Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Pirasat Buruk Meera


__ADS_3

Mereka pun pergi untuk meneruskan pekerjaannya serta merancang rencana selanjutnya, supaya semua terlihat benar-benar nyata. Sebisa mungkin mereka melakukan perannya dengan sangat baik.


Jikalau pun ada sutradara yang mengetahui cara bermain mereka, kemungkinan besar mereka bisa di jadikan pemain peran utama antagonis di sebuah film berjudul 'Pembantuku Musuh Terbesarku'.


...*...


...*...


Di halaman rumah kediaman keluarga Ivander, Meera dan Hans sedang berbincang sedikit di dekat mobil.


Hans memeluk istrinya sambil menciumi wajahnya, yang terlihat begitu romantis. Beberapa security berjaga di sana melihat adegan manis itu, hanya bisa tersenyum ketika majikan yang super duper dingin telah mencair.


"Kamu di rumah hati-hati ya, Sayang. Jangan capek-capek, di sini sudah ada 2 pembantu. Jika masih kurang maka aku akan kembali mencarikannya, asalkan kamu tidak merasa kelelahan."


"Ingat, impian kita. Semoga kepulanganku nanti aku mendapatkan kabar baik, bahwa junior sudah berada di sini!"


Tangan Hans mengelus perut istrinya sambil tersenyum, membuat Meera menunduk lalu tersenyum menatap suaminya.


"Semoga aja ya, Hans. Jika sampai belum hadir juga, nanti setelah kamu pulang kita ke dokter ya. Kita lakukan program hamil, biar junior cepat hadir di dalam perutku. Supaya nanti anak Alice dan Bram bisa bermain dengan anak kita hehe ...."


Senyuman Meera membuat Hans merasa bahagia, meski mereka menikah sudah hampir 2 tahun, tetapi tidak membuat cinta mereka merasa sedih jika impiannya belum terwujud.


Ya, mungkin jika dihitung-hitung ini adalah pemulaan bagi mereka. Karena apa yang sudah terjadi di awal-awal pernikahan membuat mereka seperti menunda momongan, padahal bukan menunda. Melainkan menunggu benih cinta hadir diantara mereka.


Dan, setelah hadir barulah mereka berpikir untuk fokus mewujudkan impian besar itu agar kelak, ketika Hans pulang kerja di depan pintu sudah ada junior lucu yang akan berteriak memanggilnya Daddy. Lalu, dia akan berlari dengan langkah kecilnya hanya sekedar ingin di peluk olehnya.


"Siap, Sayang. Ya sudah aku berangkat ya, salam pamitku untuk Bram dan Alice." ujar Hans tersenyum mengusap pipi istrinya.


"Ya, Hans. Nanti akan aku sampaikan, pokoknya setelah sampai nanti langsung kabarin aku ya. Dan ingat semua pesanku tadi, jangan sampai terlewatkan. Paham, 'kan?" jawab Meera.

__ADS_1


Hans menganggukan kepalanya, lalu kembali mencium istrinya dan perlahan berjalan menjauhinya sambil menaruh koper di bagasi mobil.


Kemudian, Hans berjalan memutari mobilnya dan masuk ke pintu pengemudi. Dimana dia membuka kaca mobilnya sambil melambaikan tangannya.


Meera pun membalas lambaian tangan suaminya sambil tersenyum menatap kepergian mobil yang perlahan berjalan maju ke depan.


Entah mengapa ketika mobil suaminya mulai menghilang air mata Meera kembali menetes, secepat kilat dia segera menghapusnya. Lalu berbalik berjalan menuju pintu utama, dimana setiap Meera melangkahkan kakinya memasuki rumah perasaannya semakin tidak enak.


"Astaga, ada apa dengan perasaanku. Kenapa aku selalu kepikiran Hans, bahkan semalam aku sampai bermimpi buruk tentangnya. Semoga ini hanya pirasat buruku saja, dan tidak akan terjadi apa-apa pada suamiku. Amin!"


"Ingat, Meera. Suamimu itu pria yang hebat, kuat dan juga baik. Jadi, tidak akan ada burukan yang mau mendekatinya. Apapun yang terjadi, aku harus berpikir positif bahwa suamiku akan pergi dan pulang dalam keadaan baik-baik saja, tanpa kekurangan satu hal apapun!"


