
Wajah kesal, tatapan tajam dan sedikit kepalan tangan menandakan bahwa sekretaris itu sangat kesal dan juga marah. Selama ini dia sudah berusaha keras untuk mendekati Hans, tapi hasilnya nihil. Sedangkan Meera yang statusnya cuman mantan bekas dari Daddynya semudah itu mendapatkan Hans.
Tanpa mau berlarut dari amarahnya dia langsung kembali bertugas menyelesaikan semua urusannya dan menyiapkan semua yang akan dia bawa ke ruang meeting nanti.
...*...
...*...
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, dimana Hans baru saja selesai dengan semua pekerjaannya. Ya meskipun ini termasuk lembur, tetapi Meera tidak merasa jenuh untuk menemani suaminya. Karena ketika suaminya bekerja, Meera hanya tertidur sambil menonton film yang dia sukai.
"Sudah siap?" tanya Hans saat memasuki kamar, mengecek keadaan Meera.
"Udah, kok. Ayo kita pulang," jawab Meera, penuh senyuman sambil memakai tas selempangnya lalu memasukan ponselnya.
Meera berjalan keluar dari kamar, sementara Hans menutup pintu kamar. Setelah itu Meera merangkul sambil menggenggam tangan Hans begitu erat. Entah mengapa Meera sangat bahagia, setelah dia berhasil mengungkapkan isi hatinya kepada suaminya sendiri.
Melihat istrinya mulai manja dengannya, hati Hans terasa begitu bahagia. Walaupun mulut tak bisa mengungkapkan menggunakan kata-kata, tetapi hati bisa merasakan betapa Hans sangat mencintai Meera melebihi dia mencintai dirinya sendiri.
"Bisa kan, kalau pegangan itu biasa aja? Enggak usah kaya wanita kegatelan, enggak pantas. Kamu itu Nyonya Hans, jadi jangan buat aku malu di depan para karyawan. Pahan, kan?"
Meskipun wajah Hans terlihat datar dan nadanya sedikit kesal, Meera sangat mengerti jika suaminya ini hanya malu dan juga gengsi kalau semua para karyawan menatap aneh kepada mereka.
"Hehe, ya maaf Bee. Aku kan sengaja, biar mereka semua tahu kalau Tuan Hans yang terlihat dingin, sudah memiliki pawang yang sangat cantik sepertiku ini." Meera dengan penuh kepercayaan diri memuji dirinya sendiri.
Kedua pipi Hans seketika mengencang dan sedikit merah merona menahan rasa malunya. Melihat itu membuat Meera gemas, lalu mennoel-noel pipi Hans sesekali tertawa.
"Hihi, lutuna cuamiku alo agi alu ceperti ini. Uhh tayang, tayang, tayang. Muachh," Rasa gemas menyelimuti Meera, hingga dia memanjakan Hans seperti Big Babynya sendiri, bahkan satu kecupan mendarat di pipi suaminya tanpa ragu sedikitpun.
__ADS_1
"Yakk, stop! Sekali lagi kamu bersikap seperti itu, aku tidak akan mengajakmu ke sini." ancam Hans, membuat Meera terkekeh geli. Seberapa besar Hans melarang istrinya untuk datang keperusahaan, itu tidak membuatnya gentar.
Meera malah merasa senang akan tantangan, hanya bermodalkan nama dengan menyebutkan Nyonya Hans. Sudah bisa dipastikan Meera akan puas memasuki Perusahaan tanpa embel-embel apapun.
"Ke-kenapa malah ketawa sih, ada yang lucukah dengan ucapanku? Harusnya kamu tuh takut bukan malah terlihat seperti ini!" ucap Ace sangat kesal, saat menyaksikan istrinya menertawakannya.
"Habisnya kamu lucu sih. Udah tahu aku ini Nyonya Hans, jadi bagaimana mungkin kau bisa melarangku? Aneh, haha ...."
