Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Perubahan Kondisi Hans


__ADS_3

Alice segera meminta maaf ketika melihat Meera menekuk wajahnya bagaikan pakaian baru kering yang belum di gosok. Setelah itu Alice berjalan lebih dulu untuk membukakan pintu, sedangkan Bram, dia mendorong kursi roda Meera dengan sangat hati-hati.


Mereka berjalan santai menuju lift, dimana ruangan Hans terletak di 3 lantai dibawah lantai kamar Meera.


Rasanya Meera sudah tidak sabar lagi untuk bertemu suaminya, walaupun perasaannya begitu sedih. Akan tetapi, ada juga rasa senang karena dia akan memberikan kabar baik tentang kehadiran anak mereka yang sudah Hans nanti-nantikan.


Sesampainya di depan ruangan Hans, Meera langsung masuk bersama salah satu suster yang membantunya untuk mendorong kursi roda Meera ke dalam. Sementara Alice dan juga Bram hanya bisa menunggu di depan ruangan, tepatnya di ruang tunggu.


Ya, namanya juga ruangan ICU yang boleh masuk hanyalah 1 orang. Dan jika 2 orang pun itu kalau dalam keadaan darurat, cuman kalau tidak maka dokter hanya menyarankan 1 orang saja dengan kurung waktu kurang lebih 5 sampai 10 menit.


Ketika Meera sudah di pasangkan baju khusus, perlahan sang suster mendorong dan mendekatkan kursi roda Meera ke samping kanan bangkar Hans. Dimana air mata Meera serta senyuman di bibirnya langsung runtuh begitu saja.


Suster itu meninggalkan Meera berdua dengan Hans, agar membuat mereka sedikit nyaman untuk berbicara berdua. Seperginya suster itu, tangan Meera perlahan memegang tangan suaminya lalu di genggam dan menempelkan di pipinya.


Senyuman, air mata serta usapan tangan Meera membuat Hans tak terasa meneteskan air matanya secara perlahan.


"Hai, Sayang. Apa kabarmu, hem? Kamu baik-baik aja 'kan disini? Aku kangen, kangen lihat senyumanmu, kangen lihatmu membuka mata dan aku kangen merasakan hangatnya pelukan suamimu. Kapan kamu mau bangun, Sayang? Apakah kamu tidak tega, lihat aku sendirian di sini?"


"Apa lagi Bram dan Alice sekarang sudah saling mencintai, mereka tidak lagi seperti biasanya yang saling salah paham. Lantas, bagaimana dengan nasibku ini, hem? Apa aku harus selalu iri melihat kemesraan mereka, sementara aku harus melihat suamiku terbujur kaku tak berdaya disini?"

__ADS_1


"Jujur, Hans. Aku tidak pernah merasakan cinta sedalam ini kepada seorang pria, hanya kamu yang mampu membuatku takut akan yang namanya kehilangan. 2 kali aku kehilangan orang yang sudah berhasil membuatku nyaman, tetapi untuk kali ini aku tidak mau. Dan aku tidak akan pernah mengizinkan kamu pergi dari hidupku, karena saat ini aku sudah tidak sendiri lagi Hans!"


"Lihatlah, di perutku ini! Malaikat kecil telah hadir untuk melengkapi kisah kita. Dia ingin sekali merasakan hangatnya usapan tangan dari Ayahnya, bahkan dia juga mau kenal. Siapa Ayahnya? Sehebat apakah Ayahnya? Dan setampan apa, Ayahnya?"


"Aku mohon, Hans. Aku mohon bangun ya, jangan lama-lama tidurnya. Aku tidak bisa sendiri menghadapi semua ini, aku tahu. Ini terjadi semua karena aku, aku yang sudah membawa tikus itu masuk ke dalam rumah hingga dia menghancurkan semua isi rumah. Maafkan aku, Sayang. Maaf hiks ...."


Meera menangis sambil menunduk dan meletakkan genggaman tangan di keningnya selama beberapa detik. Kemudian kembali seperti biasa, dan tangan satunya mengusap pipi suaminya.


Semua isi hati, Meera keluarkan di depan Hans, apa yang saat ini dia rasakan hingga membuatnya jatuh drop beberapa hari lalu.


Namun, disaat Meera sedang asyik menceritakan semuanya bagaimana perasan dia setelah tahu anak mereka hadir di dalam rahimnya. Tiba-tiba saja, air mata Hans menetes dari kedua sudut matanya membuat Meera terkejut. Ditambah pula, jari jemari sebelah kanan yang Meera genggam bergerak secara perlahan.


Disitulah Meera langsung refleks membuka genggaman tangannya sambil melihat jari telunjut Hans perlahan bergerak


Senyuman lebar terukir saat Meera begitu bahagia melihat suaminya sudah memberikan respon padanya. Jikalau sebentar lagi, dia pasti akan tersadar dan terbangun dari tidurnya yang kurang lebih 1 minggu ini.


Segera mungkin Meera memanggil sang suster yang berjaga tak jauh dari sana, lalu suster itu datang dan melihat apa yang Meera katakan. Kemudian dia segera memanggilkan dokter dengan cepat, dimana Bram yang sedang duduk santai sambil kepala Alice menyandar di dadanya langsung terkejut dan terbangun.


Wajah panik dan khawatir telah menghiasi keduanya, kenapa suster yang keluar dari ruangan Hans terlihat begitu gelisah berlari entah kemana.

__ADS_1


Baru saja mereka berdua mau bertanya, suster itu sudah bergegas pergi berlalu dengan kencang. Sehingga tanpa berkata apa-apa lagi, mereka berdua segera menerobos ruangan dan masuk ke dalam untuk mengecek keadaan Hans.


"Kak, ada apa ini? Ada apa sama Kak Hans? Kenapa tadi suster itu terlihat sangat panik?" tanya Alice penuh kekhawatiran.


"Kenapa dengan Hans, apakah ada sesuatu yang terjadi? Katakan padaku, Meera!" tegas Bram, wajahnya terlihat begitu datar.


"Lihat baik-baik, jari Hans!" ucap Meera menunjukkan tangan suaminya sambil tersenyum menatap Bram dan Alice.


"Bagaimana? Jarinya bergerak bukan? Itu tandanya kalau suamiku sebentar lagi akan tersadar, dia pasti bangun dari tidurnya karena dia tidak tega jika aku dan anaknya hidup tanpa dirinya!" ucap Meera, kembali.


Melihat kejadian langka itu membuat wajah Bram dan Alice seketika sumringah, mereka benar-benar senang saat menyaksikan kemajuan tentang kondisi Hans yang semakin hari semakin membaik.


Tak lama, sang dokter datang dengan cepat langsung meminta asisten dan suster lainnya supaya membawa semua anggota keluarga Hans keluar ruangan.


Semua itu bertujuan agar dia bisa lebih leluasa mengecek setiap detail perubahan yang Hans alami saat ini.


Awalnya Meera keberatan, hanya saja dia mulai mengerti kalau semua ini demi kebaikan suaminya. Rasa bahagia di hati Meera benar-benar tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata.


Hanya saja, Alice yang paham kalau saat ini Meera benar-benar membutuhkan satu pelukan hangat guna untuk menumpahkan semua rasa senangnya.

__ADS_1


Tidak berpikir lama, Alice langsung memeluk Meera dengan begitu erat dan keduanya di penuh oleh rasa kebahagiaan yang sudah tidak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata.


...***Bersambung***...


__ADS_2