Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Berakhirnya Kesalah Pahaman


__ADS_3

Kemudian dia meneruskan makannya dengan perasaan kesal, ketika mereka semua tega menyembunyikan sesuatu padanya. Dimana Meera dan Alice menatap Bram dengan tatapan penuh kekhawatiran.


Bram hanya mengangguk sambil tersenyum kecil, pertanda bahwa dia akan baik-baik saja agar tidak membuat 2 Bumil itu mencemaskan tentang nasibnya yang sebentar lagi akan terkena amarah singa jantan yang baru saja terbangun dari tidurnya.


...*...


...*...


Beberapa menit, setelah selesai sarapan. Hans langsung pergi menuju ruangan kerjanya, dimana Bram pun mengikutinya setelah selesai minum.


"Bram ...." remgek Alice menahan lengan suaminya ketika ingin pergi.


Bram pun berbalik, menatap manik mata istrinya yang sangat mencemaskan dirinya. Perlahan tangan Bram melepaskan lengan istrinya darinya dan mengusap kepalanya sambil mencium keningnya.


"Tenang saja, aku akan baik-baik aja. Kakakku tidak sejahat yang kamu pikirkan, palingan aku hanya kena marah sedikit saja. Sudah kamu selesaikan makannya, terus mandi ya. Nanti kita jalan-jalan, okay?" ucap Bram, mencoba mengalihkan kecemasan istrinya.


"Tap--"


"Muuachhh!"


Bram mencium bibir Alice dan mengusap pipinya sekilas, lalu pergi meninggalkannya dengan wajah tersenyum.


"Kak, bagaimana ini? Apakah Kak Hans akan---"


"Suamiku tidak sejahat yang kamu pikirkan, Dek. Pokoknya tenang saja, kalau ada sesuatu yang terjadi pada suamimu. Aku yang akan memarahi suamiku," balas Meera.


"Janji?" ucap Alice, menyodorkan jari kelingkingnya.


"Janji, ya sudah ayo kita makan terus kamu mandi bersih-bersih dan jangan lupa dandan yang cantik biar suamimu pangling melihat kecantikan Bumil yang menggemaskan ini hehe ...."


Perkataan Meera berhasil membuat Alice pun ikut tertawa, sehingga rasa cemas dan takutnya seketika menghilang secara mendadak.


...*...


...*...

__ADS_1


Berbeda dengan suasana ruangan kerja Hans yang begitu tegang. Dimana Hans sudah duduk di sofa panjang sambil membungkukkan tubuhnya dan menggegam tangannya.


Perlahan matanya melirik tajam ke arah Bram yang baru saja masuk ke dalam ruangan.


"Duduk!" tegas Hans, membuat Bram sedikit terkejut.


"A-ada apa, ka-kau memintaku untuk berbicara disini?" tanya Bram, sedikit ketakutan. Akan tetapi, masih mencoba untuk bersikap biasa saja.


"Apa yang terjadi selama aku koma kurang lebih 1 Minggu atau 2 Minggu ini. Katakan dengan jelas, aku tidak suka bertele-tele ataupun muter-muter. Paham!" sahut Hans, suaranya terdengar lantang dan cukup berat. Menandakan bahwa Hans sangat-sangat serius.


Jika Bram sedikit saja membalas perkataannya dengan bercanda, sudah di pastikan nyawanya akan melayang. Maka, dari itu Bram hanya bisa menarik napasnya perlahan dan mengeluarkannya melalui mulut.


Setelah di rasa cukup tenang, dia segera menceritakan semuanya yang terjadi selama ini kepada Hans. Termasuk penyebab terjadinya kecelakaan yang Hans alami beberapa Minggu lalu.


Hans terdiam mendengar setiap kata yang Bram ucapkan, sampai Hans pun terkejut saat Bram menyebutkan 2 nama tikus yang selama ini mereka cari.


Brakkk!


"Apa! Ternyata benar adanya, jika tikus-tikus yang kita cari memang telah bersembunyi di dalam rumah kita sendiri?"


"Aarrghh, si*al! Kenapa kepalaku sakit banget sih, kenapa ini. Arrghh!" teriakan Hans berhasil membuat Bram langsung berdiri menolongnya.


Kedua tangan Hans mencekram kuat di kepalanya, membuat Bram segera melepaskannya lalu mendudukan Hans di sofa tersebut.


"Cukup, Hans! Hentikan tanganmu, atau kau akan membuat pembuluh sa*dah yang baru saja di operasi kembali pecah!" tegas Bram, wajahnya terlihat begitu khawatir.


"Kenapa bisa di rumah ini ada tikus, kita tidak pernah tahu. Bram, kenapa! Apa penjagaan di rumah kurang ketat? Apakah aku harus membuat rumah bagaikan sebuah Istana yang dijaga oleh ratusan bodyguard!" tanya Hans, penuh emosi.


