


"Syukurlah, setelah Nyonya Meera di nyatakan meninggal dunia, lalu Tuan Hans berusaha kerasa untuk mengembalikannya. Saat ini kondisi Nyonya Meera telah di nyatakan sembuh, dia hanya perlu melewati beberapa proses pemulihan aja. Setelah itu, Nyonya bisa kembali ke rumah dan berkumpul dengan yang lain."


Penjelasan dari sang dokter membuat mereka terharu, mereka masih tidak percaya bila Meera bisa kembali membuka matanya setelah harapan mereka semuanya hampir saja berakhir.


Hans yang menyaksikan istrinya kembali tersenyum sambil menangis, langsung memeluk Meera tanpa bisa mengatakan apapun. Dia hanya bisa mengucapkan kalimat terimakasih karena dia sudah mau kembali, jika sampai Meera tidak kembali bisa di pastikan kalau hidup Hans juga akan berakhir.


Di saat mereka semua sedang berbahagia menyambut kembalinya Meera, berbeda sama Keke yang ada di dalam penjara. Baru saja dia di masukkan penjara, sudah kembali membuat onar. Sebab, mereka seperti meributkan kekuasaan satu sama lain.


Pada akhirnya, Keke di pisahkan dan di tempatkan di satu sel kecil seorang diri. Akan tetapi, itu juga malah membuat Keke malah terlihat bagaikan orang yang terkena gangguan kejiwaan.

__ADS_1


Keke terlihat tertawa sendiri karena dia terlalu senang saat kembali mengingat jika Meera telah meninggal dunia. Tanpa dia tahu, bahwa sekarang Meera telah melawan mautnya sendiri untuk bisa bertahan dan kembali bersama keluarga kecilnya.


...***Bersambung***...


__ADS_2