
"Sayangnya aja, gua keburu disini. Padahal lu belum ma*ti di tangan gua, huhh sayang sekali. Lu punya nyawa berapa sih, bisa selamat dari maut yang sangat tragis itu? Atau jangan bilang, nyawa lu sama kaya kucing?"
Degh!
Hans hanya bisa tersenyum meski hatinya sedikit bergetar, mendengar perkataan dari Atun yang begitu menyakitkan perasaannya.
Sementara Bram dia sudah mengepalkan tangannya dengan kuat, rahangnya beradu hingga tatapannya benar-benar penuh kebencian terhadap Atun dan Jaka yang saat ini hanya tersenyum lebar dalam keadaan santai.
"Kauu!"
Bram sudah benar-benar telah terbawa emosi dan ingin berdiri untuk mencekram mulut Atun yang sangat pedas itu, seketika tidak terjadi.
Semua karena Hans segera menahan Bram, untuk kembali duduk dengan tenang serta memberikan isyarat pada tatapannya kepada Bram, supaya dia tidak sampai mengacaukan semuanya.
Kalau sampai keributan terjadi, maka sudah bisa dipastikan pertemuan ini akan segera berakhir dan Hans tidak bisa menemukan jawaban yang sebenarnya penyebab mereka dendam kepadanya.
"Sudah cukup, Bram. Diamlah, dan duduk dengan tenang. Semua ini biarlah menjadi urusanku dan jangan sekali-kalinya kamu mengacaukan semuanya."
"Ingat! Tujuan kita kesini ingin mencari informasi penyebab mereka bisa memiliki dendam begitu mendalam padaku!"
Hans berbicara dengan nada tegasnya, sambil menatap tajam kearah adiknya yang juga menatapnya kesal.
"Tapi, Kak. Mereka---"
"Ada apa dengan kami? Kami baik-baik saja!"
"Asal kalian tahu saja ya, sebelum kejadian itu kami adalah orang baik, tetapi karena kekejaman Kakakmu yang sudah membunuh orang yang sangat kami cintai. Berhasil membuat orang baik seperti kami ini, seketika berubah menjadi orang yang haus akan da*rah!"
Penjelasan Jaka ini mampu mengejutkan Bram, dia langsung menatap Kakaknya dengan mata mendelik. "Apa yang mereka katakan itu benar, Kak?"
__ADS_1
Suara bariton Bram, mulai keluar dan menggema di ruangan membuat Hans tidak bisa berkata. Lantaran Hans juga masih benar-benar sangat syok, selama ini dia hidup tidak pernah sedikitpun melakukan perbuatan yang teramat kejam seperti itu.
Apa lagi berkaitan sama pembunuhan, itu jauh sekali dari sifat Hans yang sebenarnya. Akan tetapi, Bram yang sudah kenal Hans dari kecil pun masih termakan oleh omongan Atun dan Jaka. Seakan-akan dia tidak percaya jika Kakaknya ini, tidak seperti apa yang mereka katakan.
Bram masih tidak menyangka, kalau memang benar apa yang mereka katakan itu merupakan kenyataan. Maka, bisa dipastikan akan kembali terjadinya peperangan antar saudara dan bahkan lebih dahsyat lagi dari sebelumnya.
"Kak, katakan padaku. Apakah yang dikatakan 2 tikus itu benar, kalau Kakak ini merupakan seorang pembunuh!" tegas Bram.
Kedua bola mata Bram terlihat begitu memerah penuh amarah yang sangat mendalam, dia tidak menyangka Kakaknya yang terlihat kalem dan pendiam ternyata adalah seorang pembunuh yang kejam.
Namun, Hans masih belum bisa menjawab semua itu. Rasanya hatinya benar-benar tidak mengerti apa yang Atun katakan itu.
Hans terlihat kebingungan harus menjawab apa, karena dia pun tidak merasa menyentuh bahkan menyakiti orang lain hingga membuatnya meninggal tepat di tangannya.
"Yaelah, percuma saja dia tidak akan ingat sama kejadian 4 tahun lalu. Dimana dia telah membunuh seorang anak kecil yang masih berusia 7 tahun, dengan menabraknya dan meninggalkan begitu saja!"
"Apa itu yang namanya tidak kejam? Anak yang seharusnya sedang asyik-asyiknya bermain, belajar dan menikmati masa kecilnya. Seketika nyawanya dia renggut begitu saja tanpa adanya rasa bersalah, apa itu yang dinamakan manusia, hahh!"
Degh!
Jantung Hans seketika memompa begitu cepat, saat perkataan Atun berhasil menusuk hatinya. Badannya pun mulai bergetar, hingga tangannya menjadi tremor. Hans tidak tahu, sebenarnya apa yang dikatakan Atun dan Jaka mengenai dirinya. Akan tetapi, kenapa rasanya begitu sesak di dalam dada hingga Hans meneteskan air matanya.
