
Bahkan ketika mereka tinggal satu kamarpun, Bram memilih tidur diatas sofa panjag yang ada didalam kamarnya. Untungnya sofa tersebut merupakan sifat lipat bagaikan kasur sehingga tidak akan membuat tubuhnya kesakitan.
Alice tersenyum kecil menerima semua masukan yang Bram berikan, sampai akhirnya dia mengikuti semua perkataan Bram. Dan Alice berjanji setelah dia sukses nanti, dia akan membalas semua kebaikan Bram atas kehidupannya sekarang.
...*...
...*...
Hari sudah semakin sore, Bram dan Alice baru saja mau pulang dan akan langsung ke BAR untuk membicarakan semua ini pada sahabat Bram, agar Alice bisa segera terlepas dari semua itu.
Disaat Alice dan Bram baru akan keluar dari rumah sakit, tiba-tiba mereka berpapasan dengan seorang wanita yang sangat Bram kenal.
"Eh, Bram. Kamu disini? Siapa yang sakit? Kak Hans atau Ibu tirimu yang sekarang sudah menajadi istri Kakakmu?" tanya seorang wanita dengan wajah terkejut.
"Bella? Ngapain kamu ke sini?" tanya balik Bram, membuat Alice yang ada disampingnya refleks menatap Bram.
"Ishh, aku nanya malah balik nanya, kebiasaan! Dari kita bersama sampai sekarang udah pisah, kamu tetap masih sama enggak ada yang beda ya. Setiap ditanya malah ngebalikin terus, dasar menyebalkan!" ucap Bella, cemberut.
"Ehh, ya ma-maaf hehe. Ini, aku kesini habis nengokin Neneknya Alice." ucap Bram menoleh ke arah Alice, yang saat ini hanya bisa tersenyum kecil.
"Dari perkataan wanita ini aku bisa menebak, jika wanita ini adalah mantan kekasih Bram. Cuman kenapa mereka berpisah? Kelihatannya wanita ini wanita yang sangat baik, caranya berbicara pun sangat lembut."
"Yakk, ngapain aku jadi ngurusin hidup orang sih! Udahlah Alice, biarin aja mereka mau mantan kek atau teman kek itu bukan urusanmu. Yang penting tugasmu sekarang cuman menjadi kekasih pura-pura Bram, udah!"
Alice tersenyum mengangguk kecil menatap Bella yang juga ikut tersenyum menatapnya. Mereka pun saling berkenalan menyebutkan nama masing-masing, sambil berjabat tangan sekilas.
"Oh begitu, berarti ini wanita penggantiku 'kah?" tanya Bella tersenyum manis.
"Eee, bu---"
"Ya benar, dia adalah calon istriku. Gimana cantik, kan?"
__ADS_1
Bram langsung memotong ucapan Alice, lantaran dia tahu kemana arah jawaban Alice. Jika sampai Alice mengatakan kalau mereka bukan pasangan, maka itu akan menjdi bumerang bagi Bram. Dia takut jika informasi itu sampai jatuh ditangan Meera ataupun Hans, maka semua rencananya akan berantakan.
"Cantik kok, cantik banget malahan. Selamat ya, semoga hubungan kalian bisa langgeng terus. Aamin," ucap Bella terlihat begitu nemerima apa yang Bram ucapkan.
"Ohya tadi apa yang mau kamu katakan Alice? Tadi kamu bilang eee, bu- bu apa ya?" sambung Bella, membuat Alice terkejut dan juga refleks menatap ke arah Bram.
"Eee, i-itu bu-bulan madu. Ahya itu, maksudnya dia mungkin mau nanya sama kamu enaknya mau bulan madu kemana, karena kalian kan sama-sama wanita hehe ...." ucap Bram, menutupi segala kegugupan jantungnya.
"Astaga, aku kira apaan. Aduh, saking kebeletnya ya, belum nikah udah spontan menanyakan bulan madu hihi. Kalau saranku mending ke Bali saja disana pemandangannya indah kok, memangnya kapan kalian akan menikah?" tanya Bella, kembali.
Bram terdiam seribu bahasa, lantaran dia terjebak dengan ucapannya sendiri. Bram kira setelah mengatakan seperti itu Bella akan terdiam, tetapi salah.
Bella malah semakin mencecar Bram dengan pertanyaan yang Bram sendiri tidak tahu jawabannya. Apa lagi semua ini hanyalah sebuah sandiwara bukan realita.
