
Degh!
Baru kali ini Meera marah semarah-marahnya saat menghadapi Tom & Jerry yang sangat mengesalkan, padahal tiap hari dia selalu terbiasa dengan suasana ini.
Namun, entah kenapa hari ini rasanya Meera ingin sekali memakan orang jika dia sendiri tidak ingat kalau dia adalah manusia.
Meera menatap tajam ke arah suami dan adik iparnya itu, lalu membawa beberapa potong ayam yang ada di meja untuk ke dapur. Kemudian langsung berkutak dengan alat masak untuk membuatkan sambal ayam geprek.
Kurang lebih 10 menit, Meera baru saja selesai membuatkan ayam geprek sesuai reques dari Bumil. Meski terlihat sederhana, tetapi terlihat begitu menggiurkan.
Meera datang sambil menaruh ayam tersebut ke atas meja makan, membuat Bumil yang tadinya cemberut seketika langsung tersenyum lebar.
"Udah jangan ngambek lagi, sekarang di makan biar Dedeknya enggak ngiler!" titah Meera yang sudah duduk di kursinya.
Tanpa basa-basi lagi, Meera langsung mengambil satu potong ayam ke dalam piringnya. Kemudian dia memakannya dengan sangat lahap, lalu mengambil nasi.
Kali ini Alice makan menggunakan tangannya langsung, tanpa alat makan seperti biasa.
"Hem, nyami! Wah, se-seriuskah ini Kakak yang membuatnya?" tanya Alice, penasaran.
"Ya, siapa lagi. Toh aku yang ada di dapur dari tadi, Bi Neng 'kan lagi ke pasar. Bi Atun juga lagi bersihin halaman. Ya mau tidak mau aku yang ngerjain semuanya, dari pada ponakanku ileran. Ya aku turuti saja selagi batas wajar, ya!" jawab Meera, sedikit menyindir.
"Hehe, makasih banyak, Kak. Alice sayang Kakak, buanyak-buanyak deh hehe ...." sahut Alice.
"Udah makan dulu nanti ke selek itu, kasihan tenggorokanmu nanti bisa-bisa sakit dan panas!"
"Terus ingat juga jangan banyak-banyak kasian anakku nanti kepedesan di dalam perutmu"
Bram menatap Alice dengan wajah penuh khawatir dan sedikit kesal, sebenarnya Bram ingin sekali melarang istrinya. Cuman mau bagaimana lagi, ini sudah kemauan anaknya, jadi dia harus sedikit mengalah selagi batas wajar Alice ketika ngidam.
Meera tersenyum menatap Alice sangat lahap memakan makanan yang dia inginkan, bahkan tak terasa Alice sudah menghabiskan 2 potong ayam sekaligus.
Bram dan Hans yang melihat porsi makan Alice semakin bertambah hanya bisa menelan air liurnya secara kasar.
Satu sisi mereka terkejut, dan satu sisi lagi mereka pun penasaran seenak apa sih ayam geprek yang dibuat Meera, sampai-sampai membuat Alice ketagihan.
"A-aku boleh minta ayam gepreknya?" ucap Bram terbata-bata, dia sangat gugup dan takut kalau sampai Alice mengamuk.
"A-aku juga, minta dikit. Boleh?" cicit Hans, membuat Hans menatapnya.
__ADS_1
"Yakk, ngapain lu ikut-ikutan minta, hahh!" sahut Bram, tak terima.
"Suka-suka akulah, orang itu buatn istriku kenapa kamu yang sewot!" jawab Hans, cuek.
Meera hanya bisa menggelengkan kepalanya, sementara Alice yang sedang makan langsung menatap mereka secara bergantian dengan tatapan sinis.
Glek!
Tatapan Alice berhasil membuat keduanya segera mengalihkan pandangnya. Sementara Meera hanya bisa tertawa di dalam hatinya, ketika Alice dalam mode garang.
Beberapa detik kemudian, Alice tertawa kecil membuat Bram dan Hans segera melihatnya dengan wajah bingungnya.
"Hehe, kalem dong. Ayo makan aja, itu juga masih banyak kok, cobain aja gapapa. Aku yakin kalian suka kok, rasanya juga mantep poll hihi ...."
Setelah mendapat izin dari Alice, mereka langsung berlomba-lomba untuk mengambil ayam tersebut. Cuman, ketika ayam baru saja mau diambil, Alice langsung mengejutkannya dengan suara yang sedikit menegangkan.
"Etss, tunggu dulu!" pekik Alice meghentikan Bram dan Hans.
"A-ada apa? Tadi katanya bo-boleh!" ucap Bram, gugup.
"Ya memang boleh, tapi jangan banyak-banyak karena aku masih mau nambah lagi. Paham kalian!" tatap Alice dengan sangat tajam.
"Prrfftt ...." Meera menahan tawanya saat wajah suami serta adik iparnya terlihat begitu ketakutan.
Seketika mendengar gelagat tawa dari Meera membuat 2 pria itu secepat kilat menatapnya, refleks membuat Meera langsung terdiam. Meski hatinya masih tertawa lepas.
Alice kembali melanjutkan makannya, begitu juga Meera yang makan dengan lauk lainnya.
