Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Dasar Egois!


__ADS_3

"Awwwsshh ...." keluh Alice saat keningnya mengenai dasbor depan mobil.


Bram yang melihat itu, merasa kasihan. Dia segera menanyakan kepada Alice keadaannya, dan bergegas mencari sesuatu didalam mobilnya untuk bisa mengobati bekas lecet yang ada dikening Alice.


Saat Bram mau mengobati luka Alice, tiba-tiba Alice malah menahan tangan Bram dengan wajah kesalnya. "Yakk, apa-apaan ini. Stop memegangi keningku, aku tidak apa-apaa!" Alice sedikit berteriak serta memberontak.


"Sstt, diam! Jangan banyak berbicara atau aku akan menekan luka ini!" ancam Bram saat tangannya berhasil menyentuh lukanya.


"Dasar egois!" gumam Alice, yang sudah pasrah dengan perlakuan Bram padanya.


"Aku egois juga demi kebaikan!" jawab Bram, spontan.


Tak butuh waktu lama, akhirnya Bram selesai mengobati luka Alice. Kemudian membereskan semua kotak P3K dan memasukannya kembali ke laci dasbor dekat Fayra.


Alice kembali mengalihkan wajahnya ke arah samping dengan sangat masam. Ditambah Bram yang tadinya mau kembali melajukan mobilnya jadi tidak jadi sebelum masalah selesai.


"Kamu itu kenapa sih, Lis? Ada apa denganmu, dan kenapa juga kamu membuatku terjebak di dalam ucapanmu kepada Bella. Apa maksudnya ini, Lis? Apa!"


Bram yang sudah jengah, dan juga bingung atas sikap Alice semakin membuatnya penasaran bercampur kesal.


Alice melirik tajam kearah Bram, kemudian menjelaskan di balik sifatnya yang diam kesal ternyata ada ulah Bram didalamnya.


"Kamu lupa, apa yang kamu ucapkan pada Bella tentangku tadi?" jawab Alice datar.


"Apa? Perasaan aku tidak ngomong apa-apa kok!" ucap Bram, tanpa sadar.


"Benar-benar kau ini, arrrghh!" Alice begitu geram dengan Bram, sampai tanpa sadar tangannya hampir saja mengerauk wajah tampannya, jika Bram tidak refleks memundurkan wajahnya.


"Yakk, dasar wanita aneh. Hampir saja wajah tampanku rusak akibat tanganmu yang ngeselin!" pekik Bram tidak terima.


"Bodo amat, siapa suruh tadi malah mengatakan bulan madu, bulan madu enggak jelas. Mana bawa-bawa namaku pula, seakan-akan harga diriku sudah jatuh dimata Bella. Dasar pria tidak tahu diuntung, dibantuin malah tidak tahu terima kasih!"


Alice mendumel sepanjang-panjangnya membuat Bram terdiam, dia menyadari bahwa satu kesalahan saja bisa membuatnya seolah-olah telah menjadi seorang penjahat kelas kakap.


Rasanya Bram ingin sekali membekap mulut Alice lalu menguncinya agar tidak lagi mengoceh. Hanya saja entah mengapa, disaat Alice marah seperti ini wajahnya terlihat begitu menggemaskan. Benar-benar persis seperti anak kecil yang sedang ngambek tidak di belikan es krim.


"Okay, aku ngaku aku salah. Jadi stop, jangan diteruskan lagi. Kepalaku rasanya mau pecah!" sahut Bram sambil menutup kedua kupingnya disaat kupingnya sudah mendengung.

__ADS_1


"Lagian kamu tuh nyebelin banget tahu enggak sih, argghh!" Tanpa di sadari Alice meluapkan emosinya sambil menjambak rambut Bram, hingga orangnya pun memekik kesakitan.


"Aawshh, sa-sakit! Lepaskan tanganmu bo*doh, kau kira rambutku ini apaan, haah!" ucap Bram mencoba melepaskan tangan Alice dari atas kepalanya.


Setelah menyadari semuanya, Alice terdiam mematung dengan tangan yang masih menjambak dan kedua mata membelalak besar.


Alice menoleh lalu menyengir tanpa bersalah dan melepaskan tangannya, kemudian jarinya membentuk huruf V. "Ma-maaf Sayang, aku tidak sengaja. Habisnya kamu ngeselin banget sih. Jadi refleks kan."


Degh!


"A-apa tadi yang dia katakan? Sa-sayang?" gumam Bram di dalam hatinya dengan perasaan, wajah memerah pucat dan jantung berdetak tidak karuan.


"Bram? Kamu gapapa, hei!" Alice melambaikan tangannya didepan wajah Bram yang sedang melamun, sampai akhirnya dia berhasil menyadarkan Bram.


"Ahya, ada apa Sayang? Ehh!" Bram langsung menutup mulutnya dengan mata membola besar.


Bram tidak menyangka jika mulutnya bisa berkata seperti itu, padahal panggilan itu hanya di gunakan ketika mereka melakukan sandiwara.


