
Windi berjalan dan berdiri di hadapan Bram, sementara Bram dia melepaskan tangan Alice lalu mendekati wanita itu dan mencekram kuat rahangnya. Windi yang merasa kesakitan hanya bisa menangis dan menangis.
Meera beserta Alice melihat itu hanya bisa memekik keras, mereka tidak tega melihat Windi. Meskipun mereka kecewa bercampur kesal, tetapi cara Bram memperlakukan Windi yang salah.
"Astaga, Bram! Kamu itu kasar banget sih, dia ini lagi hamil. Apa kau buta, hahh!" pekik Meera mulai terbawa suasana, sambil membuat Windi kembali berdiri dengan benar.
"Jangan pernah sekali-kali lu sentuh gua, paham! Dan sorry, gua enggak kenal sama lu. Lebih baik lu pergi dari sini, sebelum gua bersikap lebih kasar dari ini!" ancam Bram.
"Hiks, kamu tega Bram. Kamu tega berbicara seperti itu, pasti karena dia 'kan? Tunjuk Windi ke arah Alice.
"Dia itu cuman wanita murahan, menjebakmu dengan cara menjual atad nama bayi yang ada di dalam kandungannya, sedangkan aku? Aku ini istrimu dan kita menikah karena cinta."
"Jadi, aku mohon jangan tinggalin aku Bram. Kamu 'kan udah janji mau merayakan pernikahan kita setelah anak kita lahir, terus kenapa kamu malah berubah pikiran seperti ini!"
Windi berjalan dan berdiri di hadapan Bram, sementara Bram dia melepaskan tangan Alice lalu mendekati wanita itu dan mencekram kuat rahangnya.
Windi yang awalnya merasa penuh kemenangan, sakarang merubah menjadi ketakutan dan sedikit merasa kesakitan.
Windi memang sudah terlihat mahir dalam memilih perannya sendiri. Yang penting baginya, dia hanya perlu menangis, menangis dan menangis.
Meera beserta Alice melihat itu hanya bisa memekik keras, mereka tidak tega melihat Windi. Meskipun mereka kecewa bercampur kesal, tetapi cara Bram memperlakukan Windi adalah salah.
"Apa maksud lu berkata seperti itu sama gua dan keluarga gua, hahh! Lu mau menjebak gua? Mau ngehancurin gua? Siapa yang udah nyuruh lu buat ngelakuin ini semua, hah! Siapa? Jawab an*ying!"
"Lu dapat uang berapa dari orang itu, sampai lu tega menjual anak lu sendiri pakai nama gua!"
"Asal lu tahu ya, senakal-nakalnya gua, gua masih punya hati enggak akan sebo*doh itu untuk melajukan ya. Bahkan selama-lamanya gua menyewa wanita demi kepuasan, cuman Alice yang berhasil membuat gua merasakan jatuh cinta!"
"Dan hanya Alice lah yang berhasil mengandung benih keturunan gua, bukan lu!"
"Sekarang gua tanya! Lu ketemu gua dimana? Kapan, dan kejadian apa yang membuat lu selama ini diam dengan keadaan hamil besar, hahh?"
__ADS_1
"Padahal gua lihat wajah lu aja enggak pernah, apa lagi gua cinta sama lu! Cihh ...." Bram meludah di dekat kedua kaki wanita itu.
Windi seketika memundurkan kakinya, menatap ke jalan dimana air liur Bram sudah terukir jelas di sana.
"Bahkan gua ketemu lu aja gua kaga Tahu! Jadi bagaimana mungkin gua nikahin lu dan menjadikan lu sebagai istri gua!"
"Stop, bermain drama di depan gua. Lu belum tahu siapa gua, jadi jangan memberikan api jika lu sendiri enggak mau terbakar di dalamnya!"
"Dasar murahan!"
"Serendah itukah harga diri lu? Hanya demi uang lu bisa melakukan hal ini? Haha, receh-receh!"
"Salah besar kalau lu mau bermain dengan seorang pemain handal seperti gua, taktik busuk lu udah kebaca an*ying! Jadi , lain kali hati-hati lagi ya cantik kalau mau bermain sama pakarnya!"
