Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Mata Jahat


__ADS_3

Kedua mata mereka saling menatap satu sama lain, kemudian Meera mengangguk perlahan dan kembali mendapat senyuman dari suaminya.


Setelah itu Hans mencium kening istrinya serta mengucapkan selamat malam dan selamat. beristirahat.


Hans mulai melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Sementara Meera mulai menatap kepergian suaminya dan perlahan memejamkan kedua matanya memasuki alam bawah sadarnya.


Rasanya hari ini badan Meera benar-benar remuk dan juga hancur akibat pergulatan bersama suaminya diatas ranjang, terbilang cukup mengejutkan.


...*...


...*...


...Di dalam kamar mandi...


Baru saja Hans memasuki kamar mandi, dia segera menutupnya perlahan dan menguncinya. Kemudian menyender di belakang pintu sambil perlajan badanya runtuh dan terjatuh.


Saat ini posisi Hans sedang duduk melipat kedua kakinya, sambil menenggelamkan kepalanya di sela-sela kakinya.


Hans nangis sejadi-jadinya saat dia mengingat semua perkataannya pada mendiang Daddynya. Hanya saja suara isak tangisnya tidak sampai terdengar ke telinga Meera, karena Hans menangis tanpa bersuara.


Hampir beberapa menit Hans menangis, seketika dia seperti tanpa sengaja telinganya mendengar sesuatu. Hqns refleks mengangkat kepalanya dan menatap ke arah depan.


Mata Hans membola besar saat dia melihat seseorang yang sangat dia kenal. Entah kenapa wajah yang awalnya sedih itu, malah terlihat seperti wajah terkejut bahagia.


"Da-daddy? Mo-mommy? Itu benar kalian, 'kan?" tanyanya.


Mata Hans langsung bersinar ketika melihat kedua orang tuanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


"Daddy, Mommy. Maafkan Hans, Hans lalai dalam menjaga amanah dari kalian. Saat ini hubungan Hans dan Bram malah semakin hancur akibat kejadian itu, jujur Hans juga bingung kenapa semuanya bisa terjadi hiks ...."


"Hans tidak tahu bagaimana caranya untuk mengembalikan semua keadaan seperti semula. Beberapa kali Hans mencoba dan terus mencoba mencari cara agar Bram mau memaafkan Hans, tapi percuma!"

__ADS_1


"Dia malah semakin membenci diriku Mom, Dad. Hans bingung, Hans harus bagaimana. Tolong bantu Hans untuk menemukan caranya Mom, Dad. Please, Hans mohon!"


"Hans tidak mau sampai kehilangan keluarga lagi, cuman Bram yang Hans punya saat ini. Hans tidak mau kehilangan Bram, please Hans mohon Mom, Dad. Please!"


Tatapan Hans kepada bayangan itu seakan-akan sangat mendalam, bahkan air matanya tak kunjung terhenti. Sementara bayangan kedua orang tuanya, selalu tersenyum seperti mereka tahu kunci jawaban atas kejadian semua ini.


"Hanya ada satu jalan yang akan bisa mengembalikan semua keadaan menjadi semula. Cuman, kamu harus lebih ekstra untuk mencari kunci jawaban dari setiap apa yang kamu tanyakan ini." ucap Daddy Agra.


"Ya, apa yang dibilang Daddymu itu benar. Ini semua sebenarnya bukan salah kalian bertiga, melainkan ada mata jahat yang selalu mengawasi setiap pergerakan kalian. Sehingga apapun yang terjadi mereka bisa mengetahuinya, tanpa harus menunjukkan topeng aslinya." sambung Mommynya.


Kedua orang tua Hans tetap tersenyum lebar saat menatap wajah anaknya yang saat ini terlihat begitu sedih bercampur setres. Semua itu tejadi lantaran Hans memikul semua bebannya seorang diri.


Perlahan Hans mulai tersadar atas ucapannya sendiri menatap kedua orang tuanya, mereka hanya bisa tersenyum setiap mendengar jawaban atau pertanyaan Hans.


"Ma-mata jahat? Ma-maksudnya, Mom, Dad?" tanya Hans.


Wajah Hans begitu terkejut dan juga bingung dengan apa yang di maksud oleh ucapan mereka. Layaknya mereka memberikan kode tertentu, agar Hans bisa mencari tahu semua dibalik kejadian-kejadian aneh yang selalu menimpanya dan keluarganya.


"Terlepas kejadian itu atau tidak, suatu saat nanti kamu akan mengerti jika selimut yang selama ini ada di dekatmu. Merupakan sebuah kain kafan yang akan membawamu menuju ajal lebih cepat!"


"Jaga dirimu, lindungi istri dan juga adikmu. Karena ketika kamu kehilangan salah satu dari mereka, maka mata jahat yang berkedok menjadi selimut. Akan tertawa puas, ketika misinya telah selesai. Berhati-hatilah dengan orang sekitarmu. Ingat, yang baik belum tentu terlihat baik dan yang jahat belum tentu terlihat jahat."


