
Saat sampai di ruangan kerjanya Hans langsung merapikan semuanya, meskipun dia tahu ini bukan ulahnya. Tapi, tak apa. Setidaknya hatinya sudah cukup tenang, dengan harapan kelah hubungannya bersama Bram akan segera membaik.
Setelah selesai merapikan semua ruangannya seperti semua, ponsel Hans berbunyi dimana Meera menelponnya dalam keadaan menangis.
Rasa cemas mulai menyelimuti perasaannya, tanpa basa-basi panjng kali lebar lagi. Hans segera bergegas pergi meninggalkan ruangan demi mengecek keadaan istri tercinta yang tidak ada angin, tidak ada badai tiba-tiba menangis tanpa sebab yang jelas.
Wajah yang dipenuhi dengan kepanikan membuat Hans secepatnya membuka pintu, meski beberapa kali gagal akibat keburu-buruannya membuat sidik jarinya tidak menempel dengan jelas.
"Ckk, arrrghh! Ini kenapa sih tangan, disaat keadaan genting begini malah ada aja masalah!" pekik Hans berusaha kembali menempelkan sidik jarinya.
Hanya dengan hitungan detik, akhirnya pintu berhasil terbuka membuat Hans segera berlari menggedor pintu kamar mandi.
Tok, tok, tok!
"Sayang, kamu gapapa kan? Apa ada yang sakit? Kamu masih bisa jalan kan buat buka pintunya? Kalau tidak aku akan dobrak pintunya sekarang!"
Hans sedikit berteriak, wajahnya pun terlihat memerah menahan kekhawatiran didalam hatinya akibat tadi sempat mendapatkan kabar bahwa Meera terjatuh di kamar mandi.
Sementara di kamar sebelah tidak mendengar suara apapun, karena Bram lupa mematikan kedap suara kamarnya saat beberapa hari lalu mereka kembali melakukan permainan ranjang.
Balik lagi ke Hans, yang saat ini masih mengkhawatirkan keadaan istrinya. "Sayang, pelase jawab aku. Atau aku akan dobrak pintu ini dalam hitungan ke-3?"
Bram mulai sedikit menjauh dan berancang-ancang untuk mendobrak pintu tersebut sambil menghitungnya.
Satu ...
__ADS_1
Dua ...
Tii ...
Ceklek!
Pintu terbuka bersamaan dengan Hans yang sudah bergerak ingin mendobrak, tetapi malah terhenti menjadi patung saat melihat keadaan Meera saat ini.
Mata Hans membelalak bahkan hampir saja copot, ketika melihat penampilan istrinya yang begitu berbeda dari biasanya.
Baju ringerie berwarna merah menyala, menambah kesan kecantikan tersendiri bagi Meera. Ini pertama kalinya Meera menyiapkan diri hanya karena saat dia keluar dari kamar mandi tidak melihat keberadaan suaminya.
Meera berpikir bahwa suaminya sepertinya sangat marah padanya, akibat Meera menunda dengan alasan sakit perut. Padahal tanpa disadari Meera dikamar mandi hanya mencoba untuk menetralkan detak jantung serta kegugupannya untuk menghadapi semua ini.
Meera mulai panik, bahkan dia memikirkan kalau suaminya seakan-akan kecewa dengannya atas sikapnya yang berusaha menghindar darinya.
Beberapa menit Meera berjalan kesana-kemari memikirkan ide untuk memancing suaminya. Sampai dia terlintas ide cukup menguji dirinya sendiri untuk mencoba suasana baru dengan orang yang sangat dia cintai.
"Sepertinya aku pernah membeli baju, tapi yang datang malah baju dinas. Apa aku gunakan itu saja ya? Hitung-hitung menebus kesalahanku tadi sempat kabur, seolah-olah aku kaya menolaknya."
"Hem, boleh sih. Cuman, apa aku bisa? Apa tubuhku ini memadai untuk menarik simpati Hans agar tergoda denganku? Secara tubuhku ini kecil, mungkil dan juga tidak berisi. Apakah mampu?"
"Yaakkk, dahlah. Mau tertarik atau tidak, aku harus mencoba semua itu. Apapun yang terjadi aku harus menyerahkan tubuhku untuk suamiku, kasihan dia. Pasti saat ini sangat tersiksa dengan menahan sesuatu didalam tubuhnya."
__ADS_1
"Sekarang lebih baik aku merias diriku secantik mungkin, dan berpura-pura terjatuh di kamar mandi. Kemudian saat dia panik ingin menolongku, taraa, hihi ...."
Meera terkekeh sendiri dalam keadaan malu, lalu berjalan mendekati ruang ganti untuk mengambil paper bag yang berisikan ringerie.
Sebenarnya itu bukan punya Meera, karena dia pernah belanja online iseng-iseng membeli baju secara random. Cuman entah kenapa, yang datang malah baju dinas seperti diluar ekspetasinya.
Segera mungkin Meera mengubah penampilannya, hanya tak butuh waktu lama dia sudah siap dan langsung menjalankan permainan jahilnya.
Sekarang terbukti bukan, walaupun awalnya Meera tidak percaya diri. Akhirnya berhasil membuat Hans terdiam mematung dengan keadaan mata tak berkedip, membola besar, mulut terbuka lebar dan gerakan tubuhnya yang terlihat lucu akibat dia ingin mendobrak pintu, tetapi tidak jadi.
"Sa-sayang, i-ini be-beneran kamu kan? Bukan dedemit yang menyamar jadi---"
"Yakkk, dasar suami menyebalkan! Susah payah aku merencanakan semua ini, malah bisa-bisanya dibilang dedemit!"
Meera langsung memekik kesal saat melihat suaminya malah mengatainya dengan hal yang terkesan sangat menjengkelkan.
Mendengar itu semua membuat Hans langsung refleks menyadari kesalahannya, dia segera meminta maaf dan mencoba untuk merayu istrinya.
Akan tetapi Meera malah pergi menyingkir dari Hans, lalu duduk di pinggir ranjang dalam keadaan wajah datar, tangan melipat di dada dan kaki satunya menopang disatunya membuat Meera terkesan lebih cantik dan juga se*xy.
Hans langsung berlutut di hadapan Meera dengan segala penyesalannya, bahkan tanpa melewatkan kesempatan tangan Hans malah memegang paha mulus istrinya sambil sedikit mengelusnya.
Meera rasanya ingin sekali menudahi rasa kesalnya, cuman entah mengapa dia masih belum puas untuk menghukum suaminya.
Akankah malam ini mereka bisa melakukan hubungan suami istri layaknya pernikahan semestinya? Atau akan kembali gagal untuk kedua kalinya, setelah yang pertama Meera mencoba menghindari Hans. Sekarang malah Hans yang membuat mood Meera seketika hancur.
__ADS_1
...***Bersambung***...