
"I-iya, iya. A-aku tidak akan menguploadnya, a-aku hapus se---"
"Kirim ke nomorku dulu, baru hapus tuh video. Cepat!" titah Meera, menatap tajam.
"Hihihi ... Mam*pus loh, Bram. Lagian macem-macem sih sama pawangku ini, udah tau Bumil satu ini lagi mode sangar malah cari gara-gara. Haha ...." gumam batin Hans sambil tertawa puas.
Bram langsung mengirim video tersebut ke nomor Meera, kemudian dia menghapusnya sambil di tunjukkan pada Meera. Setelah itu perasaan Bram langsung lega, ketika burungnya telah selamat dari marapetaka.
Tak lama kemudian, sang dokter dengan beberapa suster keluar untuk membawa Alice serta anaknya ke kamar tersendiri agar mereka bisa melihat mereka setiap saat.
Malam hari, tepatnya di ruangan Alice yang terlihat sangat luas dan juga sangat nyaman. Membuat Meera sama Hans menginap di sana, karena mereka masih ingin bermain dengan Baby girl yang terlihat lucu menggemaskan.
"Aaa ... Cantik banget sih kamu, Mommy mau gendong boleh?" ucap Meera yang duduk di dekat bangkar Alice dan juga tempat tidur Baby girl.
"Boleh, Mommy. Aku juga pengen ngerasain di gendong sama Mommy, sebelum ada yang kaya aku di pelukan Mommy nanti hihi ...."
Alice terkekeh bersamaan Bram, karena telah berhasil menggoda Meera. Dimana wajah Meera terlihat begitu merah merona, sebab Meera juga sudah tidak sabar ingin melihat wajah anaknya seperti apa nantinya.
"Udah, Sayang. Gendonglah, biar kamu tidak penasaran. Hitung-hitung latihan sebelum Baby kita lahir, bener enggak?" ucap Hans, menatap Bram dan Alice.
"Nah, bener tuh. Lagian juga itu 'kan anak kalian, jadi kita besarkan mereka sama-sama ya. Jangan sampai kita pilih kasih, supaya mereka bisa tumbuh besar dengan kasih sayang yang melimpah dari kedua orang tuanya."
"Apa lagi kita 'kan tumbuh besar tanpa sosok kedua orang tua. Jadi, kita harus bisa membalas apa yang kita rasakan dulu kepada anak kita. Jangan sampai mereka merasakan apa yang kita rasakan nantinya."
Bram tersenyum melihat anaknya yang sudah berada di gendongan Meera. Hans pun yang ikut duduk di pegangan kursi sambil merangkul istrinya juga ikut senang, melihat betapa antengnya Baby girl di pelukan istrinya.
"Uhh, anak Mamah anteng ya di peluk Mommy. Aduh, Mamah jadi cemburu nih hiks ...."
Alice meledek Meera dengan tangisan bohongan, lalu terkekeh saat melihat wajah Meera yang begitu lucu ketika sedang terkejut.
__ADS_1
"Sayang, ishh ... Enggak boleh gitu, nanti juga kalau udah besar anak kita pasti malah berpihak sama Mommynya, dari pada sama kita orang tua kandungnya. Hiks, jahat ya ...."
Lagi-lagi Bram malah ikut tertawa bersama istrinya, hanya untuk sekedar menggoda Meera. Apa lagi posisi Bram saat ini sedang duduk di atas bangkar istrinya sambil membawa Alice ke dalam pelukannya.
"Aaa, Sayang. Lihat mereka, masa iya dari tadi aku di ledekin mulu kamu diam aja sih. Bela aku kek, apa kek. Ini malah diem mulu udah kaya patung." ucap Meera kesal, menatap suaminya.
"Ya aku harus gimana, Sayang. Yang dikatakan Bram dan Alice benar kok. Tuh, buktinya Babynya aja senyum-senyum di pelukanmu." ucap Hans membuat semuanya langsung menatap ke arah wajah Baby girl.
"Huaaa, cantik banget. Senyumnya persis seperti kamu, Dek. Ehh, ehh ... Lihat, matanya indah banget kaya matamu juga, Dek. Uhhh tayang, Mommy. Muuachh ...."
Meera yang gemas sama Baby girl langsung memeluknya, lalu mencium wajahnya beberapa kali. Sementara Alice hanya tersenyum menatap kebahagiaan di wajah Meera. Sama halnya seperti Hans, cuman berbeda dengan Bram. Dia malah terlihat kesal sama perkataan Meera.
