
Awalnya Hans ingin sekali memarahi sang supir akibat dia telah menganggu meetingnya, hanya saja semua tidak jadi karena sang supir langsung berbicara panjang kali lebar tentang kondisi Meera dan Alice.
Disitulah konsentrasi Hans pecah, membuat dia berdiri langsung membatalkan meetingnya karena ada sesuatu yang terjadi pada istrinya. Mendengar itu semua, kolega bisnisnya pun paham dan mencoba untuk mengerti.
Bram yang merasa ingin tahu, mulai bertanya sampai Hans menyampaikan jika hal buruk bukan hanya terjadi pada istrinya. Melainkan juga pada Alice, calon istri Bram.
Kedua pria ini bergegas berlari meningalkan Perusahaan menggunakan mobil Hans. Mereka berdua berada di dalam satu mobil yang sama dan tanpa disengaja keadaan itu seperti membuat hubungan keduanya semakin lebih kompak serta sedikit membaik.
...*...
...*...
...Di rumah sakit...
Meera yang baru saja tersadar langsung membuka matanya perlahan dan mencari keberadaan Alice, wajahnya terlihat begitu khawatir jikalau dia gagal untuk menyelamatkan Alice.
"Syukurlah, Nyonya sudah sadarkan diri. Ternyata luka yang ada di dahi Nyonya tidak memberikan efek cedera yang cukup membahayakan." ucap dokter.
"Sstt, di-dimana Alice, Dok? Bagaimana keadaannya, sekarang? Dia baik-baik aja, 'kan? Dia gapapa 'kan, Dok?" tanya Meera.
Wajahnya begitu panik, ketika tidak melihat Alice ada disampingnya, dengan cepat Meera segera bangkit. Lalu, duduk diatas bangkarnya meski kepalanya masih sedikit pusing akibat benturan tersebut.
"Tenang, Nyonya tenang. Kepalamu pasti terasa sangat pusing, jadi tolong kerja samanya ya. Jangan bangkit dari tidurmu dulu, nanti bisa-bisa kondisi Nyonya akan semakin drop." jelasnya.
"Tidak, Dok! Saya harus tahu dulu bagaimana keadaan Alice, apakah dia baik-baik saja atau tidak? Karena saya sudah berusaha kuat untuk menyelamatkannya, jika gagal itu akan menjadi sebuah penyesalan seumur hidup saya!" pekik Meera.
"Baiklah, Nyonya. Saya akan menjelaskan tentang kondisi Nyonya Alice. Asalkan Nyonya bisa tenang dulu, bisa?" pintanya.
"Sudah, Dok. Sekarang jelaskan bagaimana kondisinya? Dia sehat, 'kan?" tanya Meera.
"Ibu dan janin yang ada di dalam perut Nyonya Alice semuanya sehat dan baik-baik saja, cuman Nyonya Alice harus memerlukan perawatan selama kurang lebih 3 hari kedepan. Semua itu guna menstabilkan kondisi janinnya yang sedikit melemah akibat kondisi Nyonya Alice yang terlihat begitu setres."
Degh!
Penjelasan sang dokter berhasil membuat Meera langsung terdiam seribu bahasa. Wajahnya kian memucat ketika mengetahui bahwa Alice sedang hamil, yang mana sudah dipastikan itu adalah anak dari Bram.
"Ja-janin, Dok? I-itu tandanya di-dia hamil? Ta-tapi, apakah Alice sudah mengetahui semua ini?" tanya Meera.
__ADS_1
"Belum, Nyonya. Kondisi Nyonya Alice masih dalam keadaan tertidur, mungkin saat kecelakaan itu terjadi, dia begitu syok dan janinnya pun ikut terkejut. Cuman, tenang saja keadaannya sudah jauh lebih baik. Dan dia juga sudah di pindahkan ke ruangan inap di lantai 7 Block Raflesia kamar nomer 12." jawab dokter.
"Baiklah, Dok. Terima kasih atas informasinya, saya akan melihat keluarga saya dulu. Sekali lagi terima kasih."
Meera tergesa-gesa turun dari bangkar, membuat sang dokter berusaha untuk menahannya.
Berbagai cara mereka lakukan agar bisa menahan Meera, karena kondisinya sedikit belum stabil. Cuman, percuma. Semuanya sia-sia akibat Meera yang berusaha memberontak.
Entah mengapa Meera seperti mulai menyayangi Alice bagaikan adiknya sendiri, meski beberapa kali Alice sempat menyebalkan dan selalu membuatnya kesal.
Bagi Meera tetap saja itu sebagian dari rasa kasih sayang mereka yang semakin hari semakin terlihat seperti adanya ikatan persaudaraan, antara Adik dan Kakak.
Meera keluar dari ruangan UGD, membuat sang supir yang berjaga langsung mencoba untuk mendekatinya.
"Nyonya, apakah Nyonya sudah jauh lebih baik? Kenapa Nyonya sudah diperbolehkan keluar dari ruangan, bukannya kata dokter Nyonya harus istirahat sampai beberapa jam ke depan?"
