Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Jalan Kita Sudah Berbeda


__ADS_3

"Gimana?" ucap Bram.


"Wokelah, jika lu mau menebus semua uang yang gua berikan untuk pengobatan Neneknya yang sebentar lagi ma*ti gua---"


"Bisa enggak sih lu jangan kasih embel-embel kalau ngomong! Seolah-olah lu, enggak niat buat bantuin Alice dan Neneknya. Jadi buat apa saat itu lu nolongi mereka?"


"Ya karena itu peluang bagi gua, supaya bia mendapatkan apa yang gua mau. Kalau gua enggak begitu bagaimana gua bisa memanfaatkan dia?"


"Ckk, banyak ba*cot lu! Cepat sebutkan nominal yang lu mau, gua enggak ada waktu!"


"Huhh, baiklah. Lu bisa barter Alice dengan uang sejumlah ...."


"Berapa? Sebutkan"


"20 M, gimana? Itu sih sudah lebih dari cukup. Lu bisa bawa Alice bebas kemanapun lu mau dan gua enggak akan ganggu hidup kalian, jika Alice tidak kembali meminta pertolongan gua. Deal?"


Mendengar sejumlah uang yang tidak sedikit, membuat Bram terdiam mematung. Dia tidak menyangka bahwa Deo akan memeras brangkasnya sebanyak itu.


Semua itu setara sama Bram menjual semua aset berharga yang dia miliki. Mulai dari kendaraan, restoran bahkan tabungannya pun akan ikut serta dia berikan dengan cuma-cuma. Entah itu cukup atau tidak, sepertinya hanya itu yang Bram lakukan demi menyelamatkan Alice.


Namun, menjual semua itu tidaklah instan. Banyak tahap yang harus Bram lewati sampai akhirnya semua berubah menjadi uang yang dibutuh Deo.


"Kok diam, tadi aja semangat banget buat membebaskan Alice. Setelah mendengar nominalnya kenapa bengong? Apa kamu tidak mampu?"


"Hem, sudah kuduga. Makannya Bram, kalau enggak punya apa-apa itu jangan sok paling punya segalanya. Bagian di tantangin melempem, huhh. Dasar pria peng*ecut!"


Perkataan Deo berhasil membuatnya seketika terdiam membisu, dia memang tidak punya segalanya. Bahkan ketika dia meminta sama Hans pun bisa, hanya saja semua tidak terjadi akibat rasa gengsinya yang tinggi.


"Woke, deal! Gua akan berikan semuanya sama lu setelah gua mendapatkan apa yang lu minta untuk di tukar dengan Alice!"

__ADS_1


"Enggak usah banyak cincong dan sok tahu tentang hidup gua, karena lu engak akan pernah tahu gimana rasanya jadi gua."


Bram pun berdiri dari kursinya dan pergi meninggalkan ruang Deo dengan segala pemikiran yang kemana-mana.


Untungnya Deo tidak memberikan selang waktu kepada Bram, jadi dia bisa membayarnya kapanpun Bram memiliki uangnya.


...*...


...*...


Setelah dari BAR, Bram pun pergi kesuatu tempat. Yaitu taman yang tak jauh dari BAR tersebut. Dia duduk menikmati keramaikan dan juga kebisingan suara anak kecil yang sedang bermain satu sama lain.


Bram tersenyum menatap kelucuan anak-anak yang berhasil membuat hatinya tersentuh. Sampai membuat kesedihan ataupun beban di dalam pikiran Bram mulai berkurang.


Satu pedagang es krim yang terbilang sepi pembeli pun menjadi sangat ramai, saat Bram memanggil semua anak-anak kecil yang ada di taman untuk menyerbu dagangan es krim milik si bapak itu.


Semua sudah Bram bayar sampai lebih, dia lakukan hanya untuk membuat semuanya tersenyum. Dimana anak-anak sangat happy memakan es krim dan si Bapaknya pun menjadi senang lantaran dagangannya habis tak tersisa.


"Bella? Kenapa kamu ada disini?" tanya Bram terkejut.


"Kebetulan aku lagi lewat sini, terus lihat mobilmu ya aku coba cari. Tahunya kamu sedang membuat mereka tersenyum, padahal kamu sendiri pun tidak bisa tersenyum. Ada apa Bram?" jelas Bella, tersenyum menatap wajah Bram.


