Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Bukti Kuat Menghancurkan Alice


__ADS_3

Bi Neng pun langsung terkejut bukan main, karena selama ini dia kenal Bram serta mengurusnya dari kecil tidak pernah ada satu pun sifat Bram yang seperti ini. Meski Bram adalah pria nakal, cuman dia tidak akan melakukan semua yang akan menyakiti hati wanita seperti ini.


Alice yang sudah mulai tersadar, dia melepaskan rangkulan Bi Neng. Lalu, melangkahkan kakinya mendekati Windi. Tatapan Alice benar-benar sangat marah, kesal, sedih, kecewa dan juga hancur. Semua terlihat dari kedua matanya yang mulai memerah, sekaligus air mata yang sudah menetes.


"A-apa benar yang kamu katakan tadi? Kalau kamu dan Bram udah--"


"Ya, benar. Aku dan Bram sudah menikah, cuman Bram jarang mengunjungiku karena saat kehamilanku masih sangat kecil. Aku tidak bisa mencium bau atau melihat wajah Bram, jadi dia sedikit menjauhkan diri demi aku dan anak kita."


"Ohya, Mbaknya siapa ya? Kenapa tadi bilang Mbaknya calon istri Bram, oh saya tahu. Pasti Mbaknya ini pembantu disini kan?"


"Maklumlah, ART kadang suka ngaku-ngaku, ya? Tapi, ya sudahlah tak masalah. Setidaknya Bram tidak tertarik dengan Mbaknya, ohya. Aku boleh masuk? Rasanya udah enggak sabar bertemu suamiku di dalam."


Perkataan Windi berhasil membuat gejolak amarah di dalam hati Alice seketika memuncak. Ingin sekali rasanya dia mencabik mulut wanita ini, akan tetapi dia tidak bisa melakukan itu semua, lantaran melihat perutnya yang mulai membesar.


Ketika Alice ingin menjawab perkataan Windi, Bi Neng langsung menyelanya dan mengatakan sesuatu yang cukup membuat Windi terkejut.


Sementara Alice dia hanya melirik Bi Neng yang terlihat marah dan juga kesal, terhadap pria yang mengaku sebagai istrinya Bram.


"Hei, Mbak! Kalau ngomong itu di jaga ya, Nona Alice ini bukan ART disini. Melainkan dia seorang majikan yang sebentar lagi akan menjadi Nyonya besar Bram Andreas Ivander!"


"Untuk Mbaknya yang hanya sekedar mengaku, lebih baik pergi jauh-jauh deh. Jika memang Mbaknya ini istri dari Tuan Bram, apa buktinya hahh!"


"Tidak ada, bukan? Jadi stop mengarang cerita seolah-olah Mbaknya adalah istri dari Tuan Bram! Ingat, Mbak. Di luar sana masih banyak laki-laki yang terbaik, jadi tolong jangan mencoba menjadi pelakor di dalam hubungan seseorang!"


"Sayang sama muka, Mbak. Cantik-cantik kok menipu, cantik-cantik kok murahan. Segitu enggak lakunya 'kah, sampai-sampai harus mengatakan bahwa Mbaknya istri dari Tuan Bram? Hehh, dasar receh!"


Bi Neng yang selama ini terlihat tidak pernah terbawa emosi, ternyata sekalinya berbicara bisa langsung membuat mental seseorang down. Bagaikan sebuah air yang awalnya terlihat tenang mengikuti arus, seketika diam-diam sangat menghanyutkan dan bisa berubah menjadi badai yang sangat mengerikan.

__ADS_1


Windi yang dari tadi terlihat begitu meremehkan Alice, dan penuh kepercayaan. Tiba-tiba langsung terdiam tak berkutik. Kata-kata Bi Neng seperti sebuah pisau yang menggoreskan luka di hatinya.


"Sudah, Bi. Jangan diteruskan, namanya juga pengganggu ya begitulah. Siapa tahu dia cuman mengada-ngada 'kan? Siapa sih yang enggak mau menjadi istri Bram, udah kaya, mapan, baik dan juga tampan lagi."


"Yaz pasti banyaklah wanita yang rela merendahkan harga dirinya, hanya demi mendapatkan apa yang dia dapatkan. Jadi--"


Perkataan Alice terhenti ketika Windi mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya.


