Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Kecelakaan


__ADS_3

"Kami pamit, jangan lupa tetap tersenyum jagoan kecil Daddy dan Mommy. Terus semangt dan jangan mudah menyerah, karena kami tidak pernah memiliki jagoan yang lemah!"


Usapan tangan itu membuat Hans begitu tenang, hingga akhirnya bayangan-bayangan tentang kedua orang tuanya seketika menghilang, bersamaan dengan bangunnya Hans.


Tenyata, oh ternyata. Ketika Hans menangis tadi, dia sempat ketiduran, hingga bermimpi tentang kedua orang tuanya. Dimana mereka malah memberikannya sebuah kunci, agar Hans bisa membuka sebuah pintu yang akan memecahkan semua masalah ini.


Hans bangkit, mencari keberadaan kedua orang tuanya. Akan tetapi, dia malah tidak menemukan apa-apa.


Berulang kali Hans memanggil kedua orang tuanya, tetap tidak ada jawaban sama sekali. Disitu Hans langsung merenung, dia mengingat setiap kata yang terucap dari bibir kedua orang tuanya.


Entah itu mimpi atau nyata, bagi Hans itu sebagai sebuah petunjuk untuk dirinya sendiri. Bahwa, saat ini keluarganya berada didalam bahaya.


Perlahan Hans berjalan mendekati wastafel dan membasuh mukanya beberapa kali, supaya terlihat sedikit segar. Setelah itu dia keluar dari kamar mandi, dimana sudah hampir kurang lebih 1 jam Hans berada di dalam meninggalkan istrinya yang tidur terlelap.


Hans menaiki ranjang secara hati-hati agar tidak membuat istrinya terganggu, kemudian dia mengusap kepala serta menciumnya beberapa kali.


Tubuh yang terasa cukup melelahkan hari ini, segera Hans rebahkan dalam posisi miring memeluk istrinya dari belakang.


Tangan Hans mulai masuk untuk mengusap perut istrinya dengan harapan, kalau sebentar lagi dia akan memiliki keturunan darinya.


Baru saja Hans mau memejamkan kedua matanya, tiba-tiba Meera refles pindah posisi dan berbalik memeluk tubuhnya begitu nyaman. Senyuman Hans terukir lebar, menandakan bahwa dia sangat senang melihat sikap manja Meera ketika sedang tertidur seperti ini.


Tanpa basa-basi, Hans segera membawa istrinya ke dalam pelukannya dan mereka pun kembali tertidur dalam keadaan yang sangat nyaman.


...*...


...*...


Selang 2 hari, Alice yang merasa tidak enak dengan Bram. Diam-diam tanpa sepengetahuannya mulai menemui Deo, selaku Bosnya ketika Alice masih bekerja sebagai wanita penghibur.


Saat ini Bram sudah bekerja di Perusahaan Ivander bersama dengan Hans, Kakaknya. Meski Bram tidak menjabat sebagai Direktur ataupun CEO, akan tetapi itu tidak masalah.


Bagi Bram, dia hanya membutuhkan pekerjaan dengan gaji yang lumayan agar bisa memberangkatkan Neneknya Aliceke luar negeri untuk melakukan pengobatan.


Sepengetahuan Bram Direktur yang berjabat di Perusahaan Ivander adalah orang kepercayaan mendiang Daddynya. Sementara CEO di ambil alih oleh Hans, yang ditemani oleh asissten pribadinya Yudha.


Jadi, itu sudah cukup buat Bram. Setidaknya Perusahaan itu tidak jatuh di tangan yang salah.

__ADS_1


...*...


...*...


Sesampainya di Bar, Alice bertemu sama semua kawan-kawannya untuk melepas rasa rindu mereka. Ketika di tawari minuman ataupun sebuah rokok, Alice menolak keras semua itu. Dia sudah berniat dan bertekat untuk menjalani hidup lebih baik.


Tanpa menghiraukan kawannya, Alice segera pergi ke ruangan Deo. Dimana Deo sedang bersenang-senang dengan wanitanya, membuatnya sedikit terganggu. Sampai wanita itu di suruh keluar karena Deo mendapati tamu spesial.


Awalnya Deo ingin menggoda Alice, akan tetapi tidak bisa. Alice beberapa kali melakukan perlawanan dan melontarkan kata-kata kasar padanya, membuat Deo hanya bisa tersenyum menatap perubahan Alice saat ini.


Alice yang tidak sabar ingin mengetahui semuanya dari Deo, langsung mencecar Deo dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya membuka mulut.


Tangis amarah Alice pecah, ketika dia mengetahui kelicikan seorang Deo. Ternyata, dia tidak jauh berbeda dengan mucikari yang ada ataupun Madam yang memiliki bisnis kotor seperti ini.


Deo yang membeli Alice dengan harga 2 M, seketika tergantikan 10 kali lipat. Pantas saja Bram menjual sumber penghasilannya, yang mana Resto itu merupkan Resto hasil kerja kerasnya sendiri.


Rasa amarah, benci, kesal dan juga sedih bercampur aduk menjadi satu di dalam hati Alice. Dia tidak menyangka, ketika masalah yang menurutnya sudah selesai, tetapi tidak.


