Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Wanita Tidak Punya Hati


__ADS_3

Dia tidak bisa memilih antara bercerai atau merelakan wanita lain menjadi madunya. Sebab, keduanya sangat menyakitkan hatinya.


"Ya hanya itu pilihannya, toh kamu yang udah merebut Hans dariku. Maka kamu pula yang harus bertanggung jawab atas semuanya!"


"Aku hanya memberikanmu 2 pilihan. Bahkan semua pilihan itu pun tidak ada yang berat kok. Kamu cuman aku suruh untuk memilih bukan berpikir! Apa susahnya tinggal pilih kembalikan Hans padaku, atau kita sama-sama memiliki Hans?"


"Disini aku sudah rela loh, membagi Hans padamu. Terus kenapa kamu rasanya berat sekali, hahh! Kamu cuman di suruh untuk memilih dari 2 pilihan itu. Kalau pun aku ada diposisi dirimu kurang dari 5 menit pun aku bisa memilih, dan aku lebih pilih merelakan Hans menikah lagi tanpa aku harus merasakan kehilangan. Simpel 'kan?"


Tanpa Meera dan Keke sadari, dari kejauhan ada seseorang yang sudah mengepalkan tangannya saat mendengar semua permintaan Keke. Rasanya dia ingin sekali merobek-robek mulut Keke, hingga tak tersisa. Supaya Keke tidak bisa lagi berbicara, atau kalau perlu memotong lidahnya itu akan jauh lebih aman.


Belum selesai Meera menjawab semua permintaan konyol Keke, tiba-tiba seseorang langsung berjalan cepat dan segera memegang tangan Meera hingga membuat keduanya menjadi syok.


"Jangan pernah mendengarkan perkataan wanita gila ini, lebih baik sekarang ikut aku pulang! Orang rumah udah menunggumu, mereka benar-benar telah mengkhawatirkanmu. Apa lagi suamimu, dia sudah hampir gila hanya sekedar mencarimu di penjuru kota ini!" ucapnya tegas, melirik ke arah Keke.


Keke yang terkejut, berusaha menahan tangan orang itu agar tidak membawa Meera pergi sebelum dia menjawab semua permintaannya. Karena, itu sangat penting bagi Keke agar dia bisa kembali bersama Hans.


"Ehey, siapa kamu? Kenapa kamu ingin membawanya pergi, hahh! Dia itu masih ada urusan denganku, jadi jangan coba-coba memaksanya atau aku akan---"


"Akan apa, hahh? Berteriak? Oh, silakan! Teriaklah yang kencang, bilang jika saya ini maling, saya ini penjahat. Silakan, saya tidak peduli! Bagi saya keselamatan Kakak ipar saya jauh lebih dari segalanya!"


Degh!


Mendengar orang itu mengatakan tentang Kakak ipar, itu sudah jelas bila orang yang ingin membawa Meera adalah Bram.


Yaps, benar. Orang itu memang Bram. Loh, kok bisa? Bagaimana caranya Bram bisa tahu, bila Meera ada disini? Ya, itulah takdir. Mau serapat apapun Meera bersembunyi, bila takdir tidak merestuinya pasti akan ketahuan juga.

__ADS_1


Semua terjadi, saat supir Meera ingin mencari parkiran, tetapi dia malah melihat bensinya sudah tinggal 1 trip lagi. Jadi mau tidak mau dia harus mengisinya terlebih dahulu sebelum Meera kembali mengajaknya pergi.


Disitulah, Bram melihat mobil yang biasa Meera gunakan di sebuah pom bensin ketika Bram sendiri ingin mengisi bensin. Awalnya supir Meera bungkam, dan tidak mau mengatakan dimana keberadaan Meera.


Namun, dengan segala ancaman yang Bram berikan. Berhasil membuatnya supir Meera mengatakan dimana keberadaan Meera dan bersama siapa Meera berada sekarang.


Setelah mengetahui semua itu, Bram terlihat begitu kesal. Rasanya dia ingin sekali segera membawa Meera pulang, sebelum Keke membicarakan sesuatu yang akan membahayakan keponakannya yang ada di dalam kandungan Meera.


Kurang lebih beberapa menit, ketika sudah selesai mengisi bensi. Mereka langsung menancap gas dengan kecepatan cukup tinggi, agar Bram tidak terlambat untuk menyelamatkan Meera dari hal buruk yang akan mendekat.


Setibanya di sana, Bram berjalan menggunakan langkah panjang layaknya orang berlari untuk memasuki Caffe. Dan benar saja, saat ini Bram sampai di sana Meera telah di hadapkan dengan pilihan yang sangat konyol dari Keke.


Disitulah aura emosi di dalam diri Bram mulai keluar, yang mana da*rahnya pun terasa sangat mendidih. Tanpa basa-basi lagi, dia langsung menarik Meera penuh kehati-hatian supaya tidak sampai menyakitinya.