"Apaan sih ini cowok, ngapa jadi segala bulan madu? Pernikahan aja kaga pernah terjadi, gimana bulan madunya coba? Mana dia udah icip-icip yakan. Yakk! Apaan sih bodo amat lah, rasain tuh. Lagian ngomong asal jeplak aja!" Alice mendumel didalam hatinya, dalam keadaan wajah tetap tersenyum.
"Loh kok diam, apa kalian belum menentukan tanggal yang baik 'kah? Atau kalian masih mau menikmati masa muda dulu, hihi ...." ucap Bella lagi, sambil tertawa kecil.
"E-enggak kok, ya kan Sayang. Kita kan sudah menyiapkan semuanya." ucap Bram memeluk pinggal Alice, membuatnya tersenyum menatap Bram.
Perkataan Alice berhasil membuat Bram membelalak, hampir saja matanya copot. Sementara Alice menatap wajah Bram begitu dekat sambil menepuk-nepuk pipinya, lalu mebgatakan sesuatu yang sangat kecil.
"Gimana, enak? Makannya jangan macam-macam denganku!" bisik Alice menatap tajam sekilas dan kembali tertawa, kemudian menatap Bella.
"Wahh, sebentar lagi ya. Baiklah, aku duluan ya. Semoga acara kalian lancar. Permisi," Bella pun berpamitan, lalu pergi kearah yang berlawanan.
Melihat Bella pergi, Alice pun langsung jalan lebih dulu meninggalkan Bram. Sehingga Bram memekik keras lalu mengejar Alice dengan perasaan kesal, yang sedari tadi dia tahan.
"Alice, tunggu!" pekik Bram, Alice yang mendengar itu pun hanya menoleh sambil berjalan cepat dalam keadaan wajah yang sangat datar.
Sampai akhirnya Alice berhenti tepat di parkiran mobil, Bram yang baru sampai langsung ngos-ngosan membungkukkan badannya sambil memegang kedua lututnya.
__ADS_1
"Hahh, hahh, hahh. Ka-kamu bisa enggak sih jangan lari-lari, capek tahu!" ucap Bram sambil berusaha mencoba untuk mengatur napasnya.
"Siapa suruh menyebalkan, udah buruan buka mobilnya. Panas tahu!" ucap Alice, kesal sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Yakk, dasar wanita menyebalkan. Bisa-bisanya disaat aku seperti ini bukannya diberikan air atau apa kek, ini udah main disuruh-suruh!" pekik Bram, tidak terima.
"Ya sudah kalau enggak mau, aku bisa pulang sendiri. Bye!" sahut Alice baru mau melangkahkan kakinya, Bram langsung menarik Alice untuk menahannya.
"O-okay, aku bukain pintunya!" Bram mengalah demi Alice tidak pergi darinya, entah mengapa Bram tidak mau membiarkan Alice pergi seorang diri.
Perlahan Bram mengeluarkan kunci mobilnya, lalu memencet remot kecil dan membukakan pintu untuk Alice.
Sementara Alice masuk tanpa mengucapkan satu katapun, dia malah tetap bersikap cuek karena hatinya masih sangat kesal atas sikap Bram yang tadi.
Bram hanya terdiam menggelengkan kepalanya, setelah Alice masuk kedalam mobil. Bram menutupnya dan kembali berlari kecil untuk menempati kursi pengemudi yang berada disamping Alice.
Kemudian Bram menyalakan mesinnya, dan menancap gas secara perlahan meninggalkan parkiran rumah sakit.
Selama perjalanan mereka terdiam, dalam waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya Bram memulai lebih dulu, karena dia sudah tidak kuat melihat wajah asam dari Alice yang terkesan begitu kesal padanya.
"Lis, kamu kenapa sih bilang begitu sama Bella? Apa kamu mengharapkan kita menikah 3 bulan lagi?" tanya Bram, menoleh sekilas dan kembali menatap ke arah jalan.
"Kamu nanyae?" sahut Alice, melirik kesal.
"Ya iyalah, emangnya aku bercanda. Aneh!" jawab Bram kesal.
"Kamu bertanyae-tanyae?" ucap Alice kembali, dengan gestur bibir yang terkesan meledek.
"Yakk, dasar menyebalkan! Kamu kamu tuh kenapa sih!" pekik Bram, langsung menghentikan mobilnya secara mendadak.
"Awwwsshh ...." keluh Alice saat keningnya mengenai dasbor depan mobil.
__ADS_1
Bram yang melihat itu, merasa kasihan. Dia segera menanyakan kepada Alice keadaannya, dan bergegas mencari sesuatu didalam mobilnya untuk bisa mengobati bekas lecet yang ada dikening Alice.
...***Bersambung***...