Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Menyetujui Demi Meera


__ADS_3

Hati Bram benar-benar tergores saat dia tidak tega melihat rapuhnya sang Kakak. Tatapannya sangat tajam, bahkan di sela Bram memeluk Hans, tanpa di sengaja tangannya mengepal cukup kuat.


Semua itu karena saat ini Bram sedang di selimuti oleh amarah yang luar biasa kepada Keke. Bram masih ingat sekali, semua perkataan Keke yang terus menghasut Meera. Sampai semua kejadian ini terjadi, membuat Hans selalu saja menyalahkan dirinya.


Tak lama seorang suster datang sambil membawakan sebuah map berwarna hijau daun. Map yang berisi semua dokumen itu, berhasil membuat jantung Hans hampir tidak bergera.


Ini merupakan pilihan yang sangat berat bagi Hans. Dia harus menyiapkan segala mental agar bisa menerima kenyataan, kalau seumpama ada kejadian buruk mengenai anak serta istrinya.


"Permisi, Tuan. Ini berkas-berkas yang harus Tuan tanda tangani. Sebelum itu, Tuan bisa membacanya lebih dulu agar tidak ada kesalahan bagi kami dalam melaksanakan tugas."


Suster itu menatap Hans yang masih terduduk di lantai dalam keadaan wajah pucat, mata bengkak dan juga air mata yang masih mengalir.


"Kak, ayo bangun. Kakak harus melakukan itu semua demi Meera dan juga anak kalian. Percaya, Kak. Kalau mereka semua pasti akan selamat, kita berdoa saja. Tuhan tidak pernah tidur dan Tuhan akan selalu mendengarkan doa kita, bila kita sungguh-sungguh untuk memintanya."


Bram membantu Hans untuk berdiri, agar dia bisa segera menandatangani semua berkas. Sebab, semua itu benar-benar penting supaya nyawa Meera serta anaknya bisa terselamatkan.


Perlahan Hans berdiri, dengan segala kelemasan tubuhnya yang sudah tidak kuat lagi berdiri sendiri.


Setelah berdiri, sang suster memberikan berkas itu membuat tangan Hans sedikit gemetar untuk menerimanya.


Hans langsung menoleh ke arah Bram. Tatapan itu seakan-akan meminta pendapat kepada Bram, kalau dia harus bagaimana untuk menghadapi semua ini.


"Ayo, Kak. Kakak pasti bisa kok, cepat tanda tangani itu semua biar dokter bisa langsung menolong mereka. Aku tidak mau bila Kakak sedikit saja membuang waktu, itu akan berakibat fatal bagi mereka. Please, Kak. Ayo ...."


Bram berusaha untuk menyemangati sang Kakak, karena semua ini bersangkutan oleh nyawa Meera dan juga anaknya.


Jadi, mau tidak mau Hans berusaha tegar serta membuka perlahan berkas itu. Lalu, dia mulai membaca setiap poin-poin penting yang ada di dalamnya.


Perlahan Hans melirik sekilas ke arah Bram, kemudian menarik napasnya sangat panjang. Setelah itu, tangan Hans mulai terangkat dalam keadaan bergetar.

__ADS_1


"Aku harap, semoga saja keputusanku ini tidak akan membuat kalian kecewa!" batin Hans berbicara sambil menandatangani semua berkas.


Satu tetesan air mata itu jatuh mengenai berkas tersebut tepat di tanda tangan Hans. Dia sangat berharap bahwa anak dan istrinya tetap dalam kondisi baik-baik saja, tanpa kekurangan satu apapun.


"Semangat, Kak. Aku yakin Kak Meera dan anaknya akan selamat. Percaya itu!"


Hans menepuk-nepuk pundak Kakaknya berulah kali. Rasa semangat yang Bram berikan, membuat Hans semakin berpikir positif.


"Terima kasih, Tuan. Kami akan segera memproses semuanya. Permisi!"


Sang suster yang sudah menerima berkas langsung masuk ke dalam ruangan untuk memberitahu kepada dokter yang bersangkutan.


Hans langsung memeluk Bram berarap bila anak serta istrinya harus selamat. Dia tidak akan pernah bisa hidup tenang, jika semangat hidupnya harus menerima konsekuensi akibat ulahnya yang tidak pernah jujur mengenai masa lalunya pada istrinya.


...*...


...*...


Sementara Bram, dia baru saja selesai menghubungi istrinya yang selalu menunggu kabar mengenai sang Kakak yang masih dalam keadaan kritis.


Awalnya Alice bertekat ingin menyusul ke rumah sakit, tetapi Bram selalu melarangnya karena Alice masih dalam tahap pemulihan abis melahirkan 1 Minggu yang lalu.


