Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Sentuhan Manja


__ADS_3

Ternyata Hans bisa juga mengembalikan mood istrinya yang sempat hancur, dan sekarang malah terlihat sangat bahagia.


Tanpa basa-basi lagi, mumpung mood Meera lagi baik. Hans segera menyuapini salad tersebut untuk istrinya agar perutnya yang terasa kosong bisa terisi.


Apa lagi saat makan malam tadi Meera hanya makan sedikit, dan itu pun tidak ada sampai 1 centong nasi. Sehingga Hans sedikit mengkhawatirkan kondisi istrinya, jika sampai itu berlarut akan membuat asam lambung atau penyakit magh Meera kambuh.


...*...


...*...


...Di kamar Bram dan Alice...


Bram sedang duduk sambil memainkan ponsel, lalu mengecek sosial medianya. Sementara Alice udah hampir 1 jam mandi tidak kunjung selesai, membuat Bram sedikit bingung dan khawatir.


Bukan karena Bram sudah tak sabar ingin meminta bonus, melainkan dia hanya takut jika Alice kenapa-kenapa di dalam kamar mandi.


Bram pun turun dari ranjangnya berjalan mendekati pintu kamar mandi, lalu dia mengetuk pintu tersebut sedikit kasar.


Tok, tok, tok!


"Lis, kamu aman kan di dalam? Semua baik-baik aja kan? Sudah hampir 1 jam lebih loh kamu dikamar mandi, dan kali ini tidak seperti biasanya kamu mandi!" ucap Bram, cemas.


Alice yang mendengar suara Bram dari dalam membuatnya terkekeh kecil saat menatap sebuah cermin. Tanpa Bram ketahui, ternyata Meera habis berendam di air hangat guna menstabilkan moodnya yang kurang membaik.


Sampai akhirnya Alice berhasil meredakan mood itu, dan kini waktunya Alice keluar untuk sedikit merias tubuhnya lalu memanjakan orang yang sudah berhasil membuatnya jatuh cinta.


Ceklek!


Pintu terbuka bersamaan dengan munculnya Alice, berhasil membuat Bram menelan slavinanya secara kasar. Dia tidak menyangka jika Alice akan berpenampilan seindah ini tepat di hadapannya.

__ADS_1



Baju ringerie berwarna abu-abu menambah kesan kecantikan tersendiri bagi Alice, entah ini pakaian dari mana yang penting malam ini dia benar-benar terlihat berbeda dari biasanya.


"Ada apa, kenapa kamu mengkhawatirkanku? Aku baik-baik aja kok, aku cuman habis berendam saja." ucap Alice sambil berjalan melewati Bram. Lalu berhenti tepat di depan cermin.


"Se-sejak kapan kamu punya baju seperti itu?" tanya Bram, gugup saat melihat tubuh mulus Alice dari arah belakang cukup terbuka dan sedikit menonjol.


"Sejak aku tinggal disini, awalnya sih aku beli baju ini untuk coba-coba supaya terkesan seperti nyata. Cuman karena dia lupa, jadi ya aku taruh aja di salah satu laci dikamar mndi. Ehh, malah aku baru ingat sekarang. Ya udah, aku pakai deh. Kenapa cantik, bukan?"


Alice berbalik dengan berbagi pose yang berhasil membuat jakun Bram naik-turun secara cepat. "S-stop, Lis. Ja-jangan seperti itu. Na-nanti aku---"


"Aku apa, Sayang. Hem? Katanya tadi ingin meminta bonus, baiklah aku akan memberikannya malam ini spesial untukmu." goda Alice sambil memutari Bram dengan gaya jahilnya.


Merasa tertantang oleh tingkah Alice, Bram langsung menarilk pinggang Alice dan merekatkan kedaklam tubuhnya. Dimana wajah mereka terlihat sangat dekat, bahkan hidungnya pun hampir menempel satu sama lain.


Tanpa disangka, Alice segera mengalungkan kedua tangannya di leher Bram sambil tersenyum manja menatap manik matanya. "Biarkan aku yang bekerja malam ini, kau hanya perlu 0pmenikmatinya dan memejamkan kedua matanya."


Bram hanya tersenyum menganggukan kepalanya perlahan, lalu Alice pun melepaskan pelukannya dari Bram. Kemudian dia mengambil remot kecil untuk mengangtifkan kedap suara kamarnya, dan menyetel lagu romantis yang akan menemani malam mereka yang sangat panas ini.


