
Sampai akhirnya Meera pingsan di dalam pelukan Alice hingga membuat semuanya menjadi panik. Bram yang sudah tidak bisa melihat keadaan Meera, langsung menggendongnya dan membawanya ke rumah sakit bersama Alice.
Dimana Bram akan membawa Meera ke rumah sakit yang sama, oleh suaminya di rawat. Semua itu untuk memudahkan Bram agar bisa mengecek keadaan Kakaknya.
Bram menyetir diatas kecepatan rata-rata makanya, dalam waktu kurang lebih 30 sampai 40 menit mereka sudah sampai. Berbeda jika kecepatan normat bisa kurang lebih 2 jam mereka sampai.
Segera mungkin Bram menggendong Meera dan meletakkan perlahan di atas bangkar, kemudian mereka mengikuti kemana Meera di bawa.
Tak lupa Bram merangkul istrinya, membuatnya agar sedikit tenang serta mengingatkan bahwa dia sedang hamil dan tidak di anjurkan berlarut-larut dalam kesedihan.
Sesampainya di depan ruangan UGD, Alice langsung memeluk suaminya. Dimana ai matanya seketika tumpah yang sedari tadi di tahan oleh Alice.
Terlihat jika Alice sangat mengkhawatirkan Meera, karena baginya Meera merupakan seorang Kakak.
Alice tidak mau lagi merasakan kehilangan keluarga, dia hanya mau hidup tenang bersama keluarga yang baru Alice miliki.
Melihat serta mendengar perkataan Alice, membuat hati Bram bergetar hebat. Bram tidak menyangka kalau Alice bisa menyayangi Meera sedalam ini.
Padahal mereka berasal dari 2 insan yang tidak saling mengenal, tidak memiliki hubungan darah. Cuman kekuatan kasih sayang mereka bisa melebihi rasa sayang antar saudara.
"Ma-maafkan aku, Lis. Aku belum bisa jadi suami terbaik untukmu, tapi aku janji. Saat ini aku akan berubah dan memendam semua perasaanku di masa lalu bersama Meera."
"Setelah melihat keadaan Meera aku sadar, bahwa perasaannya padaku memang sudah mati. Jadi aku juga harus menguburnya dalam-dalam, lalu membuka lembaran baru bersamamu dan anak kita."
"Sekali lagi maafkan aku, Lis. Selama ini aku sudah menyakimu tanpa sengaja dengan ucapan dan prilakuku yang suka memikirkan wanita lain selain istriku sendiri."
Suara hati Bram bergetar hebat, ketika dia sudah menyadari semua kesalahannya pada Alice tentang perasaan.
Ini adalah tekat dan niat bagi Bram untuk melangkah maju menggenggam tangan istri dan anaknya. Bukan dengan menatap ke arah wanita lain, yang sudah tidak lagi menjadi miliknya.
Perlahan Bram mulai membuat Alice tenang, lalu mereka duduk di kursi panjang khusus pengunjung.
Tak lama seorang suster dan dokter keluar dari persembunyiannya. Alice dan Bram segera mendekati sang dokter, kemudian menanyakan bagaimana keadaan Meera.
__ADS_1
"Dok, bagaimana keadaan Kakak saya? Apakah dia baik-baik aja?" ucap Alice, gelisah.
"Sejauh ini keadaan Nyonya Meera cukup menyedihkan. Tensi darahnya rendah, denyut nadinya sedikit melemah, begitu juga dengan fisiknya. Apa lagi kondisi an--"
"Kondisi apa lagi, Dok? Apakah separah itu!" sahut Bram, yang sudah tidak bisa menahan kecemasan di dalam dirinya.
Alice seketika menatap suaminya, dengan tatapan sedikit sakit. Cuman kembali lagi, mungkin ini perasaan khawatir layaknya seorang adik mengkhawatirkan Kakaknya yang sakit. Sama seperti Alice yang sangat mengkhawatirkan Meera.
"Kondisi tentang janin yang ada di dalam kandungan Nyonya Meera sangatlah lemah, dan hampir nyaris keguguran."
"Namun, pada akhirnya janinnya masih bisa terselamatkan setelah saya memberikan obat untuk penguat janin serta rahimnya."
"Kemungkinan besar Nyonya Meera habis melakukan hubungan suami istri yang cukup ekstrem, sehingga janinnya tidak nyaman ketika rumahnya dihuni oleh yang lain."
"Tetapi, yang saya herankan. Apakah Nyonya Meera tidak tahu bahwa dia sedang mengandung? Karena di usia kehamilan trisemester pertama itu sangat rentan dalam berhubungan badan."
"Cuman tak masalah jika melakukannya penuh kehati-hatian, di tambah tadi saya dengar Tuan Hans mengalami kecelakaan dan berada di ruangan ICU dalam keadaan koma."
