Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Superhero Maura


__ADS_3

Sepanjang perdebatan anak dan Daddy hanya mampu membuat Meera tidak berhenti tertawa. Dia merasa benar-benar bahagia setelah melihat perdebatan ini.


Bahkan Meera selalu membayangkan bagaimana nanti saat Diego sudah besar, pasti dia akan menjadi


bodyguard Meera ketika Hans ingin mendekati istrinya.


...*...


...*...


...*...


Tidak terasa tahun demi tahun telah terlewati, dimana Baby Maura dan Baby Diego sudah berusia 7 tahun.


Sudah saatnya mereka harus belajar mandiri. Bahkan mereka juga baru masuk di sekolah internasional. Semua murid diantar oleh supir pribadi atau kedua orang tuanya hanya sampai pintu utama. Selebihnya mereka akan masuk sendiri menuju kelasnya masing-masing.


Diego dan Maura ternyata satu kelas, mereka belajar hingga duduk bersama di satu meja. Diego yang sikapnya kurang lebih seperti Hans, terlihat sangat pendiam dan irit berbicara. Akan tetapi, di balik semua itu. Dialah orang pertama yang selalu melindungi Maura, kalau sampai ada yang menjahilinya.


Diego yang selalu di panggil Kakak oleh Maura, kini beban hidupnya semakin bertambah setelah tahu bila Meera sedang mengandung anak kedua dari Hans.


Hamil anak kedua ini membuat Meera terlihat sangat manja, dan lebih sensitif. Apa lagi saat apapun yang diinginkan tidak di penuhi, maka dia akan nangis tujuh hari tujuh malam.


Sementara Alice, dia masih setia untuk membesarkan Maura sampai Tuhan kembali memberikannya kepercayaan.


Kehidupan mereka sejauh ini sangat tenang, dan juga bahagia. Hanya saja 1 tahun lalu, Bi Neng telah meninggal dunia karena penyakit tuanya. Maklum, karena usia Bi Neng sudah masuk usia yang terbilang sudah tua.


Penyakit tuanya telah berhasil menggerogoti kesehatannya sedikit demi sedikit, sampai akhirnya dia meninggal dunia di rumah sakit tepat di usia 60 tahun lebih.

__ADS_1


Rasa sedih membuat mereka semua sangat terpukul, tetapi itu sudah kehendak takdir. Jadi mereka hanya bisa mendoakan agar Bi Neng bisa tenang di Sisi-Nya.


Diego dan Maura selalu berangkat sekolah hanya di antar oleh supir, sesekali bersama Alice. Tidak lupa mereka membawa bekal dari rumah agar bisa di makan pada waktu jam istirahat.


Semua itu Alice dan Meera terapkan agar Maura dan Diego tidak sampai jajan sembarangan, supaya kelak tidak akan mengganggu kesehatannya sendiri.


...*...


...*...


...*...


Malam hari, tepatnya pukul 8. Mereka baru saja selesai makan malam bersama-sama. Suara cempreng Maura dan sikapnya yang sangat manja, membuat Diego terkadang kesal. Belum lagi saat mulut Maura tidak bisa diam, bagaikan petasan mercon yang selalu berhasil mengganggu ketenangan Diego.


Maura memang sangat mewarisi sifat Alice yang gemar berbicara. Ngobrol biasa pun Maura selalu saja heboh, apa lagi bila dia bercerita. Otomatis semua akan tertidur saking panjangnya cerita, layaknya sebuah pertunjukkan wayang golek.


Diego yang lagi duduk asyik di bawah sambil main PS bersama Papah dan Daddynya , langsung membalikan badannya dan membolakan matanya.


"Maura!"


"Apa?"


"Aku udah bilang 'kan berulang kali, jangan bilang apa-apa sama mereka. Kenapa sekarang malah cerita, hah?"


"Ya, karena Maura tidak mau jadi anak yang tukang bohong. Apa lagi Kakak berantem juga demi belain Maura. Jadi, mereka pasti tidak akan marah. Wleee!"


Maura menjulurkan lidahnya ke arah Diego, membuatnya semakin kesal. Semua mata tertuju pada Diego, rasanya dia ingin kabur hanya saja tidak bisa. Jadi, mau bagaimana lagi. Diego harus tetap menghadapi mereka semua selagi apa yang dia lakukan itu benar.

__ADS_1


"Apa yang di katakan adikmu itu benar, Diego?" tanya Hans, datar.


"Ada masalah apa lagi, Diego? Kamu tidak bosan memangnya di panggil ke ruang guru terus, hem? Bagaimana jika nanti nilaimu menjadi jelek?" sambung Meera. Dia tidak terkejut sama sekali atas perbuatan anaknya.


"Jangan bilang karena Maura di jahilin lagi sama anak kelas belakang?" ucap Alice, penuh percaya diri.


"Jika benar begitu aku tidak akan bisa tinggal diam. Semakin kita diamkan semuanya akan semakin ngelunjak, sepertinya aku harus berbicara dengan kepala sekolah agar masalah ini tidak terus berlarut." sahut Bram, mulai emosi.


"Kalian tenang saja aku sudah mengatakan semua pada kepala sekolah mengenai masalah ini. Kalian tinggal tunggu aja hasilnya!"


Perkataan Diego membuat semuanya menjadi sangat penasaran. Mereka saling bersahutan untuk meminta penjelasan pada Diego. Sebenarnya tadi ada kejadian apa, lantas bagaimana respon kepala sekolah atas kejadian tersebut.


Diego hanya menceritakan secara singkat, padat dan sangat diapresiasikan. Untuk anak seusia Diego dia mampu mengambil keputusan sebesar itu tanpa harus berunding kepada keluarganya.


"Di jam istirahat, ada 2 orang pria yang mengganggu Maura. Kita sedang makan bekal di kantin sambil membeli minum dan jajanan lainnya. Tiba-tiba pria itu membuang bekal Maura sampai berserakan di lantai."


"Aku sebagai Kakaknya tidak terima bila adikku di ganggu tanpa sebab. Jadi saat kepala sekolah menanyakan kejadian itu, ya aku jelasin sesuai fakta. Dan aku bilang, jika kejadian ini terulang kembali untuk ke sekian kalinya bahkan lebih parah dari ini. Maka, kita berdua akan pindah sekolah telat di hari itu juga."


Hati mereka seketika bergetar mendengar apa yang Diego katakan. Rasanya mereka ingin marah, tetapi tidak bisa. Apa yang Diego putuskan itu jalan terbaik, bila mereka bertahan di sekolah itu maka semakin lama mental Maura semakin terkuras.


Mereka semua hanya bisa tersenyum atas sikap Diego yang memang sangat mencerminkan jiwa kasih sayang yang sangat kuat. Walaupun dia sangat cuek dengan semuanya, ternyata di belakang dia mampu melindungi keluarganya dari apapun yang akan menyakitinya.


Bram memeluk Diego sambil mengucapkan terimakasih, karena Diego selalu menjaga Maura dengan sangat baik tanpa memperdulikan dirinya sendiri. Begitu juga Maura, dia sangat mengidolakan Diego sebagai superheronya yang luar biasa.


Sementara Diego hanya meresponnya dengan kedinginan tanpa ekpresi, bagi dia ini adalah hal kecil yang bisa diatasi sendiri. Akan tetapi, berbeda sama mereka semua. Sekecil apapun hal yang di lakukan Diego itu sangat berarti untuknya.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2