Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Emosi Hans


__ADS_3

Bi Neng terus berusaha menguatkan Alice, menasihatinya dan juga trus merangkutnya agar Alice tidak merasa sendiri saat menghadapi ujian yang besar ini.


Sementara Windi, dia terlihat sangat tenang, adem dan juga penuh kemenangan. Seakan-akan dia seperti mendapatkan sebuah hadian yang sangat menarik perhatiannya..


Sampai akhirnya, suara klakson mobil memecahkan meheningan hingga isak tangis di wajah Alice. Lampu mobil yang menyorot tajam, membuat mereka semua perlahan menyingkir sambil menyipitkan matanya akibat matanya begitu silau dengan lampu mobil tersebut.


Tinnn ...


Tinnn ...


Tinnn ...


Sebuah mobil henti di depan mereka semuanya, membuat Alice menyudahi pelukannya dan mentap ke arah mobil itu. Dengan sigap seseorang turun dari dalam mobil dengan keadaan sangat panik ketika melihat Alice.


"Ada apa ini, Lis? Kenapa kalian semua di luar gerbang seperti ini?"


Meera berhenti di hadapan Alice dan Bi Neng menatap penuh kepanikahan. Dia takut jika ada kejadian buruk yang terjadi pada Alice.


Apa lagi Alice sedang mengandung, dan usianya pun masih sangat rentan untuk keguguran jika dia sedih atau setres sedikit saja. Maka, sudah di pastikan Alice akan kehilangan anaknya untuk selamanya.


"Dan ini, siapa dia Lis, Bi?" sambung Meera. Dia menatap Windi secara intens, dan kembali lagi menatap Alice serta Bi Neng dengan penasaran.


"Terus, kenapa kamu sampai menangis seperti ini, hem? Ada apa? Ceritakan sama aku. Apa yang terjadi di sini?"


Meera menunggu jawaban dari semua orang yang ada disana, bahkan Hans pun yang baru saja turun melihat keadaan depan rumahnya seramai ini membuat dia menjadi tidak tenang.


"Ada apa ini? Kenapa rumah saya menjadi ramai seperti ini!" tegas Hans, menatap semuanya satu persatu.


Untungnya tetangga di sana tidak ada yang mengerubunginya karena waktu sudah diatas pukul 10 malam.


Alice yang sudah tidak tahu lagi harus seperti apa langsung berhambur memeluk Meera, menumpahkan semua perasaannya. Meera dan Hans langsng menoleh menatatap Windi dengan bingung penuh penyelidikan.


"Siapa kau, ada apa ke sini?"


"Apakah yang dikatakan Alice itu benar, jika kau adalah istri dari Bram, adikku?" tanya Hans, tegas.


"Ya memang itu kenyataannya, kalau Tuan tidak percaya, saya ada buktinya mau lihat?" tawarnya.

__ADS_1


Dengan sigap Hans meminta bukti tersebut, membuat mereka pun terkejut bukan main.


"Bu-buku ni-nikah? I-tu artinya kalau kalian udah--"


"Ya, aku dan Bram sudah menikah. Lalu ini buktinya, apa masih tidak percaya?"


Windi terus berusaha untuk terlihat setenang mungkin, meskipun di dalam hatinya dia begitu takut lantaran matanya melihat ke arah Hans yang sedang menahan amarah.


Tangan Hans mengepal keras, rahangnya begitu tegas dan kedua matanya menatap tajam ke arah Alice. Seakan-akan Hans ingin menelannya hidup-hidup.


"Kapan kalian menikah, dimana dan bagimana bisa terjadi? Selama ini aku selalu memantau kehidupan adikku, apapun itu! Ya, memang aku akui adikku itu adalah pria bandel dan suka jajan sembarangan."


"Akan tetapi, aku tidak pernah sedikitpun mendapatkan kabar bahwa Bram memiliki hubungan lebih dari sekedar teman tidur. Bagitu juga dengan Alice, hanya dia yang dijadikan teman tidur sekaligus teman hidup!"


"Lantas kau? Apakah ini hanya akal-akalanmu, karena kamu ingin merusak kehidupan adikku, ya?"


"Terus, siapa yang sudah menyuruhmu untuk melakukan ini semua, hahh! Katakan!"


Hans terteriak penuh ketegasan membuat Windi sedikit terlonjak kaget, merasakan aura kemarahan Hans yang begitu mendalam. Begitu juga Meera dan Alice, mereka hanya terdiam melihat respon Windi mulai gugup.


Siapa lagi jika bukan Bram, pria yang dari tadi mereka tunggu meskipun sebenarnya hati kecil mereka tidak percaya jika Bram bisa melakukan hati seperti itu.


"Loh, kalian semua kenapa berada di luar? Ini ada apa? Kenapa wajah kalian terlihat tegang? Dan Alice, ada apa denganmu. Kenapa kamu menangis?"


