Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Seekor Tikus Di Dalam Rumah


__ADS_3

"Tidak, aku tidak setuju! Ini sangat berbahaya buat kalian, apa lagi Alice sedang hamil. Cukup kalian menjaga diri satu sama lain, diam dirumah dan bantu kami dengan doa. Supaya kami bisa menemukan siapa tikus itu yang telah berani mengusik keluargaku!"


Rahang Hans terlihat sangat tegas, mata menyorot tajam penuh keseriusan dan tangannya sedikit mengepal.


"Ya, kali ini gua setuju sama Hans. Kalian diam saja di rumah, jangan aneh-aneh! Ingat, kalian itu wanita dan kita pun belum tahu akan ada bahaya apa di luar sana yang akan mengejar kalian. Jadi, gua mohon lu bantu buat kasih pengertian sama Alice jika ini bukan seperti apa yang dia lihat!"


"Dan gua juga minta tolong, jaga Alice beserta anak gua. Jujur, gua memang masih ada perasaan sama lu. Cuman, gua enggak mau ada hal buruk yang terjadi sama mereka. Pernikahan gua tinggal menghitung hari, gua enggak mau kalau semua ini kandas begitu aja. Lu pahamlah apa yang gua maksud!"


Perkataan Bram, membuat Hans dan Meera saling menatap satu sama lain. Kemudian melihat Bram, mereka tidak menyangka jika Bram sedikit demi sedikit mulai terbuka dengannya.


Apa lagi ketika mendengar bahwa dia sangat mngkhawatirkan kondisi Alice sama anaknya, membuat Meera dan Hans sedikit kagum. Meski, tidak sepenuhnya Bram bisa memberikan perasaannya kepada Alice.


Cuman mereka berdua sangat yakin. Sebentar lagi, Bram akan sama seperti Hans yang terlihat begitu mencintai pasangannya.


Semua itu karena mereka menuruni sifat mendiang Daddynya, terlihat cuek dan juga menyebalkan. Tetapi, di dalam hatinya memiliki perasaan yang sangat besar kepada pasangannya.


"Baguslah kalau kamu punya pikiran kaya gitu, jaga wanita yang saat ini sedang kamu perjuangkan. Jangan kecewakan dia dan juga menyakitinya, ingat! Meera udah punya Kakakmu seutuhnya, jadi kisah kalian sudah benar-benar berakhir!"


"Fokuslah sama keluarga kecilmu, lupakan Meera, lupakan kisah kalian, dan jangan pernah berpikir kalau kalian bisa kembali lagi. Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan Meera padamu, meski kamu adalah adikku sendiri!"


Hans menatap Bram sangat tajam, bagaikan seekor Elang saat ingin menyantap predatornya. Meera terdiam memperhatian kedua pria yang saat ini sedang memancarkan tatapan masing-masing.


"Berisik lu! Gua tahu apa yang harus gua lakuin, di sini juga gua sama lu bersatu bukan karena gua udah berdamai. Melainkan gua hanya mau menemukan tikus itu, agar gua bisa tenang menjalani kehidupan ini. Paham lu!"


"Hasil dari ngerebut punya orang aja bangga, cihh ... Menjijikan!"


Perkataan Bram memang sangat melukai hati Hans, hanya saja dia tetap berusaha tersenyum. Meskipun mulut Bram bagaikan pisau yang menusuk jantungnya, tetapi Hans bisa merasakan bahwa Bram sangat peduli dengannya.


Sama halnya seperti Meera, dia melihat bahwa hubungan Bram dan Hans semakin ada kemajuan. Walau mereka masih terlihat kaku dan saling melontarkan kata-kata yang menyakitkan, tetapi Meera sangat percaya.


Setelah tikus itu di temukan, lalu ditangkap secara hidup-hidup, maka kehidupan mereka akan jauh lebih bahagia dan juga aman. Di tambah hubungan persaudaraan antara Bram sama Hans sebentar lagi akan kembali terhubung.

__ADS_1


Disaat mereka sedang asyik berbincang masalah besar ini, tanpa di sengaja sudut mata Hans melirik ke arah pintu yang terbuka sedikit.


"Perasaan tadi aku sudah menutup pintunya rapat-rapat, cuman kenapa sekarang malah terbuka begitu? Hem, sepertinya ada yang mengawasi. Huhh, aku yakini ini tikus yang sedang berkeliaran!" gumam batin Hans.


Bram yang merasa curiga dengan tatapan aneh Hans itu segera melihat ke arah pandangan. Dimana mereka sama-sama melihat adanya sebuah bayangan samar, membuat mereka secara perlahan melirik satu sama lain menggunakan kode tertentu.


Bram bangkit dari tempat duduknya secara perlahan membuat Meera pun menjadi bingung untuk di tinggal sendiri. "Kalian mau----"


Hans dan Bram kompak menempelkan jari telunjuknya ke bibir masing-masing, sambil mengeluarkan suara desi*san ular yang begitu pelan.


