
"Hehe, baiklah. Selamat menyetir Kakakku tersayang, aku mau rehat dulu. Uhhh, enaknya ...."
Bram langsung merenggangkan tubuhnya sambil membenarkan kursi depan sedikit di kebalakangin, supaya membuatnya posisi kursinya tidura kebelakang.
Sementara Hans yang melihat tinggak adiknya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kemudian Hans, perlahan menghidupkan mobil dan langsung melajukannya meninggalkan kantor polisi menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Hans menceritakan semuanya yang membuat Meera dan juga Alice benar-benar sangat terkejut bukan main.
Mereka berdua tidak menyangka, jika orang yang hampir menabrak Alice adalah Bella. Mereka juga masih menduga, bahwa Bella pula dalang dibalik masalah besar yang pernah terjadi.
Bella merupakan orang yang pernah ada di masa lalu Bram. Wanita yang selama ini terlihat sangat baik, kalem dan juga murah senyum, tidak di sangka jika dia yang sangat pintar dalam hal bersandiwara.
Semua itu dikarenakan adanya rasa dendam di dalam hatinya. Entah motifnya itu apa, yang jelas mereka juga belum tahu pasti alasan dibalik semua masalah.
Namun, Meera sangat percaya. Jika salah satu motif terbesar yang ada di dalam hati Bella adalah rasa sakit hati yang Bella rasakan. Sebab dia belum bisa menerima kenyataan bahwa Bram bukan lagi miliknya.
...*...
...*...
Selang 2 hari, Alice sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah. Disaat itu juga, Bram dan Hans yang sudah selesai mengantarkan mereka pulang cuman selang 1 jam, mereka kembali pergi menuju kantor polisi untuk menemui Bella.
Awalnya Alice dan Meera ingin sekali ikut untuk menyaksikan semua penjelasan yang akan Bella berikan.
Hanya saja semua itu di larang oleh kedua suami mereka yang sangat takut, bila mereka ikut akan sangat membahayakan bayi yang ada di dalam kandungannya.
Jadi, mau tidak mau mereka cuman bisa berdiam diri di rumah sambil menikmati apapun yang bisa mereka makan dengan menonton film drakor bersama Bi Neng.
Bi Neng memang sudah sangat lama bekerja di rumah keluarga Ivander, jadi mereka semua sudah menganggap Bi Neng sebagai pengganti mendiang mamah mereka yang sudah tiada.
Berbeda sama Hans dan juga Bram, mereka kembali berdebat di dalam mobil lantaran Hans selalu mengingatkan Bram untuk tidak lagi membuat ulah ketika ketemu Bella.
__ADS_1
"Astaga, Kak. Cukup ya, cukup!"
"Dari tadi Kakak tuh ngoceh mulu, udah kaya Ibu-ibu arisan. Sekali aja Kakak nasihati, aku juga udah paham. Bahkan aku udah nyiapin semua mental dari jauh hari, agar aku tidak lagi kepancing dengannya."
"Jadi, please ya, Kak. Please! Jangan lagi-lagi diulangin, aku udah ngerti semuanya. Dan aku bisa pastikan kalau kali ini aku tidak akan terpancing, paham!"
Bram menegaskan kalimatnya, saat Hans terus saja mengulangi perkataan yang kurang lebih hampir sama.
Mungkin, Hans hanya takut. Kalau sampai pertemuan ini gagal lagi, pasti dia akan semakin lama mendapatkan informasi yang seharusnya sudah dia dapatkan sejak pertemuan pertama.
Hans hanya bisa mengangguk dan kembali menatap ke arah samping melihat jalan sambil menyandarkan tangannya di dekat pintu. Sementara Bram, dia fokus pada jalanan yang cukup ramai dan juga macet.
Kurang lebih 1 jam, akhirnya mereka sampai dengan kecepatan mobil 80 km. Setelah itu Bram memakirkan mobilnya dengan rapi, lalu mereka masuk dan kembali menemui polisi yang berjaga di meja informasi.
Setelah mereka melakukan pengisian data pengunjung, kemudian mereka kembali di bawa oleh polisi lainnya menuju ruangan khusus yang biasa mereka bertemu oleh Bella.
10 menit lamanya mereka menunggu, Bella pun datang dalam keadaan kedua tangan masih terkunci oleh borgol sesuai dengan permintaan Bram. Dia tidak mau sampai tangan kotor itu menyentuh tubuhnya, hingga kembali membuat emosinya meronta-ronta.
"Andai saja aku bisa melihat reaksi mereka, pasti aku akan sangat bahagia sekali. Sayangnya, aku di sini. Huhh, kapan kamu akan menjemputku pulang, Sayang? Apa kamu tidak kangen sama aku? Ihh, jahat deh."
Bella terus saja mengoceh tanpa henti bagaikan orang yang memiliki gangguan jiwa. Hans berusaha memberikan kode dengan menepuk paha Bram, agar dia bisa menahan gejolak emosi yang hampir saja lepas kontrol.
