
Tanpa menunggu lama mereka berdua segera masuk ke dalam ruangan selepas dokter itu pergi.
Alice duduk di kursi tunggal sambil memegangi tangan sambil memeluknya, Alice merasa sangat kasian melihat kondisi Meera seperti ini.
Cuman mau bagaimana lagi, yang terpenting keadaan Meera dan bayinya semua baik-baik saja. Setelah beberapa menit Bram merasa puas, dia langsung meminta istrinya untuk menjaga Meera karena dia harus segera mengecek dan mengurus keadaan Kakaknya, yaitu Hans yang ada di ruangan ICU.
...*...
...*...
Di depan ruangan ICU, Bram yang baru datang berpapasan dengan dokter yang baru saja keluar dari ruangan Hans setelah mengecek keadaannya.
"Dok, bagaimana keadaan Kakak saya?" tanya Bram, wajahnya terlihat sangat khawatir.
"Jadi begini Tuan. Saat ini keadaan Tuan Hans tidak baik-baik saja, kecelakaan yang menimpanya itu membuat kepalanya mengalami penda*rahan cukup hebat di kepalanya."
"Sejauh ini, ketika saya sudah selesai melakukan operasi di bagian kepalanya. Selang beberapa menit, keadaan Tuan Hans langsung kritis. Kami berusaha keras untuk melakukan yang terbaik. Cuman maaf, keadaan Tuan Hans benar-benar sangat kritis akibat penda*rahan dikepalanya membuatnya Tuan mengalamo koma untuk beberapa hari ke depan."
Degh!
Bram terdiam membeku ketika mengetahui bahwa keadaan Hans sangatlah tidak baik, mendengar kata koma membuat Bram meneteskan air matanya tanpa bersuara.
"Ha-hans ko-koma, Dok? Se-serius?" tanya Bram dengan tatapan menyorot penuh keterkejutan.
"Ya, Tuan. Semua itu akibat benturan yang keras di kepalanya, saya hanya bisa berharap semoga ketika Tuan Hans terbangun nanti. Dia tidak mengalami hilang amnesia."
__ADS_1
Mendengar suara itu semua membuat tubuh Bram melemas dan terjatuh di lantai, sementara sang dokter refleks berjongkok mendekatinya.
"Astaga, Tuan! Tuan gapapakah?" tanyanya dalam keadaan cemas.
"A-apa yang sebenarnya terjadi pada dia, Dok? Kenapa dia bisa mengalami kecelakaan seperti ini?" tanya Bram kembali, wajahnya terlihat sangat frustasi.
"Untuk itu saya kurang paham, Tuan. Saya hanya menangani Tuan Hans yang kondisinya sangat memprihatinkan. Jika Tuan mau tahu lebih lanjut, Tuan bisa tanyakan pada pihak berwajib yang membawa Tuan Hans ke rumah sakit." jawab sang dokter.
Bram menoleh dan menatap sang dokter dengan tatapan bingung. "Pi-pihak berwajib? Cu-cuman dimana? Dari tadi saya tidak melihat mereka semua!"
"Mungkin mereka lagi ada urusan, Tuan. Tunggu saj--"
"Permisi, apakah anda adalah anggota dari korban?" tanya seseorang yang baru saja datang.
Bram menatap pria itu yang tidak lain adalah seorang polisi. Dia datang bersama dengan di temani oleh 2 anak buahnya yang berdiri tepat di belakangnya.
"Ya, saya adik kandungnya. Bisakah Bapak ceritakan bagaimana Kakak saya bisa mengalami kecelakaan separah itu? Setahu saya, Kakak saya ini enggak pernah yang namanya ugal-ugalan dalam berkendara ataupun kecepatan diatas rata-rata. Jadi, bagaimana bisa dia mengalami situasi seperti ini!"
Kekhawatiran terlintas penuh di kepala Bram, air matanya pun selalu menetes meratapi nasib malang Kakaknya sendiri. Ini bukanlah air mata kebohongan, karena semua yang mengalir, merupakan bukti bahwa Bram sangat menyayangi Kakaknya sendiri.
