Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Menemui Deo


__ADS_3

Hans hanya bisa menikmati keadaan langka ini, rasanya sangat nyaman saat dirinya dimanja oleh istrinya sendiri.


Ya mungkin Hans sudah sadar jika dia mulai menaruh hati pada Meera, akan tetapi perasaannya itu langsung kalah dengan kenyataan bahwa Meera dan Bram pernah bersama.


...*...


...*...


...Di BAR, milik Deo....



Bram dan Alice baru saja sampai di parkiran BAR dalam keadaan yang masih sangat sepi. Jelas sepi, karena ini masih siang hari menjelang sore, dan tidak banyak pelanggan datang kesini.


Berbeda jika sudah masuk jam 8 malam keatas maka bisa dipastikan semua mobil, motor akan berjejer di parkiran.


Mereka turun dari mobil, lalu berjalan perlahan memasuki BAR. Dimana Bram terlihat biasa saja, sedangkan Alice terlihat begitu tegang dan juga gugup.


Alice berjalan sedikit dibelakang Bram sambil mengigit-gigiti jarinya perlahan, hanya itu yang bisa dia lakukan untuk mengurangi rasa gugupnya.


Menyadari bahwa Alice tidak ada di sampingnya, Bram pun berhenti lalu berbalik dan menatap Alice yang seketika mengerem langkahnya secara mendadak.


"Ngapain di belakang? Mau jadi bodyguard gitu?" ucap Bram, kesal.


"Hehe, ma-maaf aku-- Bram ish, lepasin tangamu enggak!" Alice terkejut saat Bram sudah berada disampingnya sambil memeluk erat pinggangnya.


"Sstt, berisik! Udah diem jangan banyak omong, orang udah biasa dipegang-pegang juga masih aja malu Dasar aneh!" ucap Bram menatap tajam kearah Alice sambil menunduk sedikit.


"Ckk, menyebalkan. Kenapa harus bawa-bawa itu sih, hump ...." Alice yang kesel hanya bisa mengembungkan pipinya.


"Astaga, kenapa dia lucu banget sih jika seperti ini. Arrrghh, rasanya ingin memakannya, ehhh ta-tapi enggak boleh. Ingat dia itu wanita baik jadi jangan sampai kamu menodainya kembali." gumam Ace dalam batinnya.


"Yakk, udah-udah stop jangan seperti itu. Atau aku akan bisa memakanmu disini mau?" Perkataan Bram berhasil membuat Alice menoleh menoleh dengan wajah memerah.


"Be-bercanda - bercanda. Udah ayo, masuk." sahut Bram mengalihkan pembicaraannya. Kemudian mereka pun masuk kedalam dengan langkah yang sama, bagaikan pasangan kekasih serasi.

__ADS_1


Semua karyawan menatap ke arah Alice yang saat ini terlihat mesra, langsung terkekeh serta meledeknya membuat Alice merasa malu. Baru kali ini, ledekan dan candaan mereka berhasil melukis blush on tebal dipipinya.


Biasanya Alice sama sekali tidak pernah memiliki rasa malu yang berkelanjutan seperti saat ini, cuman entah mengapa kali ini berbeda.


"Ekhem, kayanya Alice kita sudah menemukan jodohnya nih,"


"Wahh, tidak sia-sia dong ya kan. Dia menjelajahi dunia, ternyata tidak sengaja menemukan seorang yang sudah lama tidak kunjung datang. Saat kembali hadir, membuat mereka terikat satu sama lain. Hihi ...."


"Arrghh, Tuan Bram. Aku udah lama menunggumu, tapi Tuan malah mengkhianatiku dengan dia. Huhh, sungguh sakit hati ini Tuan."


"Aishh, drama. Udah ayo, kerja kerja kerja. Biar kita bisa mendapatkan Pangeran seperti Alice mendapatkan Tuan Bram."


Semua karyawan yang meledek Alice dan Bram pun pergi begitu saja, sementara mereka berdua wajahnya sudah sama-sama memerah menahan malu.


Hingga akhirnya Bram kembali melanjutkan langkahnya, sambil berusaha menetralkan degup jantungnya yang kian berdetak sangat cepat.


"Dimana ruangan Deo?" ucap Bram, menoleh kearah Alice.


"Disana, ayo aku tunjukkan. Cuman aku enggak tahu sih jam segini Tuan Deo ada diruangan atau tidak. Karena dia jarang banget jam segini berada di BAR." jelas Alice.


Perlahan mereka pun mengetuk pintu ruangan Deo, dan hanya selang beberapa detik Deo pun menyuruh mereka masuk.


