Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Faster Is Good


__ADS_3

"Aarrghh, Sayang! Kenapa kamu tega sama aku, sebentar lagi aku---"


"Sstt, tunggu aku. Okay? Kita keluar sama-sama, hem."


Bram mengelus pipi chubby milik Alice sambil tersenyum, matanya mulai menyorot penuh cinta.


Tatapan yang Bram berikan berhasil menyadarkan Alice, jika kali ini mereka melakukannya bukan di dasari dengan napsu. Melainkan cinta, cinta yang mereka pendam sedemikian rupa. Hanya karena gengsi mereka belum bisa untuk mengungkapkannya.


Alice mengusap pipi Bram perlahan merangkul lehernya dan sedikit menariknya, kemudian menghisap bibir bawah milik Bram sesekali me*lumatnya secara lembut.


Disaat Alice sedang menikmati bibirnya, Bram kembali memulai aksinya dengan merenggangkan kedua kaki Alice menggunakan kakinya. Terus dia perlahan mulai memijit pedang pusakanya perlahan, sambil mengarahkan ke dalam goa.


Sidikit menekan beberapa kali, pedang tersebut telah masuk sempurna ke dalam goa bersamaan dengan Alice yang menggigit kecil bibir bawahnya. Dia merasakan sesuatu sangat memenuhi goanya sampai terasa begitu mentok.


Hanya milik Bramlah yang mampu membuat Alice merem melek, akibat kegagahan dan kejantanan miliknya berhasil menciptakan sesasi yang berbeda.


Dalam posisi rada duduk Bram sedang menikmati kedutan demi kedutan yang dia rasakan. Dimana tangannya kembali menggapai buah Cherry tersebut.


Setelah merasa cukup, Bram langsung mengukung tubuh Alice sambil menghentakkan beberapa kali pedang pusakannya.


Hentakan tersebut terasa seperti adanya gempa bumi yang dapat menggoyangkan gunung kembar milik Alice.


"Arrghh, huhh hem Ba-baby. Faster or slow? haahh!" ucap Bram dengan suara indahnya.


"Slow, Baby. Aarghh, huhh haahh hemmp," balas Alice terus mengalungkan tangannya di leher Bram, sesekali bibir mereka saling menyatu sama lain.


"No, Baby. Faster is good, arrghh ...." Suara keduanya saling bersahutan satu sama lain dengan perasaan bahagia.


Dari sekian malam yang mereka habisnya bersama, entah mengapa malam inilah yang sangt berbeda. Meskipun cara mereka melakukan permainan sama, tetapi kemungkinan adanya perasaan satu sama lain, membuat keduanya seperti menikmati setiap permainan demi permainan yang mereka lakukan.

__ADS_1


Tanpa terasa mereka sudah berada di ambang puncak yang sangat tinggi, pada akhirnya pelepasan kedua mereka lakukan secara bersama-sama.


Kemudian dilanjutkan dengan posisi yang berbeda, dimana Alice yang saat ini memimpin permainan. Goyangan manja dia berikan kepada Bram, sampai matanya pun tidak bisa terbuka akibat dia sedang menikmati rasa yang sangat berbeda


Berbagai gerakan, posisi, dan sebagainya mereka lakukan hampir kurang lebih sekitar 5 jam lamanya. Yang lebih parahnya lagi, benar adanya jika Bram sudah kalah berulang kali dengan Alice dengan score 15 vs 20.


Itulah hebatnya Alice, dia memang sudah terbiasa memuaskan. Jadi, dia memiliki cara tersendiri bagaimana caranya menaklukkan benda pusaka. Sementara miliknya tidak sampai merasakan pelepasan dengan cepat.


...*...


...*...


1 Minggu telah berlalu, kejadian kecil selalu terjadi berulang kali untuk hubungan Hans dan juga Meera. Sampai membuat hubungan antara Hans dengan Bram semakin parah. Semua kejadian itu selalu memicu kesalah pahaman diantara mereka.


Alice yang tidak tahu jika Bram ternyata sudah merelakan menjual Restonya hanya demi menyelamatkannya, membuat Alice benar-benar syok.


Alice mendengar percakapan cukup serius anatara Bram dan Hans di tengah malam sangat membuatnya penasaran. Meskipun matanya rada sayu akibat baru bangun tidur.


"Gua mau kerja di Perusahan Daddy!" tegas Bram menatap Hans dengan tatapan datar.


"Tumben? Kalau kau mau kerja di Perusahaan bagaimana dengan Resto tau Caffemu itu? Siapa yang mau mengurusnya jika kau sibuk di kantor?" balas Hans semakin datar sambil meneruskan pekerjaannya.


