
"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah selalu ada di sampingku dan mencintaiku melebihi kamu mencintai dirimu sendiri. Bahkan hari ini merupakan hari yang sangat spesial buatku, karena aku bisa mendapatkan 2 kado sekaligus. Yaitu, kehadiran anak kita dan juga cintamu. Aku janji, aku tidak akan menyia-nyiakan semua itu!"
Air mata Alice mengucur deras ketika cintanya yang dia kira hanya sebagai pajangan, ternyata terbalaskan. Alice benar-benar seperti bermimpi karena dia bisa menaklukkan kerasanya hati Bram.
"Harusnya aku yang berterima kasih, Bram. Karena kamu sudah mau membalas cinta ini, padahal aku kirakamu tidak aka pernah mencin---"
Bram menggelengkan kepalanya saat dia tidak mau Alice kembali melanjutkan perkataannya, disaat Bram tahu kemana arah ucapannya.
"Suut, jangan diteruskan lagi. Aku tidak mau mendengar semua itu, kita cukup menjalani kehidupan yang baru."
"Sekarang waktunya kita bahagia dan memulai semuanya dari nol. Setelah kita nikah nanti, aku juga akan membawa Nenekmu ke luar negeri. Kita bisa berikan pengobatan apapun, supaya Nenekmu bisa kembali bangun dari tidur panjangnya."
"Kamu mau, 'kan? Nanti kita bisa hidup di luar negeri sambil merawat nenekmu dan membesarkan anak kita, setelah Nenekmu kembali sehat kita bisa pulang ke sini lagi. Gimana?"
Tangan Bram mengelus pipi istrinya sambil dia mulai duduk di sampingnya. Perlakuan ini membuat Alice sangat, sangat, sangat bahagia. Baru kali ini dia merasa dimanjakan oleh pria yang dia cintai, rasanya benar-benar nyaman.
Senyuman indah serta anggukan kecil kepalanya di berikan kepada calon suaminya, pertanda bahwa Alice menyetujui apa yang dikatakan olehnya.
__ADS_1
Sampai akhirnya Bram kembali berbicara dengan sang anak yang masih ada didalam perut Alice, hingga dia pun tertawa kecil saat merasakan perutnya yang masih rata terasa geli akibat Bram terus menciuminya sampai mengusapnya tanpa henti.
Dari sini bisa dilihat bahwa mereka berdua terlihat bahagia saat kehadiran anaknya, bahkan Bram pun mulai mengesampingkan dendamnya kepada sang Kakak dan juga mantan kekasihnya.
"Bram bolehkah aku bertanya sesuatu yang sedikit serius denganmu?" tanya Alice.
"Boleh, mau nanya apa Mamah?" sahut Bram. Perkataannya berhasil membuat Alice terkejut, matanya membola akibat tidak percaya jika Bram bisa mengatahan hal seromantis itu.
"Kenapa, kok Mamah bengong? Pasti kaget ya, saat Papah manggil Mamah. Harus biasain dong dari sekarang, biar ketika Dedek lahir kita enggak sampai kagok hihih ...." goda Bram.
Seketika Bram langsung menjadi diam. Wajahnya terlihat datar saat menatap Alice, membuatnya sedikit ketakutan jika Bram akan memarahinya. Karena sebenarnya Alice tahu bahwa cinta Bram pada Meera itu sangatlah mendalam, jadi tidak mungkin Bram bisa melupakannya.
Cuman, karena rasa penasaran di dalam lubuk hati Alice membuat dia memiliki kekuatan untuk berani mengatakan pertanyaan itu agar lebih meyakinkan dirinya.
"Ka-kamu pasti marah ya sama aku? Ya, ma-maaf kalau pertanyaanku membuatmu kesal, sekali ma-maaf. A-aku janji tidak akan---"
"Tenang saja, aku tidak akan marah kok. Wajar kalau kamu bisa mengatakan semua itu, karena kamu pasti berpikir bahwa aku telah mencintai 2 wanita sekaligus, bukan?"
__ADS_1
Entah mengapa, Alice malah menganggukan kepalanya. Bram melihat itu sedikit gemas, walaupun dia tahu memang dia belum bisa sepenuhnya melupakan Meera, akan tetapi dia perlahan sudah bisa mengontrol dirinya sendiri.
"Sayang, dengarkan aku ya. Mungkin jika kita berbicara masalah cinta ya memang, aku sudah mulai mencintaimu. Tapi, aku minta maaf kalau aku masih belum bisa sepenuhnya menghilangkan rasa ini untuk dia. Kamu pasti paham 'kan, tidak mudah melupakan semuanya dalam sekejam."
"Cuman aku janji, eh tidak, tidak jadi. Aku tidak mau berjanji padamu untuk semuanya, tapi aku akan membuktikan semuanya dengan caraku sendiri. Jika suatu saat nanti aku bisa mencintai sepenuh hatiku dan hanya akan ada namamu serta anak kita yang ada di dalam hatiku ini."
"Untuk itu, aku mohon dengan sangat. Kamu harus kuat ya, dan kamu juga harus sabar. Jika sewaktu-waktu perasaan ini sering kali berubah-ubah, tolong jangan tinggalkan aku. Tetaplah genggam tanganku, tarik aku agar aku kembali berada di dalam pelukanmu."
"Apakah kamu bisa bersabar dan terus menungguku, sampai waktu itu tiba dan aku benar-benar terlepas dari semua dendam ini?"
Senyuman Bram yang terbilang cukup manis membuat Alice pun ikut tersenyum sambil meneteskan air matanya. Dia tidak masalah sama perkataan Bram, karena hatinya begitu yakin jika nanti Bram akan seutuhnya menjadi miliknya.
"Tidak apa-apa, Bram. Aku sangat menghargai semua usahamu untuk tetap belajar mencintaiku, dan itu sudah membuatku begitu bahagia. Setidaknya kita bisa berjuang bersama-sama 'kan? Kamu berjuang untuk bisa mencintaiku sepenuhnya, dan aku berjuang untuk mempertahankan hubungan kita."
Jawaban yang Alice katakan hanya bisa mendapatkan senyuman dari Bram. Dia tidak menyangka bahwa ada seorang wanita yang memiliki semangat tinggi untuk memperjuangan cintanya, meski dia tahu tidak mudah bertahan sama seorang pria yang masih hidup di dalam bayangan masa lalunya.
...***Bersambung***...
__ADS_1