
Bagaimana bisa noda itu muncul, disaat Meera sudah pernah melakukannya bersama mantan suaminya dan juga Hans meski tanpa di sadari? Jawabannya hanya ada pada Meera.
"Setelah kita selesai melakukannya aku butuh penjelasan darimu!" ucapnya.
Hans menatap tajam ke arah Meera, membuatnya sedikit ketakutan. Apa yang dia bayangkan beberapa saat tadi ternyata benar-benar terjadi.
Dari sinilah Meera hanya bisa mengangguk dengan semua rasa bersalahnya. Meera berharap disaat dia menceritakan semuanya, Hans tidak akan merasa kecewa dengannya.
Hans yang sedang diambang hasrat kian meninggi, langsung saja menggarap milik istrinya dengan berbagai goyangan yang dia bisa.
Ya, namanya juga pemula pasti hanya mengandalkan goyangan biasa saja. Tidak seperti orang yang sudah berpengalaman atau pun memiliki ekspetasi yang tinggi bersama pasangannya.
Hampir 2 jam lebih, mereka melakukan penyatuan dan hampir beberapa kali mereka melakukan pelepasan lahar putihnya di dalam. Bersamaan dengan itu, tubuh mereka yang saling bergetar satu sama lain.
Pelukan, ciuman, lu*matan, gigitan bahkan hentakkan selalu dilakukan secara bersamaan, guna membuat keduanya bisa merasakan sesuatu yang tidak pernah mereka rasakan.
Setelah puas dengan 7 ronde, akhirnya Hans tumbang tepat di samping Meera dalam posisi mereka terlentang.
Suara napasnya masih terdengar sangat tersenggal-senggal, layaknya seseorang yang sangat kelelahan akibat aktifitas olah raga malamnya.
Hans sedikit memiringkan tubuhnya melihat wajah istrinya seperti ada yang dipikirkan. Tidak banyak.berbicara, Hans segera membawa Meera ke dalam pelukannya. Kini, tumpahlah air mata Meera yang sedari tadi berusaha dia bendung.
Entah mengapa, Hans bisa merasakan jika ada sesuatu yang Meera sembunyikan darinya. Akan tetapi, Hans tidak akan memaksakan Meera untuk jujur sekarang. Dilihat dari kondisi Meera yang masih seperti ketakutan, syok dan juga terkejut menjadi satu. Kali ini, Hans cuman bisa menenangkan istrinya dengan caranya tersendiri.
15 menit berlalu, Meera sudah mulai tenang. Barulah Hans melepaskan pelukannya sambil mengusap semua air mata yang ada diwajah cantik istrinya.
"Suut, udah ya jangan nangis lagi. Aku gapapa, kok. Apa rasanya masih sakit, hem?" tanyanya.
"Se-sedikit, tapi masih sangat perih ketika melakukan pergerakan kecil."
__ADS_1
"Ya sudah tak apa, sekarang kita bersih-bersih dulu ya. Baru nanti istirahat, biar badan bisa lebih segar. Mau aku bantu?"
Meera hanya tersenyum manja, menganggukan kepalanya kearah Hans dengan perasaan sedikit malu.
Hans mencubit gemas hidung istrinya, lalu bangkit dari tidurnya dan menggendong Meera. Kemudian perlahan membawanya ke arah kamar mandi, dimana Meera yang membukaan pintu. Dengan tujuan agar mempermudah Hans untuk memasuki kamar mandi, dalam posisi masih menggendong dirinya.
"Tunggu disini dulu ya, aku akan menyiapkan air hangat supaya tubuh kita bisa lebih segar lagi." ucap Hans.
Penuh kehati-hatian Hans mendudukan istrinya diatas meja rias yang ada di dalam kamar mandi. Lalu, Hans langsung mengurus semuanya agar mereka bisa segera memanjakan tubuhnya yang terasa begitu melelahkan.
Tak butuh waktu lama, semuanya siap. Hans kembali menggendong istrinya, perlahan masuk ke dalam bathtub. Kemudian duduk dalam posisi Meera berada diatasnya.
Secara telaten Hans memandikan istrinya sambil tersenyum membersihkan tubuhnya yang sudah berkeringat. Begitu juga Meera yang juga memandikan suaminya dalam posisi menghadapnya.
Akan tetapi tidak berhenti disitu, Hans sedikit nakal membujuk istrinya untuk bermain sekali di kamar mandi. Mau tidak mau, Meera hanya mengikuti perintah suaminya. Dimana kali ini Meera yang memimpin permainan diatas tubuh Hans.