Seketika Bram hanya terdiam, dia bingung harus ngomong apa lagi sama Bella. Bram tidak mau jika Bella sampai tahu kalau Alice adalah wanita hiburan yang rencananya akan dia bebaskan dengan jaminan uang yang tak sedikit.


"Entahlah, gua bingung aja. Gua bisa membuat mereka bahagia dengan cara simple seperti ini. Cuman gua enggak tahu gimana caranya untuk membahagiakan diri gua sendiri." jawab Bram menatap ke arah anak-anak yang menikmati es krimnya.


"Bram bolehkah aku nanya sama kamu, tapi aku mohon jawab dengan jujur ya." ucap Bella, membuat Bram sedikit panik.


"Na-nanya apa?" tanya Bram, jantungnyabtidak karuan.

__ADS_1


"Apa benar kamu pernah mencintai Ibu tirimu sendiri, yang saat ini sudah menjadi Kakak iparmu?"


Satu pertanyaan yang sangat berat untuk Bram jawab berhasil membuatnya melotot dan terdiam. Bram tidak menyangka dari mana Bela bisa tahu semua itu, sementara tidak ada yang tahu tentang kisah itu kecuali mereka bertiga. Bram, Hans dan Meera.


"Da-darimana lu tahu itu semua?" ucap Bram terbata-bata.


"Ya aku cuman menebak saja, soalnya Kakakmu saja bisa sampai menikahinnya. Jadi tidak mungkin jika kamu tidak memiliki perasaan padanya, kan? Secara dia cantik masih muda lagi. Bahkan usianya juga sama sepertimu, tidak ada yang kurang darinya."


Ya memang benar apa yang Bella katakan, karena semua terbukti. Hanya saja Bram tidak terima jika Meera jatuh di tangan Kakaknya sendiri.


"Apapun yang kamu lihat itu, belum tentu semuanya benar!" tegas Bram.


"Ma-maksudnya?" tanya Bella, bingung.


"Ckk, udahlah jangan di bahas enggak penting!" sahut Bram, kesal.


"Tap---"


"Lu tuh sebenarnya ke sini cuman mau cari tahu info tentang kehidupan gua atau gimna sihhh. Pertanyaan lu tuh seolah-olah sedang mengorek-ngorek segala informasi yang ada. Setelah enggak ada lu cari lagi, lu gali lagi sampai lu nemuin sesuatu jawaban yang bisa membuat lu lega ketika mendapatkannya!"


"E-enggak kok, kamu salah paham Bram. Bukan begitu, maksudku. Aku cuman kepikiran aja, apa jangan-jangan waktu itu kamu memutuskan hubungan sama aku apa ada hubungannya dengan Ibu tirimu itu?"


"Stop ya, Bel. Bisa enggak sih lu tuh jangan kepo dengan kehidupan gua. Ya memang gua akui gua mutusin hubungan kita karena gua udah mencintai Meera. Cuman ada tapinya, semua itu terjadi setelah aku sudah tidak bisa lagi meneruskan hubungan kita. Rasa sakit, perselingkuhan dan sebagainya yang kamu tanamkan di hati membuat aku harus mengakhiri semuanya!"


"Ya, aku tahu aku salah Bram. Aku minta maaf, tapi jujur sampai saat ini aku masih punya rasa sama kamu. Aku belum bisa melupakanmu, tapi aku juga sadar kalau kamu udah punya Alice. Namun, aku enggak bisa ngebohongi perasanku sendiri kalau aku masih sangat mencintaimu Bram."


"Udah cukup, Bel. Jalan kita sudah berbeda, gua hanya menganggap lu sebagai teman tidak lebih. Sekarang gua sudah ada Alice, jadi maaf. Gua harus pergi!"


Bram bangkit dari kursinya dan meninggalkan Bella yang saat ini sedang menangis. Dia seperti merasa menyesal setelah kepergian Bram, semua memang salahnya cuman Bella tidak bisa menutupi kalau dia masih memiliki perasaan yang kuat untuk Bram.

__ADS_1


Melihat kepergian Bram, Bella pun menghapus air matanya dan pergi meninggalkan taman dalam perasaan yang masih tidak karuan.


...***Bersambung***...


__ADS_2