Mendengar pertanyaan yang terus Bram lontarkan, komandan polisi tersebut hanya terdiam sejenak. Kemudian dia mulai menjawab setiap pertanyaan yang Bram katakan ketika bibir Bram sudah kembali menutup.
"Jadi begini, Tuan. Kakak anda mengalami kecelakaan tepat di perempatan lampu merah. Korban melanggar lampu merah, lalu tertabrak oleh sebuah truk bermuatan pasir. Mobil korban terpental cukup jauh, bahkan sempat berputar di udara selama beberapa detik hingga akhirnya menabrak sebuah pohon besar yang ada di pinggir jalan."
"Untungnya ini hanya kecelakaan 2 kendaraan, sehingga tidak menimbulkan korban jiwa lainnya. Supir truk dan juga keneknya hanya pingsan dan mengalami luka ringan yang di rawat di rumah sakit ini untuk beberapa hari. Mereka yang baru tersadar, langsung menjelaskan pada kami bagaimana klonologi kejadian."
__ADS_1
"Supir dan kenek itu mengatakan kalau mereka sempat terkejut, akibat posisi lampu merah dari arah timur berwarna hijau. Sementara dari arah selatan berwarna merah."
"Mereka juga menjelaskan bahwa mobil yang mereka kendarai melaju cepat, kurang lebih 90 km/jam dengan berat angkutan pasir 10 ton. Jadi, mereka tidak bisa menghindari kecelakaan tersebut akibat mobil korban tiba-tiba saja muncul dengan kecepatan 100 km/jam."
"Hingga terjadilah kecelakaan yang terekam di CCTV, semua bukti yang ada sudah berada di tangan kami. Bahkan beberapa rekan saya yang ada di TKP langsung mengecek, pemicu terjadinya tabrakan tersebut."
"Dari situ kami menemukan 1 bukti yang sangat kuat dari mobil korban. Bahwa, mobil korban di sabotase dengan cara memutuskan tali rem kendaraan. Sehingga kemungkinan terbesar korban yang melaju cepat, terkejut ketika melihat lampu merah secara tiba-tiba dan pedal gas pun tidak berfungsi."
Komandan itu menjelaskan tentang kronolagi terjadinya kecelakaan berdasarkan bukti dan juga CCTV yang ada di tempat kejadian. Ditambah keterangan dari korban semakin membuatnya percaya, kalau kejadian ini sangatlah janggal.
Bram mendengar semua penjelasan itu langsung terkejut bukan main, selama ini tidak ada satu orang pun yang ingin berniat jahat pada keluarganya.
Sekalipun almarhum Daddynya memiliki musuh dalam perbisnisan pun tidak sampai mencelakakan keluarga, lantas siapa tikus yang ada dibalik semua kejadian ini? Lalu, apa yang sebenarnya mereka inginkan dari Hans? Apakah ini merupakan salah satu musuh Hans dalam perbisnisan atau ada maksud tertentu?
Pikiran-pikiran jelek tersebut selalu mengelilingi isi kepala Bram, sampai akhirnya komandan polisi itu kembali bertanya.
"Maaf Tuan, apakah selama ini kalian punya musuh?" tanyanya, membuat Bram menggeleng cepat.
"Tidak, Pak. Kami tidak punya musuh sama sekali, meskipun usaha bisnis keluarga saya memiliki banyak persaingan. Akan tetapi itu hanya terjadi di dunia perbisnisan, bukan menyangkut dengan keluarga."
Bram menjelaskan secara detail mengenai apa yang sudah terjadi padanya dan juga sang Kakak. Tak disangka Bram meminta tolong supaya pihak kepolisian bisa membantu untuk mengusut semua kejadian ini, serta menemukan sarang tikus yang sangat meresahkan.
Komandan kepolisian hanya mengangguk mendengarkan semua penjelasan Bram, sampai akhirnya dia memberikan saran agar Bram segera membuat pelaporan atas kejadian yang akhir-akhir ini mereka dapatkan.
...***Bersambung***...
__ADS_1