
Berkat masalah ini membuat Bram harus memutuskan Bella yang pertama kalinya, cuman selang beberapa bulan mereka kebali bersama akibat cinta mereka yang sangat besar. Dan Bram, memberikan kesempatan pada Bella agara dia berubah sesuai dengan keingin Daddynya.
Awalnya Bella berubah, cuman lama kelamaan disaat dia beberapa kali bertemu kembali dengan Daddy Bram. Dia tetap tidak merestui hubungan mereka.
Inilah awal mula munculnya dendam yang sangat membekas di hati Bella. Membuat dia buta akan segalanya, sehingga dia merencanakan sesuatu yang akan membuat Daddy Bram tidak lagi bisa menjadi penghalangan bagi hubungan mereka ke depannya.
...*...
...*...
Tepat di pagi hari, setelah sarapan. Daddy Bram terlihat begitu sehat tanpa sedikitpun merasakan sakit di bagian jantungnya.
Dari dulu dia memang memiliki riwayat jatung yang cukup kronis. Sehingga tidak bisa sedikit saja mendapatkan kabar tak enak ataupun dikejutkan dengan sesuatu, maka bisa di pastikan itu akan berakibat fatal baginya.
"Aku berangkat dulu, jaga dirimu baik-baik di rumah. Dan kau Bram, tolong jaga Ibu tirimu ini. Jangan sekali-kali kamu menyakitinya. Ingat, Daddy tidak mengajarkanmu untuk berkata kasar ataupun bertindak seenaknya. Jadi, kalau Daddy tidak ada kamu bisa menjaga Meera seperti kamu menjaga Mommymu. Paham!"
"Mas, ngomong apaan sih. Udah kaya mau pergi jauh aja, lagi pula hubunganku sama Bram meskipun tidak terlalu dekat. Kami masih bisa akur, tidak seperti pertama kali kita kenal. Jadi, stop berbicara seperti itu!"
Meera yang tidak pernah mendengar suaminya mengatakan seperti itu, membuat dia merasa gelisah. Seakan-akan suaminya akan meninggalkannya disaat dia sudah mulai bisa menerima semua ini.
"Udahlah, Dad. Biasanya juga Daddy tidak pernah ngomong gini, udah kaya Daddy mau pamit kemana aja. Mendingan sekarang Daddy berangkat kerja aja, terus hati-hati dijalan enggak usah banyak pikiran. Walaupun Bram tidak menyukai dia, tetapi Bram akan tetap ngehormati dia selagi dia bisa membuat Daddy bahagia!"
Mendengar perkataan Bram membuat Daddynya terdiam, begitu juga Meera. Mereka tidak menyangka bila Bram bisa mengatakan hal langka itu.
Padahal selama ini Bram selalu bersikap masa bodo dengan Meera, dan beberapa kali sempat mengatakan kata-kata yang cukup menyakitkan.
Kali ini benar-benar berbeda. Seakan-akan Bram sudah bisa menerima kenyataan tersebut dan memilih untuk menyetujui, selagi Daddynya bisa bahagia bersama pilihannya.
Setelah mengatakan itu, Bram segera pergi dari ruang makan. Tak lama Daddynya pun pergi meninggalkan ruang makan, bersama Meera yang mengantarkannya sampai halaman rumah untuk membawakan tas kerjanya.
"Ya sudah aku berangkat dulu ya, jaga dirimu baik-baik. Jaga kesehatan dan jangan lupa untuk tetap terus tersenyum, agar Ayahmu merasa senang ketika melihat anaknya bahagia bersamaku. Terima kasih kamu sudah mau belajar mencintaiku, dan terima kasih juga kamu sudah mau mengurusku tanpa aku memintanya. Terima kasih, terima kasih, dan terima kasih."
__ADS_1
Perkataannya berhasil membuat mata Meera berkaca-kaca, dia tidak menyangka perkataan suaminya kali ini benar-benar berhasil menggetarkan hatinya.
"Ya sudah aku pamit dulu ya, jaga dirimu baik-baik. Daah ...."
Sebelum Daddy Bram pergi, dia mencium kening Meera begitu lembut. Lalu, berjalan begitu saja menaiki mobilnya dan pergi meninggalkan rumah.
Meera hanya bisa terdiam mematung melihat kepergian suaminya, karena baru kali ini suaminya bersikap romantis kepadanya. Ditambah tubuh Meera pun sama sekali tidak menolak itu, tidak seperti biasanya yang selalu berjaga jarak.
...*...
...*...
Di pertengahan jalan tak jauh dari rumah kediaman keluarga Ivander, Daddy Bram mendapatkan notif pesan yang membuatnya langsung membukanya karena takut ada informasi yang penting.
"Hai, Om. Hati-hati dijalan ya, semoga saat Om pulang nanti istri kesayangan Om masih ada di rumah!"
"Om tahu 'kan bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita sayangi? Maka dari itu, sebelum Om berniat ingin memisahkan saya sama Bram. Lebih baik, Om dulu yang berpisah dengan istri muda Om yang cantik itu, ya! Jadi, nanti Om bisa merasakan bagaimana rasa sakitnya ketika kehilangannya!"
Degh!