Bram beberapa kali menepis tangannya, ketika Windi berusaha untuk mendekati dan mulai menggenggamnya.
Tubuh Windi hampir saja terjatuh jika dia kehilangan keseimbangannya. Hans yang dari tadi hanya memantau pergerakan sang adik, karena dia ingin melihat. Siapa yang bohong, dan siapa yang jago mempermainkan perannya di ini.
Jelas-jelas Bram sudah menolaknya mentah-mentah, tetapi Windi tidak kehilangan banyak cara untuk menaklukkannya.
"Kamu jahat, Bram. Jahat! Awas aja, pokoknya aku enggak rela kalau kamu sampai menikah dengan dia. Titik!"
"Kalau sampai itu terjadi, aku akan membuatmu dan keluargamu malu semalu-malunya!"
Windi berteriak sambil menangis mentap Bram yang saat ini hanya bisa tersenyum miring.
Bram tahu jika apa yang dia lihat saat ini, merupakan salah satu taktik dari seseorang yang memang berencana ingin menghancurkannya dan juga Hans.
Sampai akhirnya Windi pergi dengan sendirinya, sambil dia memberikan ancaman untuk kembali merebut Bram dari tangan Alice serta ingin menghancurkan pernikahan mereka.
Seperginya Windi, Alice langsung berlari kecil dengan langkah cepat untuk memasuki rumah lalu pergi ke kamarnya dan kembali keluar menuju kamar tamu.
__ADS_1
Alice sengaja tidur di kamar tamu untuk menenangkan dirinya lebih dulu, tak lupa dia mengunci pintu rapat-rapat agar Bram tidak bisa mendekatinya.
Disaat yang seperti ini Alice hanya ingin menyendiri, supaya pikirannya menjadi tenang. Ya, memang Alice percaya tidak percaya dengan ucapan Windi. Akan tetapi, kembali lagi dengan hati dan juga perasaan yang membuat Alice dilema.
Apa lagi bawaan Ibu hamil muda pasti moodnya akan selalu berubah-ubah, sesuai dengan keadaan.
Melihat Alice pergi begitu saja membuat Bram kalang kabut, rasanya dia ingin sekali mengejar Alice dan membicarakan persoalan tadi.
Sayangnya, Hans malah menahan tangan Bram hingga dia tidak bisa mengejar Alice ke dalam rumah.
"Apaan sih, lepasin tangan gua enggak! Gua mau ngejar Alice, bang*sat!"
Bram terus mencoba untuk memberontak sekuat tenaganya dengan tatapan penuh amarah. Rasanya Bram ingin sekali memukul Hans saat dia selalu menghalangi jalannya.
"Biarkan Alice nenangin dirinya dulu. Percuma juga kamu kejar, semua sia-sia enggak akan mempan!"
"Lebih baik sekarang kamu ikut aku ke ruangan kerja, karena ada yang mau aku omongin tentang kejadian ini!" sahut Hans, dingin.
"Lepasin gua! Pokoknya gua mau ke Alice sekarang, dan gua enggak mau ikut lu. Lagian apa sih yang mau lu tanyain, hahh! Apa lu pada enggak percaya sama gua, kalau gua ini enggak seperti apa yang wanita gila itu katakan!"
"Kalian semua tahu gua kaya gimana 'kan, sebandel-bandelnya gua. Gua enggak pernah sampai mengakuin hal bod*doh itu!"
"Sebenci-bencinya gua sama lu, lu tetap Kakak gua. Jadi, engga mungkin gua nikah tanpa kasih tahu lu. Sampai sini kalian paham!"
Bram melepaskan tangannya dengan keras, setelah terlepas dia menatap satu persatu mereka secara bergantian.
Mulai dari Hans, Meera, Bi Neng dan juga security. Sampai akhirnya Meera maju beberapa langkah dan ....
Plakk!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Bram, terlihat jelas jika Meera sangat kecewa dengan perlakuannya pada wanita itu. Bukan karena Bram telah menghamilinya, menikahinya atau segala macam. Melainkan Meera kecewa akibat Bram yang terlalu mudah untuk menyakiti seorang wanita.
__ADS_1
...***Bersambung***...