"Ya, masuk!" Pintu terbuka lebar bersamaan dengan munculnya Bram dan Alice, mereka berjalan mendekati Deo yang sudah duduk di sofa panjangnya


"Wah, ada angin apa nih kompak banget ke sini? Jangan bilang kalian udah mulai jatuh hati satu sama lain, wkwk ...." Deo berbicara dengan nada meledek, karena baru kali ini Bram bisa terjebak di dunia hitam bersama wanita sewaannya.


"Berisik lu, ohya. Gua sama Alice mau ngomong sesuatu sama lu, kali ini serius ya enggak bercanda!" ucap Bram, mewanti-waniti bahwa Deo akan menganggap apa yang nanti dia ucapkan sebagai candaan.


"Wiss, selow. Ohya, Alice bisa tolong ambilkan minuman. Soalnya temanku ini akan berbicara dengan serius, jadi jangan sampai tenggorokannya kering." ucap Deo, menyindir.


Alice pun mengangguk perlahan, lalu pergi mengambilkan minuman untuk mereka. Dimana Bram langsung menatap Deo dengan serius, sementara Deo terus ngebanyol agar suasana tidak semakin menegangkan.


"Gimana, gimana? Apa yang mau lu katakan, hem? Kayanya serius banget."


"Jangan bilang lu mau minta izin sama gua untuk melamar Alice? Wahh, gerak cepat ya ganteng hihi ...."

__ADS_1


Deo semakin menggoda Bram hingga wajahnya semakin memerah, tetapi dia tetap berusaha cool didepan Deo yang selalu menebar lelucon.


"Stop ya, De. Gua pengen ngomong serius masalah Alice." ucap Bram, datar.


"Alice? Kenapa dia? Perasaan dia baik-baik aja." sahut Deo, bingung.


"Lu tahu kan tujuan dia kerja disini untuk membiayai Neneknya yang sedang koma, maka dari itu gua mau lu lepasin Alice dari dunia ini. Karena gua akan menanggung semua biaya Neneknya sampai sembuh." tegas Bram, berhasil membuat Deo terdiam.


Awalnya Deo duduk dengan posis santai, tetapi setelah mendengar ucapan Bram membuat Deo menjadi tegang.


"Ma-maksudnya?" ucap Deo, mode serius.


"Ya, gua mau narik Alice agar dia bisa bekerja lebih layak dan juga baik untuk kesehatan mentalnya. Gua tahu dia melakukan semua ini karena tertekan untuk membiayai Neneknya."


"Apa lagi dia masih sangat muda, De. Kehidupannya masih sangat panjang, jangan sampai dia punya masa depan yang curam hanya demi keinginan menolong Neneknya."


Bram menjelaskan semua perjuangan Alice untuk menolong Neneknya hingga dia terjun bebas ke dalam dunia seperti ini.


Disaat perbincangan mereka mulai serius satu sama lain, tiba-tiba Alice datang membawakan sebuah minuman dengan kadar alkohol rendah, guna membasahi tenggorokannya yang mulai mengering.


"Maaf aku telat, tadi aku ngobrol dulu sebentar sama temanmu. Ini di minum!" Alice menuangkan minuman tersebut ke dalam gelas kecil dengan takaran yang adil.


Setelah satu tenglak minuman lolos di tenggorokan Deo, dia langsung menatap ke arah Alice dan berkata. "Apa kamu serius mau keluar dari pekerjaan ini, lis?"


Pertanyaan Deo membuat Alice menatap Bram, dimana Bram mengangguk kecil pertanya bahwa dia mau Alice mengatakan iya pada Deo.


Alice kembali menatap Deo, dan berkata. "Sebenarnya berat untukku meninggalkan pekerjaan ini, Tuan. Apa lagi dari pekerjaan ini aku bisa membiayai pengobatan Nenek."


Cuman, saat Tuan Bram hadir dengan segala kebaikannya. Aku sadar jika aku harus berani mengambil keputusan demi kelangsungan masa depanku sendiri."


Penjelasan Alice membuat Bram tersenyum kecil, sementara Deo terdiam memikirkan jawaban apa yang harus dia abil. Karena bagi Deo, Alice adalah sumber penghasilannya.


Semenjak Alice hadir, omset BAR-nya melonjak tinggi. Servisan yang dihasilkan Alice pun membuat para pelanggan ketagihan. Bahkan semenjak Alice bersama Bram, banyak sekali pelanggan yang kecewa karena tidak bisa merasakan surga dunia bersamanya.


Namun, mau bagaimana lagi. Masih ada beberapa wanita lainnya yang juga mendekati servisan seperti Alice, meskipun rasanya tidak sehot Alice.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2