Betapa terkejutnya Alice, Bi Neng dan juga security di sana, di saat matanya melihat sebuah surat dan juga buku nikah.


Di dalam surat dan buku tersebut terdapat foto dan juga nama dari wanita itu bersama Bram.


Pecahlah sudah kekuatan Alice, yang awalnya Alice berusaha untuk menangis semua pikiran jeleknya pada calon suaminya sendiri, sekarang terjawab sudah.


Jikalau memang benar adanya kalau Windi merupakan istri dari Bram, meski hanya di atas kertas tetapi dia memiliki buku nikah.


Padahal Bi Neng sangat yakin, bahwa Bram bukanlah pria seperti apa yang ada di dalam pikirannya. Cuman entah mengapa, berkat bukti yang Windi berikan itu berhasil menghancurkan kepercayaan mereka semua.


"Bagaimana, hahh! Sudah puaskah kalian merendahkanku? Sekarang apa yang mau kalian katakan?"


"Apa kalian masih tidak percaya juga, hem? Apa mau aku buktikan lagi? Baiklah, besok ikut aku ke pengadilan. Bagaimana?"


Windi melipat kedua tangannya di atas perut dengan tatapan remeh dan sedikit mengukir senyuman indah untuk mereka semua.


Sampai akhirnya Alice yang benar-benar syok dengan keadaan ini tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menangis meratapi nasibnya yang benar-benar sangat buruk.


Hanya tinggal menghitung hari, mereka akan menikah. Akan tetapi, berita ini benar-benar seperti menampar hati Alice. Sehingga dia langsung memeluk Bi Neng yang dari tadi berusaha untuk terus menguatkannya, dan juga memberikan nasihat.

__ADS_1


Jikalau semua ini hanyalah sebuah akal-akalan wanita seperti windi yang ingin menghancurkan impian Alice dan Bram.


"Hiks, Bi. Ba-bagaimana ini Bi, kenapa Bram tega banget sama aku. Apa salah aku Bi, kalau memang dia memiliki istri. Kenapa juga dia harus menikahiku? Hiks ...."


"A-apakah Bram tipe pria yag tidak cukup dengan satu wanita, satu cinta dan satu tujuan? Kalau benar, kenapa harus aku Bi. Aku udah kehilangan semuanya, dan aku tidak mau kembali merasakan kehilangan hiks ...."


Alice memeluk erat Bi Neng, bagaikan seorang anak yang sedang merindukan Ibunya. Ya beginilah Alice, dia dan Meera sama-sama mempercayai Bi Neng dan mengakuinya sebagai keluarganya sendiri.


Ya, walaupun Bi Neng pernah kesal dengan Alice. cuman, seiring berjalannya waktu. Bi Neng mulai mengetahui siapa Alice yang sebenarnya, ada tujuannya apa dia datang ke rumah itu serta sebaik apa hatinya. Maka, dari situlah Bi Neng mulai percaya bahwa Alice bukanlah wanita penghibur yang dia tahu.


"Sabar, Nona. Bibi tahu, mungkin ini berat buat Non Alice. Tapi, ingat Non. Nona itu lagi mengandung, jangan sampai janin ini kenapa-kenapa. Bibi tidak mau melihat Non Alice sakit lagi, jadi tenang dulu ya!"


"Bibi juga tidak menyangka bahwa dia punya buktinya, Bibi kira hanya gertakan atau omong kosong. Tapi ... Arrghh, sudahlah. Nanti kita tanyakan langsung pada Tuan Bram, semoga saja berita ini tidak benar ya!"


Bi Neng terus berusaha menguatkan Alice, menasihatinya dan juga trus merangkutnya agar Alice tidak merasa sendiri saat menghadapi ujian yang besar ini.


Sementara Windi, dia terlihat sangat tenang, adem dan juga penuh kemenangan. Seakan-akan dia seperti mendapatkan sebuah hadian yang sangat menarik perhatiannya..


Sampai akhirnya, suara klakson mobil memecahkan keheningan hingga isak tangis di wajah Alice. Lampu mobil yang menyorot tajam, membuat mereka semua perlahan menyingkir sambil menyipitkan matanya akibat matanya begitu silau dengan lampu mobil tersebut.


Tinnn ...


Tinnn ...


Tinnn ...


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2