Setelah membaca pesan tersebut, penyakit jantung yang di derita Daddy Bram langsung kambuh begitu saja, membuat dia sudah untuk mengendalikan mobilnya. Saat ini mobilnya melaju dengan kecepatan kurang lebih 80 km, membuat dia kesulitan mengontrol lajunya.
Susah payah Daddy Bram berusaha bertahan untuk menyelamatkan diri, tetapi naas. Dari arah berlawanan munculkan mobil besar dengan kecepatan yang cukup kencang langsung menghantam mobil Daddy Bram, kemudian terseret cukup jauh dan membentur pembatas jalan.
Bella yang sudah bisa memprediksi semua itu, langsung menyiapkan anak buahnya untuk mengecek semua itu. Dimana tepat kejadian itu berlangsung, Daddy Bram sudah meninggal di tempat dalam keadaan mengenaskan.
Tak lupa anak buah Bella langsung menghilangkan bukti chat yang ada di dalam ponsel Daddy Bram, tanpa meninggalkan sidik jari. Mereka menghapus semua pesan dari Bella tanpa terkecuali, agar kelak tidak sampai terlacak oleh polisi.
Kurang lebih sekitar 10 menit banyak orang yang mengerubungi TKP, dan ada juga beberapa yang langsung memanggil ambulans serta polisi.
Sementara anak buah Bella memantau dari jarak jauh, sambil memberikan kabar bahagia itu kepada Bella.
__ADS_1
Terlihat jelas bila Bella sangat-sangat bahagia saat menerima kabar bahwa Daddy Bram benar-benar sudah meninggal dunia tepat di tangannya, yang seolah-olah di buat kecelakaan.
Dari situ, Bella merasa puas karena satu penghalang telah berhasil dia lenyapkan begitu saja tanpa adanya rasa penyesalahan.
Sebuah pesan yang Bella kirim benar-benar berujung maut, semua ini memang sudah dia rencankan jauh-jauh hari. Jadi, di rancang sebaik mungkin agar tidak salah melangkah.
Itulah cinta, terkadang orang bisa membutakan ketika orang itu sudah benar-benar sangat mencintai pasangannya. Maka segala cara agar mereka bersatu, selalu di gunakan. Walaupun dia sendiri tahu, bahwa itu adalah cara yang salah. Akan tetapi, masih saja di gunakan demi kebaikan dirinya sendiri.
Mendengar semua penjelasan serta cerita yang Bella berikan, berhasil menguras energi serta amarah di dalam hati Bram dan juga Hans. Mereka tidak menyangka bahwa Bella, bisa melakukan hal sejahat itu hanya demi bersatu dengan Bram.
"Dasar wanita iblis, wanita kejam, wanita tidak punya hati! Gua benci sama lu, Bell. Gua benci!!"
"Pokoknya setelah ini, gua akan membuat hidup lu menderita di dalam penjara seumur hidup lu, sampai lu menjadi bangkai di dalam sini!"
"Gua bersumpah, gua akan membalas semua perbuatan lu kepada Bokap gua lebih kejam dari pada apa yang lu lakuin. Atau kalau perlu, gua akan ajukan hukuman ma*ti, agar lu bisa merasakan bagaimana rasanya meninggal di saat lu masih punya kesempatan buat hidup!"
Bram mengancam Bella dalam posisi berdiri sambil menggebrak meja cukup keras. Di rasa keadaan sudah tidak kondusif. Penjaga di sana langsung melerai serta mencoba untuk memisahkan percekcokan antara Bram dan juga Bella.
Berbeda sama Hans, hatinya yang terasa sangat sakit tidak bisa di ekspresikan oleh apapun. Dia memilih untuk diam, meratapi kesalahannya karena jika pada waktu itu Hans tidak memilih untuk tinggal sendiri. Maka, kemungkinan besar semua kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Dan Daddynya masih ada sampai detik ini, cuman kembali lagi.
Bila Daddy mereka masih ada, mungkin jalan takdir mereka tidak akan sama seperti saat ini. Dimana Meera telah menjadi istrinya dan Bram bertemu dengan dambaan hatinya.
Bram dan Hans pun di bawa keluar dari ruangan, sebab waktu berkunjung sudah habis dan keadaan di dalam pun sudah tidak karuan. Bahka ketika di bawa ke dalam sel pun Bella masih meraung-raung, karena dia tidak terima sama sakit hati yang ada di dalam dirinya.
Hans pulang dalam keadaan menyetir, sedangkan Bram masih menangis penuh amarah di dalam mobil setelah mengetahui bahwa kema*tian Daddynya ternyata ada campur tangan mantan kekasihnya.
Semua kisah ini berhasil membuat hati mereka berdua terpukul. Satu sisi Hans menyalahkan dirinya akibat dia keluar dari rumah dan tidak menjaga Daddynya dengan sangat baik.
Namun, disisi lainnya. Bram juga ikut merasa telah menjadi anak yang begitu gagal dalam hal menjaga Daddynya. Beberapa kali dia selalu mengecewakan Daddynya, sampai akhirnya di dalam hati mereka terdapat penyesalan yang cukup berat bagi mereka.
...***Bersambung***...
__ADS_1