"Resto itu udah gua jual kurang lebih 2 Minggu yang lalu, jadi gua udah enggak ada penghasilan. Maka dari itu, tarik gua untuk gabung ke dalam Perusahan. Setelah gua kembali punya Resto, gua bakalan keluar gua janji!" sahut Bram dengan wajah penuh ke seriusn.


"Apa! Restomu di jual? Sejak kapan kamu bertingkah konyol seperti itu, Bram! Apa kamu lupa, Resto itu susah payah kamu bangun menjadi Resto yang cukup mewah dan juga terkenal. Lalu, dengan seenak jidatmu kamu menjual semua itu? Dasar bo*doh!"


"Apa sih yang ada dalam pikiranmu saat ini, Bram? Jika kau butuh sesuatu bilang sama aku, aku akan membantu keuanganmu apapun yang terjadi. Tapi, tidak dengan cara konyol ini Bram!"


Hans berdiri dari kursinya sambil membungkuk, dimana kedua tanganya bertumpuan meja dengan tatapan cukup menyeramkan.

__ADS_1


"Sekarang aku tanya, buat apa kamu menjual Restomu itu? Apa selama ini kamu kekurangan uang? Atau jangan bilang kamu punya hutang sama rentenir?" sambung Hans, saat Bram masih terdiam.


"Ckk, itu bukan urusan lu!" pekik Bram, membuat Hans langsung menggebrak meja cukup keras.


"Aku bilang, buat apa kau jual Resto itu!" tegas Hans dengan semua rasa marah dimana wajahnya terlihat begitu datar. Sehingga bukan hanya Bram saja yang refleks terkejut. Melainkan Alice pun ikut kaget setelah melihat Hans yang baru pertama kali bersikap semarah ini.


Beberapa detik Bram terdiam, dia pun langsung bangkit dan membalas gebrakan meja dengan kedua mata mereka yang saling menatap satu sama lain.


"Stop membentak gua! Gua ini bukan anak kecil yang lu bentak bakalan menjawab setiap pertanyaan yang seharusnya lu tidak tahu! Ini urusan gua bukan urusan lu, mau gua jual atau tidak itu tidak ada hubungannya sama lu. Paham!"


"Okay, Aku tahu kamu masih sangat marah. Bahkan kamu juga begitu membenciku, tapi ingat Dek. Kamu itu keluarga satu-satunya yang aku punya setelah kedua orang tua kita tiada. Aku hanya ingin memperbaiki semua kesalahanku, apa aku salah? Apa sudah tidak ada kata maaf lagi, yang bisa kamu berikan untukku sedikit saja, Dek?"


"Tidak! Asal lu tahu aja, gua bukan adekku lagi dan tidak ada lagi yang harus dimaafkan, ngerti lu! Hati gua udah sangat hancur atas kejadian itu, dan hubungan kita pun sudah tidak ada. Gua bertahan seperti ini karena gua hanya tidak mau kehilangan semua apa yang sudah menjadi milik gua!"


"Baiklah, kalau kamu mau ambil saja semuanya. Aku tidak membutuhkan semua itu, jika aku harus menggantikan nyawaku untukmu pun aku siap. Karena sampai kapanpun kamu tetap adik kesayanganku. Maaf jika aku sudah menghancurkan duniamu, dan maaf kalau aku belum bisa menjadi Kakak yang terbaik untukmu."


Percakapan mereka terhenti ketika Hans tersenyum dengan mata berkaca-kaca menatap Bram, lalu Hans pergi meninggalkan Bram menuju sebuah taman. Karena hanya disitulah Hans bisa mencurahkan isi hatinya.


Sementara Alice segera bersembunyi di tempat yang berbeda, agar tidak sampai ketahuan oleh Hans jika dia sedang mengintip perdebatan mereka.


Seperginya Hans, Alice perlahan melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu dimana Bram sedang memekik kelas sambil membanting kursi. Sementara Meera dia tidak mendengar suara apapun akibat tertidur pulas.


"Apa maksud ini semua, Bram? Jangan bilang kamu menjual Restomu itu untuk menebus aku dari rumah gelap itu?"


Alice berbicara dengan wajah datar, sambil berdiri tepat di belakang Bram membuatnya segera berbalik lalu menatap Alice. "A-alice, ka-kamu ngapain disini? Bu-bukannya tadi kamu ada di kamar lagi tidur?"


Bram terkejut ketika Alice sudah berada dihadapannya, padahal tadi saat Bram tinggal Alice sedang tertidur pulas. Entah apa yang akan Bram jelaskan pada Alice, karena saat ini bibirnya begitu kelu untuk mengucapkan satu patah katapun padanya.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2