"Tidak, kita tidak salah. Tikus itu yang terlalu cerdik untuk bisa mengecoh kita semua. Pokoknya sekarang kau tenang aja, pulihkan kesehatanmu. Yang terpenting 2 tikus itu sudah tertangkap dan berada di dalam sel terpisah!" jawab Bram.


Hans berusaha menarik napasnya dalam-dalam untuk menahan pusing di kepalanya yang cukup menyakitkan.


Bram yang melihat Hans seperti tidak kuat menahan sakit kepalanya, dia segera berlari mengambil obat dikamar Hans.


Awalnya Bram mengetuk pintu kamar, tetapi tidak ada sahutan. Jadi, mau tidak mau dengan cepat Bram membukanya lantaran kamar tidak di kunci. Segera mungkin dia mencari obat Hans yang ada laci meja bupet kecil.

__ADS_1


Meera yang sedang asyik mandi, tidak mendengar suara dari luar. Semua itu karena kemericik air sower berhasil menyita pendengarannya.


Bram pergi ke arah dapur mengambil segelas air putih, lalu kembali ke ruangan kerja Hans dan segera membuka semua obat sambil membacanya.


Kemudian Bram menaruh beberapa obat di telapak tangan Hans dan diarahkan untuk meminumnya.


Setelah obat berada di dalam mulut, Bram memberikan gelas berisikan air itu untuk Hans minum agar bisa mendorong obat masuk ke dalam tubuhnya.


Beberapa menit Bram menunggu respon dari obat tersebut, dirasa Hans sudah cukup membaik dan tidak seperti tadi.


Segera mungkin Bram menawarkan kepada Hans untuk beristirahat, tetapi dia selalu menolaknya dengan sedikit menyandar tubuhnya di sofa dan memijit kecil pelipisnya.


"Kapan kamu mau bertemu dengannya?" tanya Hans, matanya melirik ke arah Bram dan kembali menutup merasakan pijitan kecil tangannya yang sedikit meredakan rasa pusingnya.


"Awalnya siang ini, cuman aku mau ngajak Alice jalan-jalan dulu. Soalnya dia lagi ngidam mau pergi ke taman seribu bunga. Kau tahu sendiri 'kan, jika Bumil tidak di turuti maka ngambeknya bisa-bisa membuat langit runtuh." jawab Bram.


"Ya sudah, nanti kalau kau ingin melihat kedua tikus itu. Aku ikut!" ucap Hans yang sudah membuka matanya.


"Tapi, kau 'kan masih---"


"Aku baik-baik aja, lagi pula aku mau menanyakan sesuatu padanya. Apa yang membuat mereka sampai memiliki dendam pada keluargaku, terutama aku. Karena jujur saja, aku tidak mengenal mereka jikalau bukan Meera yang membawa mereka masuk ke dalam rumah ini."


"Itulah yang aku pikirkan, kesalahan apa yang kau perbuat sehingga mereka memiliki dendam begitu besar padamu. Cobalah kau ingat-ingat lagi, apakah dulu ada orang yang pernah kau sakiti?"


"Tidak ada, tapi nanti akan aku coba pikirkan semuanya. Jika tidak menemukan jawabannya, maka aku akan menanyakannya langsung pada mereka. Jadi, saat kau pergi ke sana aku harus ikut!"


"Baiklah, nanti aku akan mengajakmu. Asalkan sekarang kau istirahat, agar kondisimu cepat pulih!"


"Sebelumnya aku minta maaf, jika semua ini terjadi atas kesalahanku di masa lalu sama mereka. Mungkin karena mereka memiliki dendam padaku, hingga mereka memperalat Meera untuk membuat kita terpecah belah dan menaruh dendam satu sama lain. Cuman, jujur. Aku tidak mengerti dan tidak percaya akan kenyataan yang sangat membingkungkan ini."


"Santai aja, aku juga minta maaf selama ini udah membencimu serta ingin menghancurkan rumah tanggamu. Sekali lagi maafkan aku, Kak. Aku janji, aku akan membantumu untuk menyelesaikan permasalahan ini. Aku sadar, bahwa semua ini merupakan takdir Tuhan yang tidak bisa aku hindarkan. Mungkin, Tuhan memisahkanku dengan Meera untuk mendatangkan seseorang yang lebih baik seperti Alice di dalam hidupku. Jadi aku sudah tidak lagi memiliki perasaan pada Meera, dan aku ingin memperbaiki hubungan persaudaraan kita."


Mendengar kalimat yang sangat indah itu, membuat Hans langsung memeluk Bram begitu erat. Disinilah kesalah pahaman antara mereka berdua telah berakhir. Dimana Bram dan Hans akan kembali menjalani kehidupannya seperti semula yang penuh cinta kasih.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2