"Maka dari itu, demi keselamatkan Ibu dan anaknya, saya menyarankan agar Nyonya Meera di rawat beberapa hari, supaya kondisi tubuhnya stabil. Saya akan segera memindahkan Nyonya Meera di kamar inap khusus."
Mendengar semua penjelasan dari sang dokter, berhasil membukam mulut mereka berdua. Rasanya mereka tidak tahu apakah ini adalah kabar yang sangat membuat mereka bahagia ataukah menyedihkan.
Satu sisi Hans mengalami kecelakaan dan kondisinya sangat kritis, cuman dibalik kesedihan itu terdapat kabar baik penuh kebahagiaan bahwa Meera ternyata sedang hamil anak dari suaminya.
"Ja-jadi Kak Meera hamil, Dok? I-ini serius, 'kan?" tegas Alice, suara terbata-bata penuh rasa senang dan juga sedih bercampur aduk.
"Loh, memangnya kalian tidak tahu? Bahkan usia kandungannya sudah hampir 1 bulan loh. Apakah Nyonya Meera belum memberikan kejutan ini?" tanya sang dokter, bingung.
"Tidak, kami semua tidak tahu jika Meera sedang hamil. Makannya kami terkejut ketika dokter mengatakan itu semua!"
Sang dokter pun mengangguk, apa yang dijelaskan Bram membuatnya langsung mengerti. Mungkin karena tidak ada tanda-tanda khusus, jadi tidak ada satu orang pun yang menyadari kehamilan Meera, termasuk Meera sendiri.
"Saya mohon, Dok. Berikan dia perawatan yang lebih baik. Saya tidak mau sampai terjadi apapun pada calon ponakan saya!" tegas Bram.
__ADS_1
"Siap, Tuan Bram. Saya akan merawatnya penuh hati, dan saya juga akan mengeceknya setiap 1 jam sekali. Jadi kalian tenang saja, nanti akan saya pindahkan Nyonya Meera ke ruangan khusus."
"Ya sudah saya, mau kembali masuk kedalam sambil mengecek kondis Nyonya Meera saat ini. Permi---"
"Tunggu, Dok. Jangan lupa tolong cek ditangan kanan Kak Meera, disitu ada luka cukup dalam akibat tertancap beling, saya hanya mengobati sekedarnya. Selebihnya dokter yang mengeceknya, saya takut ada luka dalam ataupun infeksi."
Alice yang teringat dengan luka tersebut segera menjelaskannya. Dokter itu hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum kecil.
"Baiklah, permisi!" pamit sang dokter menatap Alice dan Bram secara bergantian. Kemudian dia bergegas berjalan memasuki ruangan.
Alice tersenyum menatap Bram, dia sendiri tidak tahu harus berekspresi sedihkah atau senang. Semua kejadian ini sangatlah membingungkan.
"Bram, Ka-kak Meera hamil? Itu tandanya aku dan Kak Meera bisa memiliki anak secara bersamaan? Huaa, seru dong. Aku sudah tidak sabar, menunggu detik-detik itu tiba. Semoga Kak Meera dan janinnya sehat, aamin." ucap Meera antusias.
"Aamin, semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi pada mereka." ucap Bram berusaha tetap tersenyum walaupun hatinya teriris.
Dari sini Bram sadar, bahwa memang bukan Meera yang menjadi jodohnya. Melainkan Alicelah jodoh serta teman hidup yang akan selalu menemaninya dari nol sampai dia sukses kelak.
Beberapa menit, ada seorang suster dan perawat keluar dari ruangan tersebut sambil mendorong bangkar Meera.
Dimana Alice dan Bram melihat keadaan Meera sangat memprihatinkan. Segera mungkin mereka mengikuti kemana perginya Meera yang akan di bawa oleh seorang dokter.
Sesampainya di lantai 7, kamar nomor 122. Meera segera di bawa masuk, menyisakan Alice dan Bram yang berada di luar.
Setelah semuanya sudah di cek oleh dokter, dan Meera pun telah tertidur nyaman di ruangannya. Sang dokter bersama yang lainnya segera keluar, lalu sedikit menjelaskan sekalian berpamitan pergi.
Tanpa menunggu lama mereka berdua segera masuk ke dalam ruangan selepas dokter itu pergi.
Alice duduk di kursi tunggal sambil memegangi tangan sambil memeluknya, Alice merasa sangat kasian melihat kondisi Meera seperti ini.
Cuman mau bagaimana lagi, yang terpenting keadaan Meera dan bayinya semua baik-baik saja. Setelah beberapa menit Bram merasa puas, dia langsung meminta istrinya untuk menjaga Meera karena dia harus segera mengecek dan mengurus keadaan Kakaknya, yaitu Hans yang ada di ruangan ICU.
...***Bersambung***...
__ADS_1