Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Dasar Pelit!


__ADS_3

"Nanti ya, Tuan. Biarkan si kecil merasakan detak jantung Ibunya terlebih dahulu. Setelah kembali di bersihkan barulah, Tuan bisa memeluknya sampai kapanpun. Prosesnya tidak lama kok, hanya sekitar 10 menit saja. Setelah itu kami akan membersihkan Ibu dan bayinya, supaya bisa segera di pindahkan ke ruangan inap lainnya. "


Penjelasan dokter membuat Bram sedikit kecewa, cuman dia tetap tersenyum. Walau sekarang dia belum bisa memeluk anaknya, tetapi dia senang. Bisa melihat anaknya yang sekarang sudah ada bersama mereka.


Setelah kurang lebih 10 menit, Bram pun keluar dari ruangan dalam keadaan wajah bahagia. Sementara anak dan istrinya akan di bersihkan terlebih dahulu, sekalian untuk membawanya ke kamar yang baru.


Ceklek!


Pintu terbuka bersamaan dengan wajah Bram yang terlihat sembab penuh kebahagiaan saat dia sudah menjadi seorang Ayah.


"Bra-bram? Ka-kamu kenapa? A-alice baik-baik aja, 'kan?" tanya Hans, ketika melihat wajah Bram.


"Bram, adik dan keponakanku selamat 'kan? Please, jawab aku, Bram. Jawab!" ucap Meera, khawatir.


Bram yang tidak bisa berkata apa-apa, langsung memeluk sang Kakak begitu erat. Dimana semua tangisannya pun tumpah, membuat Hans dan Meera menjadi semakin khawatir. Apa maksud dari tangisan Bram saat ini? Apakah Alice dan anaknya selamat ataukah mereka tidak tertolong?


Jawaban itulah yang dari tadi mereka tunggu-tunggu, sampai akhirnya Bram pun membuka suara sambil melepaskan pelukannya.


"Kak, a-aku udah jadi Papah. Dan Kakak tahu, a-anakku perempuan, Kak. Perempuan hiks ...." ucap Bram, terharu ketika impiannya memiliki anak perempuan telah tercapai.


"Syukurlah, akhirnya impian kalian tercapai. Selamat, Dek. Selamat!" sahut Hans yang kembali memeluk Bram dengan bangga.


"Bram, selamat. Sekarang kamu sudah menjadi seorang Papah, aku bahagia mendengarnya. Sekali lagi selamat ya." ucap Meera tersenyum sambil meneteskan air mata bahagianya.


Bram melepaskan pelukan Kakaknya dan menoleh ke arah Meera, serta menunjukkan wajah bahagianya. "Terima kasih, Kak. Terima kasih!"


Saat Bram ingin memeluk Meera saking bahagianya. Tiba-tiba saja Hans langsung berdiri tepat di depan istrinya, sehingga yang di peluk Bram bukanlah Meera, melainkan Hans.


"Jangan mentang-mentang kau lagi bahagia, sampai lupa bila Meera ini adalah istriku!" ucap Hans penuh ketegasan.


Bram yang baru saja menyadari kesalahannya langsung melepaskan pelukannya sambil menyengir ala kuda


"Ehh, Kakak. Heheh ... Ya-ya maaf, a-aku cuman refleks aja loh. Lagian Kakak ipar juga tidak masalah ya 'kan, Kak?" ucap Bram mengalihkan tatapan Hans, dan menatap Meera.


Dimana Meera terdiam mematung saat mendengar perkataan Bram yang sangat langka. Sedangkan Hans, tidak menyadari kalau ada kata-kata yang ganjal dari Bram untuk istrinya.


"Ta-tadi kamu bilang apa, Bram? Ka-kakak?" ucap Meera, syok.

__ADS_1


"Ya, Kakak. 'Kan kamu sudah jadi Kakakku, masa iya mau aku panggil Ibu lagi, hem?" sahut Bram, menaik-naikan alisnya.


"Hyaakk, enggak mau! Maunya Kakak aja lebih manis, aaa ... Bram sumpah, aku bahagia banget!"


Degh!


Bram terdiam mematung ketika Meera malah memeluknya dengan spontan. Baru aja tadi Hans menghalangi Bram agar tidak menyentuh istrinya, tetapi percuma saja. Dia pun tetap kecolongan, lantaran Meera malah memeluk Bram tanpa adanya rasa bersalah.


Hans langsung refleks membolakan matanya melihat pemandangan yang begitu menyakitkan. Dimana Meera tega memeluk pria lain, walaupun itu adalah adik iparnya sendiri.


"Yaakkk, Sayang! Kamu ngapain sih malah meluk-meluk Bram. Baru juga tadi aku ngehalangi Bram biar enggak bisa meluk kamu, ini malah kamu yang nyosor duluan. Percuma dong aku ngehalangi, kalau akhirnya Bram dapat juga pelukan dari kamu!"


"Ckk, menyebalkan! Apa kau lupa, Bram. Istrimu itu baru juga melahirkan putrimu, ini malah udah genit sama bini orang. Dasar buaya rakus!"


