
Isak tangis memenuhi kamar tersebut begitu Baby Maura dan juga Baby Diego. Mereka tidak berhenti menangis setelah menyaksikan kepergian Mommynya.
Walau mereka masih kecil, tetapi mereka memiliki ikatan batin yang sangat kuat kepada Meera. Disinilah mereka saling menyalahkan diri sendiri karena tidak becus menjaga Meera. Terutama Hans yang telah lalai, karena tidak menggubris kode dari kedua Baby yang menangis.
"Kak, kenapa kamu meninggalkan aku dan anak-anak seperti ini? Apa kamu tidak kasian dengan suami serta anakmu yang masih sangat kecil ini?"
"Lihatlah dia, Kak. Dibalik wajahnya yang teduh, terdapat luka yang sangat mendalam. Mungkin, jika boleh memilih, dia akan berada di dalam perutmu untuk selamanya. Asalkan dia bisa mendengarkan suara detak jantung Mommynya dari pada dia harus melihat dunia, tetapi dia harus kehilangan Mommynya."
Alice menangis seseguhan ketika dia memeluk Meera yang tubuhnya sudah terbujur kaku. Sementara anak-anak, sudah Alice tidurkan di tempat tidurnya.
Hans memeluk Bram karena di sudah tidak kuat lagi menjalani kehidupan seorang diri, apa lagi dia harus mengurus Baby Diego yang terbilang masih sangat membutuhkan Mommynya.
Bi Neng pun duduk sambil menangis, karena beberapa menit lalu dia baru saja tersadar dari pingsan. Semua itu karena kondisi tubuhnya semakin lemah ketika mengetahui kalau anak yang sudah dianggap sebagai putrinya, kini telah tiada lagi.
Sang dokter pun hanya bisa menatap sedih, beberapa kali dia menunduk karena tidak menyangka jika pasien yang beberapa jam lalu hampir saja tersadar dari komanya. Sekarang harus tiada hanya karena kejadian tragis yang sangat tidak di inginkan.
"Sekali lagi saya turut berduka cita Tuan, Nyonya. Saya tidak menyangka takdir Nyonya Meera bisa seperti ini, setidaknya saya hanya bisa mendoakan agar dia bisa tenang di sisi Tuhannya."
__ADS_1
"Untuk itu, saya minta izin ingin membawa Nonya Meera ke kamar jenazah agar bisa segera di persiapkan untuk ke pulangannya."
Ucapan dokter membuat Hans melepaskan peukan adiknya, lalu menatapnya tajam. Dia kembali tidak terima, jika istrinya di nyatakan telah meninggal dunia.
"Cukup, Dok. Cukup! Istriku hanya sedang tidur, dia tidak meninggal. Jadi, jangan pernah mendoakan istriku yang seperti itu lagi. Aku minta kalian keluar sekarang, keluar! Hiks ...."
Bram menunjuk ke sebuah pintu untuk mengusir sang dokter sambil membentaknya. Dokter itu terkejut, tetapi dia tetap berusaha tenang. Apa lagi dia sudah banyak berada di posisi seperti ini, wajah saja bila keluarganya belum terima atas kepergian Meera.
Jika dia di posisi Hans pun pasti dia juga tidak akan percaya kalau pasangannya meninggal setelah memberikannya kebahagaian.
"Kak, tenang. Dia itu dokter yang sudah menyelamatkan Kak Meera, Kakak ingat itu!"
Bram menangis mencoba untuk menenangkan Hans, akan tetapi Hans malah mendorong Bram hingga dia terjatuh ke lantai.
Alice yang melihat suaminya, segera menolongnya sambil menangis. Bi Neng tidak bisa apa-apa, pikirannya sudah sangat kosong. Dia masih tidak menyangka kalau Meera sudah tiada.
Mendengar kemarahan Hans, Baby Diego yang tertidur pun langsung menangis kembali bersama Baby Maura. Mata Hans langsung tertuju pada anak-anak, dia sangat berharap bila kedua anaknya bisa kembali membangunkan Mommynya.
__ADS_1
"Sa-sayang, ka-kalian kangen sama Mommy, iya? Ba-baby Maura juga kangen sama Mommy? Kalian mau ketemu Mommy?"
"Baiklah, tapi satu permintaan Daddy. Tolong bantu Daddy bangunin Mommy ya, kalian mau 'kan? Daddy harap kalian bisa membalikan Mommy pada Daddy lagi."
"Jujur, Nak. Daddy tidak bisa hidup tanpa Mommy kalian, Daddy tidak bisa hiks ... Apa lagi ketika Daddy tahu kalau Mommymu sudah tidak ada samping Daddy, itu akan membuat Daddy sudah tidak lagi ada harapan untuk hidup."
"Untuk itu, harapan Daddy hanya ada pada kalian berdua, meskipun Baby Maura bukan anak kandung Mommy. Akan tetapi Daddy sangat yakin, bila Mommy pasti menyayangimu sama seperti Baby Diego. Dia tidak akan membedakan kalian berdua, jadi Daddy harap kalian bisa membantu Daddy buat membangunkan Mommy. Daddy mohon hiks ...."
Hans menangis memeluk kedua Baby sambil menenggelamkan kepalanya di sela-sela tempat tidur mereka. Dia sudah sangat frustasi, tidak tahu lagi harus bagaimana caranya membalikan Meera.
Sampai akhirnya dia nekat untuk membuka kain yang melilit tubuh mereka berdua, lalu mengambil Baby Diego dan memindahkannya secara tengkurap tepat di atas dada Meera sebelah kanan.
Kemudian tangan Meera di buat seakan-akan sedang memeluk anaknya, begitu juga Baby Maura yang berada di sebelah kirinya.
Kedua Baby itu menangis secara bersamaan dengan suara yang sangat lantang di dalam pelukan Mommnya. Detakan jantung kedua Baby seakan mentransfer getaran kearah dada Meera yang sudah berhenti.
Entah mengapa Hans sangat yakin, bila ikatan anak dengan Ibunya pasti sangatlah kuat. Jadi, Meera pasti bisa merasakan detakan suara jantung kedua Baby yang sangat kencang.
__ADS_1
Akankan dengan cara ini bisa membuat Meera kembali terbangun dari tidurnya atau tidak? Semua masih tanda tanya besar.
...***Bersambung***...