
Dari ekspresi wajah Meera, Hans bisa tahu jika sebenarnya Bram memang sudah tidak peduli dengannya. Padahal dibalik itu semua adalah suatu kebohongan terbesar, kalau Bram tidak lagi mencemaskan kondisi Kakaknya sendiri.
Perlahan Meera mulai menjelaskan semuanya dari awal mereka membawa Hans ke rumah sakit. Jika sebenarnya Bram adalah orang yang paling mengkhawatirkan Hans, dari pada dirinya sendiri.
Disaat Meera dan Hans sibuk bercerita sembari Meera memakan roti yang tidak Hans makan tadi. Semua berkat Hans, karena dia sangat tahu jika Meera belum makanan sesuatu apapun dari pagi.
Mungkin dengan roti bisa membuat Meera mengganjal perutnya, sampai dia benar-benar sudah merasa sangat lapar. Barulah dia akan membeli makanan.
Berbeda dengan pasangan yang selalu saja ribut, saat keduanya melakukan hal kecil yang membuat salah satu dari mereka merasa kesal. Siapa lagi jika bukan Alice dan Bram.
...Di rumah sakit X, kamar Matahari nomor 12....
"Hai, Nenekku yang Cantik. Cucumu sudah datang, kapan Nenek akan bangun, hem? Apa Nenek tidak bosan tidur terus? Apa Nenek juga tidak kangen dengan Alice?"
"Huhh, menyedihkan. Nenek tahu enggak, cucumu ini sudah terjebak di 2 dunia yang sangat menyebalkan. Pertama harus terjebak di dunia hiburan dan kedua, terjebak di dunia tipu-tipu. Semua itu hanya demi Nenek, apa Nenek tidak kasihan denganku?"
"Ayolah, Nek. Bangun ya, Alice mohon buka mata Nenek. Kita jalani kehidupan sama-sama lagi, dimana aku akan selalu memeluk Nenek setiap pagi hari dan juga baru pulang kerja. Sementara Nenek akan selalu memarahi Alice dengan semua kebawelan Nenek,"
"Ya, memang sih. Pada waktu itu Alice selalu merasa kesal mendengar ocehan Nenek yang tiada hentinya. Cuman, saat Nenek terdiam seperti ini, dunia Alice semuanya hancur, Nek. Alice rela menjual tubuh Alice hanya demi pengobatan Nenek, Alice tidak peduli semua itu asalkan Alice bisa kembali hidup bersama Nenek."
__ADS_1
Air mata Alice perlahan runtuh, yang awalnya dia bertekat untuk tidak menangis dan akan tetap terus tersenyum menyapa sang Nenek.
Kini sudah tidak bisa ditahan lagi, ketika Alice duduk sambil memegangi tangan Neneknya, lalu menempelkannya di pipi. Kemudian tangan satunya mengelus pipi Neneknya begitu pelan.
Setiap perkataan yang Alice ceritakan kepada sang Nenek, berhasil menarik simpati Bram yang saat ini berdiri tepat dibelakangnya sambil kedua tangan bertumpuan penyanggah kursi. Bram sedikit membungkukkan tubuhnya tepat di atas kepala Alice.
"Udah enggak usah nangis lagi, wajahmu akan bertambah jelek jika menangis seperti itu. Masalah pengobatan Nenekmu, biar aku yang akan menanggung semua sampai Nenekmu sembuh. Bahkan kita bisa membawanya ke luar negeri dalam waktu dekat ini."
Perkataan Bram berhasil membungkam mulut Alice, lalu membuatnya langsung mendongak keatas menatap wajah Bram yang sudah menunduk.
Kedua mata mereka saling menatap satu sama lain, sampai beberapa detik Alice mulai mengalihkan matanya disaat wajah memerah. Alice berusaha menahan semua perasaan malu bercampur nervous dan bersikap biasa.
"Tidak, aku tidak bercanda. Kalau Aku bercanda ngapain aku berbicara dihadapan Nenekmu seperti ini? Aku serius mengatakan semuanya, karena pada waktu itu aku mau membicarakan soal masalah ini, tetapi kamu selalu beranggapan negatif!"
"Padahal niatku baik, aku akan membiayai semua pengobatan Nenekmu asalkan kamu mau meninggalkan dunia hiburan itu. Dan jadilah kekasih pura-puraku sampai semua balas dendamku usai."
"Hanya itu syaratnya, setelah lepas dari dunia itu kamu mau mencari kerjaan pun tak masalah, atau kamu mau bekerja di Cafeku pun tidak apa. Dengan senang hati aku akan membantumu."
Bram mulai menjelaskan kepada Alice tentang pekerjaannya, yang seharusnya Alice bisa mendapatkan pekerjaan yang layak untuk hidupnya sendiri. Bukan pekerjaan kotor seperti ini, apa lagi dia begini karena untuk membiayai hidup Neneknya.
Dari sini Alice terdiam mendengar semua perkataan Bram untuk menyudahi semua permainan kotor ini. Bagi Bram, Alice berhak memilih kebahagiaan tersendiri setelah lepas dari sebuah penjara yang sedang dia jalani didalam kehidupannya.
__ADS_1
Alice menangis sejadi-jadinya sambil tanpa sadar memeluk tubuh Bram yang saat ini berdiri disamping dia duduk.
Mendengar isak tangis Alice, membuat Bram merasa kasihan. Hatinya tersetuh ketika dia berhasil menyadarkan Alice yang sebenarnya sudah salah jalan. Bram mengeluk kepala Alice perlahan dan mencoba untuk menenangkannya.
Betapa beruntungnya Alice, bisa menemukan pria sebaik Bram. Walaupun Bram terbilang orang yang sangat pemarah, dan juga sedikit arogan, tetapi bagi Alice Bram adalah pria yang sangat baik sedunia.
Ya, memang sih Alice masih belum bisa sepenuhnya menebak apa yang terjadi diantara Bram dan Kakak kandungnya sendiri. Sehingga dia menggunakan Alice sebagai bahan balas dendam kepada Meera, dengan tujuan membuat mereka terluka lebih dari apa yang Bram rasakan.
"Sstt, sudah jangan menangis. Sekarang waktunya untukmu bahagia, aku akan membantu kamu untuk berbicara dengan sahabatku."
"Setelah kamu terbebas dengan dunia itu, kamu bisa terbang bebas kemanapun kamu mau. Asalkan kamu ingat, aku masih sangat membutuh kamu untuk menghancurkan Kakakku serta wanita yang sudah mengkhianatiku."
Alice melepaskan pelukannya, lalu dia meminta maaf kepada Bram karena telah lancang untuk menyentuhnya. Sementara Bram tidak masalah, karena memang mereka sudah pernah saling menikmati tubuh masing-masing.
Namun, setelah Bram tahu jika Alice bukan seperti wanita yang dia bayangi. Seketika rasa ingin menggunakannya terhenti, dan berganti dengan rasa kasihan dan berniat ingin merubah semua kehidupan suram Alice agar bisa jauh lebih baik lagi.
Bahkan ketika mereka tinggal satu kamarpun, Bram memilih tidur diatas sofa panjag yang ada didalam kamarnya. Untungnya sofa tersebut merupakan sifat lipat bagaikan kasur sehingga tidak akan membuat tubuhnya kesakitan.
Alice tersenyum kecil menerima semua masukan yang Bram berikan, sampai akhirnya dia mengikuti semua perkataan Bram. Dan Alice berjanji setelah dia sukses nanti, dia akan membalas semua kebaikan Bram atas kehidupannya sekarang.
...***Bersambung***...
__ADS_1