
Meera yang merasa bersalah, karena dialah yang membawa Atun serta suaminya masuk kedalam rumah. Yang mana, Atun dan Jaka malah memiliki rencana pribadi untuk menghancurkan Hans.
Rasanya jika waktu bisa diulang kembali maka, Meera tidak akan pernah mengizinkan suaminya untuk pergi seorang diri. Karena kejadian ini membuat Meera sedikit merasa trauma.
Alice terus berusaha membuat Meera untuk menyudahi semuanya, lalu membujuknya untuk kembali meneruskan makanannya agar bayi yang ada di dalam perut tidak sampai kelaparan.
...*...
...*...
Pagi hari menjelang siang, tepatnya pukul 9. Meera baru saja selesai sarapan dan juga sang dokter baru saja memeriksa keadaannya.
"Syukurlah, keadaan Nyonya Meera sudah mulai membaik. Yang terpenting, Nyonya harus benar-benar jaga kesehatan. Apa lagi saat ini di dalam perut Nyonya sudah ada Dedeknya, jadi Nyonya harus bisa mengutamakan kenyaman sang Baby yang semua yang membuat Nyonya tidak nyaman."
"Ingatz jangan setres, dan jangan sedih-sedih lagi. Saya akan memberikan izin pada Nyonya untuk menjenguk suami Nyonya yang berada di ruangan ICU. Asalkan, ketika jam makan siang nanti Nyonya harus sudah kembali ke sini. Bisa?"
Meera tersenyum lebar sambil menganggukan kepalanya penuh semangat, membuat sang dokter pun ikut senang.
Apa lagi Alice yang melihat keadaan Meera sudah mulai membaik, membuat dia tersenyum lebar sambil melirik ke arah suaminya yang saat ini berada di sampingnya.
Seperginya sang dokter yang mulai meninggalkan ruangan, Alice malah meledek Meera sampai wajahnya mulai merah dan sedikit kesal.
"Ekhem, cie-cie ... Sepertinya ada hati yang lagi berbunga-bunga nih, lantaran mau bertemu dengan suaminya."
"Uhhh, pasti kangen berat tuh. Ohya, jangan lupa ya, Kak. Kalau nanti ketemu Kak Hans, Kak Meera harus cium bibirnya. Siapa tahu dia akan langsung terbangun dari tidur panjangnya, lalu kalian bisa hidup bahagia deh yeyyy haha ...."
Alice tertawa dalam keadaan wajah yang sangat lucu, layaknya seorang anak yang sedang mengajak orang-orang bermain.
"Ishh, kamu tuh apaan sih. Emangnya kamu kira suamiku ini Pangeran kodok apa, yang dicium langsung bangun? Ada-ada aja, mendingan kamu cium aja suamimu sono!" ucap Meera, menahan malunya.
__ADS_1
"Ohhh siap, Bosku. Muuachh!"
Degh!
Bram terdiam mematung ketika istrinya tiba-tiba saja mencium bibirnya di depan wanita yang pernah ada di dalam hidupnya.
"Hyaaakk, dasar enggak ada akhlak!"
"Udah tahu disini ada orang, malah beneran dilakuin lagi. Bener-benar jamu ya Alice!"
Meera berteriak membuat Alice tertawa begitu senang, bagaimana tidak. Wajah Meera terlihat merona, dan sangat lucu.
Sama halnya seperti Bram, dia juga tidak lagi merasakan malu yang berkelanjutan, hanya sekedar menunjukkan kemerasaan diantara mereka berdua.
Tak lupa, dari perlakuan ini membuat Alice percaya. Jikalau suaminya dan juga Meera sudah tidak lagi terikat oleh cinta yang dahulu pernah bersemi.
"Entah kenapa, hatiku sangat bahagia ketika melihat Bram sudah mulai mencintai Alice. Ya, meskipun masa lalu Alice kurang baik. Akan tetapi, dia memiliki hati yang sangat baik dan juga penyayang. Sama halnya seperti Bram, dia juga sudah mulai bodo amat dengan kehadiranku. Seakan-akan dia hanya fokus pada kisah cinta mereka yang baru saja dimulai."
"Gua enggak tahu kapan perasaan itu mulai menghilang, karena yang gua tahu saat ini hanyalah sebuah cinta yang cukup besar melebihi rasa cinta gua kepada Meera,"
"Meskipun, Alice hadir dengan semua masa lalu yang cukup gelap, tapi gua tahu. Jika dia memiliki hati yang bersih dan juga cinta kasih yang sungguh luar biasa. Disitulah perlahan, rasa cinta gua kepala Meera mulai meredup. Kemudian tergantikan oleh cinta yang baru hadir diantara gua dan Alice."
