Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Tidak Ada Rasa


__ADS_3

Semua ini membuat Bram sedikit tersentuh, bagaimana jika yang ada diposisi Neneknya Alice adalah Kakaknya, Hans.


Apakah Bram akan melakukan hal yang sama seperti Alice ataukah Bram tidak akan peduli? Entahlah, Bram masih belum bisa menerima semua kejadian itu, yang membuat hatinya masih terasa sangat menyakitkan.


...*...


...*...


2 hari berlalu, Alice sudah tinggal bersama dengan Bram disatu kamar yang sama. Hanya saja disini Bram tidak lagi menyentuh tubuh Alice, meski beberapa kali terlintas ide gila didalam diri Bram.


Hanya saja, dia mengurungkan niatannya lantaran dia tahu jika Alice bukanlah wanita yang bisa dia jelajahi layaknya wanita malam pada umumnya.


Tepat dipagi hari, Meera sedang asyik berkutak dengan alat masaknya untuk menyiapkan sarapan bagi suami, adik ipar dan juga tamu yang sudah layaknya anggota keluarga mereka.


"Perasaan aku sudah banyak menambahkan penyedap rasa kedalam masakanku, tetapi kenapa saat aku nyobain rasanya masih hambar ya? Apa aku salah memasukan penyedap rasa?"


Meera terlihat sangat gelisah ketika mendapati masakan nasi gorengnya seperti tidak memiliki rasa apapun. Padahal jelas-jelas beberapa kali dia selalu menambahkan penyedap, garam dan sebagainya.


Namun, rasanya masih tetap sama dan tidak berubah sedikitpun. Ditambah Bi Neng sedang tidak ada dirumah lantaran dia lagi pergi ke depan komplek untuk membeli sesuatu. Sedangkan Bi Atun, dia sedang sibuk membereskan gudang belakang.


Sehingga Meera merasa bingung, dia harus minta tolong kesiapa lagi untuk mencicipi masakannya. Apakah memang benar rasanya hambar, atau mulut Meera yang mati rasa?


Entahlah, Meera begitu bingung. Sampai saking penasarannya dia kembali menambahkan penyedap, garam dan lainnya lalu mengaduknya hingga rata.


Disaat Meera terlihat bingung, tiba-tiba seseorang datang dengan sedikit mengagetkannya. "Ekhem, permisi!"


"Eh, astaga!" Meera terkejut bukan main dan langsung berbalik badan, menatap seseorang dengan keadaan tangan diletakkan didada lalu diusapnya secara perlahan.


"Ma-maaf, jika aku sudah mengagetkanmu." ucapnya dengan perasaan bersalahan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Ohya, ada apa kamu ke sini, Alice?" ucap Meera kembali meneruskan masakannya.


"Cuman bosen saja, jadi aku kesini. Memangnya kenapa, tidak boleh?" ucap Alice, berusaha cuek.


"Hem, boleh kok. Silakan saja, lagi pula nanti juga ini jadi rumahmu, bukan?" ucap Meera tanpa menatapnya dan kembali menyucipi nasi gorengnya.


"Oh tentu jelas, karena kan aku ini sebentar lagi akan menjadi istri Bram. Jadi, otomatis rumah ini akan menjadi rumahku, sama sepertimu yang sudah menikah dengan mendiang Ayahnya dan sekarang malah menikah dengan Kakaknya!"


"Terus, bagaimana rasanya. Apakah kejantanan suamimu yang saat ini jauh lebih menggigit dari pada mendiang suamimu, hem?"


Degh!


Sodet yang awalnya berada didalam genggaman Meera, kini terlepas saat mendengar penuturan kata yang Alice ucapkan begitu nyesak didalam hatinya.


Seketika Meera kembali berbalik dan menatap Alice, yang saat ini berdiri menatapnya dalam keadaan kedua tangan melipat didadanya. Senyuman kecil terukir dibibir Alice seperti sedang mengejek Meera.


"Maksudmu apa berbicara seperti itu? Ingat ya, kamu disini hanya orang asing. Jadi jangan pernah berkomentar tentang keluarga ini, karena kamu tidak tahu apa-apa tentangku dan mendiang suamiku. Maka dari itu aku mohon dengan sangat hormat, stop membicarakan hal yang menjelekan mendiang suamiku!"


Meera menatap tajam kearah Alice dengan segala kekesalahannya. Rasanya Meera ingin sekali menampar mulut kotor wanita itu, ketika dia yang tidak tahu menahu tentang hidupnya bisa berbicara seperti itu.


