
"Kasian juga janin yang ada di dalam perutnya, bisa-bisa akan semakin lemah ketika mendengar kabar yang sangat menyedihkan ini!"
Bram bergumam didalam pikiran dan hatinya, dia sangat dilema. Apakah dia harus berkata jujur, atau dia harus menahannya lebih dulu sampai kondisi Meera stabil? Entahlah, Bram sangat bingung. Dia cuman bisa terdiam sejenak memikirkan sebab akibat yang akan Meera hadapi kedepannya.
"Bram katakan padaku, bagaiman kondisi suamiku?" ucap Meera, wajahnya terlihat begitu tegang dan juga khawatir.
"Ya, Bram. Gimana Kak Hans? Dia baik-baik aja 'kan? Dia tidak--"
"Hans mengalami koma yang entah sampai kapan, dokter juga belum tahu. Bahkan kecelakaan itu membuatnya mengalami penda*rahan hebat di kepalanya, membuat dokter segera mengambil tindakan untuk mengoprasinya. Awalnya keadaan stabil, tetapi tiba-tiba keadaannya mendadak menurun hingga membuatnya koma."
Degh!
Semua penjelasan yang Bram.berikn pda Meera dan Alice membuat mereka langsung terkejut bukan main. Bahkan Bram juga mulai memberikan pengertian bagaimana kecelakaan itu terjadi dan apa penyebabnya.
Setelah mendengarkan kroniloginya, Meera tak henti-hentinya menangis membuat Alice langsung mencoba untuk menenangkan hatinya agar Meera tidak sampai jatuh drop dan tensi darahnya semakin rendah.
"Kak, Meera tenang ya Kak. Aku yakin ini tidak akan lama kok, pasti Kak Hans hanya kelelahan jadi dia meminta izin untuk tidur beberapa hari agar rasa lelahnya bisa hilang ketika dia terbangun."
"Jadi, aku mohon Kak. Kakak jagan begini, pikirkan kondisi anak Kakak kasihan kalau dia harus menderita ketika merasakan Bundanya menangis dan bersedih seperti ini. Aku tidak tega melihat Kakak seperti ini, please Kak. Please hiks ...."
Alice menangis meratapi nasip Meera yang sangat menyedihkan. Disaat di mengetahui kehamilannya, suaminya malah mengalami koma seperti sekarang.
Bram yang tidak tega melihat istrinya, langsung memeluknya dan mencoba membuatnya tenang. Jika mereka ikut bersedih takutnya, kesedihan Meera malah akan semakin berlarut-larut.
"Kita harus kuat, Sayang. Cuman kita yang bisa membuat dia bangkit, agar tidak selalu meratapi nasibnya seperti ini. Aku yakin, Kakakku itu pria yang hebat, kuat dan pantang menyerah. Otomatis dia tidak akan pernah menyerah dengan hidupnya sendiri, pasti dia akan berjuang untuk bangun kembali agar bisa bertemu dengan istri dan calon anaknya."
Alice mengangguk dan memeluk perut serta pinggang suaminya, dimana Meera hanya bisa menangis tanpa suara sambil menatap ke arah atas.
"Hans, kenapa kamu tega ninggalin aku? Kenapa kamu, seperti ini Hans. Kenapa?" gumam, Meera sambil menangis.
__ADS_1
"Kau tenang aja, aku akan mencari tahu siapa dalang yang ada dibalik kejadian ini semua!" tegas Bram.
"Kau harus menemukannya, Bram! Jika dia masih berkeliaran itu tandanya keluarga kita msih dalam bahaya. Ingat, disini ada 2 nyawa yang ingin sekali dilahirkan ke dunia ini. Jadi, jangan patahkan impian mereka untuk bertemu dengan kedua orang tuanya." jawab Alice.
"Aku paham, Sayang. Sekarang kamu jaga Meera, aku mau pulang sebentar buat ambil baju sekalian kamu tahan Meera jangan sampai di ke luar dari kamarnya tanpa seiizin dari dokter.
"Ya, tenang aja aku akan menjaganya. Jangan lupa bilangin sama Bibi untuk buatkan aku balado udang dan juga jangan lupa belikan rujak mangga yang banyak. Okay?"
Bram menggelengkan kepalanya ketika di merasa aneh dengan sifat random istrinya, padahal baru tadi dia menangis dan bersedih. Sekarang malah sudah memikirkan tentang makanan.
