Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Wanita Misterius Berjubah Hitam


__ADS_3

Awalnya sahabatnya tidak tahu, bila itu kekasih Hans. Dia pun berusaha tetap bersikap prosesional. Hanya berkat ide gila Hans akhirnya dia melakukan dan kebetulan posisi Keke memang suka merayu beberapa produser agar terus mempertahankan dia untuk beberapa kontrak.


Maka, terjadilah semua kejadian besar itu yang berhasil menghapus semua rasa di dalam hati Hans. Kemudian menanamkan sebuah luka yang teramat mendalam. Sampai akhirnya dia tidak akan pernah lupakan, bahwa cinta pertama tidak semuanya indah. Banyak yang membawa luka, seperti dirinya.


Mendengar semua penjelasan Hans yang selama ini dia simpan rapat-rapat mengenai kebusukan Keke, akhirnya terbongkar sudah. Keke pun sangat malu, dan dia terus berusaha memohon hingga menangis meraung-raung di hadapan Hans.


Hanya saja, Hans tidak menggubrisnya dia tetap setia pada istrinya yang sangat membutuhkannya. Keributan itu mulai terdengar oleh suster yang lewat dekat ruangan, sampai dia harus melerai semua itu.


"Permisi, Tuan. Ini ruang sakit, bila kalian ingin tetap ada di ruangan ini. Cobalah mengerti, bila pasien harus banyak istirahat. Jika, masih terdengar keributan maka saya akan segera memanggil security untuk mengeluarkan semunya dari ruangan Nyonya Meera."


Wajah suster itu terlihat begitu serius ketika dia harus di hadapi oleh masalah keluarga. Sebenarnya takut, cuman demi kebaikan pasien dia harus tegas dengan semua pengunjung.


"Tolong bawa dia keluar dari sini, Sus. Saya sudah tidak mau lagi melihatnya!"


Hans menekankan kata-katanya tanpa mau melihat Keke yang terus menangis memohon padanya, sambil sang suster yang mencoba untuk menyeretnya keluar dari kamar.


Setelah perginya Keke, mereka semua pun langsung menatap Hans. Alice memarahinya karena dia sangat kecewa, masalah sebesar ini sama sekali Meera tidak tahu.


Berkali-kali Hans meminta maaf pada Alice, Bi Neng yang juga terlihat kecewa serta istrinya yang lagi-lagi meneteskan air matanya.


Tak lupa Bram pun ikut kena marah Alice, sebab dia tidak mau jujur mengenai semua itu padanya. Kalau begini, mereka harus mengorbankan keadaan Meera yang sangat di butuhkan Baby Diego.


Apa lagi dari pertama lahir sampai detik ini Baby Diego sama sekali tidak pernah merasakan ASI, tidak seperti Baby Maura yang semakin kuat meminum ASi hingga bisa 2 jam sekali.


Untuk hari ini, Alice dan Bi Neng tidak mau pulang mereka mau menginap dan tertidur di ruangan tunggu. Awalnya Bram keberatan, cuman mau bagaimana lagi. Bila Alice di paksa pulang, pasti itu akan membuat mereka bertengkar. Sebab Alice tidak percaya bila Keke tidak akan kembali lagi.


Untuk malam ini aja mereka diizinkan menginap di sini dan esok siangnya kemungkinan mereka akan kembali ke rumah sesuai perjanjian Alice dengan Bram.


...*...

__ADS_1


...*...


Menjelang malam hari, Meera dan juga Bi Neng pergi ke kantin untuk membeli makanan. Sedangkan anak-anak di tinggal di ruangan bersama Hans, Bram dan Meera.


Akan tetapi, saat Hans di minta untuk mengurus berkas rumah sakit mengenai istrinya. Dia malah melemparkan semua itu kepada Bram untuk di wakilkan, sebab Hans tidak mau meninggalkan istri serta anaknya.


Mau tidak mau Bram pun menjalani semua perintah Hans, dia ikut bersama suster dan meninggalkan anak-anak pada Hans di ruangan bersama Meera.


