
Bram melepaskan tangannya dengan keras, setelah terlepas dia menatap satu persatu mereka secara bergantian.
Mulai dari Hans, Meera, Bi Neng dan juga security. Sampai akhirnya Meera maju beberapa langkah dan ....
Plakk!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Bram, terlihat jelas jika Meera sangat kecewa dengan perlakuannya pada wanita itu. Bukan karena Bram telah menghamilinya, menikahinya atau segala macam. Melainkan Meera kecewa akibat Bram yang terlalu mudah untuk menyakiti seorang wanita.
"Arrgh, lu tuh apa-apaan sih, Hahh! Kenapa lu demen banget buat nampar gua. Lu inget enggak, ini tamparan ke-2 yang lu kasih buat gua!"
"Ada apa sama lu, hahh! Kenapa semenjak lu nikah sama Hans, sikap lu jadi kasar kaya gini. Tidak selembut Meera yang gua kenal selama ini!"
Tangan Bram memegangi pipinya sambil matanya menyorot tajam.
Hans yang melihat Meera begitu marah pada Bram, langsung mencoba untuk menenangkannya agar tidak lagi emosi dengan semua kejadian ini.
"Cukup, Sayang! Kita belum tahu siapa yang benar, dan siapa yang salah di sini. Jadi jangan sampai kita salah menyikapi kejadian ini. Lebih baik, sekarang kita masuk dan bicarain semua ini di dalam rumah!" titah Hans.
"Aku marah bukan karena masalah itu, tetapi aku marah atas sikap Bram yang tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Dengan dia memperlakukan wanita itu sangat kasar, sama saja seperti dia sedang memperlihatkan keburukannya sendiri pada Alice!"
Bram terdiam, dia mencerna setiap perkataan Meera. Ya, memang apa yang Meera katakan itu ada benarnya. Bram selama ini tidak pernah bersikap kasar pada seorang wanita, cuman dengan dia melakukan hal seperti itu pasti sekarang Alice sedang pertimbangan semuanya.
Apakah dia masih mau meneruskan pernikahannya dan mempersatukan cinta mereka? Atau Alice akan memilih untuk membatalkannya, lantaran menurut Alice, Bram bukanlah pria yang bisa bersikap lemah lembut terhadap wanita.
Kejadian malam ini membuat Alice benar-benar terpukul. Dia tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa pada Bram, dia hanya tahu jika saat ini dia harus mencoba untuk menenangi dirinya lebih dulu. Barulah akan mengambil keputusan yang tidak akan membuatnya menyesal seumur hidup.
__ADS_1
...*...
...*...
Di dalam ruangan kerja Hans, mereka bertiga sudah ngumpul duduk manis di sofa. Sesekali mata mereka saling menatap satu sama lain.
Dimana posisi Bi Neng dan security sudah kembali ke tempatnya masing-masing. Bi Neng kembali ke Paviliun belakang rumah, lalu security kembali bekerja di pos jaga.
Ya meskipun Bi Neng sangat ingin tahu tentang kelanjutan kisah itu, tetapi dia tidak berani untuk melewati batasan yang ada.
Mau bagaimana pun, sedekat apapun dia dengan keluarga Ivander. Bagi Bi Neng, tetap saja dia hanyalah seorang ART. Jadi tidak ada hak untuknya terus mencari tahu masalah majikannya.
Bi Neng hanya bisa berdoa serta berharap bahwa kejadian hari ini bukanlah kehancuran bagi Bram dan juga Alice.
Mereka terdiam satu sama lain selama beberapa menit. Hingga akhirnya Hans berdiri lalu dia berjalan dan menyandar di meja kerjanya, Hans menatap Meera beserta Bram yang saat ini sedang duduk di sofa tepat di hadapannya.
"Apakah kamu ada hubungan dengan wanita itu? Lebih tepatnya kenal dengan dia, apa mungkin dia teman sekolahmu atau bekas mantanmu?" tanya Hans.