Hanya saja, semua itu kembali lagi. Meera harus bisa mengendalikan emosi didalam hatinya, agar dia tidak sampai kepancing dengan semua tak-tik Alice yang seakan-akan ingin membuatnya berada didalam masalah.


"Kalem, Kakak. Tidak perlu marah-marah seperti itu, aku hanya bercanda kok. Lagi pula mau menggigit ataupun tidak itu tergantung sama permainan kalian diatas ranjang. Buktinya, Bram selalu mengatakan ..."


Alice menghentikan ucapannya, hingga membuat Meera begitu penasaran dengan apa yang dikatakan Bram olehnya ketika mereka sedang bermain.


"Bra-bram me-mengatakan apa?" tanya Meera, wajahnya penasaran disertai dengan kedua mata yang sediki membola.


"Ternyata benar dugaanku, kalau dia masih sangat mencintai Bram. Cuman kenapa, Bram sangat membencinya. Apakah permasalahan mereka tidak bisa diselesai secara baik-baik? Dari pada dipenuhi dendam yang mengatas namakan cinta seperti ini. Pasti perasaan mereka benar-benar tersiksa, satu sama lain."

__ADS_1


Alice berbicara didalam hatinya, ketika dia menyadari bahwa cinta didalam hati Meera memang masih bersinar untuk Bram. Meski Alice tidak sepenuhnya mengetahui kejadian itu, tetapi Alice bisa merasakan jika Meera dan Bram masih saling mencintai.


Perlahan Alice melangkahkan kakinya sambil kedua tangan masih melipat didada, lalu dia sedikit mencondongkan tubuhnya hingga bibirnya berada dekat ditelinga kanan Meera.


"Mau tahu, apa mau tahu banget?" bisik Alice, membuat wajah Meera seketika berubah menjadi kesal. Dia sudah menunggu sampai penasaran, tetapi Alice malah membercandakan dirinya.


"Yak, dasar menyebalkan! Udah sana-sana pergi, jangan dekat-dekat dengan aku, huss!"


Meera berbalik lalu mengaduk nasi gorengnya dengan kasar, betapa kesalnya Meera ketika Alice berhasil mengerjainya.


Alice terkekeh kecil didalam hatinya saat melihat Meera seperti itu, rasanya dia ingin sekali mencubit kedua pipi Meera yang menggembang bagaikan ikan buntal yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi gendut.


Selang beberapa detik, Meera masih marah-marah saat mendapati masakannya masih belum ada rasanya. Alice yang mendengar itu langsung segera mengambil alih semuanya membuat Meera menatap kesal kearahnya.


"Coba sini aku cicipi masakannya, dari pada nanti semua orang yang makan bisa kena darah tinggi akibat garam yang kamu tuangkan di masakan." ucap Alice yang mencoba mengambil alih sodet ditangan Meera.


"Yak, enggak usah. Aku bisa kok masak sendiri, mendingan kamu pergi sana jauh-jauh!" ucap Meera yang kembali merebut sodetnya.


Sampai akhirnya Alice mengalah dan membiarkan Meera meneruskan masakannya, tetapi dia tidak ambil diam. Alice malah mengambil sendok, lalu mencicipi nasi goreng Meera yang membuatnya semakin kesal. Apa lagi Alice memakannya tanpa atas izin dirinya, cuman Meera juga penasaran dengan rasa yang akan Alice komentarin untuknya.


Perlahan Alice mengunyah makanan tersebut, sambil menatap Meera yang saat ini terdiam dengan wajah menatap kearahnya, bagaikan kambing conge.


"Gi-gimana rasanya? Apakah nasi itu masih layak dimakan atau tidak?" tanya Meera, wajahnya sudah terlihat panik jika nasi goreng yang dia buat sampai tidak bisa dimakan otomatis perasaan Meera akan langsung down.


Entah mengapa dia juga bingung ada apa dengan hari ini, karena tidak biasanya Meera merasakan mulutnya begitu hambar akan rasa masakannya.


Apakah Meera lagi sakit? Sepertinya tidak, Meera terlihat baik-baik saja tanpa sedikitpun mengeluh sakit ataupun pusing.


Tak lama Alice langsung mengatakan pendapatnya tentang rasa dari masakan Meera yang terbilang aneh baginya.

__ADS_1


...***Bersambung****...


__ADS_2