Meera menoleh dan menatap sang supir dengan tatapan penuh harapan. "Kenapa Bapak ada disini? Kenapa tidak berjaga di depan ruangan Alice saja? Bagaimana jika ada apa-apa dengannya?" sahut Meera.
Sang supir itu menundukkan kepalanya, dia tidak tahu harus menjawab apa lagi. Karena disini yang menjadi majikannya adalah Meera, bukan Alice jadi dia lebih mengutamakan kondisi Meera dari pada Alice yang tidak memiliki status apapun.
Rasanya Meera ingin sekali memarahi supirnya karena merasa greget, akan tetapi Meera juga tidak bisa memarahinya. Berkat dia, mereka bisa segera ditangani oleh dokter. Harusnya Meera berterima kasih, sudah sempat di tolong olehnya.
"Sayang!"
"Meera!"
Kedua orang itu berteriak secara bersamaan, dimana mereka adalah Hans dan Bram. Meera kembali berbalik melihat suaminya berlari dalam keadaan cemas dan langsung berhampur memeluk serta menciuminya.
"Sayang, kamu gapapa 'kan? Apa yang sakit? Apa yang terluka? Terus bagaimana keadaanmu, apa kata dokter?"
"Semua baik-baik aja 'kan, dan kamu juga enggak sampai ada luka dalam, 'kan? Aku serius, jawab aku Sayang. Jawab!"
Hans melepaskan pelukannya lalu mengecek semua kondisi istrinya, dirasa hanya ada luka ringan di dahinya membuat Hans segera meraup wajah Meera dan menatapnya secara mendalam.
Akan tetapi, kecemasan di wajah Hans buyar setelah melihat tatapan Meera melirik ke arah Bram yang saat ini berdiri di dekat sang supir.
Wajah Bram sebenarnya terlihat sedikit mengkhawatirkan Meera, cuman tanpa di sadari dia juga mencari keberadaan Akice yang entah dia sendiri pun tidak tahu dimana.
__ADS_1
"Kenapa, Sayang. Kenapa kamu malah melihat Bram? Aku ini suamimu loh, aku yang mengkhawatirkanmu. Cuman kenapa yang kamu tatap malah Bram? Apakah kamu masih mencintainya?" tanya Hans, antusias.
Berulang kali Meera tidak mengalihkan tatapannya, karena sebenarnya bukan cinta yang membuatnya seperti ini. Melainkan tatapan Meera itu merupakan tatapan amarah.
Meera tidak menyangka jika Bram bisa membuat seorang wanita hamil tanpa memiliki status yang jelas.
Meera menyingkir dari Hans membuat dia sedikit bingung, karena melihat tatapan istrinya begitu kesal terhadap Bram membuat semuanya pun menjadi penasaran.
Dan ....
Plakk!
Satu tamparan mendarat di pipi mulus milik Bram, hingga dia sedikit menoleh ke arah kanan sambil memegangi pipi kirinya.
"Apa-apaan ini, hahh! Kenapa lu tampar gua kaya gini, apa salah gua, hahh!" bentak Bram.
Matanya melotot menatap Meera penuh amarah, satu sisi dia memang mengkhawatirkan kondisi Meera. Cuman sisi lainnya dia tidak terima atas perlakuan Meera yang seenaknya menamparnya tanpa memberitahu penyebabnya lebih dulu.
"Stop, Bram! Jangan membentak istriku, paham!" bentak Hans, tidak terima istrinya yang membentak oleh adiknya.
"Istri lu duluan yang tiba-tiba nampar gua, ngaku cewek tapi punya tangan kok enteng banget kek enggak di sekolahin!" sahut Bram.
"Bram! Sekali lagi kamu menjelekkan istriku maka aku akan---"
"Akan apa, hahh? Lu juga mau nampar gua, nonjok gua, bu*nuh gua? Sok, silakan!" tantang Bram.
"Sudah cukup! Ini rumah sakit jangan pada ribut disini. Kamu mau tahu 'kan kenapa aku menamparmu?"
"Jawabannya cuman satu, yaitu saat ini Alice sedang mengandung anakmu, jika aku telat sedikit saja menyelamatkan Alice. Sudah bisa di pastikan anakmu telah tiada untuk selamanya!"
Degh!
Penjelasan Meera saat ini seperti menampar hati Bram berkali-kali, dia tidak menyangka jika Alice sampai mengalami hal ini.
Padahal mereka melakukan hubungan selalu dengan cara yang aman, akan tetapi Bram seketika langsung mengingat kejadian beberapa minggu lalu.
Dimana merekaa melakukan hubungan tepat saat Alice sudah bebas, disitulah beberapa kali Bram mengeluarkannya di dalam. Dan, baru inilah dia menyadari perbuatannya. Meskipun Bram begitu syok, tidak terima. Entah mengapa hatinya malah merasa bahagia ketika mengetahui bahwa Alice telah mengandung anaknya.
__ADS_1
...***Bersambung***...