
"Huhh, baiklah. Sekarang mau makan apa? Dimana?" tanya Hans dengan nada yang mulai melembut.
"Hem, dimana ya yang enak?" Meera mengetuk-ngetukkan jarinya di dagunya seraya berpikir menatap langit mobil. "Ahaa, gimana kalau kita makan di sana?" Meera menunjuk ke arah depan, dengan antusias dan tersenyum lebar.
Mata Hans mengikuti arah yang Meera tunjukkan di depan sana. Tanpa disangka Hans refleks mengerem mobilnya secara mendadak ketika menatap apa yang Meera tunjukkan.
Ciiitt!
"Astaga, Bee! Kamu ini apa-apan sih. Untung aja aku enggak kenapa-kanapa, coba kalau palaku sampai terbentur dasbor mobil terus aku pingsan, bangun-bangun lupa ingatan. Pokoknya lupa dengan semuanya bahkan kamu, bagaimana? Sia-sia dong tadi aku ngungkapin perasaanku!"
Meera mengomelin Hans dengan perasaan kesal, tetapi Hans tidak menggubris itu. Matanya malah fokus pada lapak warung pinggir jalan yang terlihat tidak higenis.
Pecel Lele Bang Tigor adalah sebuah warung kecil yang terletak dipinggir jalan, menjadi pilihan Meera. Udah lama sekali Meera tidak memakan makanan seperti ini, semenjak dia menginjakkan kaki di rumah keluarga Ivander.
Kebiasaan yang Meera lakukan bersama dengan sang Ayah, hilang begitu saja. Lalu tergantikan dengan makanan enak yang selalu ada diatas meja makan tepat pada waktunya, tanpa harus membuatnya lebih dulu.
Sehingga, Meera sedikit lupa akan rasa dan juga kenikmatan makan dipinggir jalan. Apa lagi sambil mendengar kebisingan kendaraan yang lalu lalang, membunyikan suara klason ataupun suara gludakan ketika menerjang jalan berlubang.
"Ka-kamu enggak salah mau makan disana?" tunjuk Hans, langsung menoleh kearah Meera dengan tatapan aneh.
"Iya, kenapa? Apa salah aku mau makan disitu? Kan enggak, jadi ayo kita makan aku sudah lapar banget ini."
Meera segera memakai tas selempangnya lalu, dia keluar dari mobil dengan wajah tersenyum senang. Karena sebentar lagi dia akan memakan makanan yang sudah lama tidak dia makan.
Perlahan Meera menolah-noleh untuk memastikan jika jalanan sudah mulai sepi agar dia bisa menyebrang dengan leluasa. Hans yang melihat Meera sedikit ketakutan akibat jalanan itu terlalu ramai, membuat Hans langsung keluar dan menarik tangan istrinya.
__ADS_1
Meera menoleh dan menatap suaminya. "Astaga, Bee. Kamu ini buat aku kaget aja, kenapa sih. Aku mau ke sana, isshh lepasin."
"Kita makan di Restoran aja ya jangan disitu, nanti bisa-bisa perutmu sakit. Aku enggak mau istriku sampai keracunan, jika makan ditempat seperti itu. Udah ayo kita pergi dari sini," Hans menarik tangan Meera hingga membuatnya menolak keras sambil mencoba melepaskan tangannya.
"Ishh, enggak mau. Pokoknya aku mau makan disini, titik! Kalau kamu mau makan di Restoran yaudah kamu aja sana makan sendiri, aku juga bisa pulang naik taksi kok. Dahlah aku mau makan, laper. Lepasin enggak!"
Terlihat wajah Meera begitu kesal saat suaminya selalu melarangnya, padahal dia ingin sekali memakan di tempat itu. Seolah-olah Meera ingin kembali mengingat masa-masa bersama dengan mendiang almarhum Ayahnya.
"O-oke oke, aku ikut. Tunggu disini, aku mau parkir mobil dulu sebentar. Awas kalau kamu nyebrang sendirian, aku hancurin itu warung!" ancam Hans membuat Meera tersenyum lebar melihat kekhawatiran di wajah suaminya.
"Siap, suamiku. Muach," Meera memberikan sun jauh dari tangannya kepada suaminya yang saat ini ingin memasuki mobil, lalu memarkirkan mobilnya di lapak yang lebih luas.
Untungnya disebrang jalan ada lapak kosong yang cukup untuk Hans memarkirkan mobilnya. Jika tidak bisa dipastikan Hans dan Meera harus makan dalam mode cepat tanpa mengunyah, agar mobil Hans tidak menimbulkan kemacetan yang panjang.
