Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Permintaan Keke


__ADS_3

Meera menjeda penjelasannya terlebih dahulu, saat pelayan membawakan pesanan mereka semua. Setelah selesai, Meera mulai menjelaskan singkat bagaimana kejadian yang sudah terjadi padanya. Lalu, di sambung dengan kejadian penjebakan yang dilakukan oleh Bella.


Disitulah, hati Keke sedikit tersentuh sama jalan cerita Meera. Cuman balik lagi, dia tidak terima dengan semua ini. Seharusnya sekarang waktunya Keke dan Hans menata impian mereka ke jenjang lebih serius, tetapi Keke malah di kejutkan sama kabar mengenai Hans dan Meera.


"Jika benar adanya kalau kalian menikah atas dasar penjebakan, terus kenapa kalian tidak pisah setelah tahu semua itu? Kenapa kalian malah meneruskan hubungan yang di dasari dengan keterpaksaan?" sahut Keke, penuh kekecewaan.


"Meskipun kita menikah di awali dengan keterpaksaan, tetapi niat kami itu sama Nona. Dimana aku dan Hans tidak mau mempermainkan tentang pernikahan, sampai akhirnya Tuhan memberikan anugerah cinta kepada kami. Sehingga kami bisa saling mencintai dan Tuhan pun menitipkan buah hati untuk kita." jawab Meera sambil mengelus perutnya dan tersenyum.


"Terus, kalau kamu tahu tentang kisahku dan Hans seperti apa. Apakah ada kemungkinan besar kamu akan melepaskan Hans, dan kembali memberikannya padaku?" tanya Keke, tatapan dipenuhi keseriusan.


Meera terdiam seribu bahasa, dia tidak tahu harus bagaimana menanggapi pertanyaan Keke yang cukup berat untuknya. Di satu sisi Meera tidak mau kehilangan suaminya, tetapi di sisi lainnya Meera sangat merasa bersalah pada Keke karena sudah merebut Hans dari tangannya. Walau sepenuhnya murni bukan kesalahannya, karena Meera dan Hans pun telah menjadi korbannya.


Hanya saja, takdir yang memang telah menyatukan Meera dengan Hans. Jadi, mau bagaimana pun masa lalu Hans, harusnya Meera bisa menerimanya lapang dada. Sama halnya seperti Keke, seharusnya dia juga bisa menerima bila jodohnya itu bukanlah Hans. Melainkan orang lain, yang entah siapa.


"Kenapa diam? Apa kamu tidak bisa mengembalikan Hans padaku? Padahal kamu yang sudah merenggutnya dan membuat dia melupakan aku. Jelas-jelas hubungan kita aja belum sepenuhnya selesai, tetapi kenapa kamu malah ingin mempertahankannya?"


"Harusnya kamu tahu, kamu itu bagaikan duri yang hadir di dalam hubungan kami. Kalau saja tidak ada kamu, aku yakin. Pasti saat ini Hans sangat senang ketika aku telah kembali. Buktinya tadi saat aku ketemu sama dia, terus aku peluk dia. Dia tidak keberatan, dia juga tidak marah. Malahan, diam-diam dia seperti menikmati dan merasakan pelukanku. Terus yang jadi pertanyaanku sekarang, kenapa kamu begitu egois?"


"Disini aku ini korban kalian berdua loh, kalian benar-benar tega mengkhianati aku. Coba deh, sedikit aja tolong ngertiin perasaanku seperti apa. Bayangkan aja bagaimana hancurnya aku, ketika aku pulang dari masa sekolahku harus menyaksikan kenyataan yang pahit ini. Padahah aku pulang, demi menemui masa depanku biar aku bisa kembali hidup bahagia lagi bersama Hans. Tapi, nyatanya? Aku harus tahu menelan semua itu pahit-pahit, hanya karena dirimu. Rasanya itu sakit, sakit banget!"

__ADS_1


"Mungkin Hans bisa mengatakan bahwa dia sangat mencintaimu, tapi tanpa kamu sadari seseorang yang memiliki masa lalu belum usai. Sampai kapanpun perasaan akan tetap muncul, dan belum bisa di nyatakan sepenuhnya telah mencintai pasangan barunya. Paham?"


"Dari pada nanti kamu mengetahui semua itu dari Hans, lebih baik kamu mengetahi semu itu dariku. Karena bisa jadi, Hans hanya berpura-pura untuk mencintaimu. Padahal dia pun tahu, jika di hatinya masih ada namaku, sampai akhirnya dia tahu aku telah kembali itu membuat dia bimbang. Satu sisi dia mencintaimu dan satu sisinya lagi dia tidak bisa melupakanku. Lantas, apakah kmu bisa memastikan bila Hans akan terus bersamamu?"


"Bagaimana jika lama kelaman Hans akan berpaling denganmu, dan dia meneruskan kisah aku bersamanya yang belum usai? Apa lagi aku ini cinta pertamanya, pasti Hans tidak akan pernah lupa tentang itu. Ya, sih awalnya Hans memnag sepenuhnya sudah mencintaimu. Cuman setelah aku kembali, apakah perasaan itu akan tetap sama untukmu atau malah kembali terbagi menjadi dua? Terus, apa yang akan kamu lakukan? Bertahan atau pergi?"


