
Setelah perasaan Bram mulai stabil dan tidak lagi memangis, Hans dan Meera pun pamit ke kamar leboh dulu karena sepertinya Meera sedikit kelelahan. Jadi, dia harus segera beristirahat.
Begitu juga, Alice. Bram segera menggendong istrinya dengan perasaan bahagia, lalu membawanya ke dalam kamar. Dimana perasaan bahagia itu membuat Bram akhirnya mendapatkan jatahnya di malam yang panjang penuh kebahagiaan ini.
Bram benar-benar tidak kepikiran, kalau apa yang dulu dia berikan pada orang lain akhirnya bisa kembali, berkat Hans yang selalu memikirkan tentang kebahagiaan adiknya dari pada dirinya sendiri.
...*...
...*...
Pagi hari, Hans dan Meera sudah berada di meja makan terlebih dahulu sambil menunggu Bram serta Alice.
Ini bukan berarti mereka berdua telat, melainkan karena Hans dan Meera bangun lebih pagi. Jadi, membuat mereka lebih awal berasa di meja makan.
"Tumben mereka belum bangun?" tanya Hans menatap istrinya yang sedang membuatkan roti bakar bersama Bi Neng.
"Mungkin mereka masih tidur karena kecapean, tahu sendiri semalam Bram 'kan habis menangis akibat ulah dirimu yang berhasil ngeprank adikmu sendiri." jawab Meera.
"Ya itu salahnya sendiri, jadi cowok kok cengeng. Dikit-dikit nangis, kemarin dikasih mobil nangis, dibalikin Restonya nangis juga. Gimana nanti di kasih hadiah lebih dari itu bisa-bisa pingsan kali." jawab Hans, cuek sambil memainkan ponselnya.
"Loh, Resto Tuan Bram sudah kembali Tuan? Bukannya waktu itu di jual oleh Tuan Bram sendiri? Terus, bagaimana caranya Resto itu bisa kembali ke tangannya lagi?" tanya Bi Neng, bingung.
"Ceritanya panjang, Bi. Yang penting, Resto itu sudah aman di tangan pemilik aslinya dan tidak sampai jatuh di tangan yang salah." jawab Hans.
"Udah Bi, kalau dia tidak mau menceritakan. Biar aku saja yang menjelaskannya. Hanya saja, aku akan mengambil inti dari kejadian itu saja ya. Jadi, begini ...."
Meera mulai menceritakan bagaimana bisa Resto tersebut jatuh ke tangan Hans, lalu di kembalikan lagi kepada Bram. Sambil bercerita, tidak lupa tangan dan kaki tetap jalan untuk menyiapkan sarapan pagi.
Bi Neng hanya bisa tersenyum sepanjang mendengar penjelasan dari Meera, rasanya hati Bi Neng benar-benar lega dan juga bahagia. Akhirnya dia bisa kembali melihat kedua anak majikannya, akur dan saling menyayangi satu sama lain.
__ADS_1
Apa lagi Bi Neng sudah menganggap mereka sebagai anak ataupun cucunya sendiri. Saat-saat seperti inilah yang Bi Neng tunggu, karena Hans dan Bram sudah kembali menjadi saudara yang penuh kasih sayang.
Tidak seperti sebelumnya yang penuh dendam, kebencian ataupun keegoisan akibat kejadian besar yang mampu membuat mereka menjadi salah paham.
"Syukurlah, Non. Akhirnya kebahagiaan muncul setelah badai berlalu. Bibi senang mendengar Tuan Hans dan Tuan Bram sudah kembali akur, bahkan rumah ini pun rasanya menjadi adem 'kan. Berbeda sama kemarin yang hawanya panas banget, udah kaya berada di dalam panggangan hehe ...."
Bi Neng tertawa kecil, membuat Hans yang mendengarnya pun ikut tersenyum. Ya memang tidak bisa di lupakan, kalau Bi Neng adalah orang yang paling berjasa di keluarga Ivander.
Semenjak Ibu Hans dan Bram meninggal, maka mereka berdua di urus oleh Bi Neng tanpa rasa malu. Seakan-akan Bi Neng berusaha untuk memberikan kasih sayang pada mereka seperti anak kandungnya sendiri.
Hans benar-benar beruntung, sampai saat ini masih bisa di temani oleh Bi Neng. Bahkan sebentar lagi, Bi Neng akan menyaksikan cicit-cicitnya yang akan lahir.
Disaat mereka bertiga sedang berbicara penuh keseruan, tiba-tiba Bram dan Alice datang dengan senyum mereka yang sangat lebar.
"Selamat pagi, epribadehh yuhuhh spadaaa haha ...." Bram berteriak layaknya orang yang baru masuk ke dalam rumah.
Sampai sesuatu terjadi membuat mereka syok bukan main, bahwasanya Bram langsung memeluk Bi Neng dari belakang dan mencium pipinya.
