Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Cemas


__ADS_3

Meera berdiri dan bercemin, lalu dia berbalik serta melangkahkan kedua kakinya tanpa menggubris semua ucapan suaminya.


Sampai akhirnya saat Meera ingin membuka pintu kamarnya, tiba-tiba perkataan Hans mampu membuatnya terdiam mematung tanpa kembali melakukan pergerakan.


"Maafkan suamimu yang tidak berguna ini, Nyonya Hans! Saya akui, saya memang tidak bisa menjamin sebuah kebahagiaan untukmu, tetapi saya sedang berusaha untuk mewujudkannya. Meskipun banyak kesalahan yang selalu saya lakukan, hingga tanla sadar aku sudah membuat hatimu terluka atas semua perkataanku tadi."


Degh!


Mendengar semua itu tubuh Meera seakan-akan melemas, rasanya dia ingin sekali jatuh pingsan. Hanya saja dia masih berpikir bahwa ini hanyalah sebuah rayuan maut dari seorang pria demi mendapatkan kata maaf.


Entah mengapa, sudut bibir Meera sedikit tertarik kesamping mengukir sebuah senyuman yang sangat kecil, tipis dan bahkan nyaris tidak terlihat.


"A-apa aku ti-tidak salah dengar jika dia memanggilku dengan sebutan Nyonya Hans?"


"Jika benar, ada angin apa dia berkata seperti itu? Apa dia begitu karena cuman ingin mengambil hatiku supaya tidak jadi marah? Wah, benar-benar licik!"


Batin Meera bergumam dengan semua pikiran jeleknya yang kini sudah menjadi satu kesatuan. Tanpa menggubris perkataan Hans, Meera kembali melangkah keluar dengan perasan yang tidak karuan.


Hatinya mulai berdebar membuat wajah Meera sedikit merona, hingga menimpulkan salah tingkah ketika dia mulai menuruni anak tangga menuju dapur.


Perlahan Meera mencoba untuk menenangkan hati serta jantungnya yang kian berdetak begitu cepat. Apa lagi tangannya pun sedikit bergetar, ketika sedang mengambil sebuah mangkuk besar untuk menempati nasi goreng yang sudah dia panaskan.


"Astaga, ada apa sih ini? Kenapa tubuhku memberikan respon seperti ini setelah mendengar ucapan Hans, malah menajadi terngiang-ngiang dikepalaku?"


"Apa itu artinya jika aku sudah mulai membuka hati untuknya? Jika benar, apakah aku sanggung mencintai dia melebihi aku mencintai mendiang suamiku dan juga Bram?"

__ADS_1


"Entahlah, yang terpenting bagiku saat ini bagaimana caranya aku bisa mengembalikan keadaan seperti semula. Dimana Hans dan Bram akan selalu kompak sebagai saudara tanpa adanya jarak diantara mereka."


Meera mengoceh sendiri sambil menyiapi semua masalan ke ruang makan dan terus mengoceh sendiri dengan suara yang sedikit gelisah.


Saat semuanya sudah selesai tersusun rapi diatas meja makan. Tiba-tiba Meera mengingat akan sesuatu hal yang hampir saja dia lupakan.


"Astaga, kenapa aku sampai lupa ya. Kemarin kan aku sempat membelikan jas kembar untuk mereka, cuman kenapa aku belum memberikannya. Ehh tu-tunggu, bagaimana caranya aku bisa memberikan jas itu tanpa mendapatkan penolakan?"


"Aku tahu sih, jika Hans mungkin tidak akan keberatan dengan hadiah itu. Akan tetapi berbeda dengan Bram, pasti dia akan menolak keras apa lagi dia masih merasa kecewa dengan semua kejadian itu."


"Huhh, aku harus bagaimana ya. Ohya, kan sebentar lagi akan ada acara perayakan Caffe Bram yang sudah memasuki usia 3 tahun. Pasti dia akan membuat sebuah acara untuk merayakan ulang tahun Caffenya itu, cuman gimana cara mengasih jasnya?"