Emosi Atun terlihat begitu menggebu-gebu, sampai-sampai dia harus selalu menekankan kalimat demi kalimat untuk mempertegas, bahwasanya Hans sudah merenggut nyawa anak mereka begitu tragis.
Air mata Atun runtuh setelah bertahun-tahun mencoba untuk di sembunyikan, agar tidak kebali merasakan kesedihan termat mendalam atas kehilangan anak satu-satunya. Sama seperti Jaka, tangannya mengepal cukup kuat dan menatap Hans penuh air mata kebencian.
Pada akhirnya Bram langsung menyerongkan tubuh Hans agar menatap wajahnya. Dimana kedua tangan Bram, mencekram kuat kedua bahu Hans serta menggoyang-goyangkan badannya.
Semua itu bertujuan agar Hans mau berbicara dan mencoba menjelaskan kepadanya, sebenarnya apa yang telah terjadi 4 tahun lalu.
__ADS_1
Bram sama sekali tidak kuat mendengar jeritan seorang Ibu yang terus meraung untuk mengutarakan rasa sakit hatinya, membela hak anaknya lantaran nyawa anaknya di renggut begitu saja tanpa rasa kasihan.
"Kak, jawab aku. Jawab pertanyaanku, apakah benar yang mereka katakan kalau Kakak ini merupakan seorang pembunuh!"
"Jawab, Kak. Jawab!"
"Jangan diam seperti ini, apa Kakak tidak kasihan melihat mereka menderita selama 4 tahun akibat nyawa anak mereka Kakak renggut begitu saja!"
"Jika memang Kakak yang membunuh anak mereka, katakan dan jelaskan pada kami kenapa Kakak membunuhnya. Apa salah anak itu sama Kakak, hingga Kakak tega membunuhnya tanpa adanya perasaan."
"Ingat, Kak. Kakak juga sebentar lagi akan memiliki anak, bahkan Meera akan melahirkan dalam beberapa bulan lagi. Lantas, apakah Kakak sanggung jika nyawa anak Kakak di renggut begitu saja? Tidak 'kan, maka dari itu ceritakan apa.yang sebenarnya terjadi!"
"Please, Kak. Jika itu benar, tolong akui perbuatan Kakak, agar Kakak bisa jalani proses yang ada demi menebus semua dosa Kakak pada anak mereka."
"Bagaimana kalau samlai Meera tahu, suaminya adalah seorang pembunuh, apakah hatinya tidak akan terluka? Lantas, bagaimana nasib anak Kakak jika tahu Ayahnya yang selama ini di ceritakan adalah orang baik, ternyata seorang pembunuh yang kejam. Bagaimana perasaannya, Kak. Bagaimana!"
Bram terus menggoyang-goyangkan tubuh Hans dengan sangat cepat. Dia benar-benar terpukul saat tahu semua ini dari mulut kedua tikus itu. Meski, rasanya Bram masih sedikit tidak percaya jika Kakaknya setega ini, akan tetapi diamnya Hans menjadi jawaban kalau yang dikatakan Atun memang benar adanya.
Beberapa polisi yang ada di sana mencoba untuk menenangkan kedua pihak yang sudah mulai terpancing satu sama lain. Bahkan polisi itu memperingati agar mereka bisa berbicara dengan tenang tanpa adanya teriakan ataupun bentakan.
Jika memang itu kembali terjadi, maka pertemuan ini akan berakhir sia-sia dan jawaban sebenarnya tidak bisa didapatkan.
Bram mencekram kepalanya sendiri di saat Kakaknya masih tidak mau berbicara. Terlihat jelas bahwa Hans seperti sangat syok mendengar semua ini, hingga dia mencoba untuk mengingat kejadian-kejadian 4 tahun lalu.
Apakah benar dia telah membunuh anak kecil? Atau ini hanya kesalah pahaman diantara Atun, Jaka dan juga Hans. Sehingga menimbulkan dendam yang salah sasaran.
Atun cuman bisa terus menangis ketika dia kembali mengingat kejadian, dimana dia harus melihat anaknya pergi untuk selamanya.
Sementara Jaka pun ikut meneteskan air matanya memeluk istrinya, karena selama 4 tahun ini Jaka menyaksikan bagaimana kerasnya Atun untuk melawan emosi didalam dirinya agar tidak menangisi kepergian anaknya.
__ADS_1
Akan tetapi, semua ini runtuh ketika Atun kembali mengutarakan isi hatinya kepada Hans, yang di tuduh sebagai pembunuh anaknya.
...***Bersambung***...