"Apa yang sebensrnya terjadi sama kalian semua, katakan! Jangan pada diam aja. Arrghhh----"


Bram berteriak ketika satu pukulan keras mendarat tepat di wajahnya membuat tubuhnya tersungkur jatuh ke jalan.


"Bram!" pekik Alice.


"Hans!" teriak Meera.


Kedua wanita itu langsung berlari untuk memisahkan mereka. Dimana Hans terlihat begitu emosi dengan perlakuan Bram, walau hati kecilnya tidak percaya.


Namun, pikirannya serta matanya yang melihat bukti itu membuat dia langsung mempercayainya tanpa berpikir panjang.


"Stop, Hans! Apa-apaan sih, kamu ini. Hahh! Kita belum mendengar penjelasan dari Bram, jadi stop bertingkah bagaikan seseorang tidak punya etika!" tegas Meera sambil merangkul tangan suaminya.

__ADS_1


"Kenapa kamu membela dia, hahh! Apa kamu masih mencintai dia, sehingga kamu--".


"Cukup, Hans! Berapa kali aku hilang, kalau aku udah tidak punya perasaan apapun sama Bram selain aku menganggapnya sebagai teman, sahabat ataupun ipar!"


"Jika kau tidak percaya denganku silakan, tapi ingat! Aku tidak pernah mengatakan kebohongan sekecil apapun tentang perasaan!


Meera yang terlihat kesal langsung menatap tajam ke arah Hans, melihat tatapan mereka berdua cukup mendalam. Tanpa di sadari Bram yang berusaha ingin berdiri dengan bantuan Alice, ternyata hatinya sedikit tersentil oleh ucapan Meera.


"Ternyata, dia sudah tidak memiliki perasaan lagi untukku? Semudah itulah dia melupakanku? Ckk, apaan sih. Kenapa ngomongnya malah ngelantur begini!"


"Lagi pula memangnya ini ada apa sih, kenapa semua terlihat begitu marah padaku. Dan wanita itu, siapa dia? Kenapa kehadirannya seakan-akan telah memincu semua ini!"


Gumam batin Bram, disaat dia sudah berdiri dan menatap wajah Windi. Perlahan Windi mulai menghilangkan gemetar di tubuhnya sedikit demi sedikit, lalu tanpa di sangka-sangka dia memeluk Bram mengalungkan kedua tangannya.


"Huaa, Sayang. Aku kangen banget sama kamu, kamu baik-baik aja 'kan. Apa kamu nakal lagi dibelakangku sama wanita itu, sehingga dia hamil anakmu? Kenapa kamu kejam sama aku, Bram kenapa hiks ...."


"Padahal anak kita sebentar lagi lahir loh, dan kita juga akan menikah untuk kedua kalinya secara resmi tanpa bersembunyi seperti waktu itu. Pokoknya aku sayang banget sama kamu, Bram. Muachh!"


Windi mengoceh panjang kali lebar dengan air mata yang diteteskan, sambil di mencium pipi kanan Bram tanpa izin.


Bram yang melihat serta mendengar prilaku menjijikan ini, tanpa panjang kali lebar segera mendorong Windi hingga hampir saja dia terjatuh jika Meera tidak menyelamatkan untuk menangkapnya.


"Astaga, Bram! Kamu itu kasar banget sih, dia ini lagi hamil. Apa kau buta, hahh!" pekik Meera mulai terbawa suasana, sambil membuat Windi kembali berdiri dengan benar.


"Jangan pernah sekali-kali lu sentuh gua, paham! Dan sorry, gua enggak kenal sama lu. Lebih baik lu pergi dari sini, sebelum gua bersikap lebih kasar dari ini!" ancam Bram.


"Hiks, kamu tega Bram. Kamu tega berbicara seperti itu, pasti karena dia 'kan? Tunjuk Windi ke arah Alice.


"Dia itu cuman wanita murahan yang menjebakmu dengan bayi yang ada di dalam kandungannya, sedangkan aku? Aku ini istrimu dan kita menikah karena cinta."


"Jadi, aku mohon jangan tinggalin aku Bram. Kamu kan udah janji mau merayakan pernikahan kita setelah anak kita lahir, terus kenapa kamu malah berubah pikiran seperti ini!"


Windi berjalan dan berdiri di hadapan Bram, sementara Bram dia melepaskan tangan Alice lalu mendekati wanita itu dan mencekram kuat rahangnya. Windi yang merasa kesakitan hanya bisa menangis dan menangis.


Meera beserta Alice melihat itu hanya bisa memekik keras, mereka tidak tega melihat Windi. Meskipun mereka kecewa bercampur kesal, tetapi cara Bram memperlakukan Windi yang salah.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2