"Ya, mungkin kamu akan bingung dengan apa yang kami sampaikan saat ini. Cuman, entah kapan dan bagaimana. Kamu akan paham dengan semua ini, tenang saja. Daddy dan Mommy akan selalu ada di hati kalian dan memantau setiap langkah yang akan kalian ambil."


Semua jawaban yang di berikan kedua orang tua Hans, seakan-akan sebagai simbol bahwa Hans harus lebih berhati-hati lagi dalam menjaga keluarganya.


Dari setiap kata yang menutut Hans adalah kode, ternyata itu merupakan kunci jawaban yang harus dia cari agar kelak tidak akan menjebak dirinya sendiri.


Layaknya sebuah permainan yang dimainkan oleh orang tak bertanggung jawab, hanya demi menarik perhatian Hans untuk ikut serta masuk kedalamnya dan dengan mudahnya mereka akan langsung menghancurkannya.


Hans terdiam mencerna semua perkataan kedua orang tuanya, walaupun dia belum menemukan jawabannya. Dia sudah mulai mengerti jika, tanpa di sadari ada seekor tikus got yang ingin menghancurkan apa yang dia miliki.

__ADS_1


"Aku paham maksud kalian, tapi aku belum tahu siapa orang yang kalian maksud itu. Apakah dia orang terdekatku yang paling dekat, atau dia musuh bisnisku? Katakan, Dad, Mom. Aku butuh jawabannya sekarang!" tegasnya.


"Tidak, Sayang. Kami tidak bisa mengatakannya, kau harus mencari semua kunci jawaban itu sendiri sebelum semuanya terlambat. Daddy dan Mommy akan selalu ada bersamamu!"


" Ya sudah kami pamit ya, tugas kami telah selesai. Hanya ini yang bisa kami berikan padamu, semoga kamu bisa menemukan tikus itu sebelum semuanya hancur. Jaga dirimu, dan jaga keluargamu. Daddy sama Mommy titip adikmu, jangan pernah lepaskan dia meskipun dia sangat membencimu, karena di dalam lubuk hatinya dia sangat menyayangimu!"


Perlahan mereka tersenyum, dan Mommy pun mengangguk sambil tangan mereka selalu berpegang tangan.


Wajah ceria tidak lepas dari mereka, yang menandakan bahwa mereka benar-benar sangat bahagia sudah dipertemukan kembali.


Kedua orang tua Hans berbalik, mulai berjalan menjauhi Hans mendekati sebuah cahaya terang yang berada di depan mereka. Bagaikan sebuah pintu yang kembali membawa mereka pergi untuk selamanya.


"Dad, tunggu! Hans ingin mengatakan sesuatu!" pintanya. Kedua orang Hans pun berbalik kembali menatap anaknya yang terlihat sangat serius.


"Ma-maafkan Hans, karena selama ini Hans sudah berburuk sangka pada Daddy. Hans sekarang sudah tahu bagaimana cerita Daddy dan Meera yang sebenarnya, maka dari itu Hans benar-benar minta maaf yang sebesar-besarnya karena Hans gagal menjadi anak serta Kakak yang baik untuk kalian,"


"Hans telah merebut apa yang bukan milik Hans, dan Hans juga telah menghancurkan kehidupan Bram. Maafkan Hans Dad, Mom, maafkan Hans hiks ...."


Hans menundukkan kepalanya sejenak, menangisi semua kesalahannya yang mana kedua orang tua Hans malah tetap tersenyum. Tanpa Hans sadari mereka berjalan mendekat Hans, lalu mengusap kepala Hans dengan lembut.


Disitulah Hans terkejut, dia segera menatap wajah kedua orang tuanya yang terlihat begitu indah dipenuhi oleh cahaya-cahaya putih di sekelilingnya.


"Kamu tidak salah, Hans. Itu sudah takdirmu, yang membawa jodohmu untuk berada ditangan yang tepat. Hanya saja, kalian harus lebih kuat lagi untuk melewati setiap lika-liku ujian pernikahan."


"Disini tidak ada yang salah kok, karena sebenarnya memang Meeralah jodohmu. Walaupun didapatkannya dengan cara yang kau sendiri tidak paham, maka dari itu kembali lagi. Carilah jawaban disetiap teka-teki yang harus kau pecahkan!"


"Kami pamit, jangan lupa tetap tersenyum jagoan kecil Daddy dan Mommy. Terus semangt dan jangan mudah menyerah, karena kami tidak pernah memiliki jagoan yang lemah!"


Usapan tangan itu membuat Hans begitu tenang, hingga akhirnya bayangan-bayangan tentang kedua orang tuanya seketika menghilang, bersamaan dengan bangunnya Hans.


Tenyata, oh ternyata. Ketika Hans menangis tadi, dia sempat ketiduran, hingga bermimpi tentang kedua orang tuanya. Dimana mereka malah memberikannya sebuah kunci, agar Hans bisa membuka sebuah pintu yang akan memecahkan semua masalah ini.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2