"A-aawshhh, a-ampun Bi. Ampun, aduh ... Kenapa di jewer sih, aku 'kan cuman nyium pipi bukan bibir ya-yaa a-ampun, Bi. Ampun hiks ...."
Bram mengeluh kesakitan ketika kupingnya di jewer cukup keras oleh Bi Neng, semua itu bukan karena Bram kurang ajar. Melainkan memang inilah sifat Hans aslinya, dia sering kali menjahili orang-orang yang dia sayang dengan tujuan gemas.
Sementara Meera, Alice dan juga Hams hanya bisa tertawa di kursinya masing-masing sambil mengisi piring mereka dengan roti bakar dan tidak lupa juga di berikan selai sesuai selera di dalamnya.
"Bagaimana, sudah kapok jahilin Bibi hem? Bibi enggak peduli kalau nanti Bibi kena hukuman Tuan Hans, dari pada Bibi membiarkan Non Alice nanti cemburu 'kan bisa jadi panjang urusannya." ucap Bi Neng.
"Aaa, i-iya ampun Bi, ampun. Bibi jangan galak-galak kenapa sih, lagi pula mana mungkin istriku cemburu sama Nenek peyot begini. 'Kan enggak level ya, Sayang?" ucap Bram, menatap istrinya.
"Wah, Bi. Masa di katain peyot, orang masih terlihat muda dan cantik malah dikatain peyot. Udah sikat aja, Bi sikat. Kalau perlu jadikan soup aja telinganya pasti enak tuh haha ...."
__ADS_1
Hans langsung menyambar mencoba untuk memanas-manasin Bi Neng yang masih sedikit bingung.
"Bener tuh, Bi. Udah potong aja kupingnya, aku gapapa kok. Aku rela, biar nanti suamiku tidak lagi menguping ketika di kamar Kak Hans terdengar suara yang aneh-naeh." jawan Alice, malah membela Bi Neng.
Mendengar perkataan Alice, berhasil membuat wajah Meera memerah merona karena Bram mendengarkan suara aneh dari kamarnya. Itu artinya ketika Meera dan Hans sedang belah duren, Bram malah mengupingnya.
"Sa-sayang? A-apakah kita kecolongan, ke-kenapa bisa dia menguping suara kita. Memangnya suara kita seberisik itukah?" ucap Meera, mengalihkan pikirannya.
"Behh, berisik banget Kak. Apa lagi nada dari suara itu berhasil membuat suamiku menjadi liar ketika sedang diatas ranjang. Seakan-akan dia seperti tidak mau kalah saing oleh Kakaknya yang bisa membuat istrinya menjerit."
Degh!
Lagi dan lagi perkataan Alice memang selalu membuat Meera dan Hans tidak tahu lagi harus menjawab apa. Mereka benar-benar malu, rahasia dapurnya terbongkar
"Sayaang, kenapa kamu buka sih. Arrrrghhh, menyebalkan!" ucap Bram langsung melepaskan diri dari Bi Neng dan memeluk istrinya.
Bi Neng melemah, karena dia terlalu fokus untuk menyimak serta mendengar obrolan semuanya, sampai-sampai lupa untuk menahan Bram.
"Yaaaa, jadi selama ini kau mengintip kami lagi bercocok tanam? Kau pun sampai menguping suara kami 'kan? Astaga, Bram!"
"Sumpah sih, mulai sekarang kamarku tepat di sore hari harus segera di nyalakan kedap suara. Kamu ingat itu, Sayang. Jangan sampai bocah satu itu kembali menguping suara kita sedang bercocok tanam. Bahaya!"
Hans menatap tajam ke arah adiknya yang merasa malu, sambil memeluk istrinya. Sementara Alice cuman bisa terkekeh geli, ketika kedok suaminya yang selalu kepo dengan cara bercocok taman Hans telah terbongkar.
"Aaa, Sayang. Berarti selama kita melakukannya dan dengar suara berisik dari pintu itu ternyata nyamuk besar. Huaaa, dasar ipar tidak ada akhlak. Bisa-bisanya dia mengintip Kakaknya sendiri, benar-benar menyebalkan!"
Meera terlihat kesal, meski dia menahan malu atas perlakuan Bram yang menjengkelkan. Akan tetapi, setelah itu selesai mereka tidak mau memperpanjang masalah, yang terpenting Bram tidak mengganggu mereka itu sudsh lebih dari cukup.
Bram meminta maaf karena beberapa kali sempat nguping ketika Hans kecolongan tidak memasang kedap suara terlebih dahulu.
__ADS_1
Cuman niat Bram itu sebenarnya baik. Dia hanya ingin memuaskan istrinya seperti Hans memuaskan Meera, tetapi Bram belum mendapatkannya itu. Makannya dia rencana ingin meminta ilmu kepada sang Kakak yang selalu bisa terlihat gagah perkasa ketika membuat istrinya puas.
...***Bersambung***...