
Entah mengapa dia juga bingung ada apa dengan hari ini, karena tidak biasanya Meera merasakan mulutnya begitu hambar akan rasa masakannya.
Apakah Meera lagi sakit? Sepertinya tidak, Meera terlihat baik-baik saja tanpa sedikitpun mengeluh sakit ataupun pusing.
Tak lama Alice langsung mengatakan pendapatnya tentang rasa dari masakan Meera yang terbilang aneh baginya.
"Hem, rasanya tidak terlalu buruk. Mungkin kami hanya yerlalu banyak saja menggunakan garam, sehingga rasanya cukup asin." ucap Alice, langsng mencari minum untuk menghilangkan rasa asin yang membandel di mulutnya.
"Se-seriusan asin? Tapi, kenapa setiap aku merasakan masakkan itu, kok kaya enggak ada rasanya?" sahut Meera, bingung dengan lidahnya yang merupakan salah satu indra pengecap di dalam mulutnya.
"Entahlah ...." ucap Alice sambil minum air dingin.
"Uhh, kalau begini gimana bisa di makan. Apa aku harus membuat ulang? Tapi, percuma jika mulutku tidak bisa diajak kompromi pasti rasanya akan semakin tidak karuan."
Meera bergumam kecil sambil mematikan kompornya dan menatap nasi goreng yang hampir saja jadi, tetapi rasanya malah menjadi amburadul akibat lidahnya yang mati rasa.
Alice yang melihat Meera begitu cemas sama masakannya, langsung menaruh gelasnya di atas wastafel. Kemudian berjalan mendekati mejicom dan mengambil beberapa centong nasi, lalu dia kembali memasukkannya kedalam nasi goreng yang sudah hampir jadi.
"Yakk, kau apa kan masakan itu?" pekik Meera terkejut saat Alice mengotak-ngatik masakannya.
"Ssstt, berisik! Udah sih tinggal liatin aja, lagian juga aku tidak akan mengacak-ngacak masakanmu. Aku hanya ingin mengurangi rasa asinnya saja!" sahut Alice, yang langsung mengambil alih masakan Meera.
"Memangnya kamu bisa masak? Bukannya kamu itu---"
"Meskipun aku wanita penghibur, tetapi aku tetaplah seorang wanita yang sewaktu saat nanti akan berperang dengan semua alat masak di dapur!"
__ADS_1
Jawaban Alice berhasil membuat Meera bungkam. Apa yang dikatakannya memang benar, setinggi-tingginya pekerjaan seorang wanita, tugasnya tetaplah menjadi Ibu rumah tangga. Dimana dia akan memasuki dunia perdapuran yang penuh dengan drama.
Meera yang mengakui kesalahannya, segera meminta maaf kepada Alice tanpa adanya rasa malu ataupun gengsi. Jika memang dia melakukan kesalahan, maka Meera akan langsung mengatakannya tanpa menundanya.
Sementara Alice dia tetap fokus dengan semua masakan Meera, supaya bisa menjadi menu sarapan yang lezat. Alice tidak akan merubah rasa yang ada di dalam nasi goreng milik Meera, dia hanya ingin membenarkan rasa yang tidak karuan menjadi lezat.
Rasanya Alice ingin sekali berteman dengan Meera, cuman dia ingat dengan misinya bersama Bram yang memberikan sebuah perjanjian pada Alice dengan imbalan yang sangat besar.
Sehingga apa yang dilihat dari Alice saat ini bukanlah Alice yang sebenarnya. Dia hanya menjalani perintah yang sudah disepakati oleh dirinya dan juga Bram.
Meera menyaksikan setiap gerak-gerik Alice membuatnya sedikit tersenyum. Ternyata Alice yang Meera kenal sebagai wanita malam, memiliki hati yang baik. Walaupun menurut Meera sangat menyebalkan, tetapi Meera bisa merasakan bahwa Alice sebenarnya orang baik.
Disinilah kecurigaan Meera pada Alice mulai keluar , sebenarnya ada apa ini. Kalaupun Alice ingin menjatuhkan Meera, lantas apa yang dia lakukan sekarang? Dia malah membantu Meera untuk membuat sarapan.
