Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Vonis Hukuman Bella


__ADS_3

Alice tersenyum mengusap semua air mata suaminya yang selalu menetes. Untuk yang pertama kalinya, Bram mendengar istrinya menasihatinya dengan perkataan yang sangat lembut dan penuh kasih sayang.


Perkataan itu mampu menggetarkan hati Bram, rasanya dia tidak mau melepaskan pelukannya saat ini. Bram benar-benar beruntung bisa di pertemukan dengan Alice, setelah dia melewati lika-liku kehidupan yang cukup pahit.


Sampai pada akhirnya tak terasa, saking kecapeannya menangis. Bram malah tertidur di dalam pelukan istrinya, yang mana Alice harus tetap duduk dalam posisi kedua kaki berselonjor diatas kasur dan memeluk suaminya dari arah samping kanan sambil tersenyum.


...*...


...*...


Setelah pertemuan Bella dengan Hans dan Bram, hanya selang selama 2 bulan. Akhirnya Hakim memberikan surat sidang untuk menentukan hukuman yang akan di terima oleh pelaku.


Hans, Bram beserta istrinya menghadiri sidang tersebut. Dimana mereka telah melewati beberapa proses yang cukup panjang, untuk mengumpulkan beberapa bukti kejahatan yang sudah Bella lakukan.


Kurang lebih 2 jam lamanya, mereka mengikuti serangkaian acara sampai akhirnya hukuman Bella pun di jatuhkan. Hakim memutuskan hukuman ma*ti terhadap Bella yang sudah merencanakan pembu*nuhan.


...Apa itu hukuman mati?...


Hukuman mati diatur dalam Undang Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP). Dalam pasal 98 UU itu disebutkan bahwa hukuman mati atau pidana mati diancamkan secara alternatif sebagai upaya terakhir untuk mencegah dilakukannya tindak pidana dan (untuk) mengayomi masyarakat.


Hal ihwal pelaksanaan hukuman mati diatur dalam Pasal 99 UU No 1 Tahun 2023. Berikut bunyi pasal yang terdiri dari empat ayat itu:


...Pasal 99 UU No 1 Tahun 2023...


(1) Pidana mati dapat dilaksanakan setelah permohonan grasi bagi terpidana ditolak Presiden.


(2) Pidana mati sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dilaksanakan di muka umum.

__ADS_1


(3) Pidana mati dilaksanakan dengan menembak terpidana sampai mati oleh regu tembak atau dengan cara lain yang ditentukan dalam Undang Undang.


(4) Pelaksanaan pidana mati terhadap perempuan hamil, perempuan yang sedang menyusui bayinya, atau orang yang sakit jiwa ditunda sampai perempuan tersebut melahirkan, perempuan tersebut tidak lagi menyusui bayinya, atau orang yang sakit jiwa tersebut sembuh.


Hukuman yang di berikan kepada Bella benar-benar sesuai dengan hukuman yang Bram inginkan, hanya saja proses hukuman itu berjalan sangat lama. Dimana Bella harus melewati proses sekitar 10 tahun lebih dulu untuk penilaian, apakah dia layak di hukum ma*ti ataukah tidak?


Jika memang Bella telah berubah. Maka hukuman dia hanya akan melewati masa hukuman seumur hidup, dan tidak akan menjalani hukumana ma*ti. Apa bila Bella tidak bisa berubah dalam kurang waktu kurang lebih 10 tahun. Hukuman ma*ti akan segera di laksanakan, sesuai dengan peraturan perundang-undangan.


Bram yang telah mendengar vonis hukuman tersebut, merasa paling tenang diantara yng lain. Rasanya semua sudah terbayar lunas oleh hukuman tersebut.


Namun, berbeda dengan Hans. Dia masih sangat mengkhawatirkan tentang kondisi keluarganya, apakah hidup mereka bisa kembali tenang, atau Bella masih akan mengganggu mereka, sebelum balas dendamnya benar-benar tuntas.


Setelah vonis di jatuhkan dan hakim mengetuk palunya sebanyak 3 kali, kemudian sidang di tutup. Barulah mereka bisa pergi dengan perasaan yang sedikit tenang. Apa yang Bram inginkan, semua sudah terlaksana.


Hanya tinggal menunggu momen 10 tahun kemudian, apakah Bella bisa menjadi orang yang jauh lebih baik ataukah tidak?


...*...