Meera berdiri terdiam dengan semua pikirannya yang sangat bingung, disela icehan Meera seseorang langsung menyahuti ucapannya yang dari tadi tidak sengaja mendengarnya.


"Berikan padaku, nanti akan aku berikan padanya!" ucapnya dengan nada sedikit cuek.


"Buat apaan aku nguping, makannya kalau lagi nyiapin makanan itu jangan sambil ngoceh sendiri. Untung yang datang diriku, coba jika Bram. Mungkin sebelum kamu memberikan semua itu, dia langsung menolak tegas dengan perkataan yang bisa membuatmu sakit."


"Jadi, lebih baik berikan padaku saja. Nanti akan aku berikan pada Bram dengan caraku sendiri, hitung-hitung aku ingin menyenangkan calon suamiku tanpa harus mengeluarkan banyak uang. Bagaimana?"


Tawaran menarik dari Alice berhasil membuat Meera terdiam, banyak pikiran yang mengganjalkan didalam kepalanya. Entah mengapa Meera merasa jika Alice seperti ini karena dia ingin memanfaatkan keadaan, untuk mencari perhatian Bram.


Namun, disisi lain Meera juga merasa jika Alice bisa membantunya untuk mengembalikan keadaan. Hanya saja Meera merasa bingung, jika Alice seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


Saat Meera ingin mengatakan kecurigaannya tentang Alice, mata Meera menatap kearah Bram yang baru saja datang.

__ADS_1


Bram terdiam tanpa mengatakan sesuatu kepada Meera, dia malah langsung memeluk Alice tanpa rasa malu dan mencium pipinya.


Rasa panas dihati Meera kian berkobar, tetapi dia masih bisa menahannya karena melihat suaminya yang datang dalam keadaan wajah datar dan juga tanpa ekspresi sedikitpun.


Semua pun duduk bersamaan, dimana Bram dan Alice terlihat begitu romantis. Sedangkan Meera sama Hans malah menatap kearah mereka dengan perasaan yang berbeda.


Hans menatap mereka karena rasa irinya yang sedikit menjalar dihatinya, begitu juga dengan Meera yang menatap mereka dengan perasaan yang sudah tidak bisa dijelaskan lagi.


Alice mengambilkan semua makanan kedalam piring Bram dengan penuh senyuman, lalu diikuti oleh Meera yang sedikit tersenyum.


Melihat Meera seperti itu membuat Hans mengerti, jika saat ini wajah Meera sedikit terlihat kesal tetapi dia pandai untuk menyembunyikannya.


"Secinta itukah kamu sama dia, Raa? Sampai kamu hanya melihat kedekatan mereka sudah membuat hatimu kebakar cemburu."


"Satu yang aku salutin dari kamu yaitu, kamu terlalu pandai untuk menyembunyikan perasaanmu dan menunjukkan jika kamu dalam keadaan baik-baik saja. Padahal hatimu begitu hancur atas semua sikap mereka."


Hans bergumam didalam hatinya, lalu memegang alat makan sambil sesekali melirik kearah istrinya yang saat ini hanya menatap makanannya.


Satu suapan masuk kedalam mulut Meera secara perlahan, diikuti dengan Hans yang sangat menikmati masakan istrinya yang begitu lezat.


Siapa sangka, seseorang menjatuhkan alat makannya dengan keadaan yang sangat menyedihkan, napasnya kian memburu hingga hampir saja terasa sesak. Ditambah tubuhnya terdapat bintik-bintik merah yang kini sudah mulai memenuhi tubuhnya.


Melihat itu membuat semua langsung menjadi panik, apa lagi Meera yang saat ini terlihat gelisah hingga dia beberapa kali mencari cara untuk membuat orang seseorang itu tenang.


Tanpa basa-basi lagi, mereka semua bergegas pergi membawa seseorang itu ke rumah sakit. Sesampainya disana seseorang itu langsung dilarikan keruang UGD.

__ADS_1


...***Bersambung****...


__ADS_2