Kurang lebih 5 menit, Hans merasa mules dan langsung pergi ke kamar mandi sebentar. Tanpa di sadari ada bahaya yang mendekat ke arahnya, sehingga membuat Hans lengah.


Seorang wanita memakai jubah, masker mulut dan topi hitam masuk perlahan ke kamar Meera. Baby Diego yang memiliki ikatan batin tiba-tiba terbangun begitu juga Baby Maura.


Mereka menangis bersamaan seperti memberikan pertanda bila ada bahaya yang mendekat ke arah Meera.


Oeekk ... Oeekk ... Oeekk ...


"Bentar ya, Sayang. Ayah di kamar mandi, 2 menit aja." teriak Hans dari arah kamar mandi dalam posisi sedang nongkrong.


"Nangislah yang kencang, karena sebentar lagi Ibumu akan tiada. Dan kau bersama Ayahmu akan berada ditanganku!"


Baby Maura nangis semakin kencang, begitu juga Baby Diego. Akan tetapi, Hans masih belum mengerti tanda sinyal dari anak-anaknya.


Sampai akhirnya terdengar suara gemericik air pertanda bila Hans sudah mau selesai, wanita itu langsung terburu-buru membuka sebuah botol kecil. Kemudian memasukan ke dalam mulut Meera.


Hanya dalam hitungan detik saja, tubuh Meera langsung kejang-kejang, bibir membiru bersamaan dengan keluarnya Hans dari kamar mandi.


Degh!


"Hei, siapa kau? Mau apa kau lakukan dengan istriku, hah?"

__ADS_1


Wanita itu tergesa-gesa penuh ketakutan, sehingga saat memasukan botol kecil itu malah jadi terjatuh di lantai. Dia pin berusaha untuk melarikan diri sekuat tenaganya.


"Me-meera?"


Mata Hans berkaca-kaca dia langsung mendekati istrinya yang kondisinya sangat tidak stabil. Merasa penuh kecurigaan, Hans berlari keluar kamar dan berpapasan dengan Bram yang habis di tabrak oleh wanita itu.


Bugh!


"Hei, siapa kamu? Kenapa kamu masuk ke--"


"Cepat tangkap dia, Bram! Dia sudah membuat istriku berada di dalam bahaya!"


Melihat kekhawatiran di wajah sang Kakak, membuat Bram langsung berlari sekencang mungkin. Bahkan dia meminta semua orang untuk membantunya menatap wanita misteris berjubah hitam.


Hans langsung memanggil sang suster ketika melihat mulut istrinya berbusa. Dimana sudah sangat jelas, bila Meera di berikan sebuah racun orang wanita itu.


Sang dokter langsung datang dan menanyakan apa yang sudah terjadi dengan kondisi Meera saat ini. Begitu juga dengan Alice dan Bi Neng yang di kejutkan oleh suasana mengerikan seperti ini.


Tidak banyak berbicara mereka langsung di suruh keluar sambil membawa anak-anak, dimana Alice dan Bi Neng mencoba segera menenangkan kedua bayi yang terlihat sangat syok.


"Kak, sebenarnya ada apa ini? Kenapa mulut Kak Meera berbusa seperti itu, bukannya tadi dia tidak apa-apa pas kami tinggal?"


Alice begitu panik, dia menangis ketika kembali mengingat sang Kakak yang sudah tidak bisa di jelaskan seperti apa keadaannya.


Hans menceritakan semuanya pada mereka, membuat pirasat Alice benar. Sebab, dari tadi dia tidak enak untuk meninggalkan Meera. Hanya saja mereka juga butuh asupan gizi, jadi Alice memberanikan diri untuk keluar.


Bram juga yang sudah berhasil menangkap wanita berjubah hitam itu, segera membawanya ke hadapan Hans dan semua orang di bantu oleh kedua security.


Hans yang sudah sangat marah dan penasaran, langsung saja membuka masker serta topi hitam itu dan membuangnya ke segala arah. Betapa terkejutnya Hans saat melihat siapa orang yang berani meracuni istrinya dan membuat keadaan Meera benar-benar berada di ambang kema*tian.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2