"Udah berapa kali sih gua bilang, gua enggak kenal sama wanita gila itu! Gua ketemu dia aja baru sekarang, bagaimana mungkin gua ngehamilin tuh cewek, sampai gua nikahin pula?"
"Jauh di dalam kamu gua, seumur-umur gua menjalin hubungan baru sama Meera gua mau serius. Cuman ... Akhh, dahlah! Pokoknya gua kenal wanita hanya buat seneng-seneng, udah!"
"Lagi juga buku, surat atau apalah itu namanya dia bisa dapet dari mana coba? Sedangkan gua aja enggak pernah tanda tangan disitu, di tambah gua juga enggak pernah cetak foto kaya gitu!"
"Kalau lu ingat, pasti lu tahu lah. Beberapa kali gua pernah bilang 'kan. Gua enggak mau nikah ngelangkahin lu, gua mau nikah setelah lu nikah! Jikalau pun gua nemuin pasang lebih dulu, gua akan mencoba untuk menahannya."
__ADS_1
"Kalau pun sudah tidak tahan barulah gua akan bilang sama lu dan minta izin buat ngelangkahin lu. Bukan malah langsung nikah aja, berasa kek beli kacang di pasar malem harga 5000 udah dapet banyak!""
"Sampai ini pahamkan, gua juga mau nikah mikir berkali-kali, engga langsung nikah seperti apa yang dia katakan. Mana dia tas kertas pula, udah kek nikah kontrak aja!"
"Yang gua heran, kenapa tuh orang bisa seenak jidat bilng gua ini suaminya? Haha, na*jis! Rasanya pengen muntah ketika gua lihat air mata palsu ngalir tanpa dosa!"
Hans terdiam memperhatikan gerak-gerik postur tubuh Bram, tanpa Brma menjelaskanpun sebenarnya dia sudah tahu kode-kode tubuh Bram ketika dia lagi berbohong ataupun tidak.
Sementara Meera dia hanya menyimak semua yang Bram jelaskan, karena dia sendiri pun tidak sepenuhnya percaya dengan Windi.
Hanya saja, bukti yang Windi kasih itu benar-benar sangat meyakinkan. Semua terlihat jelas juga nyata, apa lagi di buku dan surat itu pun terdapat tanda tangan Bram secara asli bukan palsu.
"Kalau semua yang kamu katakan itu benar apa adanya serta jujur. Lantas apa maksud dan tujuan dari wanita itu? Kenapa dia mengatakan bahwa itu adalah anak dari Bram? Buat apa coba!"
Hans dan Bram menatap Meera yang sedang berpikir keras atas kejadian yang terjadi malam ini. Sampai akhirnya dalam hitungan detik mereka mengatakan satu kata yang sama secara bersamaan.
"Kehancuran!"
Mereka menatap satu sama lain dengan tatapan penuh penyelidikan. Bram dan Hans, tidak menyangka jika Meera pun mengatakan hal yang sama.
Perasaan bingung mulai menyelimuti keduanya, dari situ Meera menceritakan apa yang dia bicarakan pada Alice ketika di rumah sakit.
Disitu Meera dan Alice berniat ingin memecahkan teka-teki yang terjadi selama ini. Akan tetapi dengan cepat Hans dan Bram menolak keras semua rencana para wanitanya. Karena mereka tidak mau jika sesuatu hal buruk terjadi pada wanita kesayangan mereka.
"Tidak, aku tidak setuju! Ini sangat berbahaya buat kalian, apa lagi Alice sedang hamil. Cukup kalian menjaga diri satu sama lain, diam dirumah dan bantu kami dengan doa. Supaya kami bisa menemukan siapa tikus itu yang telah berani mengusik keluargaku!"
__ADS_1
Rahang Hans terlihat sangat tegas, mata menyorot tajam penuh keseriusan dan tangannya sedikit mengepal.
...***Bersambung***...