Ini malah membuat Alice semakin merasa bersalah cukup mendalam, cuma karena dirinya Bram rela kehilangan semua yang dia miliki.


Namun, jika Alice masuk ke dalam rumah itu kapan pun Deo siap menerimanya. Baginya kedatangan Alice kembali, seperti membuatnyaketiban rezeki yang luar biasa hanya untuk memperkerjakannya sebagau anak didiknya.


Tanpa Alice sadari dia sudah berjalan kaki cukup jauh dalam keadaan menangis penuh rasa bersalah, sampai akhirnya ketika dia ingin menyebrang mendekati sebuah taksi tiba-tiba ....


Tin, tin, tin!


Alice menoleh dengan cepat, dimana ada sebuah mobil besar melaju dengan kecepatan yang cukup diatas rata-rata. Sehingga Alice hanya bisa menutup kedua kuping dan matanya sambil berteriak sekeras mungkin.


"Aaarrrgghhh ...." pekiknya.


"Ma-maafkan aku, Bram. Ma-maaf karena aku sudah membuatmu susah!" batinya.


Kecelakaan itu ternyata terhindari akibat seorang wanita cantik yang ada di sebrang jalan. Ternyata dia sudah memantau setiap pergerakan Alice dari beberapa detik yang lalu.


Kemudian wanita itu segera keluar dari mobilnya dan berlari sekuat tenaga untuk menyelamatkan Alice, saat akan mengetahui bahaya mulai mendekatinya.


Pada akhirnya Alice selamat di dalam pelukan wanita itu hingga mereka terjatuh bersama, dimana Alice terjatuh tepat mengenai tubuh wanita itu. Dan wanita itu telah pingsan akibat dahinya terbentur sebuah tiang yang ada di dekatnya.

__ADS_1


Alice membuka mata, menatap ke arah wanita itu. Betapa terkejutnya dia saat matanya mengkap seorang wanita yang sangat dia kenal.


"Ka-kak, Me-meera?"


"Hiks, Kak. Bangun, Kak ayo bangun! Alice mohon jangan buat Alice berkali-kali lipat merasa bersalah akibat hidup Alice, berhasil membuat kalian berada di dalam masalah, Alice enggak mau, Kak hiks ...."


"Alice udah sangat menyusahkan kalian semua, bahkan Alice sudah menyakiti Kakak dengan sikap Alice kepada Bram. Maafkan Alice, Kak. Maaf hiks ...."


"Alice mohon bangun, Kak. Bangun, arrgh hiks ...."


Alice berusaha untuk menolong Meera, sementara kondisi perutnya terasa begitu keram. Padahal dia tidak sedikit pun terluka, akan tetapi perutnya yang benar-benar tidak bisa tertahan membuatnya langsung terjatuh pingsan disebalah Meera.


Untungnya supir pribadi Meera melihat kejadian itu, segera meminta bantuan pada orang sekitar yang melihat kejadian untuk membawa majikannya masuk ke dalam mobil.


Setelah mereka berdua sudah berada di dalam mobil, sang supir bergegas ke rumah sakit tanpa basa-basi. Sayangnya, kejadian mengejutkan itu membuat sang supir lupa memberi tahu kepada kedua majikannya tentang keadaan Meera dan juga Alice.


...*...


...*...


Sesampainya di rumah sakit, Meera dan Alice langsung di bawa ke ruangan UGD. Rasa cemas, gelisah dan khawatir membuat sang supir tidak tahu harus melakukan apa lagi.


Dalam keadaan bingung, sang supir teringat bahwa dia belum menghubungi salah satu dari majikannya. Cuman sayangnya, setelah dicoba semua itu tidak bisa akibat sambungan telepon keduanya beberapa kali tidak diangkat.


Belum juga sambungan terangkat, sang dokter keluar dari ruangan menemui keluarga korban. Akan tetapi, sang supir terus mengatakan bahwa dia sedang berusaha untuk menghubunginya.


Sehingga, sang dokter masuk ke dalam ruangan sambil menunggu keluarga Meera dan Alice. Sang supir kembali mencoba untuk menelepon Hans serta Bram secara bergantian.


Awalnya Hans ingin sekali memarahi sang supir akibat dia telah menganggu meetingnya, hanya saja semua tidak jadi karena sang supir langsung berbicara panjang kali lebar tentang kondisi Meera dan Alice.


Disitulah konsentrasi Hans pecah, membuat dia berdiri langsung membatalkan meetingnya karena ada sesuatu yang terjadi pada istrinya. Mendengar itu semua, kolega bisnisnya pun paham dan mencoba untuk mengerti.


Bram yang merasa ingin tahu, mulai bertanya sampai Hans menyampaikan jika hal buruk bukan hanya terjadi pada istrinya. Melainkan juga pada Alice, calon istri Bram.


Kedua pria ini bergegas berlari meningalkan Perusahaan menggunakan mobil Hans. Mereka berdua berada di dalam satu mobil yang sama dan tanpa disengaja keadaan itu seperti membuat hubungan keduanya semakin lebih kompak serta sedikit membaik.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2