Bram dan Hans mereka perlahan mencoba untuk memakan ayam geprek tersebut. Walaupun terlihat sedikit mengerikan, tetapi tidak sampai membuat mereka keracunan bukan.
Satu suapan masuk ke dalam mulut. Kemudian mereka mengunyahnya secara perlahan sambil menikmati rasanya.
Baru bertahan beberapa detik, keringat di dahi mereka berdua perlahan mengucur. Tak lama terdengar suara yang mengejutkan hingga berhasil membuat Meera dan Alice tertawa terbahak-bahak.
"Anj*rott! Ini ayam yang di geprek, apa cabe yang di geprek sih. Gila, kalau begini caranya mulut gua bisa dower. Arrghh, huhh, hahh, huhh, hahh ...."
Bram menjerit, tubuhnya terlihat seperti cacing kepanasan yang bingung harus ngapain. Dia hanya bisa menggaruk kepalanya yang terasa gatal dan wajahnya mulai memerah.
"Sumpah, kalau gini rasanya mah namanya bukan ayam geprek. Tapi, ayam set*an, asyu!" pekik Hans, dengan segala kekesalannya.
"Huhh, hahh, arghhhh si*al! Lidah gua rasanya kaya kebakar gila! Ini cabe apaan sih yang di pake?" ucap Bram sambil minum air beberapa kali.
__ADS_1
"Kebakar apaan sih, orang aku makan aja biasa aja. Bahkan ini tuh enggak pedes loh, masih kurang sedikit lagi." sahut Alice berhasil membuat Bram dan Hans melongo.
"A-aku rasa istrimu sudah gila, segini pedesnya di bilang arghhh ... Pe-perutku!" Hans berteriak memegangi perutnya membuat Meera langsung panik.
"Ha-hans? Kamu kenapa? Ada apa dengan perutmu?" ucap Meera langsung menatap wajah suaminya yang sangat merah, bahkan keringat sudah terlihat dimana-mana membuatnya semakin tidak karuan.
"Ambilkan susu, cepat! Dia itu enggak bisa makan yang terlalu pedas karena lambungnya tidak kuat untuk mencernanya. Hahh, hahh ...." teriak Bram, Meera bergegas berlari kicar-kacir untuk mengambil susu yang berada di dalam kulkas untuk suaminya.
Sementara Alice dia terkejut melihat keadaan Kakak iparnya sudah mulai melemah, seketika rasa bersalah muncul di dalam pikiran Alice. Tanpa di minta air mata pun mulai menetes.
"Ka-kak Hans, ma-maafkan Alice. Ka-karena Alice Kak Hans bisa seperti ini, Alice salah. Alice udah buat Kak Hans kesakitan, sekali lagi maafkan Alice ya. Alice tahu Kak Hans pasti---"
"Sstttt, kamu itu bisa diam enggak sih! Orang lagi panik malah nangis, nyalahin diri sendiri. Aneh!"
"Ini itu bukan salahmu, tapi salah dia. Udah tahu enggak bisa kenapa pedes. Masih aja maksa!"
"Dia itu sebenarnya lemah, hanya saja dia selalu bersikap seolah-olah orang paling kuat. Makannya kena dikit aja biji cabe pasti sudah wassalam!"
"Cuman, kalau sedikit saja kena cabe atau pun saos lambungnya masih bisa. Cuman ini kan kamu tahu sendiri murni full cabe mentah dan sedikit bawang, jadi otomatis lambungnya langsung kena."
Bram menjelaskan pada Alice dengan sangat detail mengenai Kakaknya. Hans yang sedang berusaha menahan gejolak rasa sakit di lambung pun menjadi tersenyum.
Dari kejadian ini Hans bisa merasakan kalau Bram sangat peduli dengan kesehatannya.
"Ternyata kamu masih baik padaku, Bram. Kamu masih peduli dengan kondisiku saat ini, rasanya aku benar-benar sangat bahagia. Semoga saja, hubungan kita segera kembali seperti dulu. Terima kasih, Bram. Kamu sudah membuktikan bahwa kamu masih menganggapku sebagai Kakakmu!" ucap hati Hans.
Tak lama Meera datang membawa susu berukuran besar, lalu menuangkannya ke dalam gelas dan saat Meera ingin memberikannya pada suami tercinta.
Tiba-tiba saja Bram mengambilnya langsung dari tangan Meera, dan memberikan susu itu kepada Kakak tersayangnya secara perlahan.
"Mi-minum ini Hans, biar tidak terasa panas di lambungmu. Setelah itu aku akan panggilkan dokter buat mengecek kondisimu, ayo cepat habiskan!" titah Bram, membuat Hans menatapnya sejenak dan mulai meminumnya secara bertahap.
Melihat adegan romantis itu membuat Meera dan Alice terkejut, kata kata 'aku' seketika mampu bikin mereka berdua saling menatap satu sama lain.
Mereka berdua tidak menyangka bahwa Bram ternyata memang sangat menyayangi Kakaknya, rasanya mereka begitu bahagia saat melihat semua ini.
Dibalik musibah kecil yang terjadi, terdapat sececar harapan bahwa sebentar lagi hubungan persaudaraan mereka akan segera kembali seperti dahulu.
...***Bersambung***...
__ADS_1