...*...


Untungnya air ketubannya tidak sampai pecah, sehingga kandungan serta bayi yang ada di dalamnya masih di katakan aman.


"Masuklah, ngapain masih ada disini. Cepat, temani istrimu! Jangan sampai kamu meninggalkan dia sendirian dalam keadaan seperti itu, dia butuh suport dari kamu. Jadi cepatlah, masuk!"


Hans yang sudah geregetan melihat Bram, langsung saja mendorong Bram untuk masuk ke dalam ruangan sesuai dengan perkataan dokter.


Kurang lebih 5 menit yang lalu, saat Alice memasuki ruangan bersalin. Sang dokter menyuruh Bram ikut masuk untuk memberikan semangat kepada istrinya yang sedang berjuang melahirkan anaknya.

__ADS_1


Awalnya Bram menolak, sebab dia takut melihat semua proses yang mengerikan itu. Sampai Hans yang gereget langsung saja mendorong Bram untuk masuk ke ruangan, dengan tujuan agar dia bisa memberikan suport kepada istrinya.


Sementara Meera, dia duduk sambil menangis mengkhawatirkan tentang kondisi Alice yang saat ini lagi berjuang untuk menjadi seorang Ibu.


"Hans, bagaimana kondisi Alice? Mereka pasti akan baik-baik aja, 'kan?"


"Please, Hans. Bantu aku! Aku ingin menemani Alice di dalam. Aku juga mau memberikan semangat sama Alice, supaya dia kuat. Aku tidak tega melihat dia merintih seperti tadi, aku yakin pasti rasanya sakit banget. Jadi, aku harus masuk ke dalam. Apapun caranya aku harus menemani Alice, aku mohon, Hans. Aku mohon, hiks ...."


Meera menangis di dalam pelukan suaminya sambil memukul kecil dada bidangnya. Rasanya Meera ingin sekali berlari memasuki ruangan, cuman sang dokter melarang itu karena posisi Meera sedang hamil lumayan besar.


Dokter takut, bila kontraksi yang Alice rasakan bisa menyambar ke Meera di saat usia kandungan Meera masih jauh dari HPL kelahiran bayinya.


Apa lagi di saat yang genting seperti ini, hanya seorang suamilah yang bisa menemani istrinya melahirkan. Sebab, kekuatan suami serta dukungannya memang sangat-sangat di perlukan sebagai kekuatan bagi istrinya. Supaya dia bisa menghadapi masa-masa yang cukup menyakitkan di dalam hidupnya, dan berakhir bahagia.


Hans melepaskan pelukannya, lalu meraup wajah istrinya sambil mengusap air matanya di kedua pipinya.


"Ssstt, Sayang. Hei, dengerin aku ya ...."


"Saat ini kamu pun sedang hamil besar, bahkan jadwal kelahiranmu itu kurang lebih 1 bulan lagi. Nah, bila kamu menemani Alice di dalam sana. Apa kabar dengan anak kita?"


"Kamu mau dia juga ikutan keluar? Tidak, 'kan! Maka dari itu, kita tunggu saja di sini. Serahkan semuanya pada dokter, mereka pasti akan melakukan yang terbaik buat Alice dan anaknya. Apa lagi di dalam juga ada Bram, pasti dia bisa memberikan semangat untuk istrinya."


"Tugas kita sekarang hanya mendoakan, agar bayi mereka bisa lahir dengan selamat tanpa kekurangan satu apapun. Begitu juga sama Alice, semoga dia bisa di beri kekuatan, kelancaran dan juga kesehatan."


"Pokoknya kamu sekarang tenang dulu, kita tunggu aja kabar baik dari Bram. Aku yakin, Alice adalah wanita yang kuat. Jadi tidak mungkin dia menyerah begitu saja, karena ini merupakan impian terbesarnya menjadi seorang Ibu."


Perlahan nasihat dari Hans berhasil membuat Meera sedikit tenang, walaupun perasaannya masih sangat mengkhawatirkan keadaan Alice. Cuman, berkat Hans dia sudah jauh lebih baik.

__ADS_1


Meera duduk sambil menggenggam tangan suaminya dan menyandar di pundak serta dadanya. Dimana mata mereka menatap lurus ke arah pintu, menunggu Bram keluar untuk membawakan kabar baik mengenai anaknya yang sudah lahir.


...***Bersambung***...


__ADS_2