Suara hati Meera terdengar sangat menyesakkan dadanya, beberapa kali Meera terdiam melamun bahkan dia sempat menabrak Bi Neng ketika berjalan.


"Astaga, Non Meera. Non gapapa 'kan? Ma-maaf ya Bibi jalan tidak lihat-lihat." ucap Bi Neng, sambil menatap Meera penuh rasa bersalah.


"Ishh, gapapa Non. Yang penting non baik-baik saja 'kan? Non tidak sedang sakit, bukan? Soalnya wajah Non Meera terlihat pucat dan sedikit lesu."


"Enggak, Bi. Aku sehat kok, mungkin sedikit lelah aja di tambah beberapa hari ke depan Hans tidak ada di rumah karena ada urusan di luar kota."


"Oalah, Bibi tahu. Pasti Non Meera lagi galau ya, di tinggal suami hihi ..."


Ledekan serta candaan yang Bi Neng lontarkan membuat Meera sedikit malu, tetapi tidak masalah memang itu kenyataan.


Meera memang sangat galau ketik suaminya tidak ada di sisinya walau untuk beberapa hari saja, seakan-akan Hans akan meninggalkannya untuk waktu yang sangat lama.


"Aishh, Bibi nih bisa saja. Ya sudah aku ke kamar dulu ya, mau istirahat. Nanti jangan lupa buatkan sarapan untuk Bram dan Alice ya, Bi. Soalnya Meera cuman nyiapin buat Hans saja tadi."


"Siap, Non. Tenang saja, ya sudah Non Meera istirahat aja di kamar nanti Bibi bawakan sarapan ya."

__ADS_1


"Tidak usah, Bi. Nanti kalau lapar aku turun aja, kasian Bibi harus capek-capek naik tangga."


"Udah gapapa, Bibi udah terbiasa. Non ke kamar saja, nanti tiba-tiba makanan sudah di antar kaya di Hotel gitu hehe ..."


Canda Bi Neng sedikit menghibur Meera, walau tidak banyak. Setidaknya Meera bisa tersenyum lebar dan segera pergi ke kamarnya karena kepalanya begitu pusing.


Semua itu karena semalam Meera harus melakukan hubungan suami istri bersama Hans untuk memuaskannya, agar kelak saat jauh darinya tidak akan membuat Hans jajan di luar seperti pria lainnya.


Seperginya Meera ke kamarnya, Bi Neng sedikit mengkhawatirkan tentang kondisinya yang terlihat lemas dan pucat.


Ya, memang Meera menolak untuk Bi Neng membawakan sesuatu ke kamarnya. Akan tetapi, kondisi Meera yang seperti itu malah membuat Bi Neng tidak tega dan terus kepikiran padanya.


"Semoga saja Non Meera dan Tuan Hans baik-baik saja, aku tidak mau sampai apa yang aku pikirkan semalaman menjadi kenyataan!" gumam Bi Neng, di dalam hati kecilnya ketika kembali teringat kekhawatirannya di malam hati.


Bi Neng segera membuatkan susu dengan roti bakar dan beberapa potong buah. Semua itu Bi Neng buatkan lebih dulu dan mengantarnya ke kamar Meera. Setelah itu, barulah dia membuatkan roti bakar untuk Bram dan juga Meera.


...*...


...*...


Di kamar sebelah, Bram baru saja bangun dari tidurnga dan segera pergi perlahan ke arah kamar mandi untuk bergegas bersiap-siap meninggalkan Alice yang masih tertidur cukup pulas.


Beberapa menit berlalu, Bram sudah selesai dengan aktifitas mandinya. Kemudian berjalan ke ruang ganti untuk memakai baju kerjanya.


Di saat semuanya sudah terpasang rapi, kecuali Jas. Bram segera membangunkan istrinya agar dia bisa sarapan bersama.


Bram takut jika Alice telat sarapan maka perutnya bisa merasakan sakit. Apa lagi Alice sedang hamil dan harus makan dengan benar agar anak yang ada di dalam perutnya tidak sampai kelaparan.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2