"A-aku tidak bisa, Hans. Lebih baik---"
Melihat wajah suaminya yang sangat menginginkan dirinya, akhirnya Meera mengangguk kecil sambil tersenyum tanpa merasa terpaksa.
Benar saja, walaupun masih terasa sedikit sakit. Cuman berkat di air melakukannya maka Meera tidak begitu merasakan sesakit ketika pertama kali Hans menerobos goanya.
Goyangan Meera memang tidak bisa membuat Hans merasa berada di atas awan, tetapi Hans juga memaklumin itu semua. Mungkin, ini baru yang pertama. Sama halnya seperti dirinya di ronde pertama.
Jadi tanpa merasa kecewa, Hans malah membimbing serta membantu istrinya. Sehingga baru diajarkan sedikit saja Meera sudah mulai pintar membuat suaminya merem-melek.
Sampai pelepasan terjadi, disaat itu pula mereka hanya bisa berpelukan satu sama lain.
Mereka pun beristirahat sejenak dan kembali membersihkan tubuhnya.
__ADS_1
Setelah itu Hans mengurusi istrinya dengan penuh kasih sayang, membuat Meera merasa diperlakukan bagaikan seorang Ratu.
Hans keluar untuk mengambil pakaian. Lalu, mereka berdua pun segera memakai baju tidur. Dimana Hans memakai piyamanya satu setel, sedangkan Meera memakai piyama dress serta tak mengenakan dalaman. Semua itu bertujuan agar tidak akan membuat Meera semakin kesakitan.
Mereka keluar dari kamar mandi menuju sofa. Hans meletakkan Meera secara hati-hati. "Sebentar ya, tunggu disini dulu. Aku akan mengganti spray supaya kita bisa nyaman istirahatnya."
"Tapi, Hans. I-itu tugasku biar aku arghh," Meera mering*is kesakitan saat dia ingin beranjak berjalan mengikuti suaminya.
Mendengar rin*tihan istrinya Hans segera berbalik dan langsung menolong istrinya yang hampir terjatuh untuk kembali duduk di sofa dalam keadan sedikit panik.
"Astaga, Meera! 'Kan sudah aku bilang, diem di sini, tunggu aku. Lagian aku juga bisa kok mengganti spray sendiri aku juga udah biasa. Udah tahu milikmu masih sangat sakit kenapa harus bandel sih!" pekiknya.
"Ma-maaf, aku cumn mau membantumu. Tapi, ku malah merepotkanmu, sekali lagi maafkan aku." ucapnya. Meera menundukkan kepalanya dalam keadaan sangat sedih, lantaran tidak bisa membantu suaminya.
"Huhh, Sayang. Hei, dengarkan aku. Coba lihat aku sini, hem!"
"Kamu itu masih sakit, jadi biarkan aku yang melakukannya. Aku seperti ini bukan berarti memarahimu, melainkan aku sangat menyangimu. Aku tidak mau istriku kenapa-kenapa, jadi kamu diam di sini tunggu sampai aku selesai. Okay?"
"Besok pagi juga aku akan membawamu periksa ke rumah sakit, sebenarnya ada apa dengan semua ini? Aku takut jika aku melakukan kesalahan pada dirimu, sehingga membuat milikmu terasa sakit seperti itu."
Hans duduk di samping istrinya dan memeluk serta mencium kepalanya. Lalu, kembali bangkit bergegas mendekati ranjang.
Dimana mata Hans menatap sedikit lama pada noda merah yang ada di atas spray. Entah kenapa melihat itu malah membuat Hans tersenyum bahagia.
"A-ada apa, Hans?" tanyanya. Meera sedikit bingung akan tingkah suaminya yang terlihat senyum-senyum sendiri.
Hans berbalik, lalu menatap istrinya. "A-ahya, Sayang. Hehe, a-aku gapapa kok. Ya sudah disitu dulu ya sebentar, aku ganti spraynya dulu."
Kaki Hans kembali melangkah mendekati lemari khusus spray, selimut, ataupun sarung batal guling lainnya.
__ADS_1
Dia mulai mengambil spray dan juga selimut, secara perlahan mulai menggantinya meskipun sedikit kesulitan, tetapi dia tetap berusaha tidak meminta bantuan pada istrinya yang sedang sakit.
...***Bersambung***...