Kurang lebih 5 menit, Hans kembali dihadapan Meera sambil menggenggam tangannya. Kemudian mereka berjalan bersama sambil menyebrangi mobil, dimana Hans menjaga ketat istrinya agar tidak sampai terluka.
Sesampainya di tempat itu, Meera dan Hans sedikit menunduk lalu masuk ke dalam tenda dengan mata Hans yang terkejut saat melihat beberapa piring kotor masih berada diatas meja, begitu juga dengan kucing-kucing nakal yang asyik memakan tulang belulang.
Meera langsung menarik Hans untuk duduk di salah satu meja yang masih berantakan. "Kita makan di Resto aja yuk, lihatlah ini. Tempat apaan coba, udah tahu orang habis makan bukannya cepat di bereskan ini malah di biarkan seperti ini," bisik Hans dengan kesal.
"Sstt, jangan berisik. Udah diam saja duduk anteng, aku akan pesankan semuanya nanti kamu tinggal cobain satu-satunya pasti dijamin rasanya enak kok dan akan membuat kamu ketagihan." ucap Meera langsung memanggil salah satu Abangnya yang sedang sibuk membuatkan pesanan yang lain.
"Abang, mau pesen dong." ucap Meera sedikit mengencangkan suaranya.
"Ahya, Kak. Sebentar ya, saya bungkusin ini dulu." jawab Abangnya yang sedikit nanggung.
Setelah beberapa menit, Abangnya pun datang dengan mencatat apa yang akan mereka pesankan. Hans hanya terdiam sesekali matanya menatap jijik kearah meja beserta kucing-kucing yang berkeliaran dengan rupa yang sangat menjengkelkan.
__ADS_1
"Ckk, ini kucing apaan sih. Kenapa matanya ada yang hilang satu, terus itu juga kenapa bulunya botak begitu, lah itu juga kenapa jalannya rada pincang?"
"Astaga, ini tempat apaan sih. Kalau begini nyesel udah nyuruh dia milih tempat, kirain akan memilih Resto, Cafe atau tempat lebih higenis gitu. Ini malah tempat-tempt aneh seperti ini yang dijadikan pilihan. Dasar wanita aneh!"
Batin Hans berbicara dengan kesal, saat menatap istrinya yang sedang asyik memesan beberapa menu andalannya yang membuatkan kangen. Setelah selesai, Abangnya meminta maaf karena baru bisa membersihkan mejanya akibat banyak pesanan yang harus mereka kerjakan, agar pelanggan tidak kecewa.
Setelah meja bersih, tak lama 3 mangkuk kecil dari aluminium di taruh diatas meja yang berisikan air untuk mencucu tangan.
"Itu apa? Air minum? Kenapa aja jeruk nipisnya? Kok enggak ada esnya? Terus kenapa enggak pakai gelas? Apa harus penampilannya seperti itu?"
Pertanyaan-pertanyaan Hans mampu membuat Meera sedikit malu, karena banyak orang yang menatap kearahnya. Cuman, Meera tetap menunjukkan senyuman manisnya membuat semuanya pun tersenyum walaupun menatap Hans dengan perasaan aneh.
"Mbak, itu Masnya belum pernah makan di pecel lelekah? Soalnya keliatannya dia tidak nyaman makan ditempat kaya gini?"
"Ahya, benar. Kayanya Masnya itu orang kaya deh, pasti dia terkejut ketika pacarnya mengajak makan di tempat seperti ini."
"Seharusnya Masnya beruntung loh, punya pacar kayak Mbaknya. Udah cantik, ramah, manis, tidak malu lagi makan di tempat seperti ini. Karena jarang loh, menemukan wanita yang mau diajak susah. Sedangkan Mbaknya malah mengajak Masnya makan disini, bukan di Restoran."
Hans mengerutkan dahinya menatap heran kepada mereka semua, ya memang benar apa yang mereka katakan. Kalau Hans beruntung punya istri seperti Meera yang tidak pernah neko-neko, seperti wanita lainnya.
Namun, bagi Hans bukan masalah beruntung atau tidaknya. Melainkan ini pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di tempat seperti ini yang sangat asing untuknya.
"Hehe, terima kasih Bu, tapi maaf. Kami ini suami istri bukan pasangan kekasih, dan maaf juga jika suami saya membuat kalian bingung. Maklum, ini pertama kali saya ngajak dia ngadate di tempat seperti ini."
Meera tertawa kecil menutupi rasa canggungnya ketika mendengar semua perkataan para pembeli yang mendukung dirinya. Bahkan tidak diduga-duga mereka malah mendoakan pernikahan mereka supaya langgeng dan tidak ada yang bisa memisahkan mereka kecuali maut.
...***Bersambung***...
__ADS_1