"Harapan gua saat ini, semoga saja gua dan Alice bisa hidup bersama selamanya dan kisah cinta kita ini akan terus tumbuh tanpa adanya rasa layu. Layaknya sebuah bunga yang baru bermekaran, sehingga harus diberikan pupuk dan juga air. Supaya dia tidak ma*ti membawa semua keindahannya!"
Bram berbicara di dalam hatinya dengan perasaan yang sangat bahagia, bahkan dia selalu memeluk pinggangvistrinya dalam keadaan dia masih tertawa meledek Meera.
Hingga akhirnya, Meera langsung menyudahi semua itu lantaran dia sudah benar-benar ingin bertemu oleh suaminya yang saat ini ada di ruangan ICU.
"Ckkk, dahlah terserah kamu saja Alice! Sekarang ayo antarkan aku ke ruangan suamiku, anakku kangen sekali oleh Ayahnya. Dia mau ketemu dan melihat ketampannya Ayahnya sendiri!" ucap Meera sambil mengelus dan tersenyum melihat perut ratanya.
__ADS_1
"Ekhem, yang kangen itu Dedeknya atau Ibunya ya? Kok aku tidak yakin dengan Ibunya yang mengatakan bahwa---"
"Hyaakkk, cukup Alice cukup! Aaaa, Bram tolong hentikan istrimu itu. Bilang sama dia jangan menggodaku terus-terusan, aku tidak kuat untuk menahan rasa malu ini!" pekik Meera sambil menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
"Bhuhaha, aduhh ... Ahaha, perutku keram Kak. Kau itu sungguh lucu ketika sedang malu, sumpah. Aku yakin pasti suamimu itu benar-benar kangen melihat tingkahmu yang seperti ini." sahut Alice, tertawa cukup geli.
"Ssuutt, Sayang. Udah jangan menggodanya lagi, kasian anak kita. Dia tidak akan nyaman jika kamu kebanyakan tertawa. Sekarang kamu duduk dulu disini, aku akan mengambilkan kursi roda buat Meera!" ucap Bram, yang mendudukan istrinya di kursi tunggal tepat sebelah bangkar Meera.
"Baiklah, ya sudah hati-hati jangan nakal. Pokoknya sampai kamu nakal--"
"Ckk, ckk, ckk ... Dia itu hanya mengambil kursi roda, bukan menebar pesona di rumah sakit ini Malih! Lagi pula dia mau menggoda siapa disini, suster ngesot?" celoteh Meera.
"Ishhh, Kakak. Suka-suka akulah, suamiku itu tampan ya. Sama halnya seperti suami Kakak, jadi wajar kalau aku takut cewek-cewek gatal merebutnya. Apa lagi sekarang lagi musimnya janda pirang, huaaa ... Tidak, tidak tidak. Aku tidak mau!" balas Alice.
Bram yang mendengar perdebatan mereka berdua hanya bisa menoleh sekilas sambil membuka pintu. Kemudian perlahan dia melangkah keluar tanpa menghiraukan mereka.
Hanya butuh waktu kurang lebih 10 menit, Bram kembali mendorong kursi roda untuk Meera.
Setelah itu Alice mencoba untuk membantu Meera duduk di kursi roda sambil menaruh impusannya di tiang yang terletak di samping kanan kursi.
"Sudah siap bertemu dengan Pangeran, Tuan Putriku yang cantik jelita?" goda Alice, menggerakkan kedua alisnya naik turun.
"Alice, stop menggodaku! Aaaa, Bram. Lihatlah istrimu itu!" rengek Meera membuat Bram hanya bisa menahan tawanya, kemudian dia memberitahu pada istrinya untuk tidak lagi mengganggu Bumil yang pemalu ini.
Alice segera meminta maaf ketika melihat Meera menekuk wajahnya bagaikan pakaian baru kering yang belum di gosok. Setelah itu Alice berjalan lebih dulu untuk membukakan pintu, sedangkan Bram, dia mendorong kursi roda Meera dengan sangat hati-hati.
Mereka berjalan santai menuju lift, dimana ruangan Hans terletak di 3 lantai dibawah lantai kamar Meera.
Rasanya Meera sudah tidak sabar lagi untuk bertemu suaminya, walaupun perasaannya begitu sedih. Akan tetapi, ada juga rasa senang karena dia akan memberikan kabar baik tentang kehadiran anak mereka yang sudah Hans nanti-nantikan.
__ADS_1
...***Bersambung***...