"Bra-bram? Ba-bagaimana kamu tahu kalau aku a-ada disini?" tanya Meera, terkejut. Kemudian dia berdiri secara perlahan, menatap adik iparnya.


Bram berbicara menatap Meera, kemudian melirik Keke yang terlihat sangat syok. Bagaimana tidak, Keke lupa dengan wajah Bram yang sudah beberapa tahun tidak dia temui.


"Bra-bram? Ma-maafkan aku, a-aku sedikit lupa dengan wajahmu. Sekali lagi maafkan aku ya!" ucap Keke. Dia berdiri, berbicara menggunakan suara yang cukup lembut.


"Baguslah, kalau sudah lupa. Lagi pula saya pun tidak ingat denganmu, sorry! Ayo, Kak. Kita pulang, kasihan anakmu. Dia sudah sangat lelah kau bawa kemana-mana." ucap Bram, menatap cuek ke arah Keke.


"Ckk, enggak adik enggak Kakaknya semuanya sama. Sama-sama menyebalkan, padahal dulu mereka terlihat welcome padaku. Lantas kenapa semua jadi begini? Apa salahku pada mereka?" gumam batin Keke, menatap Bram yang terus membujuk Meera untuk pulang.


"Aku belum selesai berbicara dengan dia, jadi kalau kamu mau pulang ya pulang saja. Nanti aku akan menyusul, setelah urusanku sama Keke selesai." jawab Meera.

__ADS_1


"Aku tidak akan pulang kalau Kakak tidak ikut sama aku, apa Kakak tidak kasian dengan istriku? Dia begitu mencemaskan keadaan Kakak di rumah. Apa lagi sekarang sudah ada Baby Maura. Dia masih butuh ASI, Kak. Kalau Alice terus-terusan bersedih, itu akan menyumbat kelancaran ASI-nya. Lantas bagaimana anakku bisa mendapatkan sumber makanan?"


Ucapan Bram membuat Meera terdiam menatapnya dan juga Keke secara bergantian. Dimana Keke terus berbicara supaya Meera tetap mau berada disini untuk membahas kesepakatan mereka, sementara Bram dia terus memohon atas nama anaknya.


Kedua perkataan yang saling bertolak belakang itu mampu membuat Meera sangat-sangat pusing. Sampai akhirnya dia merasakan kontraksi yang cukup hebat, membuat Meera meringis kesakitan sambil memegangi perutnya yang besar.


"Aarrghhh ... Pe-perutku, hiks ...." pekik Meera yang langsung menangis, saat merasakan sakit yang luar bisa.


"Nah 'kan, sudah aku bilang tadi. Kenapa Kakak ngeyel banget sih, kalau udah begini bagaimana? Kasihan anak Kakak yang akan menjadi korban keegoisan Ibunya, lihat saja! Dia pasti kesakitan karena Ibunya setres." sahut Bram, langsing di landa kepanikan serta kecemasan yang sangat tinggi.


"Bra-bram, to-tolong anak arrghh ... Kuh hiks ... Please, aku mohon tolong anakku, Bram. A-aku tidak mau sampai a-anakku kenapa-kenapa. Ban-bantu aku Bram, bantu hiks ...."


Meera meminta tolong pada Bram sambil menarik bajunya hingga membuat Bram sedikit membungkukkan badannya.


"Urusan kita belum selesai, jadi kau tidak boleh pergi dari ini!" pekik Keke, tak terima.


"Apa kau sudah gila, hahh! Kakak iparku ini kesakitan, tapi kau masih saja mementingkan egomu. Dasar wanita tidak punya hati!" sahut Bram mencoba membawa Meera ke dalam gendongannya.


"Hyaakk, sudah aku bilang. Selesaikan dulu semuanya baru kalian boleh pergi!" teriak Keke, berusaha untuk menghalangi Bram.


Tanpa menghiraukan kicauan suara Keke, Bram tetap mencoba untuk menggendong Meera dan membawanya pergi. Semua itu berkat pertolongan dari para pengunjung yang ada disana, mereka berbondong-bondong membantu Bram untuk menjauhi Keke.


Selepas perginya Bram dan Meera, Keke langsung mengamuk tanpa henti membuat Caffe menjadi berantakan. Semua pengunjung menganggap Keke seperti orang yang sangat setres, gila maupun wanita tak berperasaan. Semua itu bisa mereka lihat, dari cara Keke yang tadi terus menghalangi Meera.


Suasana di dalam Caffe mulai tidak kondusif, sehingga pelayan di Caffe memanggil security untuk mengamani serta membawa Keke pergi keluar dari Caffe. Supaya dia tidak lagi mengacaukan isi Caffe, karena itu akan semakin membuat Caffe menjadi rugi.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2