Seseorang yang sepertinya tadi sedang menguping, mulai ketahuan. Sehingga dia langsung panik, kemudian memundurkan kedua kakinya sampai akhirnya tangannya tidak sengaja menyenggol salah satu vas bunga kecil yang ada di atas bupet.


Klontang!


Suara itu berhasil memperkuat insting mereka, jika benar adanya. Kalau ada seseorang yang sedangmengawasinya.


Dengan sigap Hans dan Bram segera bergegas keluar dari ruangan, dalam keadaan penasaran dan sangat penasaran.


Namun, sayangnya. Hasilnya nihil, mereka tidak menemukan siapa-siapa. Lantas bunyi apa yang mereka dengar tadi?


"Fixs, udah ini mah orangnya enggak jauh dari penghuni rumah. Gua yakin, pasti salah satu dari mereka adalah dalang dari semuanya!" tegas Bram saat berada di luar ruangan.


"Ckk, kalian itu ada apaan sih, kenapa kalian pada lari-larian ninggalin aku!"


Meera terlihat kesal di depan mereka bertiga, karena tidak ada satu pun dari mereka yang mau berbicara padanya.


"Maaf, Sayang. Tadi, aku melihat ada bayangan hitam berada di luar pintu, Bram pun tahu itu. Makanya, aku memberikan kode kepada Bram untuk menangkapnya. Cuman, sayang. Sepertinya dia tidak sebo*doh yang kita kira!"


Hans berkata penuh ketegasan, membuat seseorang yang sedang bersembunyi di suatu tempat merasa lega karena dia bisa kabur tepat pada waktunya.


"Sejauh mana tikus itu berlari, gua akan pastikan jika dia juga bakalan masuk ke dalam jebakannya sendiri!" ucap Bram menghiasi wajahnys dengan senyuman miring.

__ADS_1


Meera sama Hans hanya bisa menganggukan kepalanya. Meski Meera tidak terlalu mengerti, dari cara berbicara Hans dan Bram berhasil membuat dia perlahan mulai paham.Kalau ternyata di dalam rumah ini terdapat tikus nakal yang bersarang.


Disini Meera lebih berhati-hati lagi dekat dengan penghuni rumah ini, sama seperti Hans dan Bram yang tidak bisa mempercayai siapapun yang ada di dalam rumah ini.


"Ya sudah kita kembali istirahat aja, besok kita pikirkan lagi. Yang penting kita sudah tahu kalau ada tikus di rumah ini! Selanjutnya kita pikirkan langkah apa yang akan membawa tikus itu keluar dengan sendirinya!"


Hans berbicara penuh ancaman, dan sedikit menekankan kata-katanya agar seseorang yang bersembunyi itu mendengarnya.


Semua itu, karena Hans sangat tahu jika tikus nakal masih berada di dekat mereka, karena tidak mungkin dia secepat itu bisa menghilang dalam waktu hitungan detik.


Dan benar saja, setelah mereka bertiga masuk ke dalam kamarnya masing-masing untuk beristirahat. Tak lama tikus itu keluar menampakkan diri, segera pergi ke paviliun untuk memberikan informasi terbaru pada rekan satu versinya.


...*...


...*...


Di Paviliun belakang rumah kediaman keluarga Ivander, yang mana itu adalah tempst tinggal semua pembantu atau penjaga rumah lainnya. Disana memang di sediakan khusus, agar tidak campur dengan rumah majikannya.


Seorang wanita dalam keadaan napas terbata-bata akibat berlari menghindari monster yang akan menerkam dirinya langsung duduk di depan seorang pria.


"Loh, Ibu kenapa ngos-ngosan seperti itu? Apa Ibu habis olah raga?" tanya pria itu, yang mana adalah suaminya Jaka.


"Olah raga matamu, Pak-pak! Ibu itu hampir saja ketahuan kalau sedang memata-matai keluarga mereka. Untung aja Ibu bisa sat-set, sat-set. Jadi, Ibu selamat dari amukan monster huhh ...." keluhnya, yang tidak lain tidak bukan adalah Atun, istri Jaka.


Atun dan Jaka memang sangat bersemangat dalam mencari sebuah informasi terbaru. Apa lagi Atun, dia yang sebenarnya menggebu-gebu ingin membalaskan dendam yang sudah di perbuat Hans pada keluarganya.


Sejak kejadian tadi, Atun tidak sengaja mendengar bahkan melihat dari kejauhan tentang kejadian Bram yang di fitnah oleh seorang wanita hamil. Sampai akhirnya dia penasaran, lalu mengikuti semua gerak-gerik majikannya hingga hampir saja dia ketahuan.


Atun menceritakan semuanya pada suaminya agar dia tahu apa saja berita terbaru yang Atun ketahui tadi.


Jaka hanya menyimak dan tersenyum ketika mendengar apa yang istrinya katakan. Meski mereka hanya mengincar Hans, tetapi saat Hans dan keluarganya menimpa masalah mereka terlihat begitu senang.

__ADS_1


Hanya saja mereka harus lebih berkati-hati lagi, karena majikannya sudah mulai mencurigai jikalau ada seekor tikus yang berkeliaran di dalam rumah majikannya.


...***Bersambung***...


__ADS_2