Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Sopan Santun


__ADS_3

"Tak apalah dia menggodaku, setidaknya dia melupakan tentang pertanyanku tadi. Cuman aku penasaran dengan jawaban itu, apakah tadi Bram akan mengatakan iya atau tidak? Huaa, kenapa aku malah mikirin itu sih. Dahlah lupain aja, yang penting sekarang aku harus cari cara untuk memuaskan Keledai itu. Sampai dia nyerah dengan permainannya sendiri!"


Alice berlari sambil berbicara di dalam hatinya. Sampai kini mereka telah sampai di dalam mobil, lalu Bram segera melajukan mobilnya pulang ke rumah. Dimana rasanya Bram sudah tidak sabar untuk menerima bonus itu, sementara Alice dia masih enggan menatap Bram akibat rasa kesalnya.


...*...


...*...


Sesampainya di depan rumah kediaman Ivander, Alice keluar lebih dulu dengan rasa kesalnya meninggalkan Bram yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Seakan-akan Alice telah menganggap rumah ini adalah rumah sendiri. Dia melupakan kalau disini dia hanya sedang melakukan sandiwara, cuman akibat rasa nyaman membuat Alice lupa akan semuanya.


"Tunggu!" pekik Bram, berjalan tepat di belakang Alice.


Sementara Alice masuk ke dalam rumah dengan keadaan wajah ditekuk, dan saat dia mau melangkahkan kakinya menaiki tangga. Tiba-tiba saja seseorang menghentikan langkahnya, membuat Alice dengan cepat membalikan badan.


"Seperti itukah cara memasukin rumah orang? Apa dari kecil kau tidak pernah diajari sopan santun?" tegas Hans yang baru saja ingin melangkahkan kakinya kembali ke kamar setelah mengambil buah di dapur.


"Ma-maaf, Tuan. Aku salah, sekali lagi maafkan aku," balas Alice sambil menundukkan kepalanya lantaran dia sudah mengakui kesalahannya.


"Ckk, dasar ja*lang!" sindir Hans sangat dingin, dengan sorotan mata yang begitu tajam. Kemudian melangkahkan kakinya menaiki anakan tangan.


Baru 2 anakan tangga Hans pinjakkan, langkahnya terhenti ketika teriakan Bram berhasil membuatnya terdiam tanpa berbalik.

__ADS_1


"Jangan pernah sekali-kali lu sakitin calon istri gua, atau gua enggak segan-segan untuk menyakiti istri lu!" ancam Bram, aura di wajahnya pun terlihat begitu menyeramkan hingga hawa dingin membuat Alice sedikit bergidik ngeri.


Hans berbalik sambil memegangi piring ditangannya, lalu matanya melirik ke arah Bram. "Sekali kau sentuh istriku, jangan harap masih bisa menginjakkan kaki dirumah ini!"


Perkataan Hans berhasil membuat Bram terdiam sejenak. Ini kali pertama bagi Bram melihat Kakaknya semarah ini tanpa ekspresi sedikitpun diwajahnya.


"Disini istriku sudah memperbolehkan wanita ja*lang itu untuk tinggal bersama kita. Cuman, dia harus paham bagaimana sopan santun yang didalam rumah ini. Jadi, tolong ajarkan calon istrimu supaya bisa membedakan antara rumah sungguhan dan rumah hiburan!"


Pembicaran Hans kali ini menggunakan nada yang penuh penekanan sambil menatap keduanya secara bergantian.


"Sopan santun? Haha, ngaca woi ngaca! Apakah lu itu adalah menusia yang paling benar? Sehingga lu bisa menasihati orang, tetapi lu enggak ngaca pada diri lu sendiri. Munafik, cihh!"


Bram terlihat begitu kesal, tetapi sedikit meremehkan. Sampai tak terasa suara teriakan percecokan mereka bertiga terdengar dari kamar atas.


"Ada apa ini? Kenapa kalian malam-malam pada berantem sih." ucap Meera yang sudah berada disamping suaminya sambil menatap mereka secara bergantian.


"Punya suami tolong diurus dengan baik, jangan bisanya meremehkan orang lain. Seakan-akan hidupnya paling bener aja, cihh! Merebut milik orang lain aja sok belagu, dasar peng*ecut!"


"Ayo, Sayang. Mending kita ke kamar aja senang-senang, dari pada disini ngurusin pasutri yang tidak jelas!"


Bram menggenggam tangan Alice, lalu menariknya sedikit kasar untuk pergi meninggalkan Hans dan Meera yang selalu menatap mereka.


"Tap--"

__ADS_1


"Udah, biarin aja. Jangan pernah dengerin ucapan pria itu, dia bersikap aja masih belum becus udah sok ngajarin orang! Makannya punya kaca di kamar dipakai bukan buat pajangan doang!"


Celoteh Bram terus berkoar sampai dia dan Alice sudah memasuki kamarnya, tepat di sebelah kamar Hans dan juga Meera.


Sementara mereka dua masih terdiam diatas tangga dengan segala pemikirannya. Sampai akhirnya Meera membuka suara menatap suaminya. "Bee, ada apa sih sebenarnya? Kenapa kalian tuh semakin ke sini semakin bertengkar, kapan kalian akur? Aku pusing setiap hari harus mendengar suara keributan kalian, sumpah!"


"Ya udah enggak usah di bahas, kita balik aja ke kamar. Ini aku udah ambilin buah buat kamu." ucap Hans, mengalihkan pembicaraan istrinya.


"Ckk, kebiasaan setiap aku ngomong pasti


malah dialihin. Dasar menyebalkan! ?" sahut Meera cemberut, langsung berbalik dan berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal menuju kamar.


Melihat tingkah istrinya yang mulai aneh, membuat Hans hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kemudian menyusul istrinya dengan langkah santainya.


Berbeda dengan Bram dan Alice, mereka terlihat masih dalam mood yang tidak enak. Kejadian tadi seperti menghapus semua mood yang seharusnya mereka langsung bersenang-senang, sekarang malah menjadi diam satu sama lain.


Bram yang menyuruh Alice untuk membersihkan dirinya lebih dulu, malah kembali dibalikan olh Alice. Sampai Bram pun mengalah, ketika melihat mood Alice sedikit berantakan.


Setelah kurang lebih 15 menit Bram beru saja selesai dengan mandinya, segera bergantian dengan Alice. Dimana Alice berusaha untuk tetap tenang, agar moodnya stabil. Apa lagi dia sudah berjanji untuk memberikan bonus pada Bram, jadi tidak mungkin Alice melayani Bram dalam keadaan mood sehancur ini.


Alice hanya bisa berharap semoga setelah selesai mandi, moodnya sudah kembali membaik dan juga bisa mengembalikan mood Bram yang tadi sangat ingin menikmati sentuhan manjanya.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2