
Bram juga yang sudah berhasil menangkap wanita berjubah hitam itu, segera membawanya ke hadapan Hans dan semua orang di bantu oleh kedua security.
Hans yang sudah sangat marah dan penasaran, langsung saja membuka masker serta topi hitam itu dan membuangnya ke segala arah. Betapa terkejutnya Hans saat melihat siapa orang yang berani meracuni istrinya dan membuat keadaan Meera benar-benar berada di ambang kema*tian.
"Ke-keke?"
"Ja-jadi kau yang udah membuat istriku menjadi seperti ini? Kenapa kamu tega sama aku, Ke? Kenapa!"
Hans memekik keras hingga membuat Baby Maura dan Diego terkejut, lalu menangis kembali. Bi Neng berusaha memomong Baby Diego, begitu juga Alice kepada anaknya.
Mereka menjauh dari kegaduhan itu agar tidak membuat trauma kepada bayi sekecil mereka akan bentakan.
Apa lagi posisi seperti ini benar-benar berhasil membuat Hans merasa marah, sebab keadaan istrinya yang mulai membaik malah di hancurkan oleh orang dari masa lalunya.
"Haha ... Kau bilang kenapa, hah? Kau mau tahu jawabannya?"
"Ya, aku mau tahu alesan di bilik semua sifat jahatmu ini!"
"Oke, aku kasih tahu sama kalian semua. Aku sengaja meracuni Meera agar dia bisa secepatnya ma*ti, sehingga aku bisa merebut Hans dan juga anaknya. Mereka harus menjadi milikku, milikku!"
"Dasar wanita licik! Kau sudah tega membuatku hancur ketika mengenal cinta untuk pertama kali, kini kau kembali menghancurkan masa depanku. Bia*dap!"
Plakk!
Hans menampas keras pipi Keke, membuat dia menoleh kearah kanan dalam keadaan sudut bibir terluka.
Alice yang juga sudah geregetan kembali menambahkan tamparan, agar Keke mendapatkan bonus.
Bram berusaha menahan istri serta sang Kakak agar tidak berlebihan, sebab bila ada apa-apa dengan Keke. Maka, mereka juga akan ikut terseret ke dalamnya.
"Haha, cuman segitu tamparan dari kalian? Ini tidak sebanding oleh rasa sakit yang kau berikan disaat kau memilih wanita itu dari pada aku!"
__ADS_1
Teriak Keke disertai air mata dan juga tatapan penuh kebencian terhadap Hans. Dia masih tidak terima sama semua ini, dia masih bersikeras untuk merebut Hans.
"Udah, Kak. Jangan habiskan tenagamu untuk wanita gila seperti dia. Lebih baik sekarang kau fokus sama istrimu, biar dia aku yang urus!"
"Mari ikut saya, Pak! Kita bawa ke pihak yang berwajib, kalau perlu rumah sakit jiwa!"
Salah satu security ikut bersama Bram, supaya dia bisa menjadi saksi dari pihak rumah sakit. Setelah itu mereka pergi ke kantor polisi terdekat, untuk segera memproses laporan mengenai percobaan pembu*nuhan atas nama Keke kepada Meera.
Seperginya Bram, mereka kembali menunggu kabar baik yang akan diberikan oleh sang dokter.
Hans yang sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya, tangannya menghantam tembok cukup keras. Sampai tembok berwarna putih bisa berubah menjadi merah.
Sedikit demi sedikit, cairan merah itu mulai mengalir lambat kebawah. Alice yang melihat itu berusaha keras agar bisa menenangi Hans, bersama Bi Neng.
Awalnya mereka tidak bisa, cuman lama kelaman saat Hans menatap Baby Diego dia bergegas menggendongnya. Kemudian memeluk erat tubuhnya sambil menangisi kondisi istrinya.
Disaat mereka lagi menangis menenangkan Hans, pintu ruangan pun terbuka bersamaan dengan wajah sang dokter yang sangat menyedihkan.
"Dok, bagaimana istri saya? Dia selamat, 'kan?" tanya Hans, wajahnya menatap sang dokter sambil menangis dan di sertai sedikit senyuman.
"Ma-maksud dari gelengkan kepalamu itu apa, hahh?" ucap Hans penuh menekanan, sambil mecekram bahu sang dokter akibat di penuhi rasa emosi yang belum stabil.