Sampai pada akhirnya beberapa menit berlalu, Alice sudah selesai memperbaiki masakan Meera. Alice segera menjauhi kompor yang sudah mati dan langsung mencuci tangannya.
"Terima kasih, karena kamu sudah menolongku untuk membuatkan sarapan." ucap Meera.
"Maaf, aku melakukan semua ini bukan semata-mata untuk membantumu, tetapi aku melakukannya ya untukku dan juga Bram. Karena aku tidak mau calon suamiku memiliki riwayat penyakit darah tinggi setelah mencicipi masakanmu hari ini!"
"Cobalah berpikir panjang. Buat apa juga aku membantumu, tidak ada manfaatnya bukan? Lagi pula aku melakukan ini hanya demi yang lain bukan demi dirimu. Jadi please ya, Cantik. Jangan terlalu percaya diri, itu enggak baik loh. Percaya diri boleh, asalkan enggak akan malu-maluin seperti ini ya, haha ...."
Alice tertawa sambil pergi meninggalkan dapur dalam keadaan posisi Meera berdiri menatap kepergiannya dengan sangat kesal. Rasanya Meera ingin sekali menjambak rambut panjang nan indah milik Alice itu, agar dia bisa merasakan apa yang Meera rasakan.
Setelah kepergian Alice, tidak lama Meera juga kembali pergi kearah kamarnya. Dimana dia harus membersihkan diri terlebih dulu sebelum menyiapkan semuanya.
__ADS_1
Meera pun melangkahkan kakinya pergi dengan perasaan yang sedikit lega, karena masakannya tidak jadi terbuang sia-sia berkat pertolongan Alice.
Tanpa Meera sadari ada seseorang yang menyelinap masuk kedalam dapur. Dia melangkahkan kakinya sambil celingak-celinguk, melihat situasi. Ketika aman dia mulai mencari sesuatu sambil membuka semua laci yang ada didapur.
Dimana sebuah toples berukurang kecil dia dapatnya dan mulai membuka tutup toples secara perlahan, bersamaan dengan itu sebuah senyuman lebar penuh arti terukir jelas diwajahnya orang itu.
Serbuk berwarna coklat tersebut merupakan salah satu bumbu, yang akan membuat salah satu dari mereka merasakan keterkejutan yang luar biasa.
"Kamu kira kamu akan lolos dari permainanku, hem? Oh, tentu tidak! Jika rencana pertama gagal, maka masih ada 1000 cara penggantinya."
"Mungkin yang pertama aku hampir saja berhasil membuat kalian tidak bisa merasakan betapa lezatnya masakan wanita itu."
"Hanya saja semua itu gagal, setelah orang asing yang berubah menjadi dewa penyelamat malah membantunya!"
"Cuman tidak apa-apa, biarkan. Lebih baik bermain cantik aja dulu, sampai akhirnya aku bisa membuat kalian semua menderita satu persatu. Terutama dirimu!"
Seseorang tersebut berbicara kecil dengan nada yang penuh pengancaman. Entah dendam apa yang ada didalam dirinya sampai membuatnya bisa melakukan hal senekat ini.
Apa lagi kita belum tahu, serbuk coklat apa yang saat ini sedang dia taburkan kedalam nasi goreng milik Meera, yang beberapa menit lalu sudah dirombak oleh Alice.
"Haha, rasain kalian! Siapa suruh bermain denganku, dan ini berlaku untuk orang asing itu! Dia sudah berani menggagalkan rencanaku, maka dengan begini pasti dia akan disalahkan oleh semuanya. Mam*pus!"
Orang itu kembali mengoceh sambil mengaduk nasi gorengnya hingga rata dan tidak akan menimbulkan kecurigaan ketika nasi goreng itu dihidangkan oleh Meera nantinya.
__ADS_1
Setelah puas, orang tersebut kembali menutup toples itu dan menaruhnya ditempat semula. Perasaan senang yang tiada tara kian menyelimuti hatinya, membuat dia langsung pergi begitu saja tanpa menggalkan jejak yang akan menyudutkan kearahnya.
...***Bersambung***...