Seharusnya ini masih masa-masa mereka semua bahagia, sebab anak Meera akan lahir akhir bulan besok. Cuman, karena keadaan membuat dia harus lebih cepat untuk mengeluarkan anaknya sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Kak, duduklah. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan mengenai apa yang sudah terjadi pada Meera. Tapi, aku mohon Kakak jangan emosi. Aku tidak tahan melihat Kakak selalu menyalahkan diri Kakak sendiri, bagiku ini bukan salah Kakak. Melainkan salah wanita yang pernah ada di dalam hidup Kakak 5 tahun lalu!"


Degh!


Hans menoleh dan menatap Bram penuh keseriusan, dia baru ingat. Kalau tadi dia ingin menanyakan apa yang sudah terjadi pada istrinya, kenapa dia bisa sampai seperti ini.

__ADS_1


Hans duduk di samping Bram, menatapnya dengan tatapan sangat tajam. Tangannya pun sudah mulai mengepal kuat di atas pahanya.


"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi pada istriku? Dari tadi aku ingin menanyakan itu, tetapi keadaan selalu menahanku sampai aku lupa penyebab semua ini terjadi itu apa!" ucap Hans.


Suara bariton telah keluar dari dalam diri Hans, pertanda bila saat ini dia sedang tidak baik-baik saja. Sedikit Bram salah berkata atau salah dalam menejelaskan pada sang Kakak. Bisa di pastikan, kalau Bram tidak akan kembali melihat Matahari.


"Jadi, begini Kaka. Tadi aku menemukan supir yang sering mengantar Meera, awalnya dia tidak mau jujur. Bahkan dia selalu bungkam, sampai akhirnya aku paksa dia, aku ancam dia dan dia pun jujur dimana keberadaan Meera."


"Dari situ aku ikutin dan saat aku sampai ke sebuah Caffe cukup mewah, tetapi tidak luas. Di sana aku melihat Meera dan Keke sedang mengobrol mengenai hubungan Kakak dengannya dulu."


"Kata-kata yang dia sampaikan benar-benar berhasil membuat dar*ahku mendidih di penuhi kekesalan yang teramat mendalam. Rasanya ingin sekali aku merobek-robek mulutnya supaya dia tidak bisa ngomong lagi!"


Hans hanya menyimak semua perkataan yang Bram jelaskan padanya. Baru sedikit saja jiwa Hans sudah mulai meronta-ronta ingin keluar, untuk mencaci maki Keke. Hanya saja, dia berusaha menahannya.


"Apa yang dia katakan pada istriku, kenapa kamu sendiri tidak langsung menelponku ketika menemukan istriku, hahh! Kenapa?" pekik Hans, wajahnya sudah merah akibat menahan rasa amarah yang cukup besar.


Bram yang tidak tahu harus berkata apa-apa lagi, langsung saja menjelaskan semuanya apa yang Keke katakan kepada Meera. Sampai perkataannya itu mampu membuat Meera mengalami keadaan yang sangat membahayakan.


Aura kemaran Hans mulai menaik ketika dia mendengar kalimat demi kalimat yang Keke ucapkan kepada istrinya. Semua itu berhasil membuat Hans sangat membenci Keke, awalnya dia ingin menyelesaikan semuanya secara baik-baik.


Cuman setelah tahu bagaana sifat Keke, membuat dia terus naik pitam. Rasanya Hans seperti tidak lagi mengenal Keke yang dulu dia kenal, sebab Keke yang sekarang jauh dari Keke yang dulu.


Ingin sekali rasanya Hans bertemu dengannya, kemudian menebas kepalanya sampai putus menggunakan samurai.


Namun, kembali lagi. Sejahat apapun Keke pada istrinya, tetap saja Keke pernah hadir di dalam kehidupannya. Jadi, mau bagaimanapun Keke. Hans cuman bisa mendoakan agar Keke bisa kembali ke jalan yang sebenarnya.


Hans sangat tahu, sebenarnya Keke adalah wanita yang baik. Mungkin berkat pergaulan bebas di luar negeri atau lingkungan di sana telah berhasil merubahnya menjadi wanita yang sekarang.


Cuman, Hans selalu ingat pesan istrinya. Bila dia harus menghadapi masalah menggunakan kepala dingin, bukan hati yang panas. Dan juga, kalau ada orang yang jahat pada mereka, maka mereka harus membalaskan dengan kebaikan.

__ADS_1


Sebab, semua itu tidak akan ada habisnya jika mereka juga membalasnya dengan hal yang sama. Yaitu, mengandalkan amarah ataupun ego dari pada kelembutan hatinya sendiri.


...***Bersambung***...


__ADS_2