"Harusnya kamu itu malu, karena kamu sudah merenggut apa yang bukan hakmu. Kamu bisa dengan bebasnya menjalani hidup bersama Hans di penuhi oleh kebahagiaan. Bagaiman denganku? Hidupku udah hancur ketika melihat cintaku telah bersama orang lain. Aku benar-benar sangat menderita. Paham kamu, hahh!"


"Awalnya aku pergi ke luar negeri karena pada saat itu aku mendapatkan beasiswa. Tadinya aku berat sekali untuk meninggalkan Hans di sini, tapi apa boleh buat. Jika aku berhasil pasti Hans juga akan senang, bahkan aku tidak lagi merasa malu jika sewaktu-waktu media mengetahui tentang hubungan kami."


"Namun, pada akhirnya aku pun harus tetap meninggalkan cintaku. Bahkan kami telah berjanji, ketika aku pulang nanti. Kita akan langsung melangsungkan pernikahan, dengan tujuan agar kami bisa hidup bersama tanpa harus kembali berpisah. Nyatanya, apa yang aku dapat sekarang, hem?"


"Jika memang kamu tidak bisa meninggalkan Hans, karena anakmu. Aku bisa menampungnya, kamu bisa melahirkannya lebih dulu. Kemudian cerai, dan anakmu biar aku yang urus. Aku akan menjadikan dia sebagai anakku, jadi kamu tidak perlu khawatir lagi."


"Atau bisa juga, dengan cara lain. Yaitu, kamu harus bersedia membagi Hans padaku. Dengan begitu kamu tidak perlu merasa bersalah padaku, kamu tidak perlu mengkhawatirkan anakmu dan kamu juga tidak harus bercerai. Kita bisa jadi keluarga yang bahagia, Dimana kamu menjadi istri pertama, dan aku istri kedua. Bagaimana?"


Keke menjelaskan panjang kali lebar mengenai perasaannya dengan sedikit air mata, nada pembicaraan yang mulai menekan Meera dan sorotan matanya yang cukup menajam. Semua itu berhasil membuat Meera gelisah, terlihat dari gerak-gerik tubuhnya.


Terlihat sekali bila Meera sangat bimbang dengan semua yang Keke katakan. Meera memang merasa bersalah kepada Keke, Meera juga tidak mau bila anaknya lahir tanpa seorang Ayah. Akan tetapi, bukan seperti ini solusi yang terbaik untuk dia menebus semua rasa sakit di hati Keke atas kesalahannya.

__ADS_1


"A-apa tidak ada cara lain lagi untuk menebus rasa bersalahku padamu? Kenapa harus seperti itu?" ucap Meera, bibirnya bertegar hebat. Tangannya pun sudah mulai berkeringat dingin, dan sorotan matanya sangat berkaca-kaca dipenuhi oleh rasa ketakutan cukup mendalam.


Meera tidak mau, bila rumah tangganya yang kedua kalinya ini kembali gagal. Karena inilah impian Meera, dia ingin memiliki rumah tanga yang bahagia bersama pasangan yang mencintainya.


Namun, kenapa cobaannya terlalu berat. Disaat dia baru saja mau merasakan kebahagiaan, suda kembali diuji dengan masa lalu Hans yang tiba-tiba muncul. Lantas kapan giliran Meera bahagia setelah Alice?


Hati Meera saat ini rasa benar-benar sangat sakit, bagaikan ditusuk-tusuk oleh ribuan pisau yang sangat tajam. Sesak, sakit dan juga bingung, semua bercampur menjadi satu kesatuan di dalam dada serta pikiran Meera.


Dia tidak bisa memilih antara bercerai atau merelakan wanita lain menjadi madunya. Sebab, keduanya sangat menyakitkan hatinya.


"Ya hanya itu pilihannya, toh kamu yang udah merebut Hans dariku. Maka kamu pula yang harus bertanggung jawab atas semuanya!"


"Aku hanya memberikanmu 2 pilihan. Bahkan semua pilihan itu pun tidak ada yang berat kok. Kamu cuman aku suruh untuk memilih bukan berpikir! Apa susahnya tinggal pilih kembalikan Hans padaku, atau kita sama-sama memiliki Hans?"


"Disini aku sudah rela loh, membagi Hans padamu. Terus kenapa kamu rasanya berat sekali, hahh! Kamu cuman di suruh untuk memilih dari 2 pilihan itu. Kalau pun aku ada diposisi dirimu kurang dari 5 menit pun aku bisa memilih, dan aku lebih pilih merelakan Hans menikah lagi tanpa aku harus merasakan kehilangan. Simpel 'kan?"


Tanpa Meera dan Keke sadari, dari kejauhan ada seseorang yang sudah mengepalkan tangannya saat mendengar semua permintaan Keke. Rasanya dia ingin sekali merobek-robek mulut Keke, hingga tak tersisa. Supaya Keke tidak bisa lagi berbicara, atau kalau perlu memotong lidahnya itu akan jauh lebih aman.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2