Perkataan Meera berhasil membuat Hans menyadari kesalahannya, apa yang dikatakan istrinya memang benar adanya. Siapa juga yang berani melarang Nyonya Hans, bahkan dirinya sendiri pun takut.
Apa lagi dihati Hans sudah ada cinta untuk istrinya, sehingga semua itu akan semakin membuatnya berjaga-jaga supaya istrinya tidak sampai marah padanya.
Tahulah ya, bagaimana marah seorang wanita. Mereka akan lebih menyeramkan dari singa hutan yang sangat liar.
"Ckk, udahlah jangan banyak ketawa entar kamu ngompol dimobilku, awas ya!" sahut Hans, yang sudah tidak kuat lagi menghadapi istrinya.
Mereka berdua turun ke lantai bawah, dimana banyak karyawan yang lalu lalang melewati mereka dalam keadaan wajah tersenyum.
Beberapa dari mereka pun merasa kagum dengan kebesaran hati Hans, yang rela menikahi Ibu tirinya sendiri. Sama halnya seperti Meera, dia sangat beruntung bisa mendapatkan berondong manis dan juga tampan seperti Hans.
Meskipun ada beberapa dari mereka yang tidak suka menatapnya, cuman tenang. Masih ada banyak pasang mata yang melindungi mereka hingga mengawalnya sampai bahagia.
...*...
...*...
...Di dalam mobil milik Hans...
__ADS_1
Hans terdiam dengan perasaan yang campur aduk, hari ini seperti hari yang sangat bersejarah baginya. Dimana kebahagiaan itu mulai muncul sedikit demi sedikit.
Sementara Meera, dia terus menatap ke arah samping melihat jalanan yang semakin malam semakin rame. Rasanya dia sudah sangat lega karena sudah berhasil mengungkapkan perasaannya sendiri. Walau dia tidak tahu kapan Hans akan menjawabnya, setidaknya Hans sudah tahu kalau istrinya yang dia anggap tidak akan pernah mencintainya, sekarang telah berhasil membuktikan semua itu.
Disaat mereka sedang menikmati sepinya malam, tiba-tiba Hans mendengar suara yang tidak asing ditelinganya.
"Apa kamu mendengar ada suara aneh?" tanya Hans sedikit menoleh, dan kembali lagi fokus pada laju mobilnya.
Meera menoleh ke arah Hans dalam keadaan wajah menyengir kuda, sehingga Hans yang melihatnya sedikit bergidik ngeri.
"Ke-kenapa nyengir kek kuda? Perasaan tadi aku cuman nanya, bukan melawak."
"Hehe, ma-maaf. Ta-tadi itu suara aneh yang berasal dari sini." Meera menunjuk kearah perutnya sendiri, yang mana Hans langsung paham dengan kode yang Fayra berikan.
"Kalau laper tuh ngomong jangan diam aja, punya mulutkan? Jadi gunakan dengan baik, gimana kalau kamu sakit?" Hans terlihat kesal menatap Meera.
Sementara Meera menundukkan kepalanya sambil memainkan jarinya, terlihat jika dia sangat sedih ketika suaminya sedikit berbicara dengan nada yang tinggi.
"Ma-maaf, aku salah. Jangan marah-marah ya, please ...." Meera menatap Hans, dengan mata berkaca-kaca sambil memohon.
"Huhh, baiklah. Sekarang mau makan apa? Dimana?" tanya Hans dengan nada yang mulai melembut.
"Hem, dimana ya yang enak?" Meera mengetuk-ngetukkan jarinya di dagunya seraya berpikir menatap langit mobil. "Ahaa, gimana kalau kita makan di sana?" Meera menunjuk ke arah depan, dengan antusias dan tersenyum lebar.
Mata Hans mengikuti arah yang Meera tunjukkan di depan sana. Tanpa disangka Hans refleks mengerem mobilnya secara mendadak ketika menatap apa yang Meera tunjukkan.
__ADS_1
...***Bersambung***...