Beginilah bumil, jika sudah mengidam maka tidak ada yang bisa menghentikannya termasuk kesedihannya sekalipun.
Bram pun langsung pergi meninggalkan mereka, dimana Alice berusaha untuk menenangkan Meera gara dia tidak lagi berlarut-larut di dalam kesedihan.
"Kak, Kakak jangan sedih lagi ya. Ingat loh, kalau Kakak sedih kasihan Babynya dan juga Kak Hans pasti nanti dia akan semakin sedih karena Kakak begini."
"Ayolah, Kak. Kita harus semangat ya, kalau nanti Kakak udah enakan aku akan minta izin sama dokter buat Kak Meera ketemu Kak Hans. Mau?"
"A-aku mau, aku mau ketemu sama suamiku. Please, bantu aku. Aku mau lihat keadaannya dan aku mau bilang sama dia kalau aku udah hamil anaknya sesuai dengan keinginannya." ucap Meera penuh harapan.
"Baiklah, tapi Kakak janji ya enggak boleh sedih-sedih lagi. Nanti aku akan minta Bram buat berbicara sama dokternya, sekarang Kakak makan dulu ya." jawab Alice, tersenyum sambil mengambil makanan.
Meera hanya bisa mengangguk kecil, meski mulutnya sangat pahit dan nafsu makannya sangatlah buruk. Cuman dia tetap harus makan demi sang buah hati yang baru saja hadir, walaupun Meera tidak mau memakan apapun. Anggap saja ini merupakan perjuangan seorang Ibu untuk anaknya.
...*...
...*...
...Di rumah kediaman keluarga Ivander...
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Bram segera pergi ke arah dapur untuk menyampaikan pesan kepada Bi Neng.
Sebenarnya Bram bisa aja sih memanggil Bi Neng, cuman karena Bram tidak mau membuat Bi Neng kecapean, jadi mending dia saja yang menyusul ke dapur.
Baru saja sampai di dapur, Bram melihat Bi Neng duduk dengan keadaan menangis membuatnya langsung mendekatinya tanpa basa-basi.
"Bibi, kenapa nangis? Apa yang sedang Bibi pikirkan sekarang? Cerita, Bi. Ada apa?" tanya Bram membuat Bi Neng yang lagi duduk menangis langsung menoleh ke arahnya.
"Ehh, Tuan Bram. Ko-kok udah pulang, ba-bagaimana keadaan Tuan Hans? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Bi Neng, sambil berdiri menatapnya.
"Jawab dulu pertanyaanku, Bi. Ada apa?" tegas Bram.
Bi Neng terlihat ketakutan, tetapi dia juga tidak bisa menyembunyikan semuanya dari Bram. Karena semua ini saling berkaitan satu sama lain.
Bram yang melihat Bi Neng kembali menangis langsung memeluknya secara perlahan, lalu dia mencoba menenangkannya.
Setelah sudah mulai mereda, kemudian Bi Neng duduk dan Bram mengambilkannya minuman. Mereka pun duduk bersama sambil menatap satu sama lain.
"Ada apa, Bi? Katakan sama Bram, kenapa Bibi menangis seperti ini? Please, Bi. Bilang sama Bram, jangan buat Bram khawatir kaya gini!"
Tangan Bram menggenggam tangan Bi Neng, sambil matanya menatap satu sama lain tanpa mengalihkan pandangan satu sama lain.
"Se-sebelumnya Bibi minta maaf, Tuan. Bibi bingung, mau mulai dari mana. Cuman saat mendengar tentang kecelakaan Tuan Hans, membuat Bibi langsung mengingat kejadian semalam. Tapi Bibi udah mencoba untuk menegur orang itu, cuman dia malah mendorong Bibi hingga Bibi terjatuh dan pingsan."
"Namun, ketika Bibi terbangun mereka sudah tidak ada di paviliun. Bibi udah enggak tahu harus mencari mereka kemana lagi, karena Bibi yakin. Mereka yang ada di balik kecelakaan Tuan Hans hiks ...."
Degh!
Mendengar sedikit perkataan Bi Neng, membuat Bram mengepalkan tangannya. Rahang Bram terlihat begitu mengeras dan wajahnya pun berwarna merah akibat menahan amarah yang begitu besar.
__ADS_1
Meski ucapan Bi Neng bagaikan puzzel buat Bram. Cuman dia sedikit paham apa yang di maksud dengan Bi Neng, hanya saja Bram belum tahu mereka yang di maksud itu siapa.
...***Bersambung***...