Melihat perlakuan Alice yang benar-benar akan memanjakan Bram membuat hatinya begitu bahagia, entah mengapa Bram tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Dia hanya bisa menantikan malam yang sunyi ini berubah menjadi malam yang indah untuknya. Karena kali ini yang akan memulai permainan adalah Alice, bukan Bram.


Alice kembali dengan membuka luaran ringerie hingga menyisakan dalamnya saja yang terkesan begitu se*xy.Membali mengalungkan tangannya di leher, sedangkan tangan Bram memeluk pinggang ramping milik Alice.


Langkah demi langkah mereka pijakkan dengan mengikuti irama lantunan suara musik berdansa. Dimana tatapan mereka begitu mendalam layaknya, sepasang kekasih yang sedang saling mentransfer kasih sayangnya satu sama lain.


Pancaran cinta dan juga kenyamanan mulai menyelimuti hati mereka yang terasa begitu hampa. Bahkan hati mereka itu bagaikan sebuah magnet 2 kutub yang saling bertolak belakang. Sehingga ketika di dekatkan mereka akan saling menarik satu sama lain.

__ADS_1


Mereka tersenyum menikmati suasana yang sederhana, tetapi berkesan sangat indah. Tanpa di rasa Alice menempelkan bibirnya kepada Bram, kemudian Bram hanya bisa menikmati sambil membalasnya.


Hampir 5 menit mereka melakukan adegan romantis itu didalam tarian yang membuat mereka mulai terhanyut. Alice membawa Bram untuk mendekati ranjang, perlahan dia mendudukan serta mendorong Bram untuk segera tiduran diatas ranjang dalam keadaan terlentang.


Bram tersenyum melihat Alice sedang merangkak untuk berada diatasnya, lalu dia membuka satu persatu kancing piyama milik Bram hingga terlihatlah tubub kekah dengan lapisan roti sobek 6 yang sangat menggiurkan.


Sentuhan kecil Alice ukir untuk menja*mah tubuh Bram, sambil memberikan rang*sangan yang menghasilkan sengatan listrik dengan tegangan kecil.


Ciuman kecil Alice berikan kepada tubuh Bram, mulai dari leher dengan sedikit memberikan tanda kepemilikan. Sehingga berhasil membuatnya memejamkan kedua matanya merasakan sesuatu yang begitu menggelikan.


Sampai akhirnya kecupan itu mulai turun mengenai roti sobek milik Bram, dan dengan perlahan tangan Alice kembali membuka celana Bram secara perlahan.


Betapa terkejutnya Alice ketika sebuah pedang panjang menjuntai keluar dengan sangat indah. Membuat Alice terkekeh dengan sendirinya, melihat pedang tersebut begitu lucu.


Rasa malu dan juga gugup kini melanda Bram, bahkan dia hanya bisa tersenyum kikuk sambil menutup wajahnya saat melihat Alice begitu gemas memainkan pedang pusakanya tersebut.


Sentuhan jari jemari lentik milik Alice, membuat Bram merem-melek untuk merasakan kocokan demi kocokan yang diberikan.


Mulai dari iraman pelan, sedang bahkan cepat. Hanya saja Alice seperti sangat tahu bagaimana cara mengulur waktu agar Bram tidak sampai mencapai puncaknya lebih dulu.


"Ssttt, arghh. Faster Baby, pleace!" ucap Bram yang sudah tidak kuat menahan sesuatu yang ingin keluardari tubuhnya.


"No, Baby. Tidak semudah itu kamu melakukan pelepasan, nikmati saja apa yang akan aku lakukan. Aku jamin kamu akan merasakan sensasi yang berbeda dari apa yang kita lakukan biasanya," balas Alice yang terus bermain dengan pedang pusakan milik Bram, lalu sedikit menggodanya.


Seharusnya dalam waktu kurang lebih 15 sampai 20 menit Bram bisa melakukan pelepasan yang pertama kali nya.


Sayang semua gagal, akibat ulah Alice yang selalu mengacaukannya. Kini, Bram harus membuang waktunya hanya demi bisa merasakan pelepasan pertamanya yang membutuhkan waktu selama 45 menit.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2