"Ckk, kalau semuanya mirip Alice. Terus aku sebagai Papahnya dapat apaan coba? Mata mirip Alice, senyum juga mirip Alice. Terus aku kebagian apa?" cecar Bram, di penuhi rasa kesal.
"Astaga, Bram. Kamu ini apaan sih marah-marah enggak jelas. Aturan kamu tuh bersyukur, karena anakmu ini yang mirip Alice cuman dua. Selebihnya mirip dirimu. Lihat aja wajahnya yang oval, rambutnya yang sedikit pirang, terus dagunya yang kecil, Pokonya ini mah anak Papah dah, aku yakin." ucap Meera, berhasil membuat Bram langsung tersenyum.
"Haahh? Se-serius, Kak? Aaa, aku jadi malu. Ya memang 'kan pas kita membuat aku berdoa semoga anakku ini 80 persen mirip diriku, 20 persen mirip Alice hihi ...."
Alice yang awalnya ikut tertawa seketika langsung cemberut, saat mendengar perkataan dari Bram yang sama sekali tidak pernah dia dengar sebelumnya.
Bram sendiri langsung membolakan matanya, ketika dia keceplosan untuk mengatakan semua itu. Membuat Meera dan Hans malah terkekeh, disaat adiknya mendapat masalah.
"Sa-sayang, ma-maafin aku. A-aku--"
"Enggak mau, pokoknya aku mau kamu berdoa lagi supaya anakku mirip denganku!"
"I-iya, Sayang. A-aku berdoa semoga anak kita yang kedua nanti, bisa mirip sama Mamahnya 100 persen. Aamin ...."
Degh!
__ADS_1
"Kok yang ke dua? Ini 'kan baru satu? Kenapa malah yang ke dua?"
Alice pun menatap tajam ke arah suaminya yang benar-benar ketakutan saat melihat tatapan mengerikan itu.
"Ya habis gi-gimana, Sayang. 'Kan yang ini udah terlanjur, nanti kita bikin lagi deh. Aku janji yang kedua mirip sama kamu, serius!" ucap Bram sambil mengangkat jarinya membentuk huruf V.
Alice hanya bisa mengehenduskan napasnya kesal, sebab apa yang dikatakan suaminya memang benar. Jadi, mau tidak mau Alice hanya bisa menerima semua itu. Yang terpenting anaknya terlahir sempurna, tanpa ke kurangan satu apapun.
"Adehh, udahlah jangan pada ribut. Lebih baik sekarang kita pikirkan, kalian mau memberikan nama apa? Pokoknya harus yang cantik ya, aku enggak mau kalau namanya jelek" ucap Meera, mewanti-wanti Alice dan Bram.
Mereka berdua saling menatap satu sama lain, di penuhi oleh senyuman penuh arti. Sebelum Meera menanyakan tentang nama bayi mereka, mereka sudah lebih dulu merangkai nama yang indah untuk anaknya.
"Maura Bramalis Ivander" ucap Alice dan Bram secara bersamaan sambil menatap anak mereka penuh senyuman.
"Nama yang bagus, apa lagi ada nama gabungan kalian juga di dalamnya. Aku setuju!" ucap Hans mengangguk sambil menyentuh pipi Baby Maura.
"Aaa, nama yang cantik sama seperti orangnya. Aku suka banget namanya. Hai, Baby Maura. Ini Mommy Meera, dan ini Daddy Hans, nah yang itu orang tua kandungmu. Mamah Alice dan Papah Bram. Selamat datang di kehidupan kami, Sayangku. Pokoknya doa terbaik selalu menyertai langkahmu sampai kapanpun, cantik. Aamin ...."
Semua pun menatap penuh kebahagiaan ke arah Baby Maura, yang saat ini malah tersenyum lebar. Pertanda bahwa dia sangat menyukai namanya.
Maura Bramalis Ivander, nama putri pertama Bram dan Alice yang terlihat sangat cantik.
Tak lama, Baby Maura pun menangis. Dimana sudah waktunya Alice untuk menyusuinya. Apa lagi jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, waktunya mereka untuk beristirahat.
Meera dan Hans pun keluar dari kamar mereka menuju ruang tamu. Disana Hans sudah membawa kasur lipat untuk mereka agar Meera bisa tertidur dengan nyaman, walaupun mereka tidak berada di dalam kamar.
Rasanya Meera sudah tidak sabar untuk menunggu kelahiran anak mereka, yang masih membutuhkan waktu kurang leih 1 bulan lagi. Jadi, Meera dan Hans harus benar-benar menyiapkan semuanya sebelum menyambut kelahiran anak pertama mereka.
__ADS_1
...***Bersambung***...