Tangan Bram yang mulai mengepal kuat di bawah, serta wajahnya yang terlihat sangat datar. Seketika langsung berubah drastis, dia tersenyum layaknya orang yang bertemu oleh sahabat jauhnya.
"Uhh, kasian ya. Sepertinya kamu salah, istriku ketika mendengar ceritamu seperti ini dia malah tersenyum. Dia bilang pantas saja aku tidak pernah menyukai sikapnya yang manis, ternyata di balik wajahnya yang cantik terdapat bangkai yang bersembunyi. Sehingga bau busuk di dalamnya lama kelamaan akan tercium."
"Ohya, satu lagi. Meera Kakak iparku, istri dari Kakakku ini pun tidak kaget loh. Ya 'kan, Kak?"
"Meera cuman syok aja, orang yang dia anggap seperti saudara bahkan sahabatnya sendiri malah mematahkan kepercayaannya. Akan tetapi, baiknya Meera tidak mau menjelekkan dirimu atau menghinamu sedikitpun."
"Apapun yang kamu lakukan pda kami semua, Meera tetap akan memaafkanmu, tapi ingat! Proses hukum akan tetap berjalan sesuai dengan perbuatan yang sudah kamu lakukan pada keluargaku!"
__ADS_1
Mendengar perkataan Bram, membuat reaksi wajah Bella berubah. Tidak lagi ada senyuman manis yang terukir, malah Bram yang sekarang mulai bisa menyeimbangi permainan Bella.
"Yaps, benar apa yang di katakan adikku ini. Istriku tidak seperti apa yang kamu katakan barusan, dia malah bersyukur karena belum terlalu dekat denganmu. Jadi, dia bisa lebih berhati-hati lagi dalam memilih teman. Apa lagi orang yang dianggapnya sebagai kawan, ternyata adalah lawannya sendiri. Serem 'kan? Itulah hebatnya manusia, dia bisa menjadi apapun selagi hatinya di penuhi oleh dendam!" sahut Hans, yang ikut tersenyum miring.
Melihat respon dari 2 pria di hadapannya ini, membuat Bella sangat terkejut. Semua ini benar-benar di luar ekspetasinya, sehingga dia hanya bisa terdiam.
Bella tidak menyangka, kalau pertemuan yang kali ini tidak berhasil memancing emosi di dalam diri Bram. Padahal Bella begitu paham, jika Bram adalah pria yang sebenarnya mudah terhasut.
Namun, entah kenapa kali ini cukup sulit memancing emosinya. Sementara kemarin saja hanya di colek istrinya sudah membuat Bram mengaung, berbeda sama sekarang yang lebih santaindan juga tenang.
"Loh, kok diam? Kenapa? Terkejut lihat kami santai? Atau, jangan-jangan kamu mau lihat kami marah? Ohh, tidak bisa. Sekarang bukan saatnya kita marah-marah, karena banyak hal yang harus kau jawab hari ini juga!" ucap Bram, sedikit menekankan kata-katanya.
"Si-siapa yang diam? A-aku biasa aja, lagian kalian mau nanya apa, hem? Soal kejadian yang menimpa Hans dan Meera? Atau kejadian yang menimpa Daddy kalian?"
Degh!
Hati Hans dan Bram langsung bergetar sangat kencang, rasanya dia tidak percaya. Bahwa apa yang mereka pikirkan benar-benar terjadi.
2 pertanyaan itu yang selalu terngiang-ngiang di dalam pikiran mereka berdua. Pada akhirnya, tanpa di sadari mulut Bella sendirilah yang mengatakannya tanpa adanya rasa bersalah di wajahnya
Keterkejutan di wajah Hans dan juga Bram terlihat sangat ketara, sampai-sampai membuat kedua tangan mengepal cukup kuat di bawah meja secara bersamaan, tanpa mereka sadari.
"Jadi benar dugaanku, kalau kau adalah penyebab terbesar dari semua masalah yang datang ke keluargaku?" tanya Hans, penuh ketegasan.
"Jangan bilang kecelakaan Daddy itu bukan kecelakaan murni, melainkan karena ulahmu?" sahut Bram, matanya menatap tajam bagaikan seekor Elang.
Bella melihat reaksi keduanya hanya bisa tersenyum picik, sampi beberapa detik Bella malah tertawa cukup geli. Membuat Hans dan Bram menatap bingung, mereka tidak paham apa maksud tawa yang sedang dia tunjukkan kali ini.
Namun, bia di pastikan sepertinya kejiwaan Bella sedikit terganggu karena apa yang dia inginkan tidak bisa terwujud. Padahal jelas-jelas dia sudah melakulan segala cara demi mewujudkan semuanya, cuman hasilnya nihil. Dia malah mendapatkan nasib yang cukup menyedihkan, jauh dari apa yang dia harapkan.
...***Bersambung***...
__ADS_1