"Sa-sayang?" gumam kecil Alice, pipinya mulai memerah bagaikan ketumpahan blush on.


"E-emang iya, aku mengatakan begitu? Hem, ya sudah lupain aja. Ayo cepat jalan, katanya mau ke BAR. Gimana sih!" ucap Alice mengalihkan toping.


"Sebelum kita ke BAR, itu gimana ucapanmu yang mengatakan bahwa 3 bulan lagi kita akan menikah?" sahut Bram, bingung.


"Yaelah, ngapain dipikirin. Toh itu kan cuman Bella yang tahu, lagian kalau Bella nanya ya tinggal bilang aja diundur karena ada sesuatu yang bermasalah, selesai!"


"Ngapain harus pusing-pusing diambil hati, lagi pula itu bercanda. Udahlah cepatan jalan, aku udah enggak sabar ingin segera bebas dari semua pekerjaan ini."


Alice terlihat begitu antusias untuk merasakan udara bebas yang Bram janjikan. Meskipun tanpa mengatakan janji pun, Bram sudah seperti menjamin kehidupan yang layak untuk Alice. Supaya dia bisa merasakan hidup bagaikan burung yang bisa terbang kemana pun dia inginkan.


Awalnya Bram terlihat kesal karena ucapan Alice terdengar seperti memerintah dirinya. Akan tetapi, ketika dia melihat semangat baru muncul di dalam diri Alice, membuatnya merasa senang.


Entah itu perasaan apa, yang penting bagi Bram senang saja melihat senyum Alice dari pada melihat Alice cemberut seperti tadi.


Tanpa basa-basi lagi Bram kembali menancapkan gas, meninggalkan tempat tersebut menuju BAR. Dimana sesekali Bram melirik ke arah Alice yang terlihat begitu bahagia, bagaikan sebuah sayap yang patah yang mengjnginkan kesembuhan lalu dia akan kembali terbang setinggi apapun yang dia inginkan.


...*...

__ADS_1


...*...


Rumah sakit, dimana tempat Hans dirawat terdengar sedikit kegaduhan antara pasangan suami-istri yang tidak bisa diam. Mereka terus bertengkar akibat Meera selalu melarang Hans untuk menggaruk kulitnya yang sudah mulai gatel.


"Stop, Hans. Stop! Jangan di garuk lagi, ingat kata dokter. Rasanya memang gatal, tetapi kamu harus bisa menahannya supaya kulitmu tidak lecet dan juga iritasi."


Meera berusaha menahan kedua tangan Hans, dengan posisi Meera duduk tepat di samping Hans diatas bangkarnya.


"Tap----"


"Sttt, diamlah. Tahan semua rasa gatal ini supaya kamu cepat sembut, aku yakin sebentar lagi juga kamu akan sehat kok. Percaya deh, hem ...."


Hans sedikit terkejut ketika Meera membawa kepala Hans untuk menyandar di bahunya, lalu tangan Meera memegang tangan Hans serta satunya mengelus pipinya secara perlahan.


"Bagaimana jika sehatnya lama?" tanya Hans, mendongak sedikit, menatap wajah Meera yang saat ini tersenyum.


"Apakah suamiku ini, tipe pria yang mudah menyerah?" tanya Meera balik, Hans langsung menggeleng dengan cepat.


"Tidak bukan, jadi stop berpikir buruk tentang dirimu sendiri. Karena aku tidak suka Hans yang seperti ini!"


"Hans yang aku kenal itu dia tipe pria yang dingin, hebat, kuat dan juga memiliki semangat yang membara dalam melakukan hal apapun. Bukan menyerah bagaikan orang lemah, seperti sekarang!"


Nasihat-nasihat yang terlontar dari mulut istrinya berhasil membuat Hans tersenyum menatapnya. Entah mengapa perasaan sedeket ini tidak membuat mereka merasa malu satu sama lain.


Padahal mereka belum sama-sama mengatakan perasaan masing-masing. Tetapi, sekarang malah terlihat seperti orang yang sangat mencintai satu sama lain.


"Kenapa rasanya nyaman sekali, ketika aku berada sedekat ini bersamanya. Apa jangan-jangan aku sudah mulai tertarik dengannya? Tapi, mana mungkin. Dia kan masih sangat mencintai Bram. Pasti dia akan terus mencintainya selama Bram masih berada didekatnya."


"Sudahlah Hans, jangan banyak berharap. Ingat, mengharapkan segala sesuatu yang tidak akan mungkin terjadi itu rasanya sangat sakit,"


"Bersikap biasa saja, toh kalian menikah itu karena sebuah kecelakaan bukan karena cinta. Sadar diri Hans, dia melakukan semua ini karena kamu lagi sakit. Coba kalau tidak, pasti dia selalu marah-marah."


Hans hanya bisa menikmati keadaan langka ini, rasanya sangat nyaman saat dirinya dimanja oleh istrinya sendiri.


Ya mungkin Hans sudah sadar jika dia mulai menaruh hati pada Meera, akan tetapi perasaannya itu langsung kalah dengan kenyataan bahwa Meera dan Bram pernah bersama.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2