"Tuan, hentikan! Saya bisa memanggil pihak pengaman agar Tuan bisa bersikap sopan dengan dokter!" bentak asisten dokter tersebut.
"Hans, tenang. Nak, tenang!" ucap Bi Neng yang suaranya terdengar serak akibat menangis sesegukan.
"Katakan apa yang terjadi dengan istri saya, sekarang!"
Sang dokter sedikit terkejut sama ap yang Hans katakan barusan. Meskipun terbilang kata-kata yang sopan, tetapi tetap saja dia mengatakannya penuh penekanan.
"Se-sebelumnya saya mau minta maaf kepada semua keluarga Nyonya Meera, karena kami sudah berusaha untuk menyelamatkan nyawanya. Akan tetapi, racun itu cepat sekali bekerjanya hanya dalam hitungan detik."
__ADS_1
"Racun yang diberikan orang itu berupa racun yang sangat membahayakan. Layaknya bisa ular yang mema*tikan, buktinya baru saja di minumkan belum sepenuhnya tertelan. Akan tetapi, sudah segera menyebar keseluruh tubuh Nyonya Meera. Sampai akhirnya, Nyonya Meera tidak bisa tertolong."
Boom!
Runtuh sudah harapan Hans, ketika dia sedikit lagi bisa menyaksikan istrinya yang akan bangun dari tidur panjangnya.
Namun, tanpa di sangka Keke malah merenggut semua itu dari tangan Hans. Bi Neng yang melihat Hans duduk di lantai, langsung mengambil alih Baby Diego.
"Ka-kakak, Ka-kak Me-meera sudah tiada?"
Jantung Alice seakan ingin berhenti bekerja, disaat mereka baru saja ingin menikmati masa-masa penyambutan Meera. Akan tetapi semua kandas hanya karena 1 orang.
"I-istriku, me-meninggal? Haha ... Tidak mungkin! Dia wanita yang sangat kuat, tidak mungkin hanya karena racun dia meninggalkanku. Bulsit!"
"Buktinya sudah 1 Minggu lebih, istriku bertahan di dalam komanya hingga dia menunjukkan kabar baik. Lantas apa maksudmu mengatakan bila dia meninggal, hahh? Dasar dokter tidak berguna, dokter tidak becus, haha ...."
"Lihatlah, istriku pasti sedang tertawa karena sudah membohongiku. Dia itu memang jahil, sangat jahil. Lagi pula ini hanya mimpi, Hans. Mimpi haha ...."
Tawa Hans bergema di dekat ruangan itu, bahkan Alice bisa menyaksikan betapa sakitnya perasaan Hans. Dia berusaha tertawa menghibur dirinya, jika ini hanyalah sebuah mimpi buruk.
Namun, Bi Neng berusaha memberikan pengertian agar Hans bisa menerima kenyataan pahit itu. Jika Meera memang telah tiada dan pergi meninggalkan kita.
Hans yang sudah sadar, menangis sangat keras. Dia segera bangkit dan berlari untuk bisa memeluk istrinya. Rasanya kedua kaki Hans benar-benar lemah ketika melihat wajah Meera begitu pucat, hingga bibirnya sangatlah biru.
Hancur sudah harapan kebahagiaan Hans, dia tidak bisa lagi melihat wajah cantik istrinya di sertai kelembutan hatinya yang tidak semua wanita miliki.
Alice memberikan kabar duka tersebut, sebab ini begitu penting untuk Bram. Supaya dia bisa segera kembali ke rumah sakit. Apa lagi Hans pasti akan sangat membutuhkan sosok adiknya di saat duka seperti sekarang.
Bram mendengar itu sangat syok, dia menitipkan hukuman berat atas Keke yang sudah membu*nuh Kakak iparnya. Keke hanya tertawa mendengar kabar mengenai meninggalnya Meera.
Isak tangis memenuhi kamar tersebut begitu Baby Maura dan juga Baby Diego. Mereka tidak berhenti menangis setelah menyaksikan kepergian Mommynya.
__ADS_1
Walau mereka masih kecil, tetapi mereka memiliki ikatan batin yang sangat kuat kepada Meera. Disinilah mereka saling menyalahkan diri sendiri karena tidak becus menjaga Meera. Terutama Hans yang telah lalai, karena tidak menggubris kode dari kedua Baby yang menangis.
...***Bersambung***...