Hans langsung menarik Meera ke dalam pelukannya, sambil menatap tajam ke arah adiknya yang saat ini hanya bisa tersenyum. Seolah-olah Bram meledeknya dengan tatapan yang penuh arti.


"Ishhh, apaan sih Hans. Bram 'kan adikmu, berarti dia juga adikku. Jadi aku boleh dong peluk-peluk dia, ya 'kan Bram? Kamunya aja yang dasarnya pelit, wleee!" ledek Meera, kembali memeluk Bram.


"Huhh, iya dong. Dasar pelit, wleee!"


"Lepaskan istriku atau--"


"Atau apa, hem?" tantang Meera, matanya langsung menatap tajam ke arah suaminya.


Awalnya Hans sudah mulai terbawa emosi, seketika langsung menciut saat di tatap oleh istrinya yang baru saja melepaskan pelukan Bram.


"Sa-sayang? Ka-kamu kok tega banget meluk pria lain di depan aku? Apa kamu udah enggak sayang lagi sama aku?" tanya Hans, matanya mulai berkaca-kata.


"Ya, memang kenapa?" sahut Meera, demgan maksud bercanda.


"I-itu artinya, ka-kamu bakalan ninggalin aku dong? Huaaa, Sayang jahat, jahat, jahat! Hiks ...."


Tangis Hans pecah ketika melihat tatapan tajam dari istrinya yang malah lebih memilih untuk membela Bram, dari pada dirinya.


Hans langsung duduk di lantai rumah sakit sambil menendang-nendang, serta merengek bagaikan anak kecil yang lagi ngambek dengan Ibunya.


Melihat aksi itu, membuat Bram tertawa terpingkal-pingkal. Sebab ini untuk pertama kalinya dia melihat kejadian langka, dimana seorang Hans yang terbilang kaku dan juga cuek, bisa sebucin ini pada seorang wanita.

__ADS_1


Sementara Meera, dia menatap jengah melihat suaminya yang malah membuatnya kesal. Bahkan ada beberapa orang yang menatap Hans, kemudian tertawa membuat Meera menjadi malu.


"Astaga, Hans! Bangun enggak, atau aku--"


"Hiks ... Sayang jahat! Sayang malah lebih memilih membela Bram dari pada aku, padahal ada aku disitu. Cuman kenapa kamu malah memilih memeluk Bram yang bukan suamimu, jangan bilang kalau kalian masih ada rasa? Huaaa ...."


Suara rengekkan tangis Hans semakin menjadi-jadi, sementara Meera cuman terdiam menahan tawanya dan tidak langsung merangkul atau memeluk Hans seperti Bram. Semua itu terjadi, akibat adanya rasa cemburu di hati Hans. Sehingga membuat pikirannya melayang kemana-mana.


Sampai akhirnya Meera mulai merasa kasian melihat suaminya sudah guling-guling di lantai, segera merangkul dan membujuknya supaya tidak lagi merasa cemburu. Sebab yang ada di hati Meera hanyalah Hans, bukan Bram.


"Uhh, tututu ... Sayangku, bangun yuk! Sini peluk aku, sini!" ucap Meera dengan suara lembutnya sambil merentangkan kedua tangannya dan tersenyum.


"Aaaa, Sayang!"


Hans langsung berdiri dan memeluk istrinya dengan sangat erat. Dimana Meera hanya bisa tertawa kecil saat tahu, bila suaminya bisa juga menjadi anak kecil kalau dia sudah merasa tersingkirkan.


"Astaga, Kak. Hahah, sumpah ini lucu banget. Aku masukin tiktok bisa langsung FVP nih hahah ...." ledek Bram, saat melihat rekaman Hans ketika mode ngambek.


"Huaaa, Sayang. Masa diam-diam dia mengambil videoku, aaaa hiks ...." rengek Hans, mencari perlindungan.


"Sampai kau upload video suamiku, jangan harap burungmu masih utuh!"


Degh!


Kali ini ancaman Meera tidak main-main, semakin perutnya membesar semakin pula membuat Meera bertingkah aneh. Terkadang dia bisa manja, pemarah, emosi, dan juga bisa menjadi orang yang kejam. Itulah mood seorang Bumil.


"I-iya, iya. A-aku tidak akan menguploadnya, a-aku hapus se---"


"Kirim ke nomorku dulu, baru hapus tuh video. Cepat!" titah Meera, menatap tajam.


"Hihihi ... Mam*pus loh, Bram. Lagian macem-macem sih sama pawangku ini, udah tau Bumil satu ini lagi mode sangar malah cari gara-gara. Haha ...." gumam batin Hans sambil tertawa puas.


Bram langsung mengirim video tersebut ke nomor Meera, kemudian dia menghapusnya sambil di tunjukkan pada Meera. Setelah itu perasaan Bram langsung lega, ketika burungnya telah selamat dari marapetaka.


Tak lama kemudian, sang dokter dengan beberapa suster keluar untuk membawa Alice serta anaknya